Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 36 Ciuman Hangat


Van Costel meraih Jia Li dalam pelukannya lalu membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


Menyalakan lilin-lilin di tempat perapian seraya menarik tirai jendela kamar hingga tertutup semuanya.


Hantu tampan itu membawa Jia Li dalam gendongannnya seraya berjalan menuju tempat tidur yang tertata rapi serta wangi oleh aroma dupa.


Meletakkan perlahan tubuh Jia Li ke atas pembaringan.


Sekejap saja taburan mawar bermekaran memenuhi ranjang mereka bagaikan kolam mawar.


Aroma dupa menyengat di seluruh ruangan kamar mereka yang tertutup dan hanya dengan disinari oleh temaram lilin-lilin yang menerangi ruangan.


Van Costel menjentikkan tangannya yang selalu mengenakan cincin delima merah.


Membuat ranjang mereka tertutup tirai tipis seluruhnya.


''Aku menantikan saat kamu menginginkanku, Jia Li sayang...'', bisik Van Costel.


''Hmmm, aku harap kamu sama menginginkannya sepertiku'', sahut Jia Li.


Jia Li tersenyum menggoda ketika Van Costel berada dalam pelukannya.


''Dapatkah tuan memuaskanku hari ini ?'', ucap Jia Li sambil mengerling.


''Apapun permintaan anda akan saya layani dengan sebaik-baiknya, nyonya besar'', sahut Van Costel.


''Oh, iya ? Apakah tuan tidak keberatan melakukannya untukku ?'', kata Jia Li.


''Aku ? Tentu saja aku tidak keberatan bahkan dengan senang hati memuaskan anda, nyonya besar'', sahut Van Costel.


''Aku sangat bersyukur jika kau mau menerima permintaanku dengan senang hati, tuan Van Costel IV'', kata Jia Li.


''Tentu, nyonyaku tercinta'', jawab Van Costel.


Senyum menghias wajah hantu tampan itu saat memandangi wajah istrinya yang sangat cantik.


''Dan maukah kau menerima benih cinta ini, Jia Li sayang ?'', ucap Hantu Van Costel.


''Dengan rasa bangga aku menerima benih-benih cinta ini'', sahut Jia Li.


Jia Li melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya sembari mengedipkan salah satu matanya.


''Milikilah aku, Van Costel...'', bisik Jia Li.


Si cantik beraroma plum itu mengencangkan pelukannya di leher hantu tampan itu seraya tersenyum.


''Jangan genit ! Tidak baik terus menggodaku seperti itu...'', sahut Van Costel.


''Menggoda ? Oh, iya !?'', ucap Jia Li.


''Akan berakibat buruk sekali, sayang'', kata Van Costel IV.


''Benarkah ?'', sahut Jia Li.


Jia Li menggesekkan kakinya ke atas kaki suaminya berusaha memberikan rangsangan-rangsangan kepada hantu tampan itu.


''Jia Li...'', desah Van Costel.


Van Costel terperanjat kaget saat istri tercintanya itu mencoba menggodanya.


Membagkitkan gairah nafsunya kembali menyala tanpa Jia Li sadari bahwa dia telah membangkitkan bara cinta yang membara didiri Van Costel lebih meningkat.


''Kau nakal sekali, sayang...'', bisik Van Costel.


Digigitnya bahu Jia Li seraya melepaskan gaun yang menempel di badan gadis cantik itu.


''Kau sendiri yang telah mengundangku lebih jauh, tahukah kau sayang jika aku akan melahapmu habis'', kata Van Costel.


Di kecupnya leher Jia Li kemudian digigitnya seluruh bagian leher mulus itu tanpa ragu.


''Dan sadarkah kau sayangku jika ini tidak dapat ditunda ataupun dihentikan lagi...'', ucap Van Costel.


''Tidak...'', sahut Jia Li dengan kepala yang mulai pening.


''Aku akan melahapmu bagaikan santapan lezat dan aku akan mengunyahmu seperti manisan yang selalu menggoda'', bisik Van Costel.


''Ehk !?'', pekik Jia Li.


Kedua mata Jia Li terbelalak lebar memperlihatkan kedua bola matanya yang indah bersinar cantik.


''Aku tidak bertanggung jawab jika kamu akan kewalahan menghadapiku sekarang karena kamu sendiri yang memintanya, sayangku'', bisik Van Costel.


''Tidak..., aku tidak peduli itu...'', sahut Jia Li.


''Benarkah...'', ucap Van Costel berbisik mesra.


''Ahk ! Sayangku !'', jerit Jia Li tertahan.


''Keadaan sepertinya berbanding terbalik sekarang, dan kamu tidak bisa menghindarinya lagi, sayang'', kata Van Costel.


Ketika Van Costel melesakkan tubuhnya ke dalam tubuh Jia Li dengan cepat.


