Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Sebuah Rahasia


Laki-laki itu berbalik, namun kembali melirik kami sejenak.


"Sepertinya akan lebih seru, jika aku menghabisi teman-temanmu terlebih dahulu." Aku menggeleng, berharap niat jahannamnya itu urung ia lakukan, namun semakin aku terlihat memohon Seringai jahat semakin terbentuk lewat senyumannya.


"Keterlaluan kamu!" Ilham semakin terlihat geram. Laki-laki itu terlihat tak peduli. Ia kembali melangkahkan kaki menjauh dan menghilang dari pandangan kami.


Nggak mungkin Ilham dalang di balik semua ini, aku percaya dia. Aku yakin laki-laki itu hanya ingin membuatku bingung dan salah paham. Buktinya dari kemarin, Ilham selalu menolongku.


Kini tatapanku beralih ke arah Dela yang masih terkulai pingsan. Apa jangan-jangan Dela? Laki-laki itu yang aku tahu adalah Ayahnya. Dan Dela juga terang-terangan ingin membunuh aku.


Tapi, kenapa dia minta tolong, sebelum pingsan tadi? Otakku sungguh tidak bisa menerka-nerka untuk saat ini. Lebih baik aku ke atas, pasti tadi Dela juga membawa mereka ke sini.


"Aaaa!!!!" Kami serentak mendongak mendengar suara jeritan dari atas. Gigiku menggeletuk hebat, ternyata laki-laki itu tidak main-main dengan ucapannya. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan teman-temanku, aku benar-benar tidak akan mengampuninya.


"Ayo kita ke atas! Teman-temanku dalam bahaya!" Rengekku kepada Ilham, suaraku gemetar menahan isak. Sungguh aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.


"Ustadz, Ustadzah. Rara minta tolong, tolong jaga Dela."


"Tapi, Ra! Gimana kalau nanti dia bangun, terus kembali ngamuk?" Aku berusaha tersenyum untuk meyakinkan Himmi.


"Aku yakin, dia nggak akan melukai kalian."


"Gimana dengan kalian? Apa aman, kalau kalian hanya berdua ke atas?" Kini Ustadz Alawi yang berbicara.


"Ustadz tenang, saja." Ilham menatapku khawatir. Aku hanya mengangguk, meyakinkan dia kalau aku baik-baik saja. Dan semua akan baik-baik saja, setidaknya itu yang harus ada di benakku, agar aku terus optimis. Walaupun pada nyatanya, aku ragu dengan itu semua.


"Bismillah." Aku dan Ilham segera berlari menuju gerbang makam. Kami terdiam sejenak ketika tiba-tiba gerbang itu terbuka sendiri.


Aku tertegun ketika rasa hangat mengisi sela-sela jariku.


"Apapun yang terjadi, jangan lepas genggaman tanganku." Aku hanya menatap tanganku yang kini sudah di genggam oleh Ilham. Entah bagaimana, Jantungku terasa memompa dua kali lebih cepat. Dan sepertinya detaknya juga terdengar semakin besar di telingaku.


Cukup, jangan sampai pipiku juga ikut memerah. Jangan sampai Ilham mendengar detak jantungku yang berdebar semakin kencang.


"Ra!"


"Ah?" Aku gelagapan, ketahuan, deh. Kalau aku lagi melamun.


"Mikirin akunya nanti dulu, setelah semua urusan kita selesai."  Astaga, yang benar saja. Aku mana ada lagi mikirin dia. Sifat kepedeannya terlalu meresahkan.


"Siapa yang mikirin, kamu? Jangan ngarep deh!" Jawabku ketus. Aku dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah gerbang, mencoba menghalau rasa gugup yang sekarang aku rasakan.


Kira-kira apa yang akan aku alami di atas sana nanti?


"Apa kita balik, aja? Sepertinya kamu ragu." Ilham kembali menyadarkanku, Aku menggeleng cepat. Apapun yang terjadi nanti, aku harus selamatkan mereka.


"Ya, udah. Ayo." Kami berjalan pelan menaiki tanjakan, untuk melewati gerbang.


Suasana di atas makam jauh lebih terang dari pada tadi. Karena semua lampunya menyala. Tapi kemana laki-laki itu. Tempat ini sekarang begitu sepi. Kemana dia sembuyiin teman-temanku?


"Kemana dia?" Lirih Ilham, genggaman erat di tanganku membuktikan kalau saat ini dia tengah menahan emosi.


Kami berjalan dengan mata waspada, meski berada di atas bukit, pemakaman ini terbilang cukup luas.


Bug!


Bug!


"Akh!!"


Aku dan Ilham sepontan berbalik, mendengar suara rintihan kesakitan dan bunyi benda jatuh.


"Fitri! Ica!" Aku terbelalak kaget melihat teman-temanku yang kini terkapar lemas setelah tubuh mereka menghantam pohon.


"Ra--- " Hanya itu, mereka hanya menyebut namaku, sebelum mereka benar-benar hilang kesadaran.


Cairan hangat merembes melewati ke dua bola mataku. Ini masalahku, kenapa mereka harus ikut dapat imbasnya.


