
"Kamu dimana El?" Gumam Lexa. Tak terasa buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. Lagi-lagi Lexa menangis. "Biasanya kamu pulang jam 8 malam El. Kamu biasanya mengabari ku. Lalu, kemana perginya kamu sekarang El?" Lirih Lexa. Tangisnya pecah. Kekhawatiran menyelimuti diri Lexa. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. "Hiks!" Isak-nya pelan. "Kamu dimana El?" Pikirannya jauh melayang. Kecurigaan dan ketakutan menyergap dalam diri Lexa. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Hal itu semakin membuat rasa cemas Lexa semakin menjadi-jadi.
"Hiks! Mommy." Lirih Garvin dengan salah satu tangan mengucek pelan mata kanannya.
Lexa tertegun ketika mendengar suara putranya. Tubuhnya berbalik. Air matanya ia usap menggunakan punggung tangan. "Iya Kak?" Sahut Lexa sambil tersenyum. Kedua bola matanya menatap sendu. "Kakak kenapa sudah bangun?" Tanya Lexa lembut. Tubuhnya bangkit untuk menghampiri Garvin.
Garvin menggeleng pelan. Kedua bola matanya tampak berkaca-kaca. Sedari tadi ia berdiri dan memperhatikan Mommy-nya. Ada rasa sakit dan tidak terima ketika melihat Mommy kesayangannya menangis seperti tadi. "Why did mommy cry? Did something happen Mom?" Tanya Garvin dengan suara khas anak kecil.
Lexa jongkok. Tubuhnya ia sejajarkan dengan tubuh Garvin. Entah apa yang terjadi, sekarang Putranya sudah fasih dalam berbicara. "Tidak apa-apa sayang. Mommy tidak menangis. Lihat, Mommy sekarang tersenyum." Ujar Lexa memaksakan diri untuk tersenyum.
Garvin yang melihat itu menatap penuh selidik. "Kenapa Mommy berbohong pada Garvin?" Tanyanya dalam hati. Kemudian salah satu jemari Garvin terangkat dan mengusap lembut pipi cabi Mommy kesayangannya. "Don't cry Mommy. There's Galvin here. Mommy will Galvin protect."
Lexa mengangguk. "Iya sayang, Mommy tidak menangis. Lihat? Mommy tersenyum bukan?" Ujar Lexa meyakinkan hati putranya.
"Why did Mommy pretend to smile in front of Garvin?" Ujar Garvin dalam hati.
Jam telah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Mobil sport berwarna hitam dengan harga jutaan dollar berhenti tepat disebuah apartemen sederhana yang terletak dipusat pembelanjaan.
"Terimakasih Tuan sudah mengantarkan saya pulang." Ujar Laura sambil membetulkan tata letak rambutnya.
Elden mengangguk. "Bisa buka sendiri kan?" Tanya Elden dengan menatap wajah Laura. Tadi saat menggunakan self belt, ternyata Laura tidak bisa menggunakan dengan benar. Alhasil Elden lah yang harus memasangkan untuk Laura.
Laura mengangguk. "Bisa Tuan. Aku bisa membukanya." Jawab Laura. Lalu jemari lentiknya berusaha membuka self belt yang ia kenakan.
"Bisa?" Tanya Elden.
Laura mengangguk. Setelah berhasil membuka self belt-nya, lantas Laura membuka pintu mobil dan membungkuk sopan. "Terimakasih Tuan." Ujar Laura sekali lagi.
Elden tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah itu tanpa sepatah katapun Elden segera menyalakan mobilnya dan pulang.
Selama diperjalanan Elden terus mengumpat pelan ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Istrinya pasti sedang menunggunya di apartment. Elden harus siap dimarahi dan diomeli istrinya. "Hufft.. bisa-bisanya aku melupakan Lexa." Desisnya pelan.
***
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