
"tau ga bry. Aku ga pernah ngerasain gimana rasanya di sayang keluarga" curhat wanita yang ada di samping bryen.
"kalo keluarga kamu ga bisa ngasih kamu kasih sayang. Kamu bisa dapat dari orang lain" tegas bryen.
Menatap bryen lebih dekat. "caranya gimana?" mengedipkan mata.
"besok kan hari Sabtu. Kamu libur kan? Besok aku bisa ajak kamu ke suatu tempat yang bisa buat kamu merasakan adanya keluarga" memegang punggung tangan gadis itu.
Sella reflek menyandarkan kepalanya di bahu bryen. Dia terhanyut suasana. bagaimana tidak, pria yang baru dikenalnya yang saat ini berada di sampingnya itu bisa membuatnya lebih tenang. Seakan setiap masalah yang dia hadapi Pria itu selalu mempunyai solusi. dia merasa pria yang di sampingnya itu cukup hebat.
"kamu hebat bryen. Kamu selalu mempunyai solusi untuk setiap masalahku. kamu seakan selalu ada di saat keterpurukanku. Apa kamu malaikat berwujud manusia bryen?" kepalanya mendongak ke arah bryen.
bryen yang mendengar itu hanya tertawa kecil. Dia merasa bahwa wanita yang sedang bersandar di bahunya itu sangat menggemaskan.
"aku bukan malaikat sella. Aku hanya manusia biasa. Aku bisa merasakan pahitnya hidup. Jadi saat aku melihatmu merasa terpuruk. Rasanya cukup sulit jika aku mengabaikannya" tangannya reflek mengelus rambut Surai sella.
sella menggangguk pelan dan membalikkan pandangannya ke depan, namun masih bersandar di bahu bryen.
"tapi.. Apa aku layak mendapatkan kebahagiaan setelah banyak kebahagiaan yang aku hancurkan bryen. Aku merasa tidak pantas" tanpa sadar menitikkan air mata.
bryen yang saat ini tidak menatap sella pun mendengar tangisan gadis itu. Bryen sontak menoleh ke arah gadis itu. Betapa terkejutnya bryen. Gadis yang baru beberapa menit yang lalu tertawa kegirangan tiba-tiba menangis.
"hey . Kenapa kamu menangis sella" memegang pipi sella. Menyeka air mata yang masih saja mengalir. "semua orang berhak bahagia. Semua orang berhak mempunyai kesempatan kedua, begitupun kamu sel" memeluk sella.
"aku terlalu buruk untuk disebut pantas bry" menunduk dan menangis lebih kencang.
"hey hey . udah ya nangisnya. kamu pantas kok. Kamu yang tenang ya" mengusap-usap punggung sella. "udah ya. Kamu kalo nangis jelek banget" ejeknya.
(kenapa saat melihatmu dalam keadaan seperti ini membuat hatiku sakit sella. Ada apa dengan perasaanku ini. Apa aku mulai menyukaimu? Atau ini hanya rasa ibaku?) batin bryen masih bertanya-tanya.
sella melepaskan pelukan bryen. Kemudian dia mencium pipi lelaku itu.
"chupp" menatap mata bryen.
"makasih ya bry"
"sa-sama sama" gugup.
(ada apa dengan jantungku) batin bryen
"a-ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu. Kamu ada kuliah siang kan?" tawarnya.
"iya. Aku ada kuliah siang. Pakai mobilku saja. Kamu bisa nyetir kan?"
"bi-bisa kok. Yaudah yuk aku anter" berjalan menuju parkiran.
...****************...
di jalan. bryen sedang mengantar sella pulang ke apartemennya.
"yang mana gedungnya" tanya bryen
"yang itu" menunjuk salah satu gedung tinggi di daerah itu.
"oke" berbelok ke arah gedung yang di tunjuk. Lalu memarkirkannya.
"ayo Bry turun. Antar aku ke kampus sekalian" titah sella.
Bryen hanya mengangguk lalu mengekor ke sella. Dan setelah sampai di apartemen sella.
