Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 55 Bahagia Bersama


Tak terasa waktu sudah sore. Obrolan yang mengasyikkan dan gema tawa yang pasti akan Misela rindukan sudah harus di akhiri. Dzakir dan Misela berpamitan untuk kembali ke hotel karna di rumah Zaki hanya ada dua kamar untuk Zaki dan Sinta kamar utama dan satunya untuk Doni adiknya.


Di hotel.


"Mas, makasih ya, hari ini ungkapan bahagia aja gak cukup untuk menggambarkan perasaan ku saat ini."


"Kalau gitu kamu harus kasih suami mu ini hadiah."


"Hadiah apa Mas?"


"Hadiah baby yang lucu dong hehe."


"Kamu mau punya anak berapa Mas?"


"Empat."


"Haha banyak amat Mas?"


"Iya dua cewek dua cowok ya."


"Mas seandainya aku tak bisa mengandung keturunan mu apa kamu akan meninggalkan ku Mas? Atau kamu akan menikah lagi?"


"Sayang kamu bicara apa sih? Sudah Mas bilang kan jangan mendahului takdir Allah."


"Kan aku bilang seandainya Mas. Tapi hal itu memang bisa saja terjadi kan Mas? Sebuah rumah tangga itu tak sempurna jika tanpa hadirnya seorang anak."


"Sayang, mungkin pernyataan itu untuk sebagian orang membenarkan tapi tidak untuk ku. Bagi ku pasangan kita adalah segalanya. Dia yang menemani saat susah dan senang, saat sehat dan sakit, dua puluh empat jam ada untuk kita. Pasangan hidup ya hidup berdua selamanya. Sedangkan anak, em anak itu memang memberikan nuansa lebih indah dalam sebuah rumah tangga, tawa, canda, ceria akan di hadirkan oleh seorang anak. Bahkan anak membawa semangat tersendiri. Tapi saat mereka tumbuh dewasa nanti anak itu anak meninggal kita. Dia akan punya kehidupan nya sendiri. Sedangkan pasangan kita akan selalu setia bersama dari muda sampai tua nanti."


"Mas, aku mencintaimu karna Allah. Allah sangat baik pada ku telah memberikan suami yang sungguh luar biasa hati nya. I love you 3000."


"Aku juga mencintai mu karna Allah. Emuah." Satu kecupan berhasil mendarat di pipi Misela. "Sayang, jangan lupa dengan apa yang pernah Mas katakan tempo hari?"


"Apa Mas?"


"Apapun yang terjadi seorang Mudzakir Alfaruq hanya akan mencintai Misela Metina seorang dan sepenuhnya titik."


"Mas, tapi sungguh jika suatu keadaan yang sangat terdesak mengharuskan kamu untuk menikah lagi bagaimana Mas?"


"Engga sayang itu gak akan pernah terjadi. Aku hanya punya satu istri dan itu adalah kamu. Jangan pernah berpikir yang macem-macem ya. Kita bicarakan apa yang akan kita lakukan besok di kota Jakarta ini?"


"Em aku bisa bertemu dengan keluarga ku di sini aja udah sangat bahagia banget Mas. Sejak menikah dengan mu hati ku selalu merasa tenang dan damai. Bahkan mimpi buruk ku seperti sudah enggan untuk hadir."


"Kalau gitu aku akan memberi mu es krim sayang."


"Gak ah cuacanya dingin gini kok makan es krim sih mas."


"Es krim yang ini beda dari yang lain."


Dzakir menuntun Misela untuk menyentuh sesuatu yang sudah mengeras. Tentu sifat isengnya tak mungkin terlewati.


"Iihh kamu Mas bener-bener."


"Ayo sayang kemaren rasanya nikmat banget loh. Sekarang mau yah makan es krim yang ini lagi."


Misela mengangguk.


Dzakir langsung melahap bibir manis Misela dan memulai ritual pembuatan anak lagi.


___________


Misela terbangun setelah merasa ada suara adzan yang remang-remang terdengar. Pagi ini terasa berbeda untuk Misela. Entah kenapa tapi Misela merasa sangat nyenyak tidurnya sampai melupakan sholat malam.


