
Queen yang mulanya tertidur di atas pangkuan Aska, kini sudah berada di atas tempat tidur lelakinya. Masih berada dalam dunia mimpinya, Aska meninggalkan Queen untuk bertemu dengan bang Is dan juga Rindi.
Ya, tadinya memang Aska minta untuk bertemu sore hari. Tapi, mumpung Queen sedang tidur pulas, maka Aska memutuskan untuk bertemu dengan mereka sekarang.
Dan disinilah mereka, duduk bertiga dalam cafe dekat kampus Rindi yang juga sama dengan Queen. Rindi dan bang Is sudah lebih dulu sampai, sedangkan Aska baru nongol saat minuman pesanan mereka sudah siap dihidangkan.
"Kenapa lagi sih bayi gede lu As?" Bang Is membuka obrolan.
"Lagi kecanduan drama Korea dia mas. Kacau banget.. sampe nggak tidur malem. Sekarang juga jadi bolos masuk kuliah, lagi tidur noh orangnya.." Aska menyeruput minuman jus jeruk perasnya.
"Lah.. terus kenapa? ya biarin ajalah. Mungkin itu hobi dia, ya kan Rin?" Bang Is menoleh ke arah Rindi yang jarinya asik berselancar di atas ponsel.
"Dulu juga Queen pernah gini mas.. biasanya dia begini tuh kalo dia ngerasa kesepian. Punya banyak waktu senggang, jadinya dia nonton drama." Rindi melirik Aska sekilas. "Nanti juga hilang dengan sendirinya. Tapi kali ini aku emang ngerasa Queen sedikit berlebihan sih, sampe sering bolos mata kuliah." Lanjut Rindi. Entah sedang sibuk apa dia dengan ponselnya.
"Ngerasa kesepian?" Aska bergerak gelisah, mengingat kembali beberapa hari kebelakang mereka memang jarang, bahkan hampir tidak pernah berinteraksi.
"Terus gimana Rin?" Kali ini bang Is yang bertanya.
"Ya.. kasih aja dia perhatian sedikit lebih, ntar juga dia lupa lagi sama Drakornya itu." Wajah Rindi menunjukkan keyakinannya kepada bang Is. Dengan senyum simpul di wajahnya .
"Tapi saya kan harus kerja juga Rin, nggak bisa selalu perhatiin dia." Aska mulai putus asa. Wajahnya tampah cemas.
"Iya juga ya.. emang mas Aska beda sih sama Arya, yang mau ngasih seluruh waktunya untuk Queen.* Rindi mengangkat alisnya. Rasanya ia memang sengaja memancing emosi Aska.
"Rin.. tolong" Mohon Aska dengan tatapan yang penuh harap. Ia tidak ingin lagi mendengar dirinya di banding bandingakan dengan bekas pacar Queen.
Rindi tersenyum kecil, ada rasa puas di hatinya melihat Aska begitu ketakutan. Rasa gelisah memang terlihat jelas di wajah Aska.
"Gimana ya?" Aska menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Menggigit ujung bibirnya dengan pandangan seperti orang melamun, kakinya juga ia gerakan dengan hentakan kecil namun cepat. Siapa pun yang melihat Aska saat ini, pasti tau, kalo ia sedang gelisah.
Semua gerakan Aska tak lepas dari pengamatan bang Is. Ada rasa takjub dari diri bang Is, kepada mantan calon adik iparnya itu.
Bagaimana bisa, Aska bersikap penuh tanggung jawab dengan pandangan yang jauh memikirkan masa depan seorang gadis, yang bahkan hanya berstatus pacaran. Anehnya lagi,mereka baru pacaran kurang dari enam bulan.
Bang Is menyesap kopi hitamnya yang tak lagi panas. Pandangannya masih fokus menatap Aska yang masih berkutat dengan fikirannya.
"Bang.." Panggil Rindi, memecahkan lamunan bang Is tentang kekaguman kepada sosok Aska. Bang Is menoleh kearah sumber suara.
"Kenapa?" Jawabnya datar.
"Bang.. Seandainya aku yang kayak Queen, apa yang bakal abang lakuin? Apa abang juga bakal kayak mas Aska yang heboh cuma buat cari jalan keluarnya?" Mendengar namanya disebut, Aska melirik Rindi, masih dengan posisi yang sama.
"Enggak akan!" Bang Is menjawab yakin.
"Dih.. gitu banget. Kenapa? Nggak sayang sama aku emang?" Rindi mencebik, wajahnya menuntut jawaban dari kekasihnya.
