
Ruangan CEO Ravindra Adyaksa kini terasa hening dan mencekam. Saat Mia melihat kakak iparnya tengah menatapnya dengan tatapan tajam ke arahnya dan Erik secara bergantian.
"Huhh... Harusnya rencana ku dan Erik berhasil, tapi karena kakak ipar kaku ini aku dan Erik malah terjebak di tempat ini sekarang! bagaimana caranya agar aku lepas darinya." Batin Mia meronta ingin melakukan protes, namun saat melihat wajah garang kakak iparnya ia pun mengurungkan niatnya.
Mia mendengus kesal saat ponselnya terus berdering memperlihatkan nama ayahnya yang tertera disana. "Aku sangat tidak yakin bahwa ayahku sangat bersemangat dalam hal seperti ini." Gumam Mia dalam hatinya.
"Hmmm... Apa ada yang mau mengajukan pertanyan?" suara bariton kakak iparnya menyadarkan Mia dari lamunannya.
"Tentu saja!" jawab Mia keceplosan. Mia pun langsung menutup mulutnya sendiri.
"Katakan apa yang kau ingin sampaikan Mia?" tanya Ravin yang kini sedang menatap adik iparnya dengan tatapan yang tak bersahabat.
Mia menghela nafasnya secara perlahan, dan mulai memberanikan dirinya untuk menatap Ravin. ''Kakak ipar, kenapa kau membawa kami kemari? apakah kamu memerlukan sesuatu atau."
"Adik ipar kau sangat lucu sekali,''
"Terimakasih!'' jawab Mia dengan cepat memotong perkataan yang akan di katakan oleh Ravin.
"Diam. Aku belum selesai bicara!" Bentak Ravin dengan keras.
Bukan Mia namanya kalau ia tidak bisa keluar dari hal yang sulit. Kini ratu drama itu mulai berakting di depan kakak iparnya.
"Huhuhu... Kenapa kau sangat kasar sekali, kakak tidak pernah tidak pernah memarahi aku seperti ini tapi kau.'' Mia yang langsung menangis memeluk tubuh Erik yang ada di sampingnya. Sedangkan Erik yang terkejut langsung mengangkat kedua tangannya saat Mia dengan spontan menangis di pelukannya.
Begitu juga dengan Ravin, yang langsung merasa bersalah sudah membentak adik iparnya dan membuatnya menangis. Namun bukan Ravin namanya kalau ia tak bisa membalikkan keadaan.
Kini kakak dan adik ipar itu pun mulai mempertahankan dirinya masing masing. Mia merasa kemampuan beraktingnya kini sedang di uji, sedangkan Ravin masih berpegang teguh pada darinya sendiri untuk menjaga reputasinya sebagai CEO yang tegas dan bijak sana.
"Tidak perlu berakting seperti anak kecil. Kau sudah dewasa harusnya tahu dengan apa kesalahan mu, atau aku akan adukan hal ini kepada kakak mu." Ucap Ravin yang langsung membuat Mia berhenti menangis.
"Dia licik sekali, ini tidak boleh dibiarkan!" Batin Mia.
"Kakak ipar kau sangat melukai hatiku. Huhuhu... Aku tidak yakin kak Mila bisa hidup bahagia dengan mu, sepertinya aku harus mengatakan hal ini secepatnya pada kakak.'' Ancam Mia yang langsung mengambil ponselnya di dalam tas nya.
''Tunggu, baiklah maafkan aku sekarang kau boleh pergi dari ruangan ku tapi sebelum itu ganti pakaian mu. Juna sudah membelinya disana." Tunjuk Ravin pada paper bag yang di letakan di aras meja yang tak jauh darinya.
"Apa kau sedang menyogokku?" tanya Mia dengan tatapan menyelidik nya.
Ravin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tentu tidak, sekarang lebih baik kau ganti pakaian mu sebelum Mila sampai di tempat ini!" jawab Ravin tanpa ekspresi.
Dengan cepat Mia pun langsung bangkit dari tubuh Erik yang masih mematung sejak tadi. "Yes berhasil.'' Gumam Mia lirih, namun masih dapat di dengar jelas oleh Erik.
