
Semua orang sudah berkumpul di ruang rapat. Freya dan Arthur berada di singgasana sedangkan para selir termasuk sang sekretaris duduk pada bangku berjejer bawah tangga, para mentri dan kepala keluarga bangsawan berdiri dengan wajah pucat. Seolah-olah mewakilkan perasaan mereka untuk bisa segera pergi dari sana.
Jangan lupakan Callista yang entah sejak kapan sudah akrab dengan kepala pelayan Morgan, buktinya saat ini gadis itu tiduran santai di bahu Morgan dalam mode tupai kecil.
“Jadi.”. Semua orang tersentak padahal itu baru kata pembuka Freya. “Bagaimana kalian membela diri?”.
“Elvis”.
“Baik yang mulia”. Elvis bangkit membawa selembar kertas penuh dengan tulisan.
“Penyerangan kemarin bukanlah aksi tanpa disengaja, sejak awal semua sudah diatur serapi mungkin bahkan melibatkan beberapa bangsawan Imperial Palace”.
“Wakil perdana mentri, Viscount, Marques dan istrinya ikut andil dalam penggelapan dana untuk menyerang kerajaan. Mereka bekerja sama dengan raja iblis lalu mengirim para monster dipimpin oleh lima penyihir”.
“Ditemukan sejumlah bukti yaitu manipulasi catatan keuangan dan beberapa emas di dalam peti rahasia berlokasi di rumah kecil pusat kota”. Jelas Elvis mengakhiri bacaannya.
“Hmm rencana yang sangat memuaskan, bagaimana menurutmu baginda ku”. Kekeh Freya sembari menoleh ke sampingnya.
Arthur diam dengan wajah datar namun mengeluarkan aura membunuh. Dingin sekaligus menakutkan.
“Cukup lancang, pedangku siap menebas kapan saja, istriku”.
“Jangan kotori tangan anda baginda, pedang legendaris itu terlalu suci untuk terkena darah mereka”. Ucap Freya sembari menepuk pelan punggung tangan Arthur.
“Y, Yang mulia. Mohon ampuni kami, berikanlah kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, mohon yang mulia bermurah hati”. Ucap wakil perdana mentri berlutut dalam.
“Kami menyesal yang mulia, dibutakan dengan hawa nafsu dan juga keserakahan. Mohon ampuni kami yang mulia”. Marques ikut bersuara.
“Hahh berhenti mengeluarkan omong kosong”. Freya mulai bosan.
“Yang mulia, saya sudah bekerja lama sebagai seorang Viscount. Bahkan yang mulia sendiri yang memuji kinerja saya, mohon berikan kesempatan bagi saya sekali lagi”.
Senyum Freya memudar, secepat angin sebilah pedang mendarat tepat di depan leher Viscount tersebut. Perlahan ia menoleh ke samping dimana Chaiden berdiri dengan wajah mengeras.
“Berani sekali kau berkata seperti itu pada yang mulia setelah apa yang kalian lakukan”. Geramnya dengan tangan gemetar menahan amarah.
“Sa, saya ha, hanya….”.
“Berhati-hatilah Viscount, salah berbicara bisa memutuskan leher anda”. Gumam Elvis tegas.
Freya mulai pusing bukan karena masalah yang tak tampak jalan keluarnya tersebut tapi memang kondisi tubuhnya belum pulih total.
Alhasil rapat selesai dengan keputusan memenjarakan pelaku sekaligus pencabutan gelar bangsawan mereka.
Arthur membawa Freya kembali istirahat ke dalam kamarnya sedangkan yang lain melanjutkan penyelidikan.
“Terima kasih”. Ucap Freya setelah berhasil tidur dalam dekapan selimut tebal, empuknya kasur berhasil merilekskan tubuhnya.
“Istirahatlah lebih banyak, masalah ini serahkan saja padaku”.
“Tapi-“.
Freya tersenyum lalu mengangguk, merasa bersyukur memiliki pria perhatian seperti Arthur membuatnya merasa seperti gadis beruntung di dunia ini.
Beban dirinya sebagai Empress memang bukan main beratnya namun berkat bantuan Arthur dan yang lainnya semua terasa sedikit ringan.