"Kalo kamu yang ada di posisi Queen sekarang, aku lebih milih buat ikutan nonton bareng sama kamu. Aku nggak akan biarin kamu mewek-mewek sendirian, sambil ngeliatin cowok lain romantisan sama ceweknya." Tangannya memasukan satu iris kentang goreng yang tadi di pesan Rindi.
"Oouh.. si sweet banget sih kamu bang.." Rindi bergelayut manja di lengan kekasihnya.
Tiba-tiba Aska berdiri dengan cepat. Menjetikan jarinya dengan kencang seraya berkata, "Bener juga bang.. makasih sarannya" Tanpa aba-aba, atau persetujuan dari dua orang yang sudah mau Aska repotkan tadi, ia berbalik semangat dan pulang dengan deruman motor lakinya.
***
Aska terus mengulas senyum sepanjang jalan, bahkan kini sudah sampai rumah pun, senyum Aska masih terpampang jelas dengan tingkat kemanisan yang sama.
"Ra.." Aska membelai lembut rambut Queen. Meskipun mata Queen masih terpejam. Tapi saat ini, Aska masih rindi dengan gadis kesayangannya yang konyol.
Beberapa kali Aska memanggil namanya di halus didekat telinga, Queen tak juga bergerak. Sampai Aska tak tahan lagi, ia ikut berbaring di sebelah Queen, membawa wajah Queen bersembunyi di dada bidang Aska.
Queen sedikit bergerak, saat Aska tak henti-hentinya menghadiahkan ciuman ciuman kecil di wajah Queen.
"Ngmmm" Queen bergeliat, matanya mulai mengerjap saat alam sadarnya terus di usik okeh Aska.
"Mas Aska.." Suara berat Queen, benar benar terdengar parau. Beginilah orang yang kurang tidur.
Semuanya akan terasa butuh lebih, saat kita melewati batas kemampuannya yang semestinya.
"Bangun sayang.." Aska masih menciumi pipi Queen, dengan sedikit jeda.
"Sebentar lagi." Queen kembali menelusupkan wajahnya di atas dada Aska. Mencari kenyamanan untuk memulai kembali mimpinya.
"Bangun dulu sebentar.. " Rengek Aska. Kini gantian satu tangannya yang mengusap lembut rambut Queen, satu tangannya memeluk tubuh Queen erat. Seperti apa yang di pinta gadis itu.
"Ra.. buka mata kamu sebentaaaar aja.." Aska berkata penuh kelembutan.
"Apa sih mas?" Queen mengalah, menjauhkan sedikit wajahnya. Matanya masih berusaha ia buka. Entah kenapa ini terasa sangat sulit dan berat.
Aska menangkup kedua pipi Queen, menatap mata Queen yang masih silau dengan cahaya terang lampu kamar Aska.
"Apa sih?" Sekali lagi Queen bertanya, kekasihnya itu tak kunjung bersuara, hanya menatap intens wajah Queen.
"Saya kangen kamu deh Ra.. berapa hari sih kita nggak ketemu?"
"Baru tadi pagi mas.." Jawab Queen asal.
Aska tersenyum mendengar jawaban Queen. Gadisnya memang masih lugu. Benar kata Rindi, Queen memang butuh perhatian ekstra.
"Oh tadi pagi ya.." Tutur Aska, kembali merengkuh tubuh Queen dalam dekapannya. Satu kecupan dalam ia sematkan di atas pucuk kepala gadisnya itu.
"Saya tuh kangen banget sama kamu Ra.. kapan sih ngantuknya kamu hilang?" Suara Aska memelas. Diam-diam mata Queen sudah terbuka sempurna dalam persembunyiannya.
Queen membalas pelukan Aska. Erat. Ia juga merasakan rindu yang sejak kemarin ia tahan.
"Ra.. lain kali kamu harus ceritain semua tentang diri kamu ke saya ya.. saya nggak mau kelewatan satu apapun tentang kamu, termasuk hobi kamu nonton Drakor" Aska mengulangi kalimat Rindi tadi.
Queen tersenyum, dan mengangguk perlahan.
"Mas udah nggak marah sama aku?" Queen mencoba mengintip, mencari wajah lelakinya.
Namun yang ia rasakan hanya pelukan Aska yang semakin mengerat.
"Maafin saya ya Ra.. Kamu sendirian terus dari kemarin, saya jadi nggak ada waktu sama kamu. Di tambah saya malah marah karena hobi kamu. Padahal itu cara kamu lari dari rasa kesepian." Jelas Aska.
"Nggak pa-pa mas.. udah lewat juga kok, lagian kamu emang butuh banget istirahat, harusnya aku yang lebih intens ngasih perhatian ke kamu. Bukannya malah ngejauh." Queen sedikit terharu dengan adegan Aska meminta maaf.
