Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 44 Aku menemukan cintaku


Malam kelima belas bulan purnama tiba, Van Costel IV memilih berdiam diri di dalam ruangan tertutup rapat tanpa pintu ataupun jendela.


Ruangan khusus yang hanya dirinya dan Antolin Lucian serta ayahnya yang bisa masuk ke dalam ruangan itu.


Van Costel IV menahan dirinya supaya dirinya tidak keluar dari ruangan tertutup rapat itu untuk menemui Jia Li.


Dia tetap bertahan berdiri di depan lingkaran pelindung yang ditengah lingkaran pelindung itu terdapat simbol plum disekelilingnya serta api hijau yang menyala.


Suara panggilan Jia Li terus terdengar hingga ke ruangan tertutup rapat itu.


Van Costel IV berusaha mati-matian untuk tidak terpengaruh oleh suara Jia Li.


Hantu tampan itu berdiri sambil menggenggam erat kitab hitam ditangannya seraya memejamkan kedua matanya.


Di luar ruangan...


''Van Costel sayang !'', panggil Jia Li dari arah luar ruangan.


Jia Li berjalan menelusuri jalan sepanjang lorong rumah yang disinari oleh temaram lampu gantung dari kristal-kristal cantik yang menempel di dinding.


Diedarkannya pandangannya ke arah sekeliling lorong sepi itu.


''Kenapa aku sedari tadi tidak melihat Van Costel IV ? Kemana dia seharian ini bahkan aku juga tidak melihat Antolin di rumah ini ?''


Jia Li bergumam sendirian seraya terus melangkah di area lorong ruangan rumah.


''Dia tidak berpamitan padaku ? Kenapa dengannya sebenarnya ?'', ucap Jia Li.


Jia Li terus melangkah menelusuri jalan di lorong itu.


Lorong yang menghubungkan antara ruangan rumah utama dengan ruangan yang lainnya di rumah itu cukup panjang dan luas, hanya saja tampak sunyi-senyap.


Jia Li juga tidak melihat para pelayan yang biasanya bekerja di rumah itu.


Semuanya benar-benar lenggang tanpa seorangpun di rumah megah milik Van Costel IV.


Jia Li menolehkan kepalanya ke arah sekitar ruangan yang ada di lorong sembari terus memperhatikan dinding-dinding di ruangan itu.


Mungkin saja ada suatu ruangan di rumah itu yang tersembunyi dan sengaja Van Costel IV rahasiakan dari dirinya.


''Aku tidak menemukan jejak Van Costel dimana-mana bahkan para pekerja di rumah ini juga turut menghilang... Apa yang terjadi !?'', kata Jia Li.


Jia Li masih penasaran dengan keberadaan suami hantunya yang tiba-tiba hilang darinya tanpa memberi kabar apapun padanya


Hal yang tidak biasa bahkan tidak pernah dilakukan oleh Van Costel IV sehari-harinya.


''Van Costel sayang ! Van Costel sayang ! Kamu dimana sayang ?''


Jia Li memanggil Van Costel IV seraya memandangi ruangan di lorong rumah itu.


Hening...


Suasana di rumah megah itu sangat hening. Tetap tidak ada suara jawaban dari Van Costel IV saat Jia Li memanggilnya.


''Van Costel ! Kamu dimana sayang ?''


Panggil Jia Li kembali sembari menangkupkan kedua telapak tangannya ke arah mulutnya yang merekah merah.


''Van Costel !!!'', panggil Jia Li lagi.


Jia Li lalu terdiam mematung seraya memejamkan kedua matanya.


Dia berusaha mencari keberadaan Van Costel IV dengan menggunakan mata batinnya.


Jia Li mengerahkan seluruh kemampuan spesialnya untuk menemukan Van Costel IV yang tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar apapun padanya.


''Van Costel... Van Costel...''


Pandangan mata batin Jia Li terus bergerak menelusuri alam ghaib untuk menembus pikiran Van Costel IV tapi Jia Li mengalami kesulitan.


''Sepertinya Van Costel diselubungi oleh lingkaran pelindung yang kuat sehingga aku tidak bisa menembus mata batinnya'', kata Jia Li.


Jia Li terus memejamkan kedua matanya dan berkonsentrasi penuh dengan mata batinnya untuk menembus dinding perlindungan Van Costel IV yang dibentengi oleh sesuatu yang ghaib.


''Ini seperti mantra pelindung yang memiliki aura spiritual tertinggi tingkat levelnya, hanya orang yang mempunyai tingkat spiritual tak terbatas tingkatannya saja yang mampu menciptakan ruang seperti ini...'', ucap Jia Li.


Kedua mata Jia Li masih terpejam rapat dengan pikiran yang terkonsentrasi pada Van Costel IV yang mulai terbaca oleh kemampuan spesialnya.