Akhirnya keduanya bersatu kembali hingga terdengar suara hentakan dari keduanya saat beradu diatas ranjang yang penuh hiasan mawar-mawar.


Van Costel membawa Jia Li naik tinggi ke atas awan-awan hingga si cantik beraroma plum itu mengejang hebat.


''Van Costel !!!'', jerit Jia Li.


''Rasakanlah aku dalam dirimu, sayang !'', ucap Van Costel.


Hantu tampan itu menggertakkan gigi-giginya saat mereka berdua menyatu erat.


Hentakan demi hentakan tubuh Van Costel semakin bertambah kuat pada Jia Li yang hanya bisa menerimanya pasrah.


Peluh keringat mulai bercucuran membasahi badan mereka berdua saat beradu mesra di atas ranjang cinta mereka.


Jia Li tampak kewalahan menerima setiap gerakan-gerakan tubuh Van Costel dalam tubuhnya.


Terlepas lingkaran kedua tangan Jia Li dari leher Van Costel karena gerakan yang dibuat oleh suaminya itu semakin kuat menghujam dirinya.


Pandangan Jia Li berubah samar karena hujaman-hujaman dari Van Costel yang memabukkan dirinya.


Sesekali terdengar rintihan-rintihan keduanya saat beradu mesra di atas ranjang yang tertutup tirai tipis.


''Jia Li, sayangku...'', desah Van Costel IV.


''Sayang ! Sayang !'', sahut Jia Li.


Jia Li berusaha sadar tetapi kenikmatan yang dirasakan olehnya karena desakan tubuh Van Costel dalam dirinya telah mengalahkannya.


Meluluh lantakkan sendi-sendi tubuhnya yang terbiasa terbangun waspada selama ini.


Kedua mata Jia Li berkedip pelan diiringi jeritan kecil dari bibir merahnya yang menggairahkan.


Suasana di ruangan kamar tidur mereka semakin syahdu dengan aroma dupa yang membius keduanya dalam mabuk lautan api cinta yang membara.


Aroma dupa tercium perlahan di seluruh ruangan kamar.


Hanya ada jeritan-jeritan kecil dari Van Costel serta Jia Li saat keduanya beradu mesra penuh gairah cinta.


Angin pagi itu berhembus lembut, suasana tampak tenang.


Hanya ada kicauan burung kenari yang mengisi sudut halaman di rumah megah milik hantu tampan itu.


Lembah Moldova yang sangat cantik dengan pemandangan bukitnya yang hijau permai serta letak lokasinya yang jauh dari keramaian kota.


Menambah indah lembah hijau tempat dimana hantu Van Costel IV tinggal sebagai pemimpin klan terkuat dari ketiga belas klan bangsawan Rumania saat ini.


Menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin tertinggi dari kedua tingkat pemimpin para Klan paling kuat serta berkuasa.


Terlihat Van Costel serta Jia Li yang tengah duduk di atas pangkuannya tengah menghadap ke arah luar rumah dari arah jendela kamar yang terbuka.


Van Costel bersandar dengan Jia Li dalam pelukannya.


Pandangan keduanya mengarah pada pemandangan luas lembah Moldova yang indah.


Dibelainya rambut panjang Jia Li yang terurai basah oleh keringat.


''Apa kau suka tempat ini ?'', tanya Van Costel.


''Hmmm...'', gumam Jia Li.


''Apakah kamu tidak bosan ?'', tanya Van Costel.


''Tidak..., selama aku bersamamu yang terus mencintaiku maka aku tidak akan pernah bosan...'', sahut Jia Li.


''Kapan-kapan kita ke pulau itu lagi untuk liburan'', bisik Van Costel.


''Kenapa ? Kau jenuh ?'', tanya Jia Li.


''Aku tidak akan merasa jenuh jika aku bersamamu, sayang'', sahut Van Costel.


''Tapi kenapa kau ingin kembali ke pulau itu lagi bukankah tugasmu masih belum terselesaikan disini ?'', kata Jia Li.


''Aku hanya ingin mengulang masa-masa pertama kalinya kita berjumpa di pulau terpencil di laut hitam'', sahut Van Costel.


''Kau ingin mengulang nostalgia bersamaku...'', kata Jia Li.


''Iya, aku ingin mengulangnya lagi'', sahut Van Costel.


''Baiklah, jika kamu menginginkannya maka aku akan mengabulkannya'', kata Jia Li.


''Setelah urusanku dengan si brengsek Dalca maka kita akan kembali kesana'', jawab Van Costel sesekali mengusap lembut rambut Jia Li yang terurai.


''Hmph..., iya...'', sahut Jia Li sembari merapatkan pelukannya di tubuh Van Costel.


Senyum mengembang di wajah cantik Jia Li saat itu sedangkan Van Costel diam menatap luar dengan pandangan serius.