"Entah apa yang akan di lakukan gadis konyol ini?'' Tanya Erik dalam hatinya.
"Dasar gadis konyol.'' Erik mulai menetralkan detak jantung nya yang tiba tiba berdetak begitu kencang.
Setelah Mia keluar dua pria yang kini saling berhadapan pun bernafas lega. Namun suasana di ruangan itu pun kembali mencekam saat Ravin mulai serius menatap ke arah Erik.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu Erik? salah bukan Erik tapi tuan muda Zayyan Erik Mahesa. Betul?''
"Tuan muda, tanpa aku mengatakan siapa diriku anda pasti sudah mengatahuinya bukan?" sahut Erik dengan santainya.
Ravin tersenyum smirk saat mendengar jawaban dari pengawal kepercayaan nya. "Aku akan membiarkan mu membalaskan dendam perbuatan ibu mu dan Bisma Davis, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Mia ikut terlibat dalam hal ini." Ucap Ravin dengan menekankan setiap kata katanya.
"Lalu saya harus bagaimana tuan?" tanya Erik dengan pasrah.
Sedangkan Ravin mendengus kesal dan menatap ke arah pria yang kini berdiri di hadapannya. "Baca ini, dan pahamilah isi di dalamnya." Ravin memberikan sebuah berkas yang di berikan Juna sebelumnya.
"Jadi ini alasannya mengapa pria tua itu terlihat begitu santai walau perusahaan nya hampir ambruk."
"Ya itulah alasannya. Karena dia tak memiliki hak apapun disana karena semua aset kekayaan milik tuan Arza Mahesa sudah mejadi milikmu, mungkin saja ayahmu sudah tahu hal ini dari sebelumnya jadi dia memindahkan semua aset kekayaannya atas namamu."
"Pantas saja beberapa bulan setelah aku dan papa pergi dari rumah itu, banyak orang mencari keberadaan ku. Mungkin mereka pikir saat itu aku lemah dan tak tahu tentang apapun, tapi sekarang aku sudah siap dengan permainan ini dan bersiaplah untuk merasakan neraka yang ku buat khusus untuk mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja dari genggaman tanganku.'' Batin Erik.
"Jangan berpikir terlalu dalam mulai saat ini kau belajarlah menjadi seorang tuan muda yang bisa mengelola perusaah mu sendiri biarkan aku yang mengurus yang lainnya."
"Tapi tuan," ingin sekali Erik protes dengan keputusan Ravin. Namun dengan cepat Ravin mengangkat tangannya tanda tak ingin mendengar apapun lagi, keputusan Ravin sudah bulat dan tak bisa di ganggu gugat lagi.
"Ini semua aku lakukan demi ketenangan istriku, aku ingin kami hidup bahagia tanpa gangguan apapun. Sekalipun itu ayah kandungnya! sekarang pergilah temui juna.'' Ravin mengibaskan tangannya untuk mengusir Erik. Karena jam sudah hampir makan siang ia tak ingin jika istrinya datang dan mendengar semua percakapan di antara mereka membuat perpecahan antara hubungannya dan Mila.
Setelah beberapa saat Erik keluar, kini pintu ruangan pun kembali terbuka. "Sudah aku katakan keluarlah dan jangan mengganggu ku lagi.'' Tanpa melihatnya terlebih dahulu Ravin langsung memaki orang yang membuka pintu ruangannya.
Deghh..
"Maaf jika aku mengganggu mu, aku hanya membawakan bekal makan siangmu saja." Ucap Mila dengan suara menahan tangisnya.
"Sayang!'' Ravin merasa sangat terkejut saat mendengar suara istrinya. Sedangkan Mila langsung berlari keluar setelah menyimpan rantang makanan untuk Ravin di meja.
"Sayang tunggu aku. Akh... Sial sekali aku hari ini.'' Geram Ravin pada dirinya sendiri.
"Sayang!'' Ravin terlambat mengejar istrinya, Mila sudah lebih dulu memasuki lift karyawan untuk mencapai loby.
Bersambung...