
Ravin memeluk tubuh Mila menyalurkan semua kerinduan yang sudah lama terpendam. "Aku sudah menukanmu sekarang, dan semuanya akan baik-baik saja.'' Ucap Ravin menenangkan Mila.
"Terimakasih tuan muda atas kebaikanmu.'' Ucap Mila yang tak bisa menahan isak tangisnya.
Ravin melepaskan pelukannya secara perlahan dan mengusap air mata Mila yang keluar begitu saja. "Lala aku ingin kau memanggilku seperti dulu, aku tidak suka saat kamu memanggilku dengan sebutan tuan. Karena aku merasa kamu tidak menganggapku sebagai teman lagi."
"Maaf bukan begitu maksudku, tapi." Mila merasa sangat bingung harus menjelaskan apa pada Ravin saat ini.
"Lala aku tahu kau memiki banyak trauma dalam hidupmu, tapi sedikit demi sedikit aku akan memberikan kebahagiaan agar kau bisa melupakan semua rasa sedihmu itu. Itulah janji seorang Ravindra Adyaksa untuk Lalaku.''
"Lala, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu tapi,"
Mila mulai menggenggam tangan Ravin untuk memberikan kekuatan padanya. "Seperti yang kamu katakan kak. Semuanya akan baik-baik saja'' Ucap Mila memotong perkataan Ravin.
Ravin pun tersenyum saat mendengar Mila memanggilnya dengan sebutan masa kecil mereka. "Teman" Ravin memajukan jari kelingkingnya ke hadapan Mila seperti yang selalu Mila lalukan dulu. Mila pun tersenyum saat melihat Ravin yang menirukan dirinya dulu.
Mila pun mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Ravin. "Teman'' Mila tersenyum lepas bagitu juga Ravin.
Ravin pun kembali memeluk tubuh Mila dengan senyuman yang tak pernah pudar menghiasi wajahnya. " Aku akan memulai hubungan ini dengan pertemanan terlebih dahulu, karena butuh waktu lama untuk Lala melupakan semua rasa sakit atas penghianatan suaminya, terlebih lagi saat ini bajingan itu mulai mendekati Lala ku kembali." Ucap Ravin dalam hatinya.
"Semoga saja dengan ini aku bisa menemukan keberadaan ayah berkat bantuan tuan Ravin, dia punya segalanya pasti sangat mudah bagi tuan Ravin untuk menemukan keberadaan ayahku''
"Ayo. Sebaiknya kita pulang sekarang'' Ajak Ravin yang langsung menarik tangan Mila untuk pergi dari tempat itu.
*
*
"Tidak. Aku tidak mau pulang jika bukan mommy yang menjemputku" Protes Kenzo sambil bersedekap dada dan memalingkan wajahnya dari Erik.
"Tuan kecil tolong mengertilah, tuan muda yang menyuruh saya untuk menjemputmu dan saya tidak tahu dimana keberadaan nona Mila saat ini." Erik mulai memohon pada Kenzo agar Kenzo ikut bersama dengan nya.
"Aku akan menunggu sampai mommy datang. Uncle pergi saja'' Kenzo mengibaskan tangannya untuk mengusir Erik agar pergi meninggalkan nya disana sendiri.
"Aku tidak pernah mengerti mengapa seorang perempuan bisa membuat seorang pria menjadi tidak waras seperti ini." Gumam Erik lirih.
"Tuan kecil tolong mengertilah.''
"Zozo'' Teriak seorang gadis berambut pendek yang melambaikan tangannya di sebrang jalan. Membuat Erik dan Kenzo menatap ke arah sumber suara.
Kenzo menatapnya dengan penuh senyuman sedangkan Erik menghela nafasnya saat melihat siapa yang datang menghampiri mereka saat ini.
"Zo. Aunty datang untuk menjemputmu sesuai perintah kakak maksudku mommy Mila.'' Ucap Mia yang langsung turun dari motornya.
"Dimana mommy?'' Tanya Kenzo sambil memindai tempat itu untuk mencari keberadaan Mila.
