
"Nay, boleh ibu minta pendapatmu?" tanya Agatha dengan hati hati
"Pendapat apa ma?" tanya Nayla sembari menghentikan aktivitas makannya
"Emmm bagaimana kalau kita liburan sebentar?" tanya Agatha
"Papa juga ikut?" tanya Nayla dengan sumringahnya, bayangan ia akan libur bersama Mama dan Papanya tentu saja akan menyenangkan jika menjadi kenyataan bukan?
"Emmm Papa sibuk" kata Agatha sembari tersenyum untuk mencairkan suasana
"Kenapa nggak nunggu waktu senggangnya Papa aja ma?" tanya Nayla dengan polosnya
"Katanya Nayla udah pengen sekolah ya?" tanya Agatha. Sekali kali tak apalah berbohong, tidak....bukan berbohong tetapi memanfaatkan keadaan
"Tapi Papa belum bilang pastinya kapan" jawab Nayla dengam raut wajah yang berubah menjadi sedih
"Loh....kok sedih sih?" tanya Agatha khawatir
"Nay kangen sekolah ma"
"Kangen silat, ikut Mama ngelukis"
"Disini Nayla nggak ngapa ngapain udah hampir 2 minggu loh ma"kata Nayla
"Emmm mungkin sekolahnya sebentar lagi nay"
"Makanya kita liburan aja dulu sebelum Nayla udah masuk sekolah lagi"
"Kalau Nayla udah masuk sekolah lagi kan jadi susah nyari waktu senggangnya" ucap Agatha
"Tanpa Papa?" tanya Nayla heran
Ehhh.....memang benar yang orang bilang bahwa bohong juga ada batasnya. Seperti Agatha yang sudah terjebak dengan situasi bagaimana jika Nayla nanti menanyakan pada Papanya?
Ahhh....tapi kebohongannya juga sudah kepalang tanggung, akan terlihat lebih aneh jika ia mengubah topiknya secara langsung. Katanya, anak anak akan cenderung lebih memperhatikan hal hal di sekitarnya, Ahhh....jangan jangan! jangan sampai Nayla juga akan membohonginya saat ia sudah tua nantišµ
"Papa akan menyusul" jawab Agatha cepat
"Wuahhhh, kita akan pergi liburan bersama?"
"Liburan keluarga?" tanya Nayla hampir tak percaya
"Iya, apa Nay senang?" tanya Agatha
"Belum berangkat saja aku sudah sesenang ini ma" jawab Nayla tersenyum lebar
"Bersiap siaplah" kata Agatha
"Wahhhh" terkejut Nayla
"Memangnya kita akan pergi kapan?" tanya Nayla
"Besok" jawab Agatha singkat, padat dan jelas
"Besok?" tanya Nayla tak percaya
"He eum" jawab Agatha
"Aku bahkan belum minta untuk dibelikan baju sama Papa" kata Nayla
"Pakai baju yang ada dulu, bajunya juga bagus bagus"
"Biar Mama yang menyiapkan" kata Agatha beranjak berdiri
"Aku bahkan belum bertanya Nenek sam Kakek mau oleh oleh apa" kata Nayla membuat Agath Menghentikan langkahmya
Agatha pun urung melangkahkan kakinya, lalu berbalik dan duduk di tempatnya semula
"Apapun yang Nayla bawakan Nenek sama Kakek pasti suka" kata Agatha
"Iya Ma" balas Nayla
"Sekarang Nayla tidur dulu, oke" perintah Agatha
"Oke ma" jawab Nayla kemudian beranjak dari tempat duduknya, berlari kecil menuju kamarnya
Tentu saja Agatha telah memikirkan hal ini matang matang, hari ini Bryan bilang akan mengakhiri semuanya dengan Violla dan akan bermalam dirumah orang tuanya. Mungkin untuk memulihkan perasaannya terlebih dahulu
Pernah dengar tentang penjahat berhati mulia? katanya tidak semua orang jahat itu sepenuhnya jahat, akan ada hal yang mendasarinya. Penjahat yang selalu gagal misalnya? bosa jadi ia melakukan kejahatan dengan setengah hati dan tidak profesional sehingga menyebabkan hasil kejahatannya tidak bisa maksimal
Meskipun dulu Bryan telah merancang semua rencananya dengan matang, bahkan dulu ia telah menyiapka beribu kata kata, bukan! bukan kata kata melainkan beribu umpatan yang akan diucapkan kepada Violla. Namun pada akhirnya semua umpatan yang telah tersusun rapi tersebut menguap begitu saja diudara
