Pesantren Berdarah

Pesantren Berdarah
Adam


...Rasa sayang terkadang tak perlu diucapkan lewat kata-kata...


...Cukup buktikan dengan raga, itu sudah mewakilkan semua...


...👽👽👽...


Gerimis mulai menyentuh bumi. Membuat udara pagi ini semakin dingin. Untung saja kami sudah sampai di rumah ketika tetes pertama air hujan menyapa tanah. Aku dan Nenek langsung menuju dapur untuk membuat sarapan, tadi kami berangkat ke pemakaman masih terlalu pagi, jadinya tak sempat untuk sarapan terlebih dahulu.


"Allahumma shoyyiban naafi’an" Lirihku ketika hujan mulai mengguyur bumi dengan lebat.


Hujan adalah wujud nyata dari rahmat yang Allah SWT turunkan untuk semua makhluk di muka bumi.


Dengan hujan, tumbuh-tumbuhan bisa hidup dengan subur yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya.


Aku melirik ke arah ruang tamu sejenak, memperhatikan Ilham dan Adam yang tengah asyik bermain.


Adam terlihat begitu bahagia di dekat Ilham, mungkin karena selama ini dia merasa sendiri di rumah, tidak ada teman bermainnya.


Bermain? Entahlah. Apa itu bisa di bilang bermain. Menulis, membaca, menggambar. Anak seusianya yang aku tahu hanya baru bisa mengeja abjad. Tapi dia, tulisannyapun lebih rapi daripada aku.


Aku bukannya tidak bahagia melihat perkembangannya yang terbilang cepat dan di luar perkiraan, malahan aku bangga. Tapi hal itu membuat Adam menjadi anak yang pendiam bahkan terlihat dingin, tapi nggak mirip kayak es batu.


Aku segera memalingkan wajah ketika netra hitam itu beradu dengan mataku. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Ilham. Mata tajam namun meneduhkan.


Astaghfirullah Sadar Ra!


Aku segera menyibukkan diri dengan bahan-bahan yang sudah Nenek siapkan. Menghalau pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba bertebaran di otakku.


Sekitar setengah jam berlalu sarapan yang aku dan Nenek buat akhirnya jadi.


"Panggil Ilham sama Adam, Ra"


"Iya, Nek" Aku langsung bergegas menuju ruang tamu.


"Asik banget sih adeknya kak Rara, lagi main apa?" Aku duduk sebentar memperhatikan Ilham dan Adam yang raut wajah mereka sedang dalam mode serius. Aku ikut memperhatiakn uang koin dan uang kertas lima puluh ribuan yang berada di atas lubang bekas botol sirop marjan.


"Ini uangnya kenapa?" Aku tidak mengerti dengan apa yang dilakukan dua makhluk beda umur ini. Adam mengangkat satu tangannya pelan, namun masih lekat menatap botol dan uang di depan kami.


Plak!!


"Alluakbar!!" Tiba-tiba Adam memukul dengan keras  sisi uang kertas yang tidak di atas botol, sontak membuatku terkejut dengan suaranya.


"Tuh kan benal!" Adam bersorak gembira. Aku mengelus dada mencoba merendam rasa terkejutku tadi.


"Kok uang koinnya nggak jatuh? kan tadi di atas uang kertas itu tempatnya?" Aku bertanya polos.


"Ini namanya Inelsia atau Hukum Newton 1, kak." Aku menatap Adam bingung. Anak kecil ini udah tau pelajaran anak SMA?


"Inersia, Adam" Ilham meluruskan ucapan Adam.


"Adam kan cadel Ham, gimana sih" Aku mencoba menjelaskan ketika ekspresi kalem Adam berubah cemberut.


"Iya sengaja, biar Adam mau belajar nyembut huruf R dengan benar" Ilham terkekeh saat Adam meninju lengannya.


"Terus jelasin Dam" Aku mencoba mengalihkan fokus Adam dari Ilham, sungguh di dekat Ilham, Adam menjadi anak yang begitu aktif.


"Uang logamnya nggak akan jatuh kalau uang keltasnya di belikan gaya yang cukup kelas, kalena di sana setiap benda akan mempeltahankan kedudukan sebelumnya"


Aku menggaruk alisku pelan, bukan karena bingung dengan apa yang Adam ucapkan tapi lebih tepatnya aku bingung dari mana dia belajar pelajaran ini.


"Ham, jangan ajarin Adam hal yang belum mampu di cerna sama otaknya dong?" Aku menatap Ilham menyelidik.


"Aku nggak ajarin, justru Adam yang ajarin aku dari tadi"


"Ah!?"


"Adam, kamu belajar ini semua dari siapa?" Kini aku menatap Adam serius.


"Dali buku-buku Ayah dan Bunda sama bukunya kak Lala" Jawabnya enteng.


"Loh Ra, Nenek minta tolong panggilin Adam sama Ilham kok malah ikutan ngobrol. Ayo sarapan dulu" Aku nyengir. Gara-gara rasa penasaranku dengan apa yang Adamlakukan, aku sampai lupa tujuan utama aku ke sini.


Kami bertigapun bangkit lalu berjalan mengikuti Nenek menuju ruang makan.


👽👽👽


Rintik hujan mulai reda, menyisakan genangan air yang mengisyaratkan tanda syukur dari bumi. Mentari mulai kembali menampakkan diri membelah awan hitam yang sempat menutupi sinarnya sesaat tadi.