Tapi ia tidak ingin sampai menitiykan air mata, dan membuat Aska menjadi semakin merasa bersalah.
"Kamu mau lanjut tidur atau sarapan? Ini udah siang juga, sekalian makan siang kali ya.." Aska bingung sendiri, melihat jam dinding sudah melewati waktu setengah hari.
"Bangun aja deh mas. Aku laper.."
Aska tersenyum, mengusap kepala Queen dengan gerakan cepat dan berulang. Membuat rambut Queen semakin tidak beraturan.
"Apa sayang?" Aska mengecup kening Queen, kemudian bangkit dari posisinya. Memainkan jemarinya di atas layar ponsel, memilih makanan yang pas untuk Queen juga dirinya.
***
Hari semakin sore, hampir tiba bagi Aska untuk kembali pada tugas wajib yang menjadi tanggung jawabnya. Sebelumnya ia menyempatkan menemani Queen melanjutkan drama yang belum selesai ia tonton tadi pagi.
"Sejak kapan kamu suka Drakor mas?" Queen menelisik.
"Sejak saya tau itu adalah hobi kamu."
Ya, sudah hampir tiga episode kini Aska menemani Queen melihatnya. Aska memang tidak sepenuhnya ikut melihat keseluruhan isi drama tersebut.
Ini hanya sebagian dari rencananya untuk menghentikan Queen dari acara bergadang selama ini.
Tak jarang Aska malah lebih menikmati ekspresi wajah gadisnya. Itu sungguh pemandangan yang menggoda untuk Aska. Terlebih saat ada adegan romantis, dimana saat sang pemeran utama saling melumatkan bibir mereka berkali kali.
"Ira.." Panggilnya lembut, ada sedikit hasrat dalam nada suara Aska.
"hmm.." Queen masih tak memalingkan wajahnya dari layar ponsel.
"Kamu tuh aneh deh." Tangan Aska tak hentinya membelai rambut Queen yang sudah rapih.
"Kenapa?" Queen bingung sekaligus penasaran.
"Ngapain sih kamu ngeliatin orang ciuman begitu, pake bibirnya di gigit segala lagi. Kan ada saya disini.."
"Terus?" Queen masih tak paham.
"Ya jangan di anggurin dong sayang.. emang kamu nggak kasian sama saya? emang kamu nggak mau ikutan? hm?" Aska menatap intens Queen.
"Hm.. haha.." Queen malah tertawa, di pandang oleh Aska sedemikian lekat, entah kenapa malah membuatnya salah tingkah.
Dan tanpa menunggu persetujuan Queen, Aska sudah menempatkan bibirnya di atas bibir Queen. Dengan oerltahan dan juga lembut. Ciuman itu semakin menuntut, memaksa Queen membalasnya. Membuat nafas Queen kian tersengal.
Aska memang jarang melakukan ciuman dengan hasrat seperti ini, dan jika ini berlangsung, Queen harus pandai mengatur nafasnya bahkan dalam keadaan bibir mereka yang saling melumat. Karena Aska tak mudah melepaskannya.
Semakin dalam saat Aska menyadari dirinya semakin terasa panas, Aska mengambil ponsel Queen yang masih di genggam dengan perlahan. Queen yang sudah fokus terhadap perbuatan mereka, seperti merelakan begitu saja.
Sayangnya, Aska selalu ingat apa yang sudah ia janjikan sebelumnya. Aska tidak akan berbuat lebih sebelum hubungan mereka di akui oleh agama dan tertulis di dalam dokumen negara.
Queen dan Aska sama sama menikmati, terlena dengan suasana yang ada. semakin dalam lumatan mereka, semakin menuntut, terasa semakin panas gelenyar di dalam hati mereka masing-masing.
Aska memejamkan matanya, saat tubuhnya sudah berada di atas Queen sejak beberapa menit yang tadi. Mencoba mengendalikan hasrat mereka yang terlepas karena kerinduan yang terpendam.
Dengan lembut Aska melepaskan belitan lidahnya dari Queen, memberi jarak di antara bibir mereka. Dengan kening yang menempel.
Saling mengatur nafas masing-masing, Aska masih memejamkan matanya, sedangkan Queen tersenyum menatap lekat wajah lelakinya yang hanya berjarak beberapa sentimeter.
Sekali lagi Aska mengecup bibir Queen beberapa detik, matanya masih terpejam, Aska terasa berat menyudahinya. Ia masih menginginkan rasa candu bibir Queen.
Berganti mencium pipi Queen kanan dan kiri, dagunya, tulang hidungnya, hingga berakhir di kening. Aska menelan ludahnya kasar. Benar benar butuh perjuangan untuknya menahan rasa di hatinya.