"Mommy mu sedang melakukan suatu hal yang sangat penting. Tadi dia menghubungi ku untuk menjemputmu, karena mommy mu sudah tahu kau pasti tidak akan pulang begitu saja dengan orang asing'' Ucap Mia yang sedikit menyindir Erik yang sedang berdiri seperti patung.
"Kau tidak perlu menyindirku orang asing, karena kau juga sama orang asing yang tak memiliki ikatan darah dengan tuan kecil kami'' Sahut Erik dengan penuh menekan.
"Maaf. Aku rasa aku tidak menyindir mu kenapa kau sewot begitu seperti perempuan yang sedang PMS saja'' Ucap Mia sambil mencebikkan bibirnya.
"Dasar pria aneh." Ucap Mia dengan nada sinisnya.
"Ayo Zo kak Mila pasti sudah menunggu kita." Ajak Mia sambil menggendong Kenzo meninggalkan Erik yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. Namun dengan cepat Erik mencegahnya dan meghalangi jalan Mia.
"Aku tidak akan membiarkan mu membawa tuan kecil begitu saja, karena dia adalah tanggung jawabku. Tuan muda sendiri yang menyuruhku untuk menjempunya.''
''Minggir jangan menghalangi jalanku'' Kesal Mia pada pria yang ada di hadapannya kini.
"Uncle minggirlah jangan menghalangi jalan kami. Aku akan pulang bersama aunty Mia dan sebaiknya kau pulanglah sendiri, karena aku sedang ingin naik motor agar lebih cepat bertemu dengan mommy. Saat ini Mommy pasti sedang cemas menunggu ku."
"Tapi tuan kecil,"
"Ini perintah." Sahut Kenzo dengan nada kesalnya. Kini Erik pun memberikan jalan untuk Mia dan Kenzo dengan wajah tanpa ekspresi, Sedangkan Mia langsung menjulurkan lidahnya meledek Erik.
Mia mendudukan Kenzo di motornya dan berlalu pagi meninggalkan Erik yang masih menatapnya penuh kekesalan.
"Aunty ayo lebih cepat sedikit''
"Tidak bisa zo, kamu nggak pake helm bisa-bisa aku di skakmat nanti sama kak Mila" Ucap Mia yang langsung memakirkan motornya di toko helm.
"Aunty untuk apa kita kemari, apa mommy ada disini?'' Tanya Kenzo dengan wajah polosnya.
"Kita beli helm dulu Zo''
"Untuk apa?''
"Untuk melindungi kepalamu, seperti yang aku pakai saat ini'' Tunjuk Mia dengan gaya centilnya. Sedangkan Kenzo hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
*
*
Kini mobil yang di kendarai Ravin pun sampai fi halaman rumah Mia, " Tunggu sebentar biar aku ambilkan foto ayah terlebih dahulu " Ucap Mila sambil membuka seatbelt nya.
"Baiklah aku akan menunggu mu disini La''
Mila pun keluar dari mobil Ravin dan masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil foto sang ayah agar memudahkan Ravin untuk mencari keberadaan ayah Mila saat ini. Namun tanpa foto pun sebenarnya Ravin bisa dengan mudahnya melacak keberadaan ayah Mila saat ini.
Asalkan Mila menyebutkan nama dan ciri-cirinya dengan jelas, hanya saja ini adalah trik Ravin agar ia bisa berlama-lama bersama dengan Mila. Karena sejujurnya Ravin rak ingin jauh dari cinta pertamanya yang baru ia ketahui keberadaan nya saat ini.
Ravin tersenyum dan memejamkan matanya sejenak sambil menunggu Mila datang kembali, Begitu juga dengan Mila yang berada di dalam rumahnya. Ia tersenyum saat menemukan foto sang ayah yang sedang tersenyum menggendong dirinya sebelum ayahnya pergi dulu.
"Ini adalah foto terakhir kita ayah, andaikan aku tahu kau akan pergi selama ini mungkin aku tidak akan membiarkan mu pergi saat itu.'' dengan langkah cepat Mila pun keluar dari rumahnya membawaku foto tersebut. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok tak asing lagi bagi Mila.
"Kau'' Mila langsung tak sadarkan diri saat Hendra menutup wajah Mila dengan sapu tangan yang sudah ia berikan obat bius.
Bersambung..