Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 87 Tanda-Tanda


"Mas, aku kayak kenal ini jalan."


"Memang kamu pernah ke daerah sini sayang?"


"Iya Mas, ini kayak mau ke rumah.... Emmm....!"


Misela terdiam sesaat dan tiba-tiba murung.


"Kamu kenapa sayang kok tiba-tiba murung?"


Dzakir membelai ujung kepala Misela.


"Mas, ini arah ke rumahnya Erlina. Apa mungkin Aldian akan melamar Erlina? Aldian sama Erlina itu deket banget Mas."


"Kayaknya gak mungkin sayang. Harusnya usia kandungannya sama dengan mu, dan lagi bukannya dia di usir dari rumah? Dan usia nya?"


"Tapi Mas, Bunda juga gak mau cerita siapa calon istri Al, dan juga Bunda itu sayang sama Erlina karna kami bersahabat sejak sekolah. Kalau iya gimana Mas?"


"Jangan khawatir ya, kita lihat dulu."


"Bagaimana keadaan dia selama ini ya Mas, aku sebenarnya sangat khawatir, tapi dia keterlaluan."


"Sudah. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh ya."


Tak lama kemudian mobil terparkir di depan rumah dengan halaman yang cukup luas sehingga tiga mobil itu cukup untuk parkir berjejer.


"Ini rumah Erlina?" Tanya Dzakir sebelum turun dari mobil.


"Bukan Mas, ini rumah pamannya Erlina. Yang katanya kemarin... Mas, astaghfirullah Al mau melamar anak pamannya Erlina Mas..." Misela menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Memang kamu kenal dengan anak pamannya Erlina sayang?"


"Gak begitu sih Mas cuma tau aja. Dia terlihat baik dan pernah belajar di pesantren di Jawa Timur juga."


"Bagus dong, berarti calon adik ipar kita wanita yang baik."


"Tapi Ayah nya Mas?"


"Kita turun dulu ya."


Beberapa orang menyambut kedatangan mereka termasuk Papa Erlina dan juga Paman Erlina, Pak Raharjo.


"Mari masuk Nak, calon mantu ku." Pelukan hangat Pak Raharjo pada Al terlihat begitu tulus hingga membuat Dzakir dan Misela berbisik.


"Sayang, kayaknya dia orang baik-baik ya?"


"Makanya itu Mas aku juga kemaren hampir gak percaya sama Erlina, tapi kita juga gak boleh lihat penampilan luarnya."


Setelah selesai berbisik Dzakir dan Misela ikut masuk ke dalam rumah. Tak ada kemewahan disana. Hampir sama seperti saat Misela dulu. Hanya ada beberapa kerabat dan tetangga dekat mengingat acaranya yang begitu mendadak.


❤️


Acara lamaran Aldian berjalan dengan lancar. Semua terlihat senang. Hanya saja ada keanehan yang di rasakan Misela disana. Sosok gadis yang baru saja di lamar Al terlihat tak bahagia. Dirinya seperti mendapat sebuah tekanan disana. Namun Misela masih mengabaikan hal tersebut.


Setelah adzan Dzuhur keluarga Misela berpamitan untuk pulang. Namun Misela langsung pulang ke rumahnya karna merasa perut dan kakinya kram.


Tiba dirumah Dzakir langsung membopong Misela ke tempat tidur dan memijitnya seperti biasa.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kamu gak akan merasakan ini setelah kelahiran anak kita."


"Mas, aku takut aku gak bisa melahirkan secara normal."


"Kamu lupa sama perkataan dokter Rani?"


"Iya, walau kemungkinan kecil tapi aku harap aku bisa melahirkan secara normal Mas."


"Sayang... anak-anak Daddy... Denger kan kata Momy? Nah besok kalian kalau keluar langsung keluar aja ya jangan buat Momy sakit, kasian loh Momy nya."


Dzakir mengelus perut Misela dan mencium nya beberapa kali. Bahkan ada beberapa kali gerakan yang sangat jelas terlihat di bagian perut Misela membuat Dzakir semakin asik mengobrol dengan anaknya.


___________


Malam ini cuaca cukup dingin hingga AC di kamar di matikan. Padahal biasanya selama dua puluh empat jam AC gak mati sebab Misela selalu merasakan gerah.


Adzan isya sudah berkumandang. Seperti biasanya, Dzakir dan Misela melakukan sholat berjamaah.