''Itu dia !!!'', pekik Jia Li.


''Dia berada di sebuah ruangan khusus yang seluruh dindingnya tertutup rapat tanpa pintu ataupun jendela... Dia dimana ? Apa masih di rumah ini..., atau dia diluar rumah ini ?''


Jia Li berkata pada dirinya sendiri sembari terus berkonsentrasi penuh dengan pikirannya yang terpusat pada Van Costel IV.


Dilihatnya dari mata batinnya, hantu tampan itu tengah berdiri di depan sebuah lingkaran pelindung yang ditengahnya terdapat lingkaran pelindung lainnya yang dipenuhi oleh simbol plum serta dikelilingi oleh api hijau kehidupan yang kuat.


Van Costel IV berdiri tegak menghadap lingkaran pelindung dengan kedua tangan menggenggam erat kitab hitam.


''Apa yang akan dilakukan olehnya ?'', batin Jia Li.


Jia Li mengarahkan tangannya ke arah samping lalu menghentakkan nya kuat-kuat.


Muncul sinar terang membentuk bintang bersinar yang tercium aroma plum disekitar Jia Li.


Tubuh Jia Li berangsur-angsur berubah penampilannya dan kini dia tengah mengenakan gaun putih tipis yang indah serta bersinar benderang.


Rambut Jia Li terurai panjang dan berubah menjadi berwarna emas berkilauan.


Aroma bunga plum yang khas dan wangi merebak di seluruh tubuh perempuan cantik itu.


WUSH... WUSH... WUSH...


Kain gaun Jia Li melambai-lambai ditubuhnya yang indah serta bercahaya terang.


"Van Costel..."


Jia Li bergumam lirih dengan kedua kakinya yang mulai tidak berpijak pada lantai ruangan, naik perlahan-lahan lalu melayang.


Tubuh Jia Li langsung menembus dinding ruangan yang tertutup rapat dimana Van Costel IV tengah berada di sana, berdiri menghadap ke arah lingkaran pelindung seraya menggenggam erat kitab hitam ditangannya.


''Van Costel...'', panggil Jia Li.


Hantu tampan Van Costel memalingkan wajahnya ke arah suara yang memanggil dirinya.


Dia melihat Jia Li kesayangannya tengah berdiri menatap dirinya dengan tubuh melayang-layang di atas ruangan khusus itu.


Van Costel IV tersentak kaget saat dia melihat istri tercintanya itu telah berada di dalam ruangan tertutup rapat sedang memanggil dirinya lirih.


''Van Costel... Van Costel...''


''Jia Li...'', sahut hantu tampan itu.


Van Costel IV tetap bergeming memandangi Jia Li tanpa beranjak dari tempatnya berdiri, hanya terpaku diam.


''Van Costel sayang...'', panggil Jia Li.


Jia Li bergerak perlahan menuju ke arah Van Costel IV yang hanya diam menatapnya teduh.


''Jangan mendekati ku sayang !'', sahut Van Costel IV.


''Kenapa sayangku ?'', tanya Jia Li lembut.


''Aku... Aku akan berbahaya bagi mu... Jangan dekati aku Jia Li sayang !'', sahut hantu tampan itu.


Jia Li hanya terdiam dengan tubuh masih bergerak melayang-layang di atas ruangan tanpa menyentuh lantai ruangan.


''Kenapa Van Costel ?'', tanya Jia Li.


''Ini malam kelima belas bulan purnama untuk ku dan ini adalah malam yang dingin serta berbeda, Jia Li sayang'', sahut Van Costel IV sendu.


''Apakah aku sebagai istri mu tidak boleh bersama dengan mu di malam kelima belas bulan purnama ini ?'', kata Jia Li.


''Tidak, sayangku ! Ini malam yang sangat menyiksa dan berbahaya bagi orang yang mendekati ku, Jia Li sayang'', sahut Van Costel IV.


''Seberbahaya apakah rintangan yang harus aku hadapi agar aku tetap bersama denganmu, Van Costel ?'', tanya Jia Li.


''Aku tidak dapat mengatakannya padamu, Jia Li sayang'', sahut Van Costel IV.


''Sayangku...'', ucap Jia Li lembut.


Kedua tangan Van Costel IV bergetar kencang saat api hijau yang mengelilingi lingkaran pelindung di hadapannya mulai menyala terang dan bergerak naik ke atas.


Api hijau spiritual itu berputar semakin lama semakin cepat di atas lingkaran pelindung sedangkan simbol plum yang ada pada lingkaran tengah berubah menjadi hidup.


Jia Li yang memperhatikan sekitar Van Costel IV menyadari bahwa suaminya itu tengah berkutat melawan sesuatu yang ada dalam dirinya.