Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 27


Sore ini, Nesya perlahan membuka matanya. Setelah berjam-jam menangis meski tak tahu penyebabnya membuat rasa kantuk menyerangnya hingga berakhir ketiduran sampai sore menyapa. Dilihatnya manusia tak berakhlak yang tengah fokus pada laptop di depannya, Nesya mengintip, barangkali dia memergoki suaminya tengah melihat deretan kaum hawa dengan pakaian seksi. Namun tidak sesuai dugaan, karena layar laptop itu terpampang tabel-tabel yang ia tidak tahu fungsinya apa.


“Bagaimana tidurnya??” tanya Fariz tanpa melirik Nesya, bahkan tangannya masih menari-nari di atas keyboard itu.


“Tidak buruk, hanya saja aku merasa ngeri karena tidur ditemani monster ganas!” celetuk Nesya membuat Fariz langsung melotot arahnya.


“Coba ulangi, aku tidak dengar!” Fariz berdiri kemudian berjalan mendekati Nesya, entah kenapa dia tidak suka dengan ucapan Nesya yang mengatakannya monster.


“Ah tidak, aku mengatakan kalau tidurku sangat nyenyak, apalagi ditemani seorang pangeran berkuda.... lumping,” bibir Nesya berkedut, dengan sengaja dia mengecilkan suaranya saat mengatakan kata terakhirnya.


“Terserah, sekarang kamu makan, dan setelah itu minum obat ini!” titahnya seraya memberikan bubur pada Nesya.


“Obat?? Apa aku sakit?” Nesya memperhatikan obat yang masih berada di tangan Fariz.


“Bisa tidak kamu jangan banyak bertanya??” teriak Fariz, lelaki itu tidak ingin Nesya curiga bahwa saat ini gadis itu tengah berbadan dua.


Beberapa jam yang lalu, setelah perdebatan di kamar mandi itu, Nesya tiba-tiba pingsan setelah puas menangis, gadis itu tidak suka dengan perlakuan Fariz yang sudah terlampau jauh, mungkin Nesya memang baperan, didorong hingga terantuk di dinding, bukannya punggungnya yang sakit, melainkan hatinya yang terasa ngilu. Karena tak kunjung sadar, Fariz pun memanggil dokter, hatinya bersorak saat mendengar bahwa istrinya hamil.


“Tidak mau! Bagaimana jika itu obat perangsang seperti di novel-novel yang aku baca, atau jangan-jangan itu obat biar aku cepat meninggoy!” Nesya menolak keras obat itu, dia terus menuduh Fariz yang sudah geram karena tingkahnya.


“Kamu menuduhku??”


“Tidak. Mmm coba kakak dulu yang minum obatnya, nanti kalau kakak tewas, jangan lupa say hello sama penjaga neraka!” Nesya tertawa cekikikan, entah kenapa rasa takut itu sirna dalam sekejap, ia malah ingin menantang singa jantan itu.


“Kak Fariz jahat!! Pasti setelah ini aku mati, terus kak Fariz duda, terus nikah lagi, punya anak, bahagiaa... Takdir sungguh kejam!” Nesya tersedu, otaknya terus berpikiran negatif pada Fariz.


“Diamlah!” Fariz memijit keningnya, sore-sore begini harus melatih kesabaran, padahal darahnya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun.


“Apa hah?? Pasti setelah ini kakak bahagia karena tujuanmu telah tercapai, dan pasti nanti kakak menikah lagi, siapa yang nggak mau sama manusia tampan ini?? Ya walaupun sedikit laknat sih..”


“Nesya!” Fariz mendorong tubuh itu agar berbaring, membungkam bibirnya agar berhenti mengoceh dengan sebuah ciuman yang menggairahkan, apalagi saat merasakan jika Nesya membalas ciuman itu, bahkan tanpa sadar gadis itu mengalungkan tangannya di leher Fariz.


“Emmhh...” sontak melepaskan ciuman saat tangan Fariz mulai menelusup ke dalam kausnya, Nesya menggeleng, dia sedang tidak ingin melakukan olahraga sore lantaran tubuhnya terasa letih.


“Huhh!!” Fariz membuang nafas kasar, pria itu lantas turun dari tempat tidur, mencoba menahan hasratnya yang sudah membuncah, namun lagi-lagi kesabarannya diuji karena Nesya tiba-tiba memeluknya dari belakang, bahkan dengan jahilnya, gadis itu meraba-raba perut serta dada bidang miliknya.


Like


Komen