3 Jam sebelumnya
Bryan bilang jika jam 5 sore dia belum juga kembali maka dia akan menginap dirumah orang tuanya, untuk memulihakan keadaanya mungkin
Saat sedang duduk dipinggiran kasur netra Agatha tak sengaja melihat sebuah koper dengan warna hitam dan berukuran sedang berada diatas lemari. Entah pemikiran dari mana? tapi tiba tiba Agatha berfikir untuk ke bali
Apakah hal semacam ini disebut dengan melarikan diri atau kabur? Ah....tidak tidak Agatha bisa merubah pikirannya, tentu saja hal ini bisa disebut dengan bersenang senang tanpa berpamitan
Kalaupun nantinya Mama Henny, Papa Hamdan atau bahkan Bryan berfikiran jika ia hendak kabur dengan membawa Nayla maka akan Agatha katakan jika ia membutuhkan tempat yang cocok untuk menginstall ulang kembali hatinya
"Gelang" gumam Agatha yang tak melihat gelang yang terpasang ditangannya, yah...gelang itu dibelinya sendiri dari hasil melukisnya. Dan....harganya juga lumayan jika dijual
Sepertinya seluruh alam semesta berpihak padanya kali ini, karena disini Apartment milik Bryan dan lokasinya juga di Jakarta. Maka Bryan tak memasang banyak penjaga karena atas permintaan Nayla beberapa hari lalu yang merasa risih ketika Bryan memperkerjakan banyak Bodyguard saat menahannya di Surabaya
"Nay, Mama keluar sebentar yah" pamit Agatha pada Nayla yang nampak tengah berbaring menguasai tempat tidur
"Mama mau kemana?" tanya Nayla
"Sebentar, hanya sebentar" kata Agatha meyakinkan Nayla
"Nayla berani kan sendiri di rumah, nggak lama kok Mama perginya?" tanya Agatha memastikan keadaan Nayla sebelum meninggalkannya
"Berani dong" jawab Nayla dengan penuh percaya diri
"Oke, hanya sebentar" kata Agatha kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari unit Apartment milik Bryan
Agatha berjalan kaki mencari toko penjual emas, hampir 10 menitan Agatha berjalan kaki mencari toko tersebut sampai akhirnya ia telah berhasil menemukannya
"Permisi" ucap Agatha pada pegawai toko tersebut
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pegawai dengan sopan
"Emmm begini, saya kesini ingin menjual gelang saya" kata Agatha
"Emmm bisa saya lihat barangnya?" tanya pegawai tersebut
"Oh iya, maaf maaf" kata Agatha sembari melepaskan gelang dari tangannya
"Ini" kata Agatha sembari menyodorkan gelangnya
"Sebentar ya mbak, silahkan tunggu" ucap pegawai tersebut
"Iya" balas Agatha dengan ramahnya
Pegawai tersebut kemudian berjalan kebelakang untuk mengecek kualitas dari gelang yang dijual Agatha, hampir 5 menit kemudian pegawai tersebut kembali lagi
"Kualitas gelangnya masih sangat bagus dan harganya juga masih diatas pasaran" kata Pegawai tersebut
"Apakah ini mau dijual? atau digadaikan saja?" tanya pegawai tersebut
"Dijual saja" jawab Agatha
"Oh...baiklah, tunggu sebentar" kata Pegawai tersebut kemudian kembali masuk kearah belakang lagi
"Apa yang akan kulakukan ini benar?" batin Agatha
"Apapun akan ada hal positifnya" jawab Agatha menyemangati dirinya sendiri
Tak berselang lama pegawai tersebut kembali lagi dengan membawa sejumlah uang yang berada ditangannya
"Ini uang dari hasil penjualannya" kata pegawai tersebut sembari menyodorkan sejumlah uang yang dibawanya tadi
Agatha pun menerima uang yang disodorkan tersebut dengan senang hati
"Boleh dihitung ulang dulu mbak" tawar pegawai tersebut
"Tidak perlu, terima kasih" jawab Agatha
Selepas dari menjual gelangnya, Agatha pun kembali lagi ke Apartment milik Bryan
3 Jam telah berlalu