Matanya kembali terbuka saat satu kalimat ia bisikan lembut di telinga Queen. "Saya sayang banget Ra sama kamu." Kemudian Aska. menggeser tubuhnya di samping Queen, tersenyum dengan senang.
"Kalo kamu masih mau, aku juga mau mas.." Tantang Queen, Aska terkekeh, mengusak kepala Queen lembut.
"Saya takut kehilangan kamu." Aska menjeda. "Jangan rasain semuanya sendiri lagi ya, kamu harus ingetin saya kalo saya mulai berubah yang nggak kamu suka."
Queen mengangguk, menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Aska. Lelaki itu juga membalasnya, mendekap erat tubuh Queen, hingga menjadikan Queen layaknya bantal guling, dengan satu kaki yang berada di atas tubuh Queen.
"Kalo aja kamu bisa di kantongin, saya bawa kamu kemana aja saya pergi." Tuturnya dengan gemas.
Berguling ke kedepan kebelakang sebentar, Aska melepaskan pelukannya.
"Saya mau berangkat dulu ya. Udah sore. Kamu jangan lupa mandi ya Ra. kamu bau." Ucapan itu ia katakan saat mengganti kaosnya dengan kaos kecoklatan sebelum memakai seragam dinasnya.
"Aku bau, karena iler kamu mas.." Queen tak terima. Aska hanya tertawa kecil mendengarnya.
Melihat gerakan Aska yang tampak sibuk, dan sudah rapih dengan segala perlengkapan wajibnya Queen mengerutkan dahinya bingung.
"Lah, kamu sendiri nggak mandi mas?" Tutur Queen yang masih tampak enggan bangun dari atas kasur.
"Nggak usahlah, nggak ada cewek cantik ini yang nemenin patroli ntar malam."
"Ha? apa mas? coba ulangi?" Aska terkesiap, tak sadar dengan perkataan sebelumnya.
"Apa? Emang tadi saya bilang apa?" Aska beralasan.
"Tuh kan.. berati selama ini kamu mandi,pake deodorant, pake parfum lagi karena ada polwan cantik yang nemenin kamu tugas?" Queen kesal.
Aska kembali menghampirinya, mengambil satu tangan Queen, kemudian menciumnya lembut.
"Bukan gitu sayang.. maksud saya, kamu nggak ikut sama saya, buat apa saya mandi, yang ada saya terlambat absen nanti."
"Emang kapan aku pernah ikut kamu kerja? Tapi kamu tetap pake wewangian." Queen semakin menyudutkan.
"Ah.. Ira.. tadi cuma asal ngomong doang saya nya.. janji deh, nanti saya sering video call kamu" Aska masih berusaha membujuk. Tak ingin ada pertengkaran lagi, yang nantinya malah membuat Aska tak fokus saat menjalankan tugas.
"Bisa aja kamu. Alasan. Iyalah video call aku, kan lagi nggak ada polwan cantiknya yang nemenin kamu." Aska kembali melumat bibir Queen sebentar, sebelum beranjak berdiri.
"Coba ini mulut, ngomongnya yang bener apa. Jangan yang keluar cuma curiga terus." Aska beranjak berdiri, sudah siap berangkat. Hampir sampai di ambang pintu, Aska kembali menoleh.
"Oiya yank.. kamu nontonnya tunggu saya pulang ya. Jangan nonton duluan kalo nggak sama saya." Tegas Aska memberi perintah.
"Yank? Panggilan buat siapa tuh? Cewek yang mana lagi?" Aska gemas, ia mendekati Queen, menarik hidung gadis itu gemas. "Kamu itu, ada karung nggak sih? pengen di karungin aja kali ya noh cewek. Ngegemesin banget kalo ngomong." Queen tersenyum melihat wajah gemas lelakinya.
"Udah ah saya mau jalan. Inget ya, jangan nonton duluan. Tunggu saya."
"Iya.." Ada rasa hangat dalam hati Queen saat ini. Sosok yang ia rindukan kembali hadir menemani harinya.
Queen menatap kepergian Aska dari balik jendela, hingga suara deruman motornya tak lagi ia dengar.
Hampir saja Queen akan melanjutkan acara Drakornya, buru-buru ia mengingat ultimatum dari kekasihnya tadi. Urung ia lakukan. Lanjut tidur aja lah..
Queen memeluk guling milik Aska erat, mengingat seberapa erat Aska memeluknya tadi.
**Beri aku semangat dengan like dan komen. terimakasih atas sumbangan poin kalian. Dan maaf kesiangan.. hehehe..**
🙃🙃😉