Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat

Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat
Part 27. Berusaha Romantis


-o0o-


“Mohon maaf atas kelancangan saya Yang Mulia, maksud kedatangan saya ke sini murni untuk memberikan hadiah untuk anda”. Charlotte membungkuk dengan wajah malu.


Freya hanya diam sembari melirik kotak berukuran sedang dengan pita merah sebagai hiasan.


“Mohon ampuni saya Yang Mulia”.


“Sudahlah, yang penting kau datang dengan selamat. Kuharap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, sekarang aman tapi kita tidak tau kedepannya bagaimana”.


Seketika Charlotte berbinar mendengar perhatian dari Freya.


“Terima kasih banyak Yang Mulia”.


Perlaha Freya membuka kotak tersebut hingga terlihatlah sebuah bingkai foto dengan potret Freya saat masih kecil.


“Ini-“.


“Saya melukisnya sendiri saat waktu luang mengajar, berbekal ingatan pernah melihat foto anda di galeri kerajaan. Semoga anda menyukainya Yang Mulia”.


Lukisan yang nyaris seperti foto kamera ini tampak begitu detail dan nyata. Butuh waktu lama membuatnya bahkan menghias bingkai dari batu permata. Sederhana namun terkesan mewah.


“Terima kasih, ini indah sekali”.


Sepersekian detik kemudian tampak sosok gadis berpakaian kesatria datang bersama para pelayan yang membawa berbagai macam makanan termasuk kue besar.


“Makanannya sudah datang baginda”. Scarlet bersuara.


Para pelayan langsung menyusun makanan ke atas meja, Freya dan Charlotte tercengang dengan hidangan yang sebahagian besar mereka sukai, jangan lupa jika Freya pecinta makanan manis.


“Suprise”.



“Arthur ini—“.


“Perayaan ulang tahun untuk istriku”.


“Yang mulia anda merusak suasana dengan wajah datar itu, cobalah untuk tersenyum sedikit saja”. Protes Scarlet yang dibalas tatapan membunuh oleh Arthur.


Freya dan Charlotte saling pandang hingga sedetik kemudian terkekeh ria.


“Kau. Pergi sana”.


“Saya kan cuma mengingatkan, bisa-bisa semua makanan yang sudah susah payah dibuat ini terasa pahit karna anda”.


“Scarlet!!!”.


“Iya iya bawel, saya mohon pamit. Selamat ulang tahun Yang Mulia”. Balas gadis yang sama sekali tidak memperdulikan kekesalan Arthur kemudian berlalu pergi.


“Anda memiliki sekretaris yang menarik, Arthur”.


“Anda juga memiliki sekretaris yang tidak kalah ‘ajaib’ nya, istriku”.


“Yahh setidaknya Elvis tidak bermulut pedas, dia masih sedikit ‘takut’ padaku”.


Suasana yang awalnya dingin berubah hangat, sejenak Freya melupakan kegundahan hatinya. Kebaikan seseorang membawa energi positif bagi siapa saja, tak terkecuali seorang raja sekalipun.


Freya kembali ke istana saat matahari hampir terbenam, pergi membersihkan diri dan beralih ke kantor pribadinya. Pikirannya kembali segar dan sebisa mungkin dimanfaatkan untuk bekerja.


“Elvis bagaimana kabar Callista”.


“Sudah sampai di perbatasan sesuai rencana, nona Callista akan pulang lusa malam”.


“Pastikan dia pulang bersama Chaiden dan Conan, mereka sudah terlalu lama di luar”.


“Baik Yang Mulia”.


Freya meraih selembar kertas dan tidak sengaja menjatuhkan sepucuk surat.


“Surat apa ini?”. Elvis menoleh dengan ekspresi bingung.


“Darimana datangnya itu? Semua surat seharusnya berada di kotak untuk di seleksi terlebih dahulu”. Pria tampan itu mendekat.


“Tidak ada nama pengirimnya, saya akan memeriksanya Yang Mulia”. Sambungnya mengambil alih surat tersebut dan membukanya.


Surat itu beramplop hitam dan kertas terbuat dari kulit kayu, bertekstur dan keras namun mudah di bentuk.


“Surat ini berisi informasi pelelangan gelap di pusat kota, dan sebahagian besar objeknya adalah anak kecil”.


“Apa!! Berikan padaku”.


Freya membaca setiap tulisan dengan teliti, wajahnya memerah karna amarah membuat Elvis menciut seketika. Wajah cantik namun menakutkan saat murka.


“Besok malam kita akan menghadiri pelalangan ini, sebaiknya menyamar dengan baik karna menurut informasi terdapat seorang penyihir handal sebagai penjaga. Kita tidak boleh ketahuan”.