Misela menatap wajah tampan suaminya yang juga masih lelap di balik selimut tanpa apapun. Misela mengecup kening Dzakir dan membelai pipinya.


"Mas, ayo bangun udah subuh loh."


"Lima menit lagi ya."


Dzakir menyusup mendekati tubuhku mencari kehangatan. Entah berapa lama mereka bermain semalam sehingga mereka terlelap sampai pagi.


"Mas ayo jangan di nanti-nanti lagi adzan udah selesai tuh."


Dzakir pun membuka matanya. Dzakir mendongak menatap Misela dan mamanyunkan bibirnya tanda meminta cium pada istrinya itu.


Cup.


"Udah ah ayo mandi."


"Ciuman macam apa itu singkat sekali."


"Jangan banyak protes buruan sebelum malaikat marah terus ngajak ke alam lain."


Misela berlari ke kamar mandi di susul Dzakir.


"Sayang ayo sarapan."


"Sarapan apa Mas?"


"Ya Mas gak tau."


"Emang mau sarapan dimana Mas?"


"Di bawah dong kan pihak hotel yang masak."


"Wah makan mewah ya Mas."


"Engga juga sih kadang cuma nasi goreng aja hehe."


"Mas sering ya ke Jakarta terus nginep di hotel begini?"


"Ya cuma beberapa kali aja sih. Ya udah yuk nanti makannya kehabisan lagi."


Misela menggandeng lengan Dzakir dan memasuki lift lalu turun untuk sarapan.


Misela yang bingung karna banyak menu ahirnya mengambil sedikit demi sedikit setiap menu yang di hidangkan.


Dzakir hanya menggeleng kan kepalanya. Dzakir tak pernah sedikitpun malu akan tingkah laku Misela karna justru sebaliknya Dzakir selalu tersenyum melihat tingkah unik istrinya itu.


"Mas kita mau makan di sebelah mana?"


"Cari aja kursi yang kosong sayang."


Dzakir mengekor pada istrinya yang sibuk mencari tempat duduk.


"Ahirnya bisa duduk dan sarapan juga." Misela melirik makanan yang di ambil Dzakir.


"Ih Mas kamu kok dikit banget sih makannya. Nanti kalau kamu kurus dikira aku gak bisa urus suami lagi."


"Mas liatin kamu makan segitu banyak udah kenyang duluan nih."


"Kamu ngejek aku Mas?"


"Emang itu bakal abis?"


"Abis dong. Oiya Mas kalau nanti aku berubah jadi gendut terus gak cantik kayak sekarang gimana?"


Misela terus bicara sambil makan.


"Mas kan sudah bilang apapun dan bagaimanapun keadaan istri ku cuma..."


"Iya Mas iya cuma Misela Metina wanita yang dicintai seorang Mudzakir Alfaruq gitu kan?"


"Itu tau. Bikin gemes aja deh."


Dzakir mencubit kedua pipi Misela yang penuh dengan makanan.


"Udah ah mau makan dulu. Makanan nya enak banget Mas begini ya ternyata makanan di kota."


"Setelah ini kamu mau kemana sayang?"


"Ya aku gak tau dong Mas aku ikut aja kemana pun kita pergi."


"Oke deh."


"Hai boleh gabung duduk disini? semua kursi penuh nih." Sapa seorang gadis dengan membawa sarapan juga.


"Kamu?" Kata Dzakir dan Misela serempak.


"Aku kenapa? Kok kalian bengong gitu sih?" Ucap gadis itu lagi dan duduk di sebelah Dzakir.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Dzakir.


"Lah memang gak boleh aku ada disini?" Gadis itu kembali bertanya.


Gadis itu lalu memakan menu sarapannya. Dia cantik, stylish dan ber-make up natural. Makan dengan gaya sopan dan sesekali senyum pada Dzakir.


Misela tiba-tiba kehilangan selera makannya.


...###############...


Duh siapa sih dia ganggu orang pacaran aja kan?


Haruskah author buat dia menghilang? 😂