Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : NASIB MILLA


.


.


.


Setelah makan siang bersama, kecuali Ny.Naina yang tengah menidurkan cucunya di lantai dua, mereka semua berkumpul di tepi kolam renang. Mereka memilih lokasi itu untuk bermusyawarah dengan harapan dapat sedikit mengurangi sesak di dada Milla ketika gadis itu berada di lingkungan yang lebih menyejukkan.


Mbok Sri baru selesai mengantar minuman dingin untuk mereka berempat ketika Beth dan Rizzi sekonyong-koyong muncul dari pintu samping, "Holaaaa...we are coming!" seru Rizzi sambil melambai-lambaikan tangan dengan semangat.


Melihat kemunculan mereka itu, Keira segera meminta Mbok Sri untuk membawakan minuman tambahan untuk dua orang yang baru bergabung.


"Kok lo jam segini udah pulang sih, Beth?" tanya Keira dengan heran.


"Ini kan sabtu, Kei. Pegawai baru kaya' gue gini dapetnya shift pendek kalau weekend. Jadi pulangnya setengah hari dong!" balas Beth sambil melepas alas kakinya satu persatu, mendorong sepatu pantofel hitam itu menjauh dari tepi kolam, lalu mendaratkan diri di sisi Keira yang tengah duduk bersila.


"Trus, kok bisa kamu ke sini bareng alien satu ini?" tanya Tyo yang bersedekap di sisi Keira yang satunya.


"Anjiirr, untung ini rumah lo, coba ini rumah gue udah gue usir lo, Tyo! Sialan banget ngatain gue alien!" rutuk Rizzi sewot.


Semua yang ada di sana tertawa kecuali Rizzi. Bahkan Beth tergelak tanpa ragu meski pria yang mereka tertawakan itu baru saja memberikan tumpangan untuknya.


Masih dengan tawa yang belum mereda, Beth menaikkan kedua bahunya sambil menjawab, "Tahu-tahu dia nongol di depanku waktu aku lagi berdiri di trotoar jalan depan Dae-Ho Trip, pas mau nyari ojek online. Katanya sih kebetulan lewat." balas Beth polos.


"Ooohhh...gituuuu...kebetulan ya?" Tyo pura-pura manggut-manggut sembari menekankan kata 'Kebetulan' yang disinggung Beth.


Setelahnya, dengan kompak Tyo, Said dan Keira sama-sama menyipitkan mata ke arah Rizzi dengan ekspresi yang menyiratkan pernyataan Modus-Lo-Receh-Banget.


Merasa tak mampu menyembunyikan wajah kikuk karena niat terselubungnya ketahuan, Rizzi segera mengalihkan perhatian ketiga pasang mata yang menatapnya penuh curiga dengan berpaling ke arah Milla dan langsung menyodorkan tangannya kepada gadis itu, "Wah, ini ya yang namanya Milla? Kenalan dong!"


"Eh, iya! Saya Millana Risty!" balas Milla sedikit kaget dengan uluran tangan Rizzi yang tiba-tiba.


"Nggak usah kaget gitu! Gue Rizzi. Dan jangan manggil gue 'Mas' karena nggak cocok sama look gue yang kebule-bulean ini. So, panggil aja Kak Rizzi, Oke!" balas Rizzi sambil menggenggam tangan Milla dengan cepat lalu segera melepasnya kembali.


"Waahh, ini orang makin parah halunya!" sembur Said asal nyeplos. "Masa' rambut karatan gitu dibilang kebule-bulean?! Jangan percaya, Mill! Itu HOAX!" imbuh Said berapi-api.


"Eehh, ceking!!! Mulut lo kegatelan banget ya kaya'nya, sini-sini gue garukin pake garpu taman!" maki Rizzi gemas.


"Lagian...umur udah pantes dipanggil 'Om' gitu masih minta dipanggil 'Kak'. Hilliiiihhhh.....!" Said memutar bola matanya tanpa takut.


"Hehh, bocah. Bisa diem nggak lu!" balas Rizzi sewot.


Lagi-lagi semuanya tertawa menyaksikan interaksi antara Said dan Rizzi yang saling serang bagaikan Tom and Jerry.


"Dan gue Bethsa Putry." giliran Beth yang menyodorkan tangannya kepada Milla saat tawa mereka semua mulai mereda.


"Oh, iya Kak Bethsa! Saya Milla." sambut Milla masih kikuk.


