
***
Beberapa minggu kemudian,
Keira yang harus mengikuti praktek Tour Planning susulan seorang diri terpaksa bergabung dengan kelompok dari kelas lain. Hal itu dikarenakan seluruh mahasiswa di kelasnya sudah selesai melakukan praktek Tour Planning itu beberapa minggu yang lalu.
Berbeda dengan saat praktek di kelasnya yang terbatas waktu pelaksanaan sehingga hanya berkonsep sightseeing tanpa drop off atau kunjungan, praktek dengan kelas lain kali ini memiliki waktu pelaksanaan yang lebih dari cukup.
Sehingga terdapat beberapa tujuan drop off di sela-sela agenda tour. Dan sebagai tujuan akhir tour sekaligus penutup, mereka akan mengadakan acara bebas di DESPERATE BAR, salah satu Bar ternama di kota itu yang terletak di lantai paling atas atau rooftop sebuah Hotel Bintang Empat tempat para tamu tour itu akan menginap.
Pada pelaksanaan praktek kali ini Keira sebenarnya hanya bertugas sampai para tamu-tamu itu tiba di Hotel. Untuk selanjutnya Keira akan langsung kembali ke kampus bersama bus milik fakultas yang seharian ini mereka gunakan untuk keliling kota lalu bertugas mengurus administrasi pengembalian bus tersebut ke kantor inventaris fakultas.
Namun sesampainya Keira dan rombongan tournya di Hotel Bintang Empat itu, pemuda yang seharusnya bertugas untuk mengantar para tamu ke Bar, kebetulan sedang sakit perut sehingga mengharuskan ia segera mencari toilet setibanya mereka di Hotel untuk menuntaskan hajat yang sedari tadi ditahannya
Karenanya Keira terpaksa menggantikannya untuk mengantar para tamu ke lantai paling atas hingga masuk ke DESPERATE BAR tersebut dan menemani mereka sejenak selama proses check in Hotel yang dilakukan mahasiswa lainnya beres.
Beberapa tamu pria yang nampak tertarik kepada Keira sejak awal, berusaha mengajak Keira untuk ikut minum-minum di bar itu bersama mereka.
"Mbak Keira gabung yuk sama kita!" ajak salah satu tamu pria.
"Iya mbak, pasti capek kan habis tugas seharian? alkohol bisa ngilangin capek lho." rayu tamu pria yang lain.
"Jangankan cuman rasa capek, alkohol juga bisa ngilangin sakit hati juga kok." canda tamu pria yang lainnya lagi sambil tertawa. Dan disusul oleh tawa-tawa teman-temannya pula.
Keira terdiam sejenak, berusaha menalar kalimat terakhir dari tamu pria itu. Benarkah alkohol bisa menghilangkan rasa sakit hati, Keira membatin. Keira yang memang sebelumnya belum pernah benar-benar minum alkohol sama sekali tidak tahu efek dari minuman-minuman itu.
Dulu pernah suatu kali Keira tidak sengaja mencicipi brandy karena dibohongi oleh salah satu teman Argha dari kelas Perhotelan. Teman Argha itu memberi Keira segelas brandy dingin yang dikira Keira hanyalah segelas es teh biasa lalu tanpa ragu Keira pun meminumnya.
Namun ketika ujung lidahnya menyentuh cairan itu seketika Keira terbatuk-batuk karena kaget akan sensasi yang diciptakan minuman itu hingga membuat Argha marah besar pada temannya. Saat itu hanya rasa pahit dan sedikit terbakar yang terasa di lidah Keira.
Tapi jika memang alkohol mampu benar-benar menghilangkan rasa sakit hati seperti yang mereka katakan itu, maka Keira sungguh ingin mencobanya. Mungkin saja dia bisa menghilangkan atau paling tidak melupakan rasa perih dan pilu di hatinya ini dengan meminum minuman itu.
"Maaf, saya sedang menjalankan tugas, jadi saya tidak bisa menerima tawaran anda semua. Terima kasih." ucap Keira sopan menolak tawaran itu.
Tak lama datanglah salah seorang dari teman kelompok Keira yang mengkonfirmasi bahwa proses check in untuk tamu-tamu hari ini sudah beres. Termasuk barang bawaan mereka pun sudah terkoordinir dan dimasukkan ke kamar mereka masing-masing.
Keira mengangguk perlahan menerima konfirmasi dari mahasiswa itu. Lalu gadis itu memulai narasi closingnya di hadapan para tamu yang berjumlah tak lebih dari lima belas orang itu.
"Para tamu sekalian, tibalah kita di penghujung agenda City Tour kita hari ini." Keira memulai ucapan penutupnya.
"Saat ini, anda berada di DESPERATE BAR. Bar paling bergengsi di kota ini. Selanjutnya silahkan anda semua menikmati acara bebas di Bar yang terkenal dengan koleksi cocktail dan mocktailnya yang sangat bervariasi." tambah Keira lalu memberikan kode kepada kedua mahasiswa lain untuk memberikan kunci kamar hotel ke seorang pria yang ternyata adalah pemimpin rombongan itu.
"Proses check in anda semua sudah selesai serta barang bawaan sudah kami masukkan ke kamar anda masing-masing. Kunci kamar hotel beserta list nomor masing-masing kamar sudah ada ditangan Tour Leader anda sekalian." Keira berbicara sambil menunjuk kepada pemimpin rombongan.
"Terima Kasih telah mengikuti program City Tour bersama kami, kurang dan lebihnya kami haturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya dan semoga berkenan." tutup Keira yang langsung disambut tepuk tangan penuh kepuasan dari para tamunya itu.