"Barokallah fi umrik, Adam"


"Selamat bertambah umur adeknya kak Rara" Aku mencium pucuk kepala Adam, memohon yang terbaik kepada sang pencipta.


Ma kasih Nek, kak Lala, Kak Ilham" Jawabnya singkat.


"Adam mau di beliin apa? Motor-motoran, robot atau apa?"  Adam menggeleng, membuat aku sama Nenek Saling pandang bingung. Namun tidak dengan Ilham, dia terlihat menahan senyum melihat aku dengan Nenek. Pasti dia sudah tau apa yang Adam inginkan.


"Kamu sudah baca pikiran Adam, iya kan?" Bisikku, takut Nenek dengar. Ilham menggeleng.


"Aku cuma bisa baca pikiran kamu, tenang saja" Aku cuma bisa menautkan alis menatap Ilham, tapi tak lama. Karena aku langsung mengalihkan pandanganku ketika senyum di bibirnya semakin merekah.


Kenapa mataku jadi jelalatan kayak gini, punya hobi baru mandangin spesies aneh di dekatku ini.


"Kalau alat-alat labolatolium, boleh nggak kak? Sama bahan-bahan kimianya" Aku melongo, tidak habis pikir dengan apa yang Adam minta.


"Adam, besok kak Ilham yang beliin ya. Tapi tunggu Adam nggak cadel lagi"


"Benel kak!?" Tanyanya antusias. Ilham mengangguk yang langsung di angguki oleh Adam.


Spesies aneh ketemu spesies langka, jadinya gini. Aku menepuk jidatku dungu. Anak pintar kayak aku, harus sabar.


"Iya udah, Nenek potongin kuenya iya"


"Eee... Nek. Rara mau beresin kamar Rara dulu ya, biar enak dilihat" Nenek mengangguk, masih dengan tangannya yang sibuk memotong kue.


"Ilham juga, Nek."


"Eh.. nggak usah! Biar aku sendiri aja" Tegasku. Enak aja dia mau ikut-ikutan, pasti mau cari kesempatan dalam kesempitan.


"Nggak pa-pa Ra, itu kan kamar kalian juga. Biar cepat selesai" Kalau Nenek sudah bicara, aku nggak akan bisa nolak.


"Awas, kalau macem-macem!" Ancamku lalu berjalan mendahului Ilham, masih dengan perasaan jengkel.


Aku menatap kamarku prihatin, dia yang tidak tau apa-apa menjadi korban kekerasaan yang makhluk itu lakukan. Apa ini bisa di bilang KDRT?


Pasalnya kamarku begitu porak poranda bekas cakaran ada dimana-mana. Aku bahkan membayangkan kuku yang makhluk itu punya terbuat dari gergaji. Ngeri.


"Kalau dipandangin doang, mana bisa bersih" Aku menghampiri Ilham yang sedang mengamati tembok yang di dekat pintu.


"Ada apa sih? serius banget?"


"Kamu harus lebih hati-hati" keningku mengkerut tanda tidak mengerti.


"Kita harus mencari tahu, siapa dalang di balik semua ini"


"Kamu ngomong apa sih Ham? Udah deh, mendingan kita beresin kamar ini dulu. Setres aku lihatnya"


"Kamu bisa lihat dia, kan?"


"Udah ya, aku nggak mau bahas. Lagian aku masih baik-baik saja kan"


"Baik kamu bilang? Nyawa kamu dalam bahaya, masih kamu bilang baik?"


"Mau bagaimana lagi" Aku menjawabnya acuh, meski sebenarnya kepalaku rasanya mau pecah memikirkan masalah ini.


Terutama Malik, sampai aku belum bisa memecahkan apa yang sebenarnya terjadi sama Malik, hati aku nggak akan pernah bisa tenang. Aku kehilangan orang yang diam-diam aku sayang, bahkan menyaksikan langsung bagaimana tubuhnya yang tak bernyawa mengambang di dalam tong itu.


Andai Ilham tidak menyuruhku pergi malam itu. Lagian kenapa dia harus ikut campur masalah ini.


Sudahlah, memikirkan Malik membuat nyeri di ulu hatiku kembali terasa.


Ilham diam, nampak menahan emosi. Astaga, semoga Ilham tidak sedang membaca pikiran aku. Aku menatap dia memastikan.


"Aku udah tau! Jangan tatap aku seperti itu. Ayo beresin! Katanya mau cepat selesai!" Sudut bibirku sebelah terangkat heran. Memang human satu ini nggak bisa aku tebak, kadang bijaksana, tapi kalau sudah seperti ini kayak anak kecil. Ngambekan. Aneh deh.


"Itu aku anggap sebuah pujian" Aku melempar tatapan jengkel ke arahnya.  Kayaknya aku harus menjaga pikiranku kalau di dekat dia. Kalau nggak, bisa bahaya seperti ini. Kalau aku berfikir yang nggak-nggak bagaimana?


Aku kembali sibuk dengan barang-barang di kamarku yang harus segera di bereskan. Aku nggak habis fikir kenapa Ayah menikahkan aku dengan manusia seperti ini.


"Aku dengar!" Teriaknya.


Astaga naga, Apa perlu aku buat tembok kedap suara di kepala aku. Biar Ilham tidak bisa mencuri dengar apa yang aku pikirkan.


Stres Adek lama-lama Bang.