Belum selesai dengan dzikir nya Misela sudah tak tahan duduk di lantai dan merasa tak enak badan terutama pinggang.


"Mas, pinggang ku gak enak gini ya. Gak kayak biasanya. Rasanya perut ku juga agak gimana gitu."


Misela berdiri dengan satu tangan di pinggang dan dan satu tangan di perut yang sesekali di elus-elus.


"Kamu istirahat dulu sayang, Mas lanjut dzikir dulu ya nanti Mas pijit lagi."


Misela mengangguk lalu berjalan menuju tempat tidur dan berbaring miring ke sebelah kiri sambil menatap Dzakir yang masih khusyuk berdzikir.


Tak lama kemudian Dzakir mengambil segelas air lalu bibirnya kumat kamit dan di tiupnya air tersebut. Dzakir berjalan menghampiri istrinya untuk meminum air itu.


"Habiskan dalam sekali teguk ya sayang."


Misela meraih segelas air itu dan meminumnya sesuai perkataan Dzakir. Kemudian Dzakir memijit kembali kaki Misela. Setelah beberapa menit Misela melirik suaminya yang seperti nya kelelahan.


"Mas, udah. Sini tidur." Kata Misela.


"Sayang, Mas boleh dong minta itu malam ini?" Dzakir merajuk.


"Mas tadi pagi kan udah, malem ini minta lagi?" Misela memutar bola matanya.


"Sayang, memang kamu lupa yang di katakan dokter Rani? Hubungan suami istri saat hamil tua itu selama di lakukan dengan hati-hati. Justru malah mempercepat proses melahirkan, karna spe*rma mengandung prostaglandin yang berperan untuk menyiapkan leher rahim supaya proses melahirkan lancar. Kan kamu mau lahiran secara normal sayang, jadi Mas bisa sedikit membantu mu." Bujuk Dzakir sambil mengelus perut Misela.


"Langit... kenapa kau kirimkan suami yang begitu cerdas seperti ini? Aku jadi tak bisa menolaknya." Jawab Misela sambil menatap ke atas.


Dzakir tertawa manja lalu mendekati bibir manis Misela yang selalu menggoda. Ciuman singkat pun mendarat.


"Sayang... Kamu gak perlu bekerja keras, biar aku yang bekerja, oke?"


Misela mengangguk dan melingkarkan kedua tangannya di tengkuk Dzakir. Tak menyia-nyiakan lampu hijau dari Misela, Dzakir langsung melahap bibir Misela kemudian menelusuri jenjang lehernya hingga ke bagian belakang telinga nya dan menyisakan tanda merah disana.


Perlakuan Dzakir membuat Misela terbuai hingga keluar lah suara desa**Han manja yang membuat Dzakir semakin bersemangat.


"Mas akan bermain lambat sayang. Mas akan sangat menikmati malam ini karna mungkin besok Mas harus libur panjang."


Setelah mengatakan itu Dzakir kembali dengan permainan nya hingga mencapai puncak kenikmatan yang sesungguhnya.


❤️


Pagi-pagi sekali Dzakir dan Misela sudah berada di pinggir jalan untuk melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu menemani Misela jalan-jalan.


Hanya saja pagi ini kaki Misela terlihat lebih bengkak dari biasanya sampai membuat Misela sedikit risih saat berjalan. Bahkan sandal jepit saja sudah tak bisa Misela pakai di kakinya.


"Pelan-pelan aja ya sayang."


Misela mengangguk dan berjalan pelan. Namun belum sampai ke jalan utama Misela mengeluh sakit di bagian perut.


"Aduh Mas, perut ku..."


"Kenapa sayang, kram lagi?"


"Engga Mas, i-ini mu-mules Mas. Ki-kita ke rumah sakit."


Misela terbata-bata sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit. Dzakir yang panik langsung membopong tubuh Misela dan membawa nya masuk ke dalam mobil.


"Sabar ya sayang kita ke dokter Rani sekarang. Tunggu disini dulu Mas ambil tas bersalin dulu."


Dzakir berlari secepat kilat untuk mengambil tas yang berisi perlengkapan melahirkan dan kembali lagi masuk ke dalam mobil.


"Mas... Daster ku basah. Seperti nya air ketuban nya udah pecah."


"Iya kita jalan sekarang ya, kamu tahan dulu ya sayang. Bismillah."


Dzakir melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karna jalan masih sangat sepi.


...################...