Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 12 Cinta Yang Lalu


"Ustadz Dzakir... Ga ga gawat tadz gawat." Husein masuk keruangan Dzakir dengan nafas yang tak teratur dan keringat yang bercucuran karna berlarian.


"Apa yang gawat Sen?"


"I..i..itu tadz huh anu i..itu tadi...!"


"Tenang kamu duduk dulu. Ini minum dulu atur nafas kamu pelan-pelan."


Husein pun menuruti perkataan Dzakir dan mengatur nafasnya.


"Udah tenang?"


Husein mengangguk.


"Coba kamu ceritakan ada apa? Kamu lihat apa tadi?"


"Tadi di Punggur kan ada banyak orang berkerumun katanya abis ada kecelakaan."


Husein masih sedikit terbata-bata dan sesekali mengambil nafas panjang untuk bicara.


"Iya terus kenapa?"


"Saya lihat motor Ka Misela ringsek disana tadz."


"Apa?"


"Kata seorang warga yang saya tanya tadi korbannya memang perempuan memakai mantel hijau."


"Kamu yakin itu motor Misela?"


"Iya tadz saya yakin saya hafal plat motornya. Dan lagi warna mantel hujan Ka Misela itu warna hijau tadz."


Memang Husein adalah adik kelas Misela walau mereka beda fakultas tapi Misela dan Husain adalah satu angkatan taekwondo jadi Husain sangat paham dengan motor matic Misela dan kebiasaan Misela karna mereka sering bertemu saat latihan.


Husein langsung menemui Dzakir karna Husein tau betul Dzakir menyimpan perasaan pada Misela sejak lama.


Dzakir pun mulai khawatir. Dia lalu mengambil ponsel yang ada di atas meja dan mencoba menghubungi nomor Misela. Tapi tak bisa terhubung.


"Gimana tadz nyambung gak?" Tanya Husain yang ikut panik melihat Dzakir.


"Kamu tau di bawa ke mana korban kecelakaan itu?"


"Katanya di bawa ke rumah sakit Mardi Waluyo tadz."


"Kalau gitu saya mau kesana dulu memastikan. Terima kasih infonya. Assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam Hati-hati tadz."


Dzakir langsung bergegas menuju parkiran dan melajukan mobilnya.


Cuaca mulai cerah suasana kota Metro sedikit macet pagi ini. Karna Dzakir mengambil jalan pintas untuk menghindari lampu merah. Saat tiba di persimpangan pasar Cendrawasih Dzakir yang melajukan mobilnya perlahan melihat sosok Rangga dan seorang perempuan sedang memilih baju.


"Bukankah itu suami Misela? Ini udah yang kedua kali aku melihat suaminya itu bersama wanita yang sama." Dzakir bergunam namun tak lama suara klakson mobil dari belakang mengagetkan Dia. Dzakir pun melanjutkan perjalanan nya.


Dzakir ahirnya tiba di rumah sakit Mardi Waluyo salah satu rumah sakit besar di kota Metro. Setelah memarkirkan mobilnya Dzakir bergegas menuju resepsionis. Harapan Dzakir korban kecelakaan yang di maksud Husain tadi itu bukanlah Misela.


"Permisi Sus mau tanya."


"Iya Pak ada yang bisa saya bantu?"


"Begini apa barusan ada seorang wanita korban kecelakaan yang di rawat disini?"


"Oiya Pak barusan datanya saya input Pak. Sebentar saya cek namanya."


"Iya Sus."


"Oh ini Pak namanya Misela Metina. Tapi ponsel korban mati jadi tidak bisa menghubungi keluarga nya."


Deg.


Tentu saja Dzakir terkejut. Harapan nya tak terkabul. Korban kecelakaan itu benar-benar wanita yang di cintai nya.


"Maaf Sus di ruang mana dia di rawat sekarang?"


"Di ruang mawar nomor empat Pak."


"Terima kasih Sus."


"Baik sama-sama."


Dzakir bergegas menuju ruangan yang di maksud suster tadi.