"Panggil aja Beth, dan aku turut prihatin sama musibah yang barusan kamu alami." ucap Beth tulus. "Tapi kok bisa ya nasib kamu sebelas dua belas sama Keira. Dulu dia juga pernah jadi korban kebakaran di tempat kerjanya loh." imbuh Beth mengenang masa lalu Keira.


"Waahh...bener banget tuh. Jadi inget, gue kan yang duluan tahu kalau tempat kerja Keira kebakaran!" Rizzi menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah.


"Udah-udah nggak usah bahas masa lalu gue, sekarang itu kita ngumpul di sini untuk bahas nasibnya Milla nih. Kalian ada saran nggak?" Keira memotong dengan cepat.


"Tunggu-tunggu, sebaiknya kita tanya sama Milla. Apa aja barang-barangnya dia yang bisa dia selametin dari kebakaran kemarin?" cetus Tyo.


Setelahnya, lima pasang mata yang ada di sana semuanya tertuju ke arah Milla. Membuat gadis itu mendadak gugup sekaligus gelisah.


"Ng...ng..." Milla memilin-milin jarinya sambil menelusuri wajah-wajah yang mengelilinginya. Wajah-wajah yang menunggu jawaban darinya dengan sabar. Wajah-wajah yang tampak tulus berniat untuk membantunya.


Ketika Milla masih berpikir apakah ia layak menerima begitu banyak bantuan dari orang-orang yang baru dikenalnya ini, tiba-tiba Keira menyentuh lembut tangannya yang sedikit gemetar.


"Milla, kamu jangan takut dan jangan ragu! Jujur aja sama kita, jangan malu! Semua orang yang habis kena musibah itu berhak untuk dibantu. Walaupun kita baru kenal, tapi itu nggak menghapus kenyataan kalau kamu temanku. Dan aku pengen bantuin kamu. Kami semua di sini, pengen bantuin kamu." ungkap Keira dengan tulus.


Milla tak dapat lagi membendung perasaannya yang penuh haru. Ia berkedip dengan cepat agar tidak menumpahkan air matanya di depan para penolongnya itu. Dengan menahan sesak, Milla akhirnya mengungkapkan bahwa ia hanya dapat menyelamatkan dompet, ponsel dan tabungannya yang akan ia gunakan untuk membayar kuliah semester depan.


Namun, ia sudah meminjam pengering rambut dari Keira tadi. Jadi setelah ini ia bermaksud untuk mengeringkan uang kertas yang kini sedang ia simpan di dalam handuk kering di dalam kamar tamu yang ia gunakan.


"Lalu peralatan kuliahmu?" tanya Keira.


Milla nampak menggeleng lemah. "Udah nggak ada, Mbak! Bahkan dokumen-dokumen pentingku juga nggak selamat. Habis semuanya." jawabnya lirih.


"Kalau peralatan kuliah masih bisa di beli dan untuk catatan-catatan selama masa kuliah masih bisa di dapat dengan meminjam catatan mahasiswa lain yang sekelas dengan Milla, kan?" sahut Beth memberikan sarannya.


Said dan Keira manggut-manggut menyetujui saran dari Beth itu. "Tapi gimana dengan dokumen-dokumen pentingnya? Apa masih bisa didapetin lagi?" Keira nampak sedih.


"Masih bisa aku bantu urusin selama Milla masih punya KTP dan copyan dokumen-dokumen itu!" sahut Tyo.


Kepala Milla terdongak sedikit. Sekilas ada secercah harapan di bola matanya yang besar dan kelam. "Beneran, Mas? Beneran bisa aku dapetin lagi?" tanyanya tak percaya.


Tyo mengangguk dengan yakin. "Bisa, Mill! Kamu tenang aja, meskipun butuh waktu tapi memang bisa kok."


"Kalau begitu senin besok aku bakalan langsung ke Tata Usaha buat minta copyan ijazah SMA sama copyan dokumen kependudukanku." janjinya dengan mata berbinar.


"Oke, tapi aku hanya bisa bantu kamu dapetin dokumen-dokumen yang ada copyannya. Kalau yang tidak ada sepertinya akan sulit, Mill!" Tyo memastikan. "Kalau akta lahirmu, gimana?" tanya Tyo lagi.