Sebelum Keira keluar dari Bar tersebut, seorang tamu yang masih penasaran ingin mengajak Keira minum-minum kembali menyuarakan niatnya.
"Mbak Keira, kan sudah bebas tugas. Jadi sudah boleh gabung sama kita dong!" ajaknya antusias.
Keira berpikir sejenak. Memang dirinya sudah selesai bertugas. Dan kalaupun dia ikut minum-minum saat ini, hal itu sudah tidak akan mempengaruhi penilaian tentang tugas prakteknya lagi.
Sementara godaan dari dalam diri Keira untuk membuktikan apakah benar alkohol bisa menghilangkan rasa sakit hatinya atau tidak, masih sangatlah besar. Toh, aku cuman akan minum satu gelas, pikir Keira naif.
"Baiklah, saya akan bergabung." ucap Keira menerima ajakan itu yang langsung disambut sorakan Hore dan tepuk tangan penuh antusias dari para tamu-tamu pria yang lainnya.
Tanpa Keira sadari, ia baru saja membuat keputusan terburuk dalam hidupnya. Keira bukannya tak menyadari bahayanya menerima ajakan minum-minum dari orang asing.
Salah satunya adalah Beth, gadis itu sangat hilang kendali saat mabuk. Tidak hanya tingkahnya yang menjadi liar tapi juga tutur katanya yang meracau macam-macam.
Keira berpikir mungkin dirinya juga akan bersikap demikian jika mabuk tapi Keira pun sangat tergelitik untuk mencoba menghilangkan rasa sakit di hatinya melalui minuman itu.
Maka Keira tak mau ambil pusing lagi dan masa bodoh dengan apapun resikonya nanti. Keira lalu menurut saja ketika diminta duduk ditengah-tengah para tamu pria tadi.
Tanpa Keira sadari seseorang tengah memperhatikan gerak geriknya sedari tadi. Pria yang duduk di sudut ruangan itu kebetulan sedang berada disana untuk urusan bisnis dan sedang berbincang serius dengan rekan bisnisnya hingga kedua bola matanya kemudian menangkap sosok Keira dari kejauhan.
Untung saja Keira tidak menyadari keberadaan pria berkacamata itu di sudut sana sehingga ia bisa dengan leluasa mengawasi gadis itu meskipun telinganya sudah tak mampu menangkap apapun yang disampaikan oleh rekan bisnisnya.
Dengan sopan Rizzi menginterupsi penjelasan rekan bisnisnya tersebut untuk meminta izin menjadwalkan ulang pertemuan mereka berdua saat itu.
"Maaf Pak Alan, sepertinya saya baru melihat saudara saya yang sudah lama tidak saya temui memasuki Bar anda ini. Karena saya ingin berbincang dengannya, jadi bagaimana kalau kita jadwalkan ulang pertemuan kita kali ini." ucap Rizzi penuh wibawa.
"Oh, baiklah kalau begitu Mas Rizzi. Kapan pun anda siap, saya akan dengan senang hati meluangkan waktu saya." balas Pak Alan.
"Terima kasih banyak atas pengertian anda, Pak Alan." Rizzi berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pemilik DESPERATE BAR itu.
"Sama-sama Mas Rizzi. Sampaikan salam saya kepada orang tua anda." Pak Alan ikut berdiri lalu menerima jabatan tangan dari Rizzi.
"Pasti akan saya sampaikan, Pak." sahutnya.
"Silahkan anda nikmati waktu dengan saudara anda di Bar kami ini." tutup Pak Alan sebelum berlalu pergi yang hanya dibalas Rizzi dengan sedikit membungkukkan badan tanda kesopanan.
Setelah Pak Alan menghilang dari pandangan, Rizzi segera kembali mencari-cari sosok Keira dalam keremangan cahaya indoor di Bar itu. Matanya lalu terbelalak kala dilihatnya Keira sedang duduk diantara para tamu pria.
Rizzi diam-diam mengambil ponselnya lalu dengan sembunyi-sembunyi berusaha memotret Keira dengan kamera ponselnya.
"Argh, sial." rutuk Rizzi ketika dilihatnya hasil jepretannya itu kurang maksimal alias blur. Wajah Keira sama sekali tidak terlihat jelas di foto itu.
Tak kurang akal Rizzi memanggil salah satu waiter dan menginstruksikan pelayan itu untuk mengambil foto Keira diam-diam dari jarak yang cukup dekat dan menyuruhnya untuk mencari tahu apa yang sedang dibicarakan Keira dengan pria-pria itu.
Dengan senyuman penuh arti, tak lupa Rizzi selipkan selembar uang seratus ribuan ke dalam kantong seragam waiter itu sebelum mulai menjalankan misi rahasianya.
Tak lama waiter itu kembali mendekati meja Rizzi untuk menyampaikan hasil penyelidikan singkatnya.
Rizzi menggangguk-anggukkan kepalanya tanda puas terhadap foto yang diambil waiter itu karena cukup jelas memperlihatkan wajah Keira yang sedang dikerumuni pria-pria tak dikenal.
Waiter itu juga menyampaikan hasil mengupingnya kepada Rizzi. Rizzi kembali manggut-manggut mendengarkan penjelasan waiter yang berbisik kepadanya.
Setelah pelayan suruhan Rizzi pergi dan kembali ke pekerjaannya yang semula. Rizzi tersenyum singkat karena sebuah ide yang seketika terbersit di otaknya.
Dengan seringai penuh arti yang tersungging dibibirnya, Rizzi langsung mengirimkan foto yang baru saja di dapatnya itu via chat kepada Tyo berharap sahabatnya itu memakan umpan yang baru saja dilemparnya.
To Be Continue...
.
.
.
.
.