"yuk bry masuk" tawar sella yang sudah membukakan pintu apartemennya.
bryen masuk ke apartemen itum dia melihat sekeliling ruangan itu. Dia nampak kagum dengan arsitektur bangunan itu.
"aku kira kamu orang yang suka menghamburkan uang" masih memandangi sekeliling.
"yah. Aku suka yang minimalis. Meskipun apartemen ini cukup besar, tapi aku tidak terlalu tertarik membeli barang-barang yang berlebihan"
"kamu sendiri di sini?" tanya bryen.
"yah aku sendiri. Tapi saat pagi dan sore ada maid yang menemaniku untuk memasak dan beres-beres rumah" jelas sella, sembari membuatkan teh di dapur.
"emm.. Terlalu sepi" lirih bryen
"iya sepi. Makanya kamu nikahin aku dong. Adik kamu bawa ke sini. Nanti kan jadi rame" ceplos sella yang masih mendengar lirihnya bryen.
Bryen cengengesan. "emang mau. Aku orang ga berada loh. kamu yakin mau sama aku" sepontan.
"yah kalo kamu tulus, kenapa enggak. aku ga pandang kasta kok"
"tapi orang tuamu?" tanya bryen yang sontak membuat sella menatap dirinya.
"biarkan mereka. Mereka di luar negeri. Mungkin mereka ga bakalan balik. Mereka hanya mentransfer uang setiap bulan untukku sesuai yang ku minta"
"sama sekali?" menatap balik sella. Tatapannya seolah tak percaya.
sella membalasnya dengan anggukan. "kita akan nikah secepatnya. Ga usah gede-gede, sederhana saja. Aku ga suka orang-orang ramai"
"apasih sel. Baru kenal udah di lamar aja aku"
"ga papa bry. Nanti setelah kita nikah aku akan kuliahin kamu. Biar kamu pintar. Biar nanti pas orang tuaku pulang aku bisa ngenalin kamu sebagai menantu idaman"
"maksudnya nikah dulu baru di kenalin ke orang tua kamu" cletuk bryen dengan mimik wajah keheranan.
"iya bry. I'm serious" mimik wajah serius.
"ta-tapi kan, masa kamu yang nafkahin aku"
"ga papa bry. Nanti kalo kamu udah dapet pekerjaan di kantoran. Kan kamu bisa nafkahin aku balik" dengan entengnya.
"mau ya bry" dengan tatapan memohon.
"apa tidak kecepetan sell.. kita baru ketemu tiga kali loh.. Kamu ga takut aku apa-apain"
"kan bakal jadi suami. Di apa-apain juga ga papa kan bry" melirik bryen.
"mau ya. Merry me bry"
"emm.. Yaudah deh.. Tapi kamu cinta ga sama aku"
"cinta itu bakal muncul dengan sendirinya bry. Apa lagi kita akan terus bersama. Mustahil cinta itu ga tumbuh" tegas sella.
"oke deh. Terus kita mau nikah kapan?" tanya bryen.
" Besok kan Minggu. Katanya kamu mau ajak aku ke suatu tempat yang bisa bikin aku merasakan keluarga. Setelah ke sana aku mau ajak keluarga baruku untuk hadir di pernikahan kita" jelas sella dengan raut wajah berbinar-binar.
"iya sell.. Boleh kok" mengelus rambut sella.
"yaudah. Kamu tunggu sini.aku mau siap-siap buat berangkat kuliah" berlari ke arah kamar.
"jangan lari-lari sell" teriak bryen.
"yang penting aku ga lari dari kamu sayang" jawabnya balik.
Bryen hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan kekasih barunya itu.
(semoga jawabanku ini benar ya sel. Makasih untuk segalanya) batin bryen yang masih menatap punggung sella yang menuju ke kamar.
Bryen tersenyum bahagia.
"terimakasih bryen. Meskipun pertemuan kita singkat. Tapi kamu adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa lebih hangat. Aku merasa seperti kamu adalah takdir untukku. Aku ga bakalan lepasin kamu bry. sepertinya cinta mulai tumbuh di hatiku" gumam sella yang sudah menutup pintu kamarnya.