
"TYO?!" pekik Keira yang langsung refleks berdiri dari duduk manisnya.
"Hai, Kei. Ketemu lagi deh kita." sapa Tyo dengan senyuman bak pangeran yang baru Keira sadari sangatlah mirip dengan senyuman milik Argha.
DEG. Serasa hati Keira berdebar seketika melihat Argha dan Tyo secara bersamaan dan berdampingan begitu.
"Ya Tuhaannn, kenapa nih gue???" pekik Keira dalam hati.
"Kalian saling kenal?" tanya Argha heran melihat reaksi kedua orang itu.
"Jangan bilang ini cewe yang kemaren hampir lo tabrak, Tyo?" tambah si pria berkacamata.
Tyo pun hanya menjawab pertanyaan keduanya dengan senyuman dan anggukan pelan.
"Tyo nabrak Keira???" Argha terbelalak.
Keira masih terdiam, bingung sendiri harus mulai dari mana dirinya memberi penjelasan pada Argha.
Tyo yang menangkap kegelisahan Keira langsung menepuk pundak gadis itu pelan lalu memberikan gestur yang mengisyaratkan Keira untuk duduk kembali di kursinya.
"Hampiirrrr, gak sampe nabrak juga kok." Tyo menarik kursi yang ada di hadapan Keira untuk dirinya sendiri lalu mendudukinya.
"Kapan itu kejadiannya? kok gak ada yang cerita ke aku?" Argha bertanya entah ditujukan kepada siapa sambil ikut duduk di sebelah Keira.
Sementara si pria berkacamata lebih memilih menduduki kursi kosong di depan Beth. Beth jadi senyum-senyum sendiri karenanya.
"Sebelumnya, mending lo kenalin kita semua dulu deh biar lebih enak ngobrolnya." saran Tyo dengan menatap Keira penuh arti.
"Oh iya, Keira...Beth...kenalin, Tyo ini kakakku dan yang itu Rizzi, temenku dan Tyo dari kecil. Dia itu ownernya Cafe Teluse ini." jelas Argha sambil menunjuk pada pria berkacamata.
"Trus ini Keira, pacarku. Dan Beth sahabatnya Keira." tambah Argha kemudian yang lebih ditujukan kepada Tyo dan Rizzi.
Tyo dan Rizzi lalu bergantian menyalami Keira dan Beth sebagai pelengkap perkenalan mereka. Tyo nampak tersenyum tapi entah kenapa Keira menangkap kegetiran pada senyum Tyo.
"So, siapa yang bisa ceritain ke aku soal kejadian hampir nabrak itu gak?" tanya Argha yang masih penasaran.
Tyo dan Keira tak langsung menjawab. Keduanya hanya saling lirik dengan menyimpan pikirannya masing-masing.
"Gue aja yang cerita." Tyo kemudian menawarkan diri yang disambut dengan ekspresi lega di wajah Keira.
"Jadi gini..." Tyo memulai ceritanya.
Entah kenapa Keira merasa seolah Tyo tahu kegelisahan yang sedang dirasakannya kini. Mungkin memang demikian sehingga pria itu terus saja mendominasi jawaban dari setiap pertanyaan yang dilontarkan Argha, seakan menggantikan Keira berbicara.
Tapi walaupun sempat kaget mengetahui fakta bahwa Tyo adalah kakak kandung Argha, yang jelas dirinya sedikit bersyukur karena sepertinya Tyo tidak mempermasalahkan hubungannya dengan adik semata wayangnya itu.
Selama turut menyimak Tyo berkisah tentang pertemuan kedua mereka, Keira diam-diam memperhatikan kedua bersaudara itu lebih teliti.
Secara visual Argha dan Tyo tak hanya sama-sama tampan tapi juga memiliki tinggi yang nyaris sama. Hanya saja proporsi tubuh Tyo lebih terlihat matang dengan bahu dan dada yang lebih bidang dan kelihatan lebih berotot.
Walaupun keduanya juga memiliki warna kulit yang sama-sama putih namun Argha yang nampak sedikit lebih pucat daripada sang kakak membuat Tyo terlihat lebih maskulin daripada sang adik.
"Kenapa kamu gak cerita langsung ke aku, Kei?" tanya Argha langsung pada Keira setelah Tyo menyelesaikan ceritanya.
"Aku gak mau kamu khawatir, dan gak mau cerita masalahku juga di telpon. Tapi karena kita baru ketemu hari ini jadinya aku belum sempat cerita apa-apa ke kamu." jelas Keira.
"Trus kapan rencananya kamu mau share semuanya ke aku?" tanya Argha lagi sambil menatap lekat pada Keira.
"Pengennya sih secepatnya tapi kalo sekarang kayanya gak memungkinkan karena kamu masih harus ngurusin tamu-tamumu di sini." jawab Keira pelan.
Kentara sekali gadis itu sedang dilema melihat sikapnya yang sering mengambil nafas berat sedari tadi.