"Ra, tolong!" Aku menoleh, suara itu aku kenal.


"Iqlima!" Aku hendak berlari ke arah Iqlima, yang kini tengah terikat di batang pohon namun Ilham menggenggam tanganku erat.


"Jangan pergi."


"Aku harus menolong dia juga, Ham!" Ilham tak menjawab, dan tidak melepas genggamannya juga. Hanya matanya yang lurus menatap ke depan.


"Ham, aku mohon!" Lirihku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa dengan Iqlima. Diantara mereka, cuma Iqlima tempatku sering berkeluh kesah, cuma dia yang sering membuatku merasa lebih tenang.


"Dia akan baik-baik saja, Ra! Jangan keras kepala!" Aku menatap Ilham tak percaya. Apa hanya karena aku ingin menolong Iqlima, dia membentakku seperti ini?


Aku menjadi semakin ragu, untuk terus percaya dengan dia. Ku hentakkan tanganku cukup keras, hingga terlepas dari genggamannya.


"Cukup, Ham! Cukup atur aku! Kamu nggak tau gimana rasanya ada di posisi aku! Melihat orang-orang yang kamu sayang terluka seperti ini! Dia-- Kamu lihat!! Dia sudah aku anggap saudaraku! Dan kamu malah melarangku untuk menolongnya! Keterlaluan Kamu, Ham!" Aku berteriak hampir menghabiskan seluruh suaraku. Tangisku pecah, Aku tak mampu lagi membendungnya.


"Ra, tolong dengar dulu--" Aku sudah tak ingin mendengar alasan apapun lagi darinya. Dengan mengerahkan segala tenagaku aku berlari menghampiri Iqlima.


"Rara, awas!!" Terlambat, Aku merasakan tubuhku di dorong hingga membentur tanah dengan keras.


"Selamat merasakan sakit. Rabbania Zaikalina!"


Aku meringis menahan sakit, Siapa yang berbisik di telingaku tadi? Suaranya terdengar pamiliar, namun karena terdengar remang-remang, aku tidak bisa mengenalinya.


Aku melihat Ilham mencoba meraihku, namun tiba-tiba tubuhnya terlihat kaku. Ilham mengerang kesakitan.


"Ra--" Di satu sisi Iqlima juga memanggil namaku lirih. Dia terlihat sudah begitu lemas.


Aku berusaha bangkit, namun tiba-tiba kakiku terasa diangkat, kemudian ditarik membuat tubuhku terseret.


"JANGAN SENTUH DIA!! AAKHH!!" Ilham mengerang kesakitan. Rasanya aku ingin menyerah, membiarkan makhluk tak kasat mata ini menyeretku sesuka hatinya. Tapi bagaimana dengan mereka? Apakah mereka akan baik-baik saja setelah laki-laki ini berhasil menghabisiku?


"Sepertinya sudah cukup untuk basa basinya." Laki-laki itu tiba-tiba muncul di hadapanku yang kini sudah penuh dengan luka. Darah mulai berceceran dari bekas luka sobekan di tubuhku.


Ilham mengerang geram, posisiku dengan dia memang sekarang tak terlalu jauh. Entah dapat kekuatan dari mana, Ilham tiba-tiba menubruk keras badan laki-laki itu.


"Beraninya kamu!!" Laki-laki itu terlihat geram, namun kembali menormalkan ekspresinya. Kini dia tertawa menatap aku dan Ilham bergantian.


"Mungkin satu informasi penting yang harus kamu tahu, Rabbania Zaikalina. Ilham, adalah orang yang telah menyuruhku membunuh---"


"DIAM!!" Muka Ilham terlihat memerah. Matanya tajam menatap ke arah laki-laki itu.


"Ke-kenapa? Kenapa kamu menyuruh dia diam? Apakah yang di katakan dia benar? Siapa yang sudah kamu bunuh?" Mataku sudah mulai berembun. Aku tidak ingin percaya, tapi gelagat Ilham seolah mengharuskan aku untuk bertanya. Apakah ada yang dia sembunyikan dari aku? Apakah ada yang belum aku ketahui tentang dia?


Tanpa aku sadari, tersungging senyum miris dari bibirku. Bodohnya aku, pada nyatanya aku memang belum tau sepenuhnya tentang dia. Yang aku tau, dia hanya seorang pria yang tiba-tiba mengaku sebagai suami aku, dengan bukti-bukti yang tidak bisa aku elakkan. Yang aku tau dia adalah kak Wahyu, yang dulu sering mengajakkan aku main di pekarangan rumah. Cuma itu.


Jika nanti aku buat kamu kecewa, tolong...jangan pergi, jangan menghindar.


Di saat itu, aku benar-benar butuh kamu.


Aku kembali teringat isi surat yang kemarin Ilham kasih. Apa yang dimaksud kecewa adalah ini?


"Kenapa, diam?" Aku menatap Ilham meminta kejelasan, tak aku hiraukan rasa nyeri yang aku rasakan di sekujur tubuhku. aku ingin tau siapa yang telah dia bunuh, sampai merahasiakan itu semua dari aku. Atau jangan-jangan---


"Dia yang telah menyuruhku membunuh orang tua kamu!"