Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Sebuah Penjelasan


...Jangan bersedih...


...Ketika keinginan tak sesuai dengan kenyataan...


...karena sesungguhnya Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan...


...👽👽👽...


Selesai sholat kamipun makan bersama, selama makan aku hanya diam, tak banyak tingkah dan bicara.


Pikiranku terlalu lelah, banyak hal yang terjadi padaku dan belum aku mengerti sama sekali.


"Ra, kenapa makanannya cuma dilihatin? nggak enak ya?" Nenek membuyarkan lamunanku, aku segera menyendok makanan di depanku lalu tersenyum ke arah nenek.


"Enak kok nek, di dunia ini nggak ada yang bisa ngalahin rasa masakan nenek" Ilham menatapku sekilas lalu kembali dengan makanannya.


Aku kembali pura-pura sibuk dengan makananku. Mencoba menghalau semua pikiran burukku.


Percuma. Menatap makanan ini semakin membuatku tak berselera.


"Adam, mau nambah?" Aku menatap adam yang terlihat begitu lahap menyantap makanannya. Kehilangan sosok orang tua membuat Adam tumbuh menjadi anak yang mandiri. Salah satu hal kecil yang membuktikannya yaitu sekarang, dengan tangan mungilnya dia dengan teliti memisahkan duri-duri ikan tersebut dari dagingnya sebelum daging itu berakhir di mulutnya.


Aku sudah bersikeras untuk membantunya, namun Adam dengan tegas menggeleng menandakan dia bisa sendiri.


Adam menggeleng pelan, lalu tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi.


Ingin rasanya aku berhenti makan, namun melihat Adam yang tidak meninggalkan satu butir nasipun membuatku malu sendiri. Aku yang sudah tau hukum, bahwa tidak boleh memubazirkan makanan malah ingin menyisakan makanan di piring. Sedangkan Adam, bahkan aku yakin dia masih belum terlalu paham dengan apa yang dia lakukan, namun sudah bisa mengamalkan ilmu yang belum dia pelajari.


Aku menatap Ilham yang sedang tersenyum bangga ke arah Adam. Tatapan itu seperti tatapan seorang ayah kepada anaknya.


Tanpa aku sadari, aku tersenyum menatap ke arahnya.


"Ada apa?" Suara Ilham mengagetkanku. Seketika wajahku terasa panas, gara-gara kepergok menatap Ilham. Bukan hanya Ilham yang sekarang sedang menatapku bingung, tapi nenek dan Adam juga.


Salah tingkah, tentunya. Aku menggeleng cepat lalu menunduk menghabiskan makanan dengan cepat.


Aku dengar Adam tertawa, aku yakin Ilham pasti tertawa juga. Kenapa pakai acara kepergok segala sih? kan malu.


"Makannya yang pelan" Ilham menyingkirkan satu butir nasi yang ada di sudut bibirku


"Uhuk...uhuk!"


"Minum dulu" Aku segera mengambil air yang Ilham sodorkan. kemudian Meneguknya habis.


Dasar spesies kurang kerjaan, bisa-bisanya dia lakuin hal yang buat jantungku seperti habis lari maraton  kayak gini, langsung gerogi kan, efeknya jadi nyembur kemana-mana.


"Aduh, yang gerogi...aw!" Aku langsung melempar potongan sayur yang masih di tanganku ke arah Ilham.


"Ra, nggak boleh gitu" Nenek memperingati.


Ilham bukannya marah malah semakin tertawa melihat mukaku yang sudah memerah.


"Kak Ilham sama kak Lala, kayak anak kecil. Adam aja seling main lempal-lempalan sama Hawa di TK" Aku menatap Ilham sebal, kemudian tersenyum manis ke arah Adam. Adam memang sudah masuk TK meskipun umurnya baru masuk tiga tahun.


Rasa kesepiannya di rumah, membuat nenek memilih mengikuti keinginan adam untuk bersekolah.


"Adam nggak boleh nakal sama perempuan ya, jangan kayak orang yang di samping Adam" Aku memperingati.


Adam menatap Ilham meminta jawaban.


"Kak Ilham nakal ya sama kak Lala?"


"Itu namanya bukan nakal, Adam. Tapi sayang"


"Belalti Hawa sayang dong sama Adam. Soalnya dia seling lempal Adam"


Ini anak, kenapa jadi cerewet. perasaan dulu pendiam.


