
-o0o-
Taman istana nan hijau penuh dengan bunga-bunga bermekaran. Saat ini Imperial Palace memasuki musim semi, musim yang sangat di sukai semua orang termasuk tiga pria tampan ini.
Hugo tidur siang di atas rumput, terik matahari tidak terlalu panas itulah mengapa ia bisa tertidur dengan nyenyak seperti itu. Saking tenangnya ia sampai tidak perduli jika saat ini kepalanya menjadi bahan eksperimen Conan yang menyelipkan beberapa bunga di rambutnya.
Sama hal nya dengan Adam, pria itu sibuk membaca buku di bawah pohon sembari meminum segelas teh.
“Anak ibu sangat cantik hari ini, bunga memang cocok untukmu”. Oceh Conan asik dengan aksinya.
“Anda sangat berbakat dalam bidang dekorasi, selir Conan”. Seru sebuah suara membuat sang empu nama menoleh.
“Kau juga mau, Kepala pelayan Morgan?”.
“Sayang sekali saya sudah terlalu tua untuk itu, yang mulia”.
“Eheiii jangan begitu aku yakin hasilnya pasti bagus sekali dan kau akan tampak lebih muda”. Kekeh Conan menunjukkan beberapa tangkai bunga di tangan nya.
Morgan ikut tersenyum sembari melirik ke arah Hugo yang masih nyaman dengan posisi nya. Tingkah nya seperti seorang kakak yang pasrah menjadi mainan adik kecil nya.
“Bersantailah sejenak Morgan, bagaimanapun juga kita ini manusia yang butuh istirahat”. Sambung Conan menepuk ruang di sebelahnya.
“Kalau begitu, permisi”. Balas Morgan ikut nimbrung, wajahnya langsung merona merasakan udara sejuk menerpa wajahnya.
“Bagaimana?”.
“Menyenangkan, sudah lama aku tidak sesantai ini”.
“Iya kan~ ingat kau itu sudah tua, tidak ada salahnya istirahat sejenak”.
“Conan, tidak sopan”. Ucap Adam tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
Conan mempoutkan bibirnya. “Memangnya kenapa? Aku kan jujur”.
Tawa Morgan meledak. “Tidak apa-apa, apa yang dikatakan selir Conan memang benar. Bahkan baginda juga menyarankan ku untuk pensiun”.
“Benarkah? Lalu kenapa tidak diambil saja”.
Morgan menggelengkan kepalanya kemudian menoleh ke langit cerah berwarna biru jernih.
“Belum saatnya. Masih ada tugas besar yang harus saya lakukan”.
Kalimat pria paruh baya tersebut berhasil menarik perhatian ketiga pria tampan itu, Conan menantap bingung, Adam melirik dan Hugo membuka sedikit matanya.
“Tugas besar apa?”.
“Yang pasti bukan menghancurkan istana atau lebih parahnya membatalkan pernikahan yang mulia kan?”.
Hugo mulai bersuara langsung mendapatkan dua kali serangan yaitu pukulan di perutnya dan lemoaran buku tepat mengenai kepala.
“Aww sakit, apa-apaan kalian ini- huekkk”.
Morgan tertawa kecik namun ia kembali serius, perlahan tangan nya merongoh saku jas bagian dalam mengeluarkan selembar foto lama berwarna hitam putih, sisi foto sudah lecet dan robek dibeberapa bagian namun beruntung bagian objek tetap bersih dan jelas.
Di foto tersebut terdapat sepasang suami istri tersenyum bahagia memeluk buah hati mereka yang masih bayi, tidak ada yang bisa menyangka jika nasib mereka tidak sebahagia kelihatannya. Bagaimana tidak, putri mereka tumbuh dengan baik namun memiliki sifat melenceng.
Tapi Morgan percaya akan adanya keajaiban dari tuhan dan kasih sayangnya pada Freya karena bagaimanapun juga dirinya terlibat langsung dalam pertumbuhan gadis cantik tersebut, bukan hanya itu ia juga menjadi tangan kanan Arsenio sekaligus guru bagi istrinya.
Kasih sayang nya pada Freya juga tidak bisa dikhianati, menjadi salah satu alasan untuk tetap tinggal dan bertahan sampai titik darah penghabisan. Alasan lainnya tidak kalah penting, yaitu permintaan terakhir Arsenio sebelum pergi untuk selamanya.