"Kalo gitu lo temenin Keira di sini aja, Gha. Biar tamu-tamu lo gue yang urus." tawar Tyo sambil beranjak berdiri dari kursinya.
"Gak apa-apa nih, Tyo? Lo katanya tadi mau cabut ada urusan?" tanya Argha lagi.
"Urusan lo ama Keira lebih penting dari pada urusan gue. Kalo bukan sekarang kapan lagi Keira bisa curhat empat mata sama lo. Besok kan lo dah berangkat." jelas Tyo.
"Santai aja, bro." timpal Tyo lalu berbalik pergi meninggalkan mereka.
"Beth, mau lihat aku bikin minuman gak? sekalian aku bikinin khusus buat kalian, kayanya kalian belum minum apa-apa kan dari tadi." ajak Rizzi pada Beth.
Beth yang udah lelah jadi obat nyamuk pun tanpa ragu mengiyakan ajakan Rizzi barusan. Kapan lagi dirinya berkesempatan deket-deket sama cowo keceh se-nyentrik Rizzi, owner dari Cafe terpopuler pula, bener-bener dapet durian runtuh, pikir Beth.
***
Di balik meja bar, Rizzi dengan tangkas meramu minuman dengan skill yang dimilikinya. Berbagai macam cairan dicampurkannya tanpa ragu sesuai standar resep dengan takaran dan metode yang tepat.
Beth yang duduk manis dibalik meja bar sesekali bertepuk tangan dengan takjub melihat aksi juggling* yang dipamerkan Rizzi.
Tak lama sebuah minuman berwarna pink dengan hiasan potongan jeruk nipis di bibir gelasnya tersaji cantik di hadapan Beth.
Beth yang baru pertama kali melihatnya itu langsung terkesima dengan penampilan minuman yang dihidangkan dengan gelas segitiga berkaki tinggi tersebut.
"Apa ini?" tanya Beth dengan mata berbinar.
"Cosmopolitan**." jawab Rizzi singkat, namun tidak dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya.
"Tapi ini jenis Cocktail Drinks*** jadi beralkohol. Kalo kamu gak bisa minum alkohol, aku bisa bikinin yang non-alkohol." tawar Rizzi masih dengan senyuman yang mengembang.
"Aku biasanya cuman minum bir sih. Kalo yang cantik gini belum pernah." aku Beth sambil nyengir.
"Kandungan alkoholnya bir cuman 5%, kalo yang ini sampai 35%, apa kamu masih mau nyobain?" tanya Rizzi lagi.
"Pengen siiihhh, tapi jadi gak pede setelah tau kadar alkoholnya." jawab Beth polos yang membuat Rizzi sontak tertawa lepas.
"Kalo gitu aku bikinin es kopi aja untuk kamu minum, yang ini cukup diliatin aja ya. Aku gak mau diamuk Argha kalo sampe bikin sahabat pacarnya mabuk." terang Rizzi pada Beth yang langsung dibalas anggukan oleh gadis itu.
Beth baper sendiri dengan perhatian dan pengertian seorang Rizzi. Ditambah senyuman pria itu yang seolah makin menancapkan panah asmara dalam-dalam di hatinya. Diam-diam Beth membatin...
"Duh Gustii! Kalo Rizzi emang jodoh gue tolong buruan dihalalin, tapi kalo kami bukan jodoh tolong dijodohin, dan kalo Rizzi udah punya jodoh cewe lain tolong dibatalin biar bisa gue gantiin, Gustiii!" do'a Beth yang maksa banget sebenernya.
To Be Continue...
.
.
.
.
.
*JUGGLING yang dimaksud disini adalah Flair Bartending yang kadang-kadang disebut sebagai bartender bakat “bartending ekstrim” atau “flairtending.” Kata bakat menjadi populer di kalangan praktisi pada pertengahan tahun 1990.
Flair bartender adalah sebuah seni dari seorang bartender dalam memainkan dan memanipulasi alat-alat bar seperti shaker, botol, ice scope, gelas dan lain-lain, yang bertujuan untuk menghibur.
(sumber: mynewbartender.blogspot.com)
**COSMOPOLITAN, atau dengan sebutan tidak resmi cosmo, adalah koktail yang terdiri dari vodka, Cointreau, jus jeruk nipis dan jus cranberry.
Asal-usulnya diperdebatkan, tetapi minuman ini dianggap telah dikembangkan pada tahun 1970.
Koktail ini mendapatkan popularitas pada 1990-an karena program televisi, Sex and the City, di mana karakternya sering menikmati cosmopolitan.
(sumber: termwiki.com)
***COCKTAIL DRINKS
Atau dalam bahasa indonesia Koktail adalah minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan-bahan lain yang beraroma. Sebelum disajikan dalam gelas khusus koktail, minuman ini diaduk atau diguncang-guncang supaya bahan-bahannya tercampur. Minuman beralkohol yang sering dijadikan koktail adalah gin, wiski, rum, dan terutama vodka.
(sumber: wikipedia.org)