Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
obrolan santai


Bukan tentang siapa yang lebih sayang siapa, atau siapa yang lebih di manjakan siapa. Tapi dalam hubungan, kenyamanan dan kepercayaan pasangan adalah hal yang mutlak di utamakan.


Begitu pula dengan Queen dan Aska. Gadis manja yang selalu haus kasih sayang, terkadang lebih posesif di banding seorang Aska yang terkenal cuek dan tak perduli pada wanita.


Eits.. tapi itu dulu. Dulu, jauh sebelum dirinya mengenal Queen, wanita muda yang sudah meruntuhkan tembok kebesaran hatinya selama ini.


Aska selalu meleleh pada setiap kelakuan dan sikap gadis cantik ini, tetapi dia tak kan rela membiarkan orang lain melihatnya sebagai budak cinta.


Rendi yang berada duduk di bangku penumpang belakang, terus tersenyum sejurus meledek Aska yang tengah menciut akibat candaan nya tadi.


Wanita manapun tentunya tidak rela, jika lelakinya mengucapkan satu nama wanita, yang pernah mencoba mengusik hubungan mereka. Dan Queen salah satu dari wanita yang tak rela itu. Tidak tau bagaimana dengan kalian.


Queen sadar, Aska memang hanya bercanda saat mengucapkan kalimat, akan mengajak wanita lain untuk jalan. Tetapi, hati kecil Queen tetap menolak segala alasan apapun saat ini.


"Aska.." Panggil Rendi dari belakang, Aska meliriknya dari kaca spion depan yang tergantung. "Sih Zahra ngechat gue nih, nanyain lu." Nampaknya Rendi sengaja.


"Ngapain?" Tanya Aska tak perduli.


"Heum.. katanya lu jadi nggak, ngajak dia jalan nanti malem?" Rendi memang seolah bicara dengan serius, tapi itu pasti hanya gurauannya saja. Rasanya ada udang di balik batu dalam kalimatnya.


"Kapan gua ngajak dia jalan? Nomornya aja udah gua apus."


"Nggak pa-pa juga kok mas, kalo mau nyobain jalan sama dia." Queen menyela.


"Bener nih Queen, ntar kamu ama siapa kalo mas Aska nya sama cewek lain?" Rendi menggoda.


"Aku sama kak Rendi aja, jadi kan pas, kita sama-sama di selingkuhin ama pacar." Queen menoleh kebelakang, dengan senyum dan tangan yang tos dengan Rendi.


"Apaan sih kamu Ra? Nggak ada ya yang kayak gitu. Saya nggak pernah selingkuh." Aska membela diri.


Queen mencebik mengangkat bahunya santai, menanggapi pernyataan Aska barusan.


"Kamu nggak percaya sama saya Ra?" Aska mulai menekan.


"Bukannya nggak percaya mas, tapi aku kan enggak tau apa aja yang mas bisa lakuin ke cewek lain, setelah berhasil ngerebut aku dulu dari Arya."


"Ira.. cukup." Bentak Aska, hingga membuat Queen terlonjak kaget. "Saya bisa ambil kamu dari Arya, karena kita sama-sama suka. Karena saya sayang sama kamu. Bukan karena hal lain. Jadi nggak akan ada cewek lain yang posisinya sama kayak kamu. Ngerti?"


Queen mengangguk cepat, dengan wajah yang tertunduk layu, ia tak ingin lagi membantah atau mengeluarkan sepatah dua patah. Lelakinya benar-benar sedang emosi saat ini.


"Woy As.. santai aja dong, ada gua disini. Nggak usahlah bentak-bentak si Queen kayak gitu, kasian kan dia!" Rendi membela, tapi bukan begitu maksud Aska.


Justru karena ada Rendi lah, Aska jadi tidak mau terlihat seperti calon suami takut istri.


Aska membuang nafasnya kasar, melirik ke arah gadisnya sebentar. Terlihat Queen sedang menyeka air mata di ekor matanya.


"Di depan ada rest area, kita beli makanan dulu ya Ra."


Perlahan mobil yang membawa mereka berhenti, tepat di lahan parkir sebuah minimarket dalam rest area itu.


Aska mengajak Queen turun dengan bahasa isyarat lewat matanya. Queen hanya diam dan mengekori Aska dari belakang. Meninggalkan Rendi sendiri di dalam mobil. Aska sengaja tak mengajaknya, Rendi juga tak ingin ikut masuk membuntuti dua sejoli yang tengah emosi. Merepotkan!!


"Ra.." Aska menggandeng tangan Queen, sesaat setelah mereka masuk kedalam minimarket.


