
"Tunggu apa tadi tuan muda memanggil ku? tidak. Aku pasti salah dengar.'' Tanya Mila dalam hatinya.
Mila kembali berjalan untuk keluar dari ruangan Ravin setelah ia melirik sekilas ke arah Ravin yang sedang duduk diam tanpa ekspresi apapun.
"Lala '' panggil Ravin kembali saat ia yakin bahwa Mila adalah Lala nya yang selama ini ia cari.
"Tuan apa anda memanggil saya?'' tanya Mila dengan wajah terkejut nya, karena ini pertama kalinya nama masa kecilnya di sebut kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
Ravin tersenyum saat melihat wajah terkejut Mila dan berjalan menghampiri Mila yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Ayo ikut aku!'' Ravin menggenggam tangan Mila dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
"Tuan kita akan kemana?'' tanya Mila yang masih dengan wajah bingungnya. Namun Ravin tak menjawab pertanyaan nya dan membawa Mila ke dalam mobil dan membawanya ke suatu tempat.
Dalam mobil Mila hanya diam saja memikirkan apa yang sedang terjadi dan berbagai macam pertanyaan pun muncul di dalam pikirannya.
"Sebenarnya siapa tuan Ravin, kenpa dia memanggil ku dengan nama masa kecilku. Tak banyak orang yang tahu nama itu hanya ayah, ibu dan, pria kecil itu! apaka tuan Ravin adalah kak Ra. Tidak! Itu tidak mungkin.'' Mila terus berperang dalam hatinya sendiri, namun ia tak berani bertanya terlebih dahulu pada Ravin saat ini.
Sedangkan Ravin hanya tersenyum dalam hatinya saat melihat raut wajah Mila yang terlihat begitu lucu di matanya. Setelah beberapa saat mobil yang di kendarai Ravin pun berhenti di sebuah tempat yang cukup jauh dari mansion utama.
Ravin keluar terlebih dahulu dari dalam mobilnya, dan berjalan cepat memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Mila. Setelah keluar dari dalam mobil Ravin, kini Mila pun menjadi sangat yakin bahwa Ravin adalah temannya masa kecilnya dulu.
"Tempat ini!"
"Ya, apa kau masih ingat dengan tempat ini Lala?''
Mila merasa sangat terkejut bahwa pria yang ada di hadapannya kini adalah teman masa kecilnya. "Jadi tuan muda kau adalah,"
"Ya. Dulu kita belum sempat berkenalan bukan? sekarang aku akan mengenalkan diriku padamu'' Ravin menyodorkan tangannya pada Mila dengan senyuman yang tak pernah pudar menghiasi wajahnya saat ini. Sedangkan Mila hanya menatap ke arah tangan Ravin, ia merasa sangat sungkan saat menjabat uluran tangan Ravin saat ini karena setelah dua puluh lima tahun semuanya sudah sangat berbeda.
"Kenapa kau hanya diam saja La, bukankah dulu kau sangat ingin mengetahui siapa namaku?" tanya Ravin penasaran karena sejak tadi Mila hanya diam saja tak membalas uluran tangannya.
Kini Mila pun mulai menatap ke wajah tampan Ravin untuk beberapa detik, ''Maaf tuan dua puluh lima tahun sudah berlalu, saya rasa itu tidak di perlukan lagi.''
"Kenapa?''
"Karena kita berbeda, anda pasti mengerti dengan apa yang saya katakan.'' Sahut Mila tanpa melihat ke arah pria yang ada di hadapan nya kini.
"Kita sama Lala, aku mohon jangan menghindariku. Sudah sangat lama sekali aku mencari keberadaan mu tapi sayangnya aku tidak bisa menemukan mu! andai saja waktu mempetemukan kita dengan cepat."
"Lala kau tidak akan bisa mengejarku''
"Bisa, tentu saja bisa! ayah selalu bilang bahwa aku adalah anak perempuan yang kuat dan pintar kelak aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan.''