"Mungkin Panti Asuhanku punya salinan akta lahirku, karena dulu mereka yang susah payah mendapatkan itu. Jadi nggak mungkin mereka tidak menyimpan salinannya." jawab Milla.


Tyo mengangguk setuju. "Oke, kalau gitu kamu kumpulin dulu semua copyan dokumen itu, baru serahkan ke aku!"


Milla mengangguk dengan antusias. Kini hatinya sedikit lega hanya dengan mengetahui nasib dirinya sebagai penduduk negeri ini tidak dianggap ilegal.


"Trus gimana sama tempat tinggal dia setelah ini?" giliran Said menyeletuk.


Mendengar pertanyaan Said, raut wajah Milla kembali murung. Seolah ia baru diingatkan akan masalah lain yang tak kalah pentingnya. Kini Milla nampak bingung di mana ia harus tinggal. Padahal ia sudah membayar uang kos untuk setahun penuh karena hal itu merupakan permintaan dari pemilik rumah.


"Iya, aku nggak tahu juga mau tinggal di mana lagi, Kak! Uang kos sudah kubayarkan selama setahun penuh. Melihat kondisi tuan rumahku, aku sendiri nggak tega meminta sisanya. Tapi aku juga nggak ada uang lagi untuk menyewa kamar kos. Kalaupun aku nekat memakai sebagian uang kuliah untuk semester depan, aku khawatir gaji dari part timeku yang sekarang nggak akan cukup menutupi kekurangan uang tersebut tepat pada waktunya nanti."


Milla hanya bisa mendesah pelan mengakhiri kalimatnya. Ia menunduk dalam-dalam demi menghindari tatapan sendu bercampur rasa iba yang tersirat dari orang-orang yang mengelilinginya.


Suasana hening menyeruak untuk sesaat, hingga akhirnya Keira kembali membuka suaranya untuk bertanya, "Apa kamu nggak mendaftar pada program beasiswa, Mill?"


Milla mengangguk pelan masih dengan kepala yang menunduk. "Kampus kita nggak ada program beasiswa penuh atau beasiswa untuk yatim piatu, Mbak. Jadi aku hanya mendaftar di program Beasiswa PPA dan BBP PPA* aja." jawabnya.


Dengan mengangkat kepalanya, Milla mengungkapkan bahwa pada awalnya ia bahkan hampir kehilangan peluang untuk bisa mendaftar di program Beasiswa PPA dan BBP PPA itu, kalau saja Pak Bambang dari bagian Tata Usaha tidak membantunya melengkapi dokumen-dokumen yang kurang seperti; data orang tua dan surat keterangan penghasilan orang tua yang jelas saja tidak dapat Milla tunjukkan.


"Tapi dana bantuan itu baru bisa mereka cairkan dan aku gunakan pada semester tiga hingga semester lima nanti. Jadi selama semester satu dan dua serta semester enam dan seterusnya hingga biaya pengerjaan skripsi pun harus aku upayakan sendiri." jelasnya dengan senyum miris.


"Apa kamu nggak pernah mencoba mencari sponsor yang bisa memberimu program beasiswa penuh? Dari suatu yayasan atau perusahaan mungkin?" tanya Rizzi yang tiba-tiba teringat bahwa ada juga cara seperti itu.


Mendengar pertanyaan spontan dari Rizzi itu, seketika wajah Milla langsung pucat pasi. Tubuhnya bergetar. Tak hanya itu, matanya membelalak lebar dengan benih-benih air mata yang mulai menggenang di pelupuknya.


Semua orang yang ada di sana sontak terkejut melihat reaksi Milla, tak terkecuali Rizzi sebagai orang yang melontarkan pertanyaan itu. Ia khawatir ada kata-katanya yang telah menyinggung Milla hingga gadis itu mendadak terlihat begitu emosional.


Ada apa dengan Milla??? Pertanyaan itu kompak mereka tanyakan dalam hati masing-masing.


.


.


.


To Be Continue...


*Beasiswa PPA dan BBP PPA singkatan dari Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik dan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik yang merupakan bantuan biaya pendidikan yang diberikan untuk mahasiswa yang telah menempuh pendidikan minimal sampai semester dua atau setinggi-tingginya sampai semester empat.


Bantuan jenis ini diberikan kepada mahasiswa aktif berdasarkan periode tahun anggaran berjalan dan diberikan untuk pertama kalinya sekurang-kurangnya selama enam bulan.