"Maafin saya ya.. bukannya mau bentak kamu kayak tadi, saya cuma.. nggak rela denger kamu bilang saya selingkuhin kamu."Aska berucap dengan selembut mungkin.


Queen hanya diam dan mengangguk sebentar.


"Kita bener-bener butuh waktu buat bicara berdua, pas banget ada rest area."


"Mas.. aku nggak suka tau, denger kamu bilang kayak tadi waktu mau keluar hotel." Bibir Queen mengerucut.


"Iya saya tau, maaf tadi cuma Mau ngeledek si Rendi doang, eh malah kamu denger.." Queen tersenyum dan mengangguk.


"Kamu juga ya Ra, jangan pernah bilang, kamu bakal jalan sama cowok lain. Selama kamu masih berhubungan sama saya, saya nggak akan ngerelain siapapun cowok deket sama kamu." Wajah Aska mulai serius.


"Iya, aku ngerti." Aska merangkul pundak Queen, mengusak rambutnya beberapa kali karena gemas sampai akhirnya ia berikan satu kecupan dalam di kening.


Aska sangat menyayangi gadis konyol ini, entah apapun tingkah yang Queen lakukan, Aska seolah sudah larut dalam dunianya.


Setelah meluruskan kesalahpahaman yang selalu mengganjal Aska sedari tadi. Queen dan Aska kembali, mengingat masih ada satu orang lagi di dalam mobil.


"Lama amat lu belanja, kayak penganten baru aja dah." Celetuk Rendi, setibanya Queen dan Aska di mobil.


Queen yang sudah duduk manis di balik kursi penumpang depan, tiba-tiba Aska memintanya untuk turun lagi. Queen bingung begitu juga dengan Rendi yang sudah menegak setengah botol teh minuman yang di belikan Aska tadi.


"Di depan Ren, gua ama Queen mau istirahat di belakang." Titah Aska, seraya membuka pintu penumpang belakang.


Rendi berdecak kesal. "Tadi kan udah gua pagi yang bawa ke sini, masa gua lagi yang bawa ke Jakarta. Lelah dong gue?" Tolak Rendi.


"Oke, nggak masalah kalo lu nggak mau. Gua tinggal bilang nyokap lu, kalo lu sering bawa masuk cewek ke kamar lu diem-diem." Ancam Aska.


"Jih, lu curang mainnya As." Rendi beralih posisi, maju dan duduk di balik kemudi. "Nyesel gua berbagi aib sama lu." Rutuk Rendi.


"Lagian, kak Rendi kan udah jadi polisi, masa gitu sih kak, masih demen aja mainin perempuan?"


"Bukannya mainin perempuan Queen, tapi mereka itu terlalu indah buat di cuekin gitu aja. Aku mah cuma cowok sensitif yang nggak tega ngeliat cewek jomblo kesepian.. gimana dong?" Rendi mendramatisir.


"Apaan cowok sensitif, yang bener tuh cowok mesum yang memanfaatkan ke-jombloan cewek di sekitar." Aska menimpali.


"Nyambung aja lu As, kayak tiang listrik. Orang gua lagi ngomong sama Queen juga."


"Ya, orang gua kedengeran lu ngomong."


"Kontrakan calon mertua gua sendiri sih, mau apa lu? Yang punya aja santai aja tuh."


"Soalnya yang punya nya juga sama, lagi jadi budak cintanya sih Aska, jadi manut aja apa kata tuh cowok!" Kesal Rendi.


"Emang lu kenal sama yang punya?"


"Kenal lah, yang punya kan gadis cantik yang harusnya jadi milik gue, tapi malah keduluan sama cowok bermata sipit, yang nggak di aku ama kampung halamannya.."


"Maksud lu apa? Lu ngajak Ribut?" Tantang Aska.


"Hayuk boleh, siapa takut!" Rendi menimpali. Hampir aja lelaki itu berbalik ke belakang dan meninggalkan stir kemudi begitu saja, sampai suara klakson dari mobil belakang mengagetkan semua yang ada di dalam mobil.


"Ya ampun kak Rendi.. horor banget sih pada becandanya. Aku tuh belum nikah sama mas Aska, malah mau dikirim ekspres ke akhirat."


Queen memegangi dadanya, terkejut dengan keadaan sebelumnya. Bagaimana tidak. Karena candaan Aska dan Rendi yang konyol tadi, mobil mereka oleng, hampir saja menabrak mobil yang datang dari arah samping, hendak mendahului mereka.


