
"Dave, kau kenapa" Tanya Maura yang melihat tingkah aneh suaminya, mereka merebahkan tubuhnya di atas kasur. Malam ini mereka menginap di rumah Leo dan Sophie.
Dave bangkit dari tidurannya, ia duduk dan memandang Maura dengan tatapan dingin, ia menatap manik mata biru pucat istrinya. Lagi-lagi hatinya meleleh, Dave seperti tersihir dengan mata itu. Egonya runtuh seketika.
"Tadi aku melihat dokumen penyelidikan di laci Daddy. Aku tidak sengaja melihatnya," Dave mengeluarkan uneg-unegnya.
"Maksudmu dokumen tentang kecelakaan Razel?" Maura masih belum mengerti ke mana arah percakapan mereka.
Dave memandang istrinya, kini ia yakin bahwa Maura tidak ada hubungannya dengan dokumen yang ia lihat tadi. "Aku melihat dokumen penyelidikan tentang penyuapan Hakim Edmond oleh keluargaku"
Maura terperanjat, ia juga merasa sangat terkejut dengan perkataan Dave. Namun Maura juga yakin Dave tidak akan berbohong tentang apa yang ia lihat di ruang kerja ayahnya.
"Penyuapan? Aku tidak mengerti. Lagi pula kasus tentang kecelakaan Razel pun Daddy sudah menutup kasusnya."
"Jadi selama aku dipenjara, Daddy dan orang-orangnya menemui Hakim Edmond untuk meringankan ku dari jeratan hukum. Tapi aku tidak tahu Daddy melakukan apa, sepertinya keluargaku menyuap hakim itu" Dave berterus terang, ia mencoba percaya kepada istrinya.
"Aku sungguh tidak tahu Dave, nanti aku akan meminta penjelasan Daddy ku. Apa kau berpikir aku terlibat?" Maura mencoba mencari kejujuran dari Dave.
Dave menganggukan kepalanya, ia mengelus pipi istrinya. "Maafkan aku tadi aku berpikir kau akan menjebakku lagi!"
"Aku tidak kepikiran untuk menjebak mu lagi, Dave. Kau suamiku. Istri mana yang akan menjebak suaminya sendiri?" Maura berusaha meyakinkan Dave, ia menatap manik mata Dave mencari celah agar Dave bisa percaya padanya.
"Aku takut kau akan pergi meninggalkanku lagi saat aku dipenjara nanti," ucap Dave menumpahkan isi hatinya dan ketakutannya selama ini. Dave begitu takut Maura akan pergi darinya lagi seperti yang ia lakukan dahulu.
Maura langsung memeluk suaminya dengan erat, sungguh tidak ada niat dalam pikirannya untuk meninggalkan Dave, pria yang ia cintai saat ini dan nanti. "Aku tidak akan pernah pergi darimu, Dave. Bukankah kita sudah mengucapkan janji sehidup semati ketika kita menikah? Aku berjanji tidak akan pergi darimu apapun masalah yang kita hadapi."
"Aku percaya, aku sudah mencintaimu, Maura. Aku mohon jangan kau hancurkan lagi kepercayaanku!" Dave menggosok-gosokan hidungnya pada hidung Maura.
"Aku berjanji akan bertanggung jawab sepenuhnya, aku pun sudah menemukan donor mata untuk Razel sahabatmu," lanjut Dave lagi.
Mata Maura berbinar, ia sangat bahagia mendengar penuturan Dave. Benarkah selama ini Dave bertanggung jawab penuh atas Razel? Hatinya merasa bangga dengan Dave, ia yakin bahwa Dave laki-laki yang bertanggung jawab.
"Benarkah, Dave?" Maura tampak memastikan, Dave menganggukan kepalanya. Maura memeluk erat suaminya itu.
"Iya, sayang. Sekarang kau tidurlah!" Dave menidurkan tubuh Maura, ia mengusap rambut Maura dengan lembut hingga tak lama Maura tertidur.
Dave memperhatikan wajah damai istrinya, ia sungguh tak ingin kehilangan Maura untuk yang kedua kali.
Setengah jam kemudian, Dave masih saja tidak bisa menutup matanya, ia mendudukan dirinya di meja belajar Maura. Disana ada album foto Maura, Dave membuka album itu. Ia tersenyum saat melihat foto Maura ketika bayi, hingga foto-foto kuliah.
Di akhir album Dave melihat foto Maura bersama Razel Yang sedang bermain ski. Hatinya merasa terusik, apa saat ini Maura masih menyukai Razel? Hatinya merasa cemburu melihat foto itu, Dave menutup album itu dan memasukannya ke laci. Esok pagi ia harus menanyakannya pada Maura.
***
"Dad, Maura ingin berbicara," Maura mendudukan dirinya di kursi meja makan. Maura telah selesai memasak dan menyajikan makanan di meja makan bersama ibunya, Sophie.
"Berbicara apa sayang?" Jaksa Leo mengernyitkan dahinya.
"Kemarin Maura tidak sengaja melihat dokumen di laci Daddy, apa Daddy tengah menyelidiki kasus penyuapan hakim Edmond?" Maura berkata dengan hati-hati, ia juga sengaja berbohong menutupi bahwa sebenarnya Dave lah yang melihat dokumen itu bukan dirinya.
"Ketika Dave bebas dengan begitu mudah, Daddy dan Detektif Martin menyelidiki semuanya. Kami menemukan kemungkinan bahwa Hakim Edmond menerima suap dari keluarga Abellard. Namun kemarin Daddy menutup kasusnya dan menyimpan dokumen itu di laci. Semua Daddy lakukan untuk kebahagian putri Daddy, Daddy juga yakin Dave bertanggung jawab sepenuhnya atas kondisi Razel," Jaksa Leo menjelaskan panjang lebar.
Sophie yang mendengarkan dari arah dapur merasa lega, ia bersyukur suaminya tidak mengulang kesalahannya untuk kedua kali.
'Benarkah, Dad?" Maura terlihat ragu.
"Iya sayang, Daddy berkata sejujurnya. Daddy sudah menutup kasusnya dan melupakan semuanya. Untuk kali ini Daddy mengalah, Daddy ingin mementingkan kebahagiaan mu"
"Dadd, terima kasih!" Maura tersenyum haru.
"Apapun Daddy lakukan untuk kebahagiaan putri kecil Daddy."
Sementara itu Dave mendengarkan percakapan mereka dari tangga, tadi Dave berniat untuk sarapan bersama keluarga barunya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan istri dan mertuanya. Dave benar-benar lega dan merasa bersalah karena sudah menuduh Maura yang tidak-tidak.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...