“Kalau begitu kau bisa mengandalkanku”. Seru sebuah suara membuat mereka sontak menoleh. Seorang pria bersandar pada daun pintu dengan tangan dilipat ke dada.


“Arthur”.


“Hormat kepada baginda Arthur”.


Pria gagah berwajah nyaris sempurna tersebut tersenyum, mendekat lalu mengacak rambut Freya gemas. Dibelakangnya Scarlet mengekor dengan wajah tenang.


“Apa yang kau lakukan di sini?”.


“Istriku kesulitan, bukankah sudah tugas suami membantu pujaan hatinya”.


“Berhenti memanggilku seperti itu, kita bahkan belum menikah”.


“Cepat atau lambat kita akan menikah, jadi mulai sekarang kau harus terbiasa”.


Freya merengut kesal namun jauh dalam hatinya timbul rasa hangat berefek rona merah pada wajah.


“Serahkan semuanya padaku, percayalah semua akan berakhir dalam sekejab mata”.


“Tapi ku harap tidak ada yang terjadi pada semua sandera, mereka harus kembali pulang dengan selamat”.


“Walaupun kemungkinannya kecil tapi bisa diusahakan”.


Seutas senyuman timbul membuat Adthur terpesona, lagi-lagi Freya memancarkan aura keindahannya. Arthur berdebar berusaha menahan diri untuk tidak memeluk gadis di depannya, ceroboh sedikit saja mungkin Freya berakhir membencinya dan Arthur tidak mau itu.


“Elvis persiapkan semuanya, pergilah bersama Scarlet”. Titah Freya namun tidak ada respon.


“Elvis?”. Semua orang menoleh pada pria yang ternyata berdiri dengan mata penuh bintang, menatap dengan mukut terbuka ke arah Scarlet, sekretaris Arthur.


Freya memutar bola mata malas, lagi-lagi penyakit perempuannya kambuh. Entah apa yang membuat kekasih nya betah dengan pria seperti Elvis namun yang pastinya gadis itu pasti memiliki jiwa penyabar tingkat akut.


“ELVIS!!”.


“S, SAYA YANG MULIA!!”.


“Kau itu- dengar tidak apa yang kuperintahkan?”.


“Saya dengar, akan saya kerjakan”. Balasnya gugup sedetik kemudian kabur secepat kilat.


“Pergilah Scar”. Gumam Arthur.


“Baik baginda”. Balasnya berlalu pergi setelah membungkuk hormat.


Tinggalah Freya dan Arthur berdua di ruangan sebesar itu. Kegugupan melanda Freya namun sebisa mungkin menyembunyikannya.


“Sudah larut, sebaiknya kita istirahat”.


“Eh? Tapi-“.


“Ray sudah tidur dan memonopoli ranjangku, apa boleh buat sepertinya kita harus todur bersama”.


Deg


“Ap, apa yang.... tidak kita tidak boleh?”.


“Kenapa? Memang siapa yang melarang?”.


“Arthur kita ini belum menikah, jadi mana boleh tidur bersama”.


“Anda sudah mengatakannya seharian ini, dan saya juga sudah menjawabnya jadi jangan banyak protes ayo tidur”.


Tanpa menunggu jawaban Freya, pria tersebut menarik lengannya pergi menuju kamar.


“Tunggu dulu”. Sepanjang jalan Freya memberontak namun tenaganya kalah kuat dari Arthur yang seorang pria.


Tubuh mungil itu terhempas ke atas ranjang sesaat sampai di kamar, para pelayan langsung berhambur keluar meninggalkan dua insan tersebut.


Freya merangkak ke tepi saat Arthur naik dan mendekat. Sebelum Freya berhasil kabur Arthur terlanjur menangkap kakinya, menarik dan memposisikan diri tidur saling berpelukan.


“Lepaskan Arthur, kita tidak boleh begini”.


“Sstt diamlah. Simpan tenaga untuk besok, kita harus bekerja keras menangkap mereka”.


“Tapi tidak....”.


“Diamlah, aku janji tidak akan melakukan apapun. Cukup tidur saja tidak lebih”. Gumam Arthur menghentikan rontaan Freya.


Mereka mulai tenang dan Freya mau tidak mau diam dengan jantung yang berdebar kencang. Aroma maskulin Arthur begitu memabukkan seakan ikut menghipnotis Freya untuk tenang dan semua itu berhasil.


Freya mulai tenang dan merasakan berat di matanya, jujur saja tubuhnya sangat lelah seharian ini menyelesaikan banyak masalah apalagi kemarin dia tidak bisa tidur. Secara perlahan mata indah itu tertutup hingga semua gelap gulita.