Saat tugas besar ini berakhir maka Morgan sudah bisa hidup dengan tenang. Tidak lagi yang perlu dicemaskan sampai dirinya ikut menyusul kedua majikan nya. Setidaknya itu yang memotivasi Morgan selama ini.
Diam-diam tiga pria berwajah nyaris sempurna itu saling bertukar pandang namun tetap diam, tidak mau menganggu nostalgia si kepala pelayan tersebut.
Seketika mereka dikejutkan oleh derap langkah kaki seorang kesatria yang mendekat dengan wajah panik. Ia menarik nafas sebentar sesaat kemudian bersuara.
“Keadaan darurat!! Baginda mengadakan konfrensi pers besar-besar di aula pertemuan. Yang mulia dan kepala pelayan Morgan diharuskan hadir sekarang juga”.
Tanpa basa-basi mereka melesat menaiki kereta kuda karena lokasi gedung pertemuan berada di pusat kota. Memakan waktu setengah jam dengan kereta kuda akibat padat nya jalanan, semua orang sama panik nya saat ini dan bergegas menuju gedung.
Pertemuan kali ini berbeda dari biasanya, karena terbuka untuk umum. Di sana sudah di hadiri perdana mentri, para kepala keluarga bangsawan, bahkan penyihir menara ikut hadir dan untuk informasi luar Imperial Palace akan disiarkan melalui batu sihir oleh para penyihir menara.
Penjagaan sangat ketat, tidak ada yang bisa mengacaukan rapat karena semua ditutup termasuk lubang tikus sekalipun. Mereka yang hadir saling bergumam menerka apa yang terjadi dan kenapa Freya melakukan ini semua.
Morgan, Adam, Hugo dan Conan sampai di lokasi langsung mengambil langkah seribu memasuki ruangan dan betapa terkejutnya mereka sudah banyak orang yang mengisi kursi tamu.
Podium di atas sana masih kosong namun di sisinya sudah dihadiri para kesatria dan penghuni istana. Adam, Hugo dan Conan langsung duduk di kursi khusus selir.
“Dimana baginda?”. Tanya Hugo pada Chaiden dan dibalas gelengan kepala.
Di ujung sana Evan sedang sibuk memerintahkan para pelayan dan kesatria. Wajah yang awalnya selalu ceria penuh dengan kegaduhan kini hilang tergantikan oleh ekspresi serius dan dingin. Tidak satupun yang tau apa dan mengapa apa yang terjadi tapi yang pasti apapun itu pastilah sesuatu yang amat sangat serius.
Sorakan salah seorang kesatria membuat semua orang sontak terdiam dan berdiri secara serempak, lesatria tersebut baru saja mengumumkan kedatangan Freya. Benar saja tidak lama kemudian sosok Freya datang mengenakan pakaian kekaisaran nan megah dan mewah.
Semua orang kembali duduk saat sang kaisar sudah menduduki singgasana nya. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sebelum Evan datang berdiri di belakang podium, mulai membuka acara.
“Terima kasih telah datang ke rapat besar kali ini, wajar saja semua orang kebingungan karena semua terjadi secara mendadak. Tapi percayalah anda semua dihadirkan ke sini karena Yang Mulia Kaisar memiliki hal penting untung dibahas”.
“Diharapkan apapun yang diucapkan baginda semua murni keputusan nya dan tugas kita membahas dengan kepala dingin demi mencari jalan keluar nya. Saya mohon jangan ada ketidaksopanan yang terjadi mengingat di depan kalian ini adalah seorang Kaisar bukan orang lain”. Evan menjelaskan dengan nada tegas.
Evan menoleh ke belakang membungkuk hormat sembari mengulurkan tangan. Freya menerima langsung bangkit menuju podium, semua orang langsung menelan ludah dengan susah payab saat melihat wajah datar penuh aura sedingin salju.
“Sebelum saya masuk ke topik utama, dengan hormat saya berterima kasih pada semua orang termasuk masyarakat Imperial Palace yang sedang menyaksikan dari rumah. Maaf telah mengejutkan kalian namun percayalah semua baik-baik saja”.
Freya menjentik kan jarinya dan tak lama kemudian muncul lah naga putih kecil mendarat tepat di atas podium. Ekornya melilit lengan kanan Freya lalu menatap ke depan.
“Basa-basi berakhir di sini”. Ucap Freya setelah mengambil nafas panjang.
Semua orang menunggu dalam keheningan penuh rasa cemas dan penasaran bercampur menjadi satu.
“Saya, Freya Grizelle memutuskan untuk berhenti menjadi Kaisar Imperial Palace!!!”.