Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 48 Kaulah Segalanya


Jia Li mempererat pelukannya saat Van Costel IV memeluknya.


Rasa haru datang hinggap dihati Jia Li menyadari suami yang paling dicintainya telah kembali normal.


Jia Li semakin mempererat pelukannya serta menangis dalam dekapan hantu tampan itu.


''HUAH... !!!'', pecah tangisnya. ''HIKS... HIKS... HIKS... !''


Jia Li terisak-isak saat melihat Van Costel IV telah sadar dari kutukan malam kelima belasnya yang membuat Jia Li ketakutan.


''HUAHHHH... !!!'', tangisnya keras.


Van Costel IV hanya terdiam saat Jia Li menangis.


Diusapnya rambut hitam Jia Li yang terurai indah dengan penuh kasih agar perempuan cantik itu tenang.


''Syukurlah ! Kau kembali Van Costel !'', ucap Jia Li disela-sela isak tangisnya.


''SSSSHHH... Jangan menangis lagi, sayang !'', bisik Van Costel.


''Hiks... Hiks... Hiks... !'', isak Jia Li.


Suara tangis Jia Li masih terdengar meski Van Costel IV menenangkannya.


''Sayangku Jia Li...'', ucap Van Costel.


''Van Costel !'', sahut Jia Li.


Mereka berdua saling berpandangan, melepas rasa rindu yang dalam.


Meskipun baru terpisah sehari karena malam panjang kelima belas yang menyeramkan, rasa rindu dihati keduanya terasa dalam sekali.


Jia Li menatap lembut ke arah Van Costel IV sembari mengusap wajah tampan suaminya yang pucat.


Tidak ada lagi gambaran wajah yang menakutkan di raut wajah Van Costel IV akibat kutukan malam kelima belas.


Wajah yang tampan rupawan milik Van Costel IV yang paling dicintai oleh Jia Li meski pria tampan itu telah menjadi hantu tetapi ketampanannya tetaplah abadi.


Raut wajah yang paling disukai oleh Jia Li dari Van Costel IV.


Wajah yang sangat dirindukannya jika tidak bertemu meski itu hanya satu malam.


Bagi Jia Li suaminya adalah segala-galanya dalam hatinya.


Pria yang tak akan pernah tergantikan seumur hidupnya walaupun terpisahkan karena dia telah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga suaminya hingga dia menutup mata.


''Van Costel... Tahukah kamu, sayang... Aku tidak akan mampu bertahan hidup tanpamu...'', bisik Jia Li.


Van Costel IV tersenyum sambil menatap teduh wajah Jia Li.


''Akupun begitu Jia Li sayangku !'', sahut Van Costel.


''Tidak !'', ucap Jia Li. ''Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya cinta itu !'', sambungnya.


''Aku ?'', kata Van Costel setengah terkejut.


''Iya...'', jawab Jia Li lirih.


''Kenapa kamu mengatakannya hal yang begitu membuatku sedih, sayangku ?'', sahut Van Costel IV.


''Kehilanganmu meski itu hanya semalam, aku tidak akan pernah sanggup untuk membayangkannya !'', kata Jia Li.


''Maafkan aku...'', jawab Van Costel.


''Apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku sebagai istrimu seharusnya kamu memberitahukan padaku meski hal itu sangatlah rahasia !'', ucap Jia Li.


Van Costel terdiam tertegun memandangi Jia Li yang menatapnya penuh kesedihan.


Dia merasakan bahwa Jia Li kini sangat ketakutan dengan yang terjadi pada dirinya di malam kelima belas.


''Tenanglah sayangku ! Semua telah terlewati !'', bisik Van Costel IV.


''Apakah penderitaan itu akan kembali terjadi padamu ?'', tanya Jia Li.


''Entahlah !'', sahut Van Costel IV. ''Aku hanya tahu bahwa kutukan malam kelima belas merupakan akibat dari aku melanggar ketentuan dibangkitnya aku dari alam kematian...'', sambungnya.


Tatapan teduh Van Costel IV sungguh memilukan hati.


Senyumnya yang samar menandakan bahwa hantu tampan itu benar-benar bersedih.


Jia Li memahami suasana hati suaminya yang sedih karena dia harus melewati kutukan malam kelima belas yang menyeramkan itu.


Hampir membuat Jia Li mati ketakutan dengan perubahan yang dialami suami hantunya.


''Aku tidak akan sanggup untuk melakukannya meski kutukan malam kelima belas itu menyiksaku'', sahut Van Costel.


''Kau takut kalau kamu akan menyakiti diriku, bukan ? Kamu tidak ingin aku terluka karenamu !?'', kata Jia Li.


Perempuan berwajah lembut itu mengusap pelan wajah suaminya yang sangat dia cintai seraya tersenyum.