Setelah memastikan Arthur keluar, Ia langsung bangkit menuju beranda. Menghirup udara segar menatap birunya langit tanpa awan menandakan hari ini cuaca nya cerah.
Freya menyentuh leher yang sudah dihuni oleh kalung emas berliontin burung api. Pagi tadi ia baru sadar jika mimpi waktu itu bukan hanya sekedar bunga tidur, hanya saja ia masih bingung dengan maksud dari mimpi tersebut.
Langsung saja gadis itu mencatat semua ke atas kertas lalu mengaitkan dengan semua kejadian yang ia alami selama ini dengan alur utama novel. Ternyata semua sangat berbanding terbalik atau melenceng dari alur seharusnya, dengan kata lain semua berubah sejak awal ia memutuskan untuk bersikap tidak seperti Freya aslinya.
Bayangan berjubah hitam. Mungkinkah semua ini terjadi akibat ulah dari sosok itu, tapi siapa sebenarnya dia? Apa yang ia inginkan sebenarnya? Jahat atau baik kah?
“Siapapun kau semoga tidak menjadi ancaman bagi kerajaan ini”. Gumam Freya menatap tulisan yang ia lingkari beberapa kali tersebut.
-o0o-
Keesokan harinya Freya kembali menekuni pekerjaan nya sebagai kaisar. Tidak mau berlama-lama menjadi orang sakit dan memilih menyibukkan diri sebagai pengalihan pikiran. Jujur saja misteri tentang sosok berjubah itu membuatnya tidak tidur dengan baik.
“Yang mulia ini daftar nama sekolah yang akan direnovasi akibat serangan waktu itu”. Ucap Elvis melapor.
“Bagaimana dengan para siswa?”.
“Mereka baik-baik saja hanya beberapa terkena luka ringan dan sudah mendapatkan pengobatan terbaik”.
“Kerja bagus. Lakukan renovasi secepat mungkin kalau perlu minta para penyihir menara untuk ikut membantu”.
“Baik yang mulia”.
“Lalu bagaimana dengan penggantian Marques, viscount dan wakil perdana mentri”.
“Sudah dilakukan penyeleksian dan pendataan besok anda sudah bisa menanda tangani surat peresmiannya”.
Freya mengangguk paham, Elvis memang tidak bisa diremehkan dalam hal bekerja. Selalu cepat dan mulus.
“Yang mulia jangan lupa bahwa bulan depan adalah pesta pernikahan anda dengan baginda Arthur”. Seketika semua dokumen di tangan Freya jatuh bertebaran.
Sial. Freya benar-benar bodoh melupakan hal sepenting itu. Otaknya hanya berfokus pada pemulihan kerajaan dan misteri berubahnya alur cerita membuatnya melupakan fakta bahwa sebentar lagi ia akan menikah.
Di dalam cerita aslinya pernikahan ini seharusnya tidak terjadi akibat Arthur sudah jatuh hati dengan pemeran utama wanita, Charlotte. Tapi gadis itu sudah ia kirim ke Negara Bulan membuat mereka tidak saling bertemu, lalu siapakah yang salah di sini?
Dengan ini Freya membenarkan fakta bahwa alur memang sudah berubah dan dengan kata lain ia tidak akan tau lagi masa depan yang akan terjadi nantinya. Mau tidak mau ia harus bisa bertahan hidup dengan caranya sendiri tanpa berpegang dari alur cerita sebenarnya.
Lalu bagaimana dengan pernikahan ini? Astaga memikirkannya saja sudah membuatnya salah tingkah. Sebentar lagi ia akan menikah dengan pria tampan sejagad bahkan pesonanya dapat terasa dari kejauhan.
Jika dia menikah lalu bagaimana dengan para selirnya? Dalam hukum yang ditetapkan di Imperial Palace, jika kaisar menikah dengan sah maka para selir berhak untuk bebas yang otomatis gelar selir mereka dicabut berubah menjadi rakyat biasa kecuali mereka sudah memiliki pekerjaan yang pasti atau memang berdarah bangsawan.
Freya bahkan tidak sampai berfikir sampai ke situ. Masih banyak yang seharusnya diluruskan sebelum hari H datang. Tentunya keputusan itu tidak merugikan kedua belah pihak serta berkenan dihati mereka.