Saat disusul ternyata Nayla sudah berkelana di dunia mimpinya, sedangkan Agatha saat ini tengah mengemasi pakaian pakaian Nayla dan juga miliknya
"Ah...kenapa berat sekali? apakah ini terlalu banyak" gumam Agatha yang merasa kopernya kini terasa sangat berat
Dengan hati dongkol Agatha pun kembali membongkar barang barang yang tadi telah dimasukkanya, mensortir ulang dengan beberapa pakaian pakaian penting yang bisa ia padu padankan nantinya
"Akhhhh....akhirnya selesai juga" kata Agatha setalah selesai dengan kegiatan kemas kemasnya. Setelah itu, Agatha pun berbaring disamping Nayla dan menyusulnya ke dunia mimpi
Dirumah Mama Henny dan Papa Hamdan, saat ini keduanya tengah menikmati suasana malam diteras samping ruamah berdua
"Apa menurut Papa setelah ini semua akan baik baik saja?" tanya Mama Henny
"Pasti akan lebih baik kedepannya" jawab Papa Hamdan bijaksana
"Semoga saja" hawab Mama Henny
"Ohh iya, apakah besok Nayla dan Agatha akan datang?" tanya Papa Hamdan
"Jika tidak datang maka kita yang akan menemuinya"
"Ide bagus" balas Papa Hamdan
"Papa...Mama" panggil Ratih yang tiba tiba datang
"Iya?" jawab Mama Henny menengok kebelakanh ke arah Ratih yang tengah berdiri diambang pintu dengan tangan bersendekap didada
"Sudah malam, masuklah" kata Ratih kemudian
"Suasana malam terasa menenangkan" sahut Paoa Hamdan
"Angin malam tidak bagus untuk kesehatan orang tua" balas Ratih yang kemudian berjalan kearah kursi kosng dan ikut nimbrung bersama kedua orang tuanya
"Apa kau pikir kami sudah tua?" tanya Papa Hamdan kurang setuju dengan ucapan Ratih
"Nayla siapa kalian?" Ratih balik bertanya
"Tentu saja cucu kami, keponakanmu! apa kau gila?" jawab Mama Henny dengan raut wajah berapi api
"Bagus, Mama Papa masih sadar"
"Kalian sudah memiliki cucu, menjadi Kakek Nenek"
"Lalu? Apa menurut kalian, kalian masih muda?" sindir Ratih dengan senyum penuh kemenangannya
"Kurang Ajar" kata Papa Hamdan dengan senyumnya
"Dimana Kakak kamu?" tanya Mama Henny
"Dikamar" jawab Ratih singkat sembari memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya
"Ohhh Kakakmu tidak ke Apartment?" tanya Mama Henny
"Lelah mungkin?" balas Ratih dengan acuhnya
Sementara itu, didalam kamar Bryan telah tidur dengan pulasnya. Entah apa yang tengah diimpikannya saat ini hingga membuat tidurnya nyenyak sekali
Keesokan harinya dikediaman Mama Henny dan Papa Hamdan
"Kakakkkk bangunnn....dok....dok....dok" teriak Ratih sembari menggedor nggedor pintu kamar Bryan dengan kasarnya
"Sialan....dasar berandal itu" geram Bryan yang kebisingan dengan suara gedoran tersbut hingga membuatnya terkejut tadi, padahal matanya masih terasa lengket
"Kakkkk" teriak Ratih lagi
"Iya....Kakak sudah bangun" jawab Bryan, kemudian tak ada lagi suara gedoran pintu
Dengan gerakan malasnya Bryan pun merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, mengumpulkan kembali nyawa nya yang masih tertinggal di dunia mimpi. Setelah merasa sudah cukup, Bryan pun bergegas untuk mandi
Diruang makan rupanya semuanya telah berkumpul dan hanya menunggu dirinya saja
"Kakak ini lama sekali, macam tak betul situ punya otak" kata Ratih tersenyum
"Hahaha....otak kak Bryan lagi kacau balau ya sampe sampe baru bangun" sindir Ratih
"Cepatlah habiskan sarapanmu" kata Bryan tanpa menanggapi kejahilan Ratih
"Kau langsung ke kantor?" tanya Mama Henny pada Bryan
"Iya" jawab Bryan singkat
"Ohhhh" Mama Henny hanya ber oh ria saja
"Kau mau mampir ke Apartment?" tanya Mama Henny
"Untuk?" tanya Bryan tak mengerti, padahal ia telah sarapan disini jadi untuk apa ia harus ke Apartment?