"Hahaha..." Rendi malah tertawa menanggapi ketakutan Queen dengan santai. Tidak taukah Queen, bahwa Rendi juga sama takutnya tadi.


"Ren.." Panggil Aska serius.


"Apa?" Jawab Rendi tak kalah seriusnya.


"Ntar gua minta tolong bantuan keluarga lu ya, biar berkas nya sih Queen gampang di urus. Tadi bang Is kasih kabar, katanya dua minggu lagi gua sama Queen ikut sidang sama calon pengantin yang lain."


"Dua minggu? Gercep amat sih abang lu?"


"Ya, mau gimana lagi, mama Queen udah mau balik keluar negri akhir bulan ini. Tapi beliau pengen sebelum pergi Queen sama gue udah harus halal katanya." Aska mengingat obrolan serius mereka kemarin.


"Kenapa minta bantuan keluarga Rendi?" Queen bingung.


"Keluarga Rendi kenal banget sama orang-orang di tempat kelurahan, jadi kita nggak perlu waktu lama buat ngurusnya." Aska menjelaskan.


"Oh, ayahnya kak Rendi kerja di kelurahan gitu?"


"Heum.. si Rendi ini masih ponakannya pak Gubernur."


"Wuih mantep kak Rendi." Queen memberikan dua jempolnya ke arah Rendi.


"Apanya sih yang mantep, toh mereka kan yang pilih kita, terus ntar juga ganti, nggak selamanya bertengger di puncak paling atas warga tangerang selatan." Rendi menimpali.


Lelaki ini memang cocok menjadi teman seperjuangan Aska. Sifat mereka hampir sama, hanya Rendi yang lebih frontal dalam menjalani keseharian hidupnya. Bisa bercanda dan serius dalam waktu yang hampir bersamaan.


Salah satu sikap fleksibel Aska yang paling Queen suka dari lelakinya.


"Oh iya mas, mas Aska belum kasih tau aku, apa aja yang kemarin kalian bahas? Kok aku nggak di ajak sih?" Kesal Queen.


Aska menoleh sambil tersenyum, merengkuh kepala gadisnya di atas dada bidangnya.


"Nggak usah tau, kamu cukup nikmatin hasilnya aja." Jawab Aska lembut, seraya mengusap rambut Queen.


"Jangan pacaran depan gue. Hargai perasaan jomblo di sekitar." Ucapan Rendi yang menohok, membuat Queen hendak menegakkan kembali duduknya, namun di halang oleh tangan Aska.


"Nggak usah perduliin pak supir, lakuin aja apa yang kamu mau." Senyuman manis Aska tak luput dari pengawasan mata Queen yang berada di bawah wajahnya


Queen turut tersenyum bahagia. Bagaimana mungkin, lelakinya ini sudah kembali. Dengan sejuta pesona yang ia miliki, lebih tegas dan percaya diri dari sebelumnya.


Ya, bagaimana tidak. Kalau dulu Aska masih memikirkan keadaan keluarga Queen yang belum ia tau keberadaannya. Ia juga takut perbedaan kesenjangan antara keluarga mereka, akan membuat hubungan mereka sulit nantinya.


Tapi, di setiap nilai tulus dalam kebaikan, selalu saja ada campur tangan sang pemilik kuasa hidup. Aska dapat melewatinya dengan sebagai mana yang mereka mau.


Meski awalnya sulit, dan memerlukan tenaga ekstra karena waktu yang berjalan dengan cepat dan singkat. Tapi Aska sudah berhasil melewati itu semua, demi memperjuangkan gadis yang sudah ia pilih untuk menjadi teman hidup selamanya.


Aska teringat pada satu lagu, dimana dulu ia sering bernyanyi dengan teman-teman di kampung halamannya. Berharap bisa menyanyikan lagu itu pasangan terakhirnya kelak.


****saat aku lanjut usia,


saat ragaku terasa tua,


tetaplah kau selalu disini


menemani aku bernyanyi..


saat rambutku mulai rontok,


yakinlah ku tetap setia


memijit pundak mu, hingga kau tertidur pulas..


Genggam tanganku saat tubuh ku terasa linu, kupeluk erat dirimu saat dingin menyerang ku,


kita lawan bersama dingin dan panas dunia, saat kaki t'lah lemah, kita saling menopang..


Hingga nanti di suatu pagi,


salah satu dari kita mati sampai jumpa.. dikehidupan yang lain..**


**hayo.. ada yang tau ini lagu siapa dan apa judulnya? Aku selalu tertegun tiap denger lagu ini.**


🙃🙃😉