''Kau bahkan tidak akan pernah tahu Van Costel ! Bagaimana aku akan bertahan jika kamu tidak mengenalku lagi !?'', ucap Jia Li.


''Sayangku Jia Li...'', bisik lembut Van Costel.


''Kaulah hidupku kini ! Dan kaulah segalanya untukku !'', kata Jia Li tertunduk.


Cepat-cepat Van Costel IV menarik dagu Jia Li dengan lembutnya.


Diangkatnya dagu milik Jia Li supaya istrinya itu menatap dirinya saat mereka berhadapan.


''Tolong... Jangan kamu alihkan pandanganmu dariku meski itu sesaat ! Karena aku tidak mampu jika kamu berpaling dariku, Jia Li sayangku...''


Ucapan Van Costel IV terdengar berbeda, tidak lagi terdengar tekanan ataupun paksaan saat dia setiap melihat istrinya.


Seakan malam kelima belas itu mampu membuat seluruh hati dan pikirannya menjadi damai.


Biasanya Van Costel IV akan memaksakan semua keinginannya serta hasratnya kepada Jia Li untuk terus menerima dirinya.


Meskipun Jia Li telah membalas cintanya tetapi tetap Van Costel merasa selalu bimbang dengan hati istrinya.


''Aku tidak akan pernah berpaling darimu, Van Costel IV !'', sahut Jia Li.


''Aku tahu itu...'', ucap Van Costel.


Ada kelegaan yang diam-diam merambati hati Van Costel IV saat dia mengetahui betapa dalamnya cinta Jia Li padanya.


''Tapi aku hantu yang menyeramkan'', bisik Van Costel IV.


''Tidak !'', jawab Jia Li.


Perempuan cantik itu dengan cepatnya memeluk tubuh Van Costel.


Dieratkannya kembali pelukan Jia Li saat memeluk suami hantunya.


''Jika kamu kembali berubah setiap malam kelima belas..., aku akan datang untuk menyadarkanmu ! Dan aku akan menahan kutukan itu agar tidak menyiksamu lagi...'', kata Jia Li.


''Jia Li !'', Van Costel tertegun.


''Aku akan menyerahkan segala kekuatanku untuk membuatmu tetap sadar meski aku akan kehilangan kontrol diriku'', sahut Jia Li.


''Jia Li...'', bisik Van Costel tercekat.


''Meski aku harus kehilangan diriku agar kamu tetap tersadar dan kutukan itu hilang darimu, aku akan melakukannya segalanya untukmu Van Costel'', ucap Jia Li.


''Sayangku Jia Li !'', sahut Van Costel lirih.


Tiba-tiba tubuh hantu tampan itu bergetar hebat.


Dia menangis keras seraya mendongakkan kepalanya ke atas.


''AAAAAHK !!! AAAAHKKK !!!''


Didekapnya kuat-kuat tubuh Jia Li dalam pelukannya seakan-akan dia tidak ingin kehilangan perempuan cantik itu.


Van Costel IV menangis sejadi-jadinya, perasaan menyesal yang diam-diam datang menghinggapi dirinya menyeruak hebat dalam hati hantu tampan itu.


Hal yang sangat dia sesali adalah dirinya sosok hantu bukan manusia yang sewajarnya menjadi pendamping Jia Li yang manusia.


Takdir yang begitu menyakitkan serta mengakibatkan perih didalam ruang hatinya mampu membuat Van Costel tidak berdaya.


Hatinya hancur berkeping-keping melihat ketulusan cinta Jia Li.


Rasa sesal di dalam hati hantu tampan itu diam tak mau pergi ketika melihat perempuan cantik dalam pelukannya seharusnya Jia Li tidak mengalami penderitaan karena dirinya.


Memaksakan Jia Li menjadi pendamping dirinya dan membuatnya harus menjadi istrinya.


Membuat Jia Li menerima paksaan cintanya sebagai pelarian rasa sedihnya yang sebenarnya setengah dirinya tidak terima jika dia telah mati. Dan harus menjadi sosok hantu.


Menolak Takdir yang seharusnya dia terima menjadi sosok hantu dan menjalani kehidupan hantunya di alam kematian.


Bagi Jia Li sendiri saat ini Van Costel adalah segala-galanya dalam hidupnya.


Dia rela mengorbankan segalanya untuk Van Costel suaminya tanpa memperdulikan apakah dia dimanfaatkan atau tidak karena bagi perempuan cantik itu hanya rasa tulus saja yang ada dalam jiwa serta hati Jia Li saat menjadi istri Van Costel IV.


Ketika pada saat Jia Li benar-benar jatuh cinta maka dia akan sepenuhnya mengorbankan seluruh cintanya untuk Van Costel, orang yang amat dia cintai dalam hidupnya meski dia sosok hantu sekalipun.