Tukkk...Ratih yang berada disampinya memukul kepala Kakaknya menggunakan sendok yang tengah dipegangnya
"Aduhhh" keluh Bryan saat Ratih memukulnya menggunakan sendok
"Apa kakak benar benar ingin menikah dengan kak Agatha?" tanya Ratih
"Tentu saja, ah...kepalaku berdenyut denyut" keluh Bryan
"Lalu?" tanya Ratih
"Lalu?" Bryan malah menirukan ucapan Ratih
"Sial" umpat Ratih
"Apakah Kakak tidak ingin memastikan apakah calon Istri Kakak masih hidup?" tanya Ratih
"Histtt....bawalah sarapan untuk Nayla dan Kaka Agatha" kesal Ratih kemudian beranjak dari kursinya
"Mama Papa, aku berangkat dulu" pamit Ratih sembari meraih tangan Mama Papanya dan diciumnya secara bergantian
"Iya, hati hati" jawab Papa Hamdan
"Menurut Mama apa itu perlu?" tanya Bryan mendelikkan matanya
"Apa mau Mama pukul?" geram Mama Henny dengan pertanyaan Putranya tersebut
"Ehhh nggak ma nggak" ucap Bryan dengan kedua tangannya diatas dahi untuk melindungi dahinya dari amukan monster yang bahkan saat ini telah melayangkan tangannya di udara
"Dasar laki laki macam apa kamu ini" geram Mama Hen y kemudian berlalu menuju dapur
"Ahhh....Mama galak sekali"
"Papa nggak takut?" tanya Bryan mengajukan wajahnya lebih dekat lagi dengan Papanya
"Mamamu penurut dengan Papa" jawab Bryan dengan percaya dirinya
"Huh....bagaimana bisa dulu Papa mengajak Mama menikah? jika dilihat dari kelakuan Mama, Mama bahkan jauh dari kata Anggun"
"Gen Mama pasti menurun pada Ratih" ucap Bryan
"Bukankah dia wanita dewasa? dia akan makan sendiri jika lapar" cibir Bryan
"Bukan makanannya, tapi perhatiannya lah yang diperlukan" ucap Papa Hamdan
"Baiklah" jawab Bryan
"Bawalah" ucap Mama Henny meletakkan kotak bekal yang telah disiapkannya dihadapan Bryan
"Wahhhh masih terlalu pagi untuk berangkat" gumam Agatha
"Pukul 7?" gumam Agatha setelah melihat jam
"Bryan masuk kantor pukul set 8?"
"Masih ada kemungkinan dia akan datang, karena semalam dia tidak tidur disini" gumam Agatha
"Nayyy....Naylaaa" panggil Agatha
1 detik, 2 detik sampai 3 detik belum ada sahutan sama sekali, Agatha pun bedanjak dari tempat duduknya dan mencari keberadaan Nayla
"Dimana Nayla?" batin Agatha saat melihat kamar dalam keadaan kosong
Agatha pun mencari keberadaan Nayla ditempat lain, ternyata Nayla tengah melukis diruang santai
"Ngelukis apa nay?" tanya Agatha
"Keluarga" jawab Nayla singkat
Agatha pun memperhatikan lukisan Nayla, sebuah keluarga bahagia yang tengah berlibur. Itulah yang terlihat dengan jelas lukisan Nayla
"Bagus nggak ma?" tanya Nayla pada Agatha
"Eh.." Agatha kelagapan menjawab
"Bagus kok, bagus banget malah" jawab Agatha cepat
Tinggg....tonggg suara bel apartmen berbunyi, tak berselang lama terdengar suara pintu yang terbuka
"Bryan?" batin Agatha tak salah
"Papa" ucap Nayla dengan senyum yang mengambang dari bibirnya
"Nay" panggil Agatha
"Iya ma?" jawab Nayla
"Jangan bilang Papa soal liburan ya?" pinta Agath Was was
"Kenapa ma? Papa tau kan?" tanya Nayla dengan bingungnya
"Tau lah" jawab Agatha
"Terus kenapa nggak boleh bilang?" tanya Nayla penih selidik
"Emm jadi gini"
"Papa kan nggak bisa berangkat bareng kita karena banyak pekerjaan jadinya Papa nyusul" kata Agatha
"Terus?" tanya Nayla
"Kalau Nayla bilang soal liburan, Papa pasti akan merasa sedih karena tidak berangkat bareng kita" bohong Agatha
"Oh...ya, Nayla paham" jawab Nayla