" Lalu apa yang kau inginkan?''
"Aku hanya ingin bersama dengan mu kak sampai kita besar nanti seperti ayah dan ibu! "
"Baiklah permintaan tuan putri akan di kabulkan, aku akan menikahimu saat aku sudah dewasa seperti daddy. Karena daddy pernah mengatakan bahwa dengan menikah, kita akan hidup bahagia dengan orang yang kita cintai. Jadi mari kita menikah!.
"Lala apa yang sedang ku pikirkan?'' Tanya Ravin saat melihat Mila hanya diam saja dengan air mata yang menetes di pipinya. Dan menyadarkan Mila dari lamunan masa kecilnya dulu, ingin sekali Mila memeluk tubuh Ravin saat ini untuk menceritakan semua yang sudah ia lalui pada Ravin. Namun semua itu tidak mungkin ia lakukan saat ini mengingat statusnya dan Ravin bukanlah anak-anak lagi
Mila hanya menatap Ravin sekilas, ''Saya baik-baik saja tuan muda, hanya saja saya sangat terharu akhirnya saya bisa menemukan teman masa kecil saya dulu. Terimakasih, hari itu anda mau menjadi teman baik saya!'' Mila menatap Ravin dengan tersenyum penuh ketulusan.
"Lala panggil aku kakak, sama seperti masa kita kecil dulu.'' Pinta Ravin sambil mengusap air mata Mila dan menggenggam erat tangannya. Ravin merasa sangat takut jika Lala nya benar-benar akan menolak kehadiran nya saat ini.
"Itu tidak mungkin tuan muda, karena saya tidak pantas lagi untuk berteman dengan anda karena kehidupan kita sudah sangat berbeda dari segi apapun.'' Jawab Mila yang melepaskan genggaman tangan Ravin dengan perlahan dan akan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Namun langkah nya terhenti saat Ravin mulai mengeluarkan semua derita yang ia pendam dalam hatinya.
"Lala apa kau ingin tahu kenapa aku harus pergi hari itu dan untuk waktu yang sangat lama sekali, andai saja itu tidak terjadi mungkin saja kita tidak akan pernah berpisah. Andai saja!''
Kini Mila pun berbalik menatap ke arah Ravin yang memperlihatkan sisi rapuhnya. "Semua yang sudah terjadi adalah takdir tuan, kita hanya manusia biasa yang tak pernah bisa megubah semuanya dengan keinginan kita."
"Kau benar, andaikan saja waktu bisa terulang kembali aku tidak ingin menjadi diriku yang sekarang. Apa kau tahu La, begitu banyak tekanan yang harus aku jalani saat itu karena harus menggantikan posisi daddy di usiaku yang sangat muda dan belum tahu apapun."
"Apa itu kabar buruk yang di katakan pria yang kembawamu pergi?'' tanya Mila dengan sangat hati-hati.
"Benar, saat itu aku harus menggantikan posisi daddy karena ia terlibat kecelakaan maut. Banyak orang yang tewas dalam kejadian hari itu termasuk daddy dan semua penyebabnya adalah karena pria tua itu!'' Ravin meremas tangannya sendiri dengan kilatan kemarahan yang teramat dalam.
Mila yang melihat ekspresi Ravin saat ini pun mulai memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ravin untuk meredakan emosi nya. "Maut, jodoh dan rezeky sudah di atur oleh sang pencipta, kita sebagai manusia hanyalah menjalankan rencannya. Aku pun tak tahu sampai saat ini dimana keberadaan ayahku, sudah bertahun-tahun kami mencari nya namun aku tak bisa menemukan ayah. Karena hal itu membuat ibu sering sakit-sakitan hingga akhirnya ia pergi ke hadapan sang khalik."
"Maaf karena aku, kau jadi ingat masa sedihmu. Aku berjanji akan membantu mencari keberadaan ayahmu.'' Ucap Ravin sambil mengusap air mata Mila yang keluar begitu saja.
Bersambung..