Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 37


“Kamu salah paham Kak, bukan kak Abi yang membunuhku, dia ingin menyelamatkan Amel, namun sudah terlambat.” Lirih seorang gadis berambut panjang dengan pakaian serba putih.


“Aku melihatnya, ya aku melihat kak Abi menghampiriku, dia memangku kepalaku sebelum semua menjadi gelap.” Bibirnya yang pucat tersenyum, seolah menyesal karena dulu pernah menyia-nyiakan lelaki baik seperti Abi.


“Tapi kakak? Kakak malah menyiksa Nesya! Bukankah dulu kau berjanji akan menjaganya seperti kau menjagaku? Tapi kenapa kau melakukan itu? Membuatnya hancur dan kini dia sedang mengandung anakmu! Baj*ngan!” kini mimik wajah yang awalnya sendu menjadi menyeramkan.


“Aku benci Kakak! Kau iblis! Kau bukanlah Fariz Kakakku!”


“AMEL!!” Fariz melebarkan netranya, masih mengatur nafasnya yang terengah-engah, dengan segera dia menyambar segelas air mineral yang terletak di nakas.


“Mimpi itu lagi, kenapa hampir tiap malam aku bermimpi hal yang sama?” Fariz mengacak rambutnya, kondisinya kian menurun karena tidak pernah bisa beristirahat dengan tenang. Mimpi memanglah bunga tidur, tapi apa jadinya jika mengalami mimpi yang sama secara terus menerus?


Semenjak kepergian Nesya, hatinya terasa hampa, terlebih bayangan di mimpinya melihat seorang wanita hamil tengah menangis pilu.


Fariz menoleh di mana biasanya Nesya tertidur seraya menangis, tangannya mengusap bantal yang biasa dipakai Nesya, tanpa sadar Fariz menitikkan air matanya. Merenungi perlakuannya selama ini pada Nesya, bayangan dirinya saat menggempur Nesya, di mana gadis itu menjerit kesakitan, meronta, bahkan bersujud meminta ampun membuat hati Fariz teriris.


“Kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan bayi kita?” Fariz mengusap foto Nesya dan beberapa foto hitam putih yang memperlihatkan calon anaknya yang masih menyerupai biji kacang.


Pria itu beranjak kemudian mengambil laptop beserta ponselnya, meski semua sudah terlambat, namun Fariz ingin mengetahui yang sebenarnya, dia bertekad untuk menyelidiki kasus yang menimpa adik kesayangannya.


“Datanglah ke rumahku sekarang!” titahnya dan langsung memutuskan panggilan membuat seseorang di seberang sana menggerutu.


“Jika saja dia bukan Bos, mungkin sudah aku jadikan perkedel!” Radit beranjak untuk membasuh wajahnya, terpaksa dia harus meninggalkan mimpinya yang indah demi perintah sang atasan. Konyol memang, tengah malam Fariz meminta Radit datang ke rumahnya hanya untuk memecahkan misi.


“Bos!” panggil Radit namun tak ada jawaban dari Fariz.


“Akhirnya kau datang juga!” seru Fariz dengan suara seraknya membuat Radit yang sudah akan keluar terlonjak kaget.


“Hemm, jadi ada apa?” tanya Radit langsung pada intinya.


“Aku ingin kau menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi pada Amel!”


“Baik, ada lagi?” Radit mengangguk meski sedikit heran, kenapa setelah sekian lamanya kasus itu tertutup, kini Fariz ingin mengobrak-abrik kembali.


“Hmm, kau boleh pulang!” ucapnya enteng dan melanjutkan tidurnya.


‘Manusia ini, selain menyusahkan ternyata sangat-sangat menyebalkan!’ Radit pergi dari rumah Fariz dengan perasaan kesalnya.


Sementara Fariz, pria itu kembali terlelap, namun lagi-lagi harus terusik karena hadirnya Amel dan Nesya di mimpinya.


“Berjuanglah Kak, aku akan tetap membenci dirimu jika kau belum mendapat maaf dari Nesya.”


“Pergilah, aku tidak membutuhkan dirimu, ini adalah anakku bukan anakmu, aku pasti bisa membesarkannya sendiri, dia akan tumbuh dengan baik meski tanpa kehadiran seorang ayah.”


Perlahan dua bayangan wanita yang dicintainya itu menghilang, Fariz berteriak, tangisnya pun pecah, sebelumnya dia tidak pernah serapuh ini, mungkin dia sedang menikmati karma buruk atas perbuatannya dulu.


Like


Komen