"Udah, jangan mengontaminasi otak adek aku, buruan selesain makan. mumpung aku masih baik"


Dengan perasaan yang masih malu bercampur sebal, aku segera menuntaskan sesi makan malam ini dengan cepat.


...👽👽👽...


"Sekarang jelasin semuanya!"  Aku berdiri di depan Ilham yang sekarang tengah membaca buku tebal, entah apa isinya.


Sehabis makan tadi Ilham seperti sengaja menunda-nunda, pakai alasan mau menemani Adam belajar, sampai Adam sendiri sekarang sudah tertidur.


Aku yang memang sifatnya tidak bisa penasaran, dengan terpaksa menunggu Ilham sampai dia berhenti dengan kesibukan pura-puranya.


"Jelasin sekarang atau nggak aku tendang kau dari rumah ini!"


"Makanya duduk dulu bawel!" Dengan setengah hati aku akhirnya duduk di sofa samping Ilham.


"Jadi, apa yang ingin kamu tau?!" Aku menatap tajam ke arah Ilham. Apa kebingunganku dari tadi bahkan dari kemarin, semenjak dia mengatakan bahwa dia suamiku, belum cukup membuatnya mengerti.


Dasar laki-laki, kapan human jenis mereka diberikan kepekaan yang tinggi.


"Aku peka."


Aku menatapnya bingung, perasaan aku nggak ngomong, kenapa dia bisa tau?


"K-kalau peka! terus kenapa masih diam?!"


"Makanya aku nanya, apa yang ingin kamu tau?" Aku menepuk jidatku frustasi. Kalau dia memang peka seharusnya nggak nanya lagi.


"Jadi apa alasan kamu mengaku-ngaku suami aku?"


"Aku nggak ngaku, kenyataannya memang begitu"


Rara, kamu harus sabar


"Bagaimana bisa aku jadi istri kamu? dan kamu jadi suami aku?! Kita aja baru kenal kemarin. Bagaimana tiba-tiba sudah nikah gini?" Aku mengerang frustasi. Ilham menutup buku bacaannya kemudian menatapku sekilas.


"Kamu ingat tiga tahun yang lalu? Dimana almarhum ayah menyuruhmu untuk pulang lebih cepat setelah acara kelulusanmu itu?" Aku mengangguk. Bagaimana aku akan lupa, hari itu adalah hari terakhir aku mendengar suara ayah dan bundaku. Hari dimana aku menyesal tidak mengindahkan kemauan mereka.


"Hari itu kita menikah"


"Bagaimana bisa? ayah tidak pernah bicara soal pernikahan. Dan apa kamu bercanda? Disana aku baru saja lulus SMP. Astaga! Kalau mau mengarang indah, alur ceritanya jangan sebodoh ini!"


"Kenapa tidak? Seorang ayah bisa menikahkan anak gadisnya tanpa persetujuan darinya" Aku tertawa meremehkan.


"Dapat ilmu dari mana kamu? Ngarang lagi?! Jelas-jelas rukun nikah itu ada lima, pertama suami, ke-dua istri, ke-tiga wali, ke-empat ada minimal dua orang saksi dan ke-lima ijab qabul. Satu aja yang nggak ada dari rukun itu, nikahnya mana sah!"


"Rukun yang pertama suami, itu aku. ke-dua istri, itu kamu. ke-tiga wali, itu almarhum ayahmu. ke-empat saksi, bukan hanya ada dua saksi tapi banyak. dan ke-lima ijab qabul, bagaimana bisa aku mengaku suamimu. kalau aku belum ijab qabul" Dengan gerakan pelan Ilham membukakan album foto yang memang semenjak ayah dan bunda meninggal, aku tidak berniat untuk membukanya.


Aku melihat foto dimana Ilham dan almarhum ayah berjabat tangan didepan penghulu dan orang banyak. Aku juga melihat bunda, Om Adit dan tante Syifa disana. Dan masih banyak foto yang belum pernah aku lihat.


Aku menggeser album itu kasar. menatap Ilham tidak percaya. Aku tidak boleh tertipu, mungkin saja itu hanya editan.


"Kamu salah! rukun yang kedua tidak ada. Aku tidak ada disana, bahkan aku sendiri tidak tau kalau aku dinikahkan. Jadi pernikahan itu tidak sah!" Ilham menyentil keningku cukup keras. Dia mungkin kesal dengan aku yang masih saja keras kepala.


"Makanya kalau lagi belajar itu jangan ngelamun!"


"Apa hubungannya!?"


"Apa kamu lupa, padahal belum sampai satu minggu abah menjelaskan bab ini kemarin, kalau seorang ayah boleh menikahkan anak gadisnya, meski tanpa sepengetahuan dia. Almarhum ayahmu adalah wali mujbir, dimana wali mujbir memiliki kekuasaan atau hak untuk menikahkan anak gadisnya meskipun tanpa persetujuan dari anak gadisnya yaitu kamu." Aku masih mencerna ucapan Ilham.


"Namun sebelum menikahkan anak gadisnya wali mujbir sudah yakin bahwa pasangan yang ditentukan untuk anak gadisnya tidak menimbulkan masalah bagi anak gadisnya bahkan akan mendatangkan maslahat. Selain itu ada empat syarat sehingga wali mujbir boleh menikahkan anak gadisnya meski tanpa persetujuan darinya yaitu, pertama tidak ada permusuhan antara ayah dengan anak gadisnya ataupun antara anak gadisnya dengan laki-laki yang akan dinikahkan dengannya. Ke-dua, sang ayah harus menikahkan anak gadisnya dengan orang yang sepadan dengannya. Ke-tiga, sang ayah menikahkan anak gadisnya dengan mahar mitsil yaitu maharnya senilai dengan mahar atau lebih mahal dengan mahar yang diterima oleh ibu sang gadis ketika menikah. Ke-empat laki-laki tersebut mampu membayar mahar tersebut. Apa masih belum jelas? Ini sekalian aku kasih kitabnya, biar kamu baca sendiri" Ilham melepas buku yang dari tadi dia baca, yang ternyata adalah terjemahan kitab.


Aku diam sejenak, mencari alasan untuk menyanggah.


"Kalau benar tiga tahun lalu kita menikah, kenapa kamu menghilang? dan kenapa nggak ada satu orangpun yang memberi tau aku?"


"Hari dimana kita menikah, hari itu juga aku harus berangkat ke mesir untuk melanjutkan kuliahku. Ayah sama bunda bukannya tidak ingin memberi taumu, namun mereka, aku,  kedua orang tuaku dan tamu-tamu yang lain tidak ingin membuat kebahagiaan kamu setelah dinyatakan lulus pudar. Kami masih menuggumu sampai sore, karena kamu berjanji akan pulang sore itu. Tapi apa? ternyata kamu menelpon bahwa kamu akan menginap dan menolak keinginan kedua orang tuamu yang menyuruhmu segera pulang.


Aku menunduk, rekaan memori kejadian itu kembali memenuhi otakku.


"Hari itu aku tidak bisa menunggu lama, karena malamnya aku berangakat ke mesir, baru purang beberapa bulan yang lalu. bayangkan saja bagaimana perasaanku setelah sampai mesir, aku di telpon dan dikasih tau kejadianyang tak pernah diinginkan itu,  kecelakaan itu menghilangkan banyak nyawa bukan hanya orang tuamu saja tapi...mama, papaku dan kedua adik kembarku juga"


Aku mendongak menatap netra hitam itu terkejut. Ilham mendongak, terlihat menghalau air matanya yang ingin menerobos keluar.


"Aku yakin, masih banyak pertanyaan yang bersarang di kepalamu" Aku menarik napas pelan, berusaha untuk tetap terlihat tegar.


"Satu pertanyaan lagi. Kamu pasti tau, apa alasan ayahku menikahkan aku dengan kamu, di usiaku yang masih kecil"


"Ceritanya cukup panjang, tapi salah satunya demi..." Ilham menoleh ke arah samping kemudian dengan cepat menarikku untuk menunduk.


Prang!!


Aku mebelalakan mata melihat pas bunga yang sudah pecah berkeping-keping, hampir menghantam kepalaku, jika saja Ilham tidak menarikku untuk menunduk.


"Ini salah satu alasannya" Aku mendongak, menatap Ilham yang hanya berjarak beberapa senti dariku.


Aku segera menarik tubuhku kembali. berlama-lama dalam posisi seperti itu tidak baik untuk jantungku.


Apakah ayah sudah tau bahwa ini akan terjadi padaku? Bukannya puas, otakku semakin banyak menimbulkan pertanyaan.