Pintu ruangan itu pun di buka. Terlihat seorang wanita berjilbab instan navy terbaring dan menutup matanya. Dahinya terbalut perban. Tangan kanannya terpasang penyangga patah tulang. Tangan kirinya terpasang infus. Bagian dada ke bawah tertutup selimut khas rumah sakit.


"Ini benar-benar kamu?"


Dzakir menitikkan air mata. Seolah rasa sakit yang dialami Misela kini dia rasakan juga. Dzakir pun duduk di sebelah kanan Misela. Menatap lembut wajahnya yang pucat.


Dzakir melihat tas di meja. Itu tas ransel milik Misela. Dzakir pun mengambil ponsel Misela dan ternyata memang benar ponselnya mati.


"Bagaimana aku bisa menghubungi keluarga mu? Harusnya tadi aku ajak Erlina sahabat mu."


Misela mulai sadar. Gerakan jarinya membuat Dzakir tersenyum bahagia. Perlahan mata Misela pun terbuka. Retina mata indah itu menuju wajah Dzakir yang sedang tersenyum kepadanya.


"Pak Dzakir?"


Dengan suara yang berat Misela mencoba memanggil nama satu-satunya pria yang ada di hadapannya itu. Bibirnya kering sehingga sedikit susah untuk dia bicara.


"Misela kamu jangan banyak bicara dulu. Saya panggil kan dokter dulu."


Dzakir pun keluar dan memanggil seorang dokter untuk memeriksa Misela.


Setelah pemeriksaan dokter pun pergi dan berpesan untuk menjaga Misela.


Dzakir pun kembali duduk di sebelah Misela.


"Pak, Kenapa bapak ada disini?"


"Ceritanya panjang. Sekarang apa yang kamu inginkan?"


"Saya haus Pak."


Dzakir lalu menuangkan air ke dalam gelas yang sudah tersedia di meja sebelah Misela.


"Ayo saya bantu duduk dulu."


Dzakir sedikit menaikan tempat tidur Misela dan membantu nya duduk lalu minum.


Setelah minum Misela kembali berbaring.


"Pak Dosen apa keluarga saya sudah tau kalau saya kecelakaan?"


"Syukurlah."


"Kenapa bersyukur?"


"Pak tolong jangan hubungi siapa pun bahkan Erlina."


"Kenapa begitu?"


"Keluarga saya akan berangkat ke Jakarta sore ini karna urusan bisnis. Sedangkan jika Erlina tau dia pasti akan menghubungi Aldian adik saya."


"Lalu siapa yang menjaga mu dan membayar biaya perawatan mu?"


"Pak tolong di dompet saya ada ATM. Bisa bapak bantu saya untuk urus administrasi nya?"


"Tentu."


"Dan juga saya baik-baik saja sendiri Pak. Ada suster yang akan menjaga saya disini. Saya tinggal panggil saja."


"Begitukah?"


"Iya Pak. Maaf jadi merepotkan pak dosen."


"Sebenarnya apa yang sedang kamu coba sembunyikan dari orang-orang yang sangat menyayangi mu Misela?"


"Maksudnya gimana Pak?"


"Dalam perjalanan kesini saya melihat suami mu bersama wanita yang sama saat kita akan pergi seminar tempo hari."


"Apa?"


"Apa kamu tau jika suami mu selingkuh?"


"Maaf Pak itu masalah pribadi saya. Saya harap bapak tak menanyakan masalah rumah tangga saya."


"Ini jadi urusan saya karna saya tak mau kamu tersakiti."


"Tolong tinggalkan saya Pak."


"Maaf Misela jika waktunya tak tepat tapi Misela kenapa kamu menolak ta'aruf saya waktu itu?"


Tak ada jawaban dari Misela. Tatapannya lurus ke tembok yang ada di hadapannya.


"Misela apakah suami mu benar-benar selingkuh?"


Misela masih terdiam.


"Baiklah saya tunggu kamu di luar. Jika kamu butuh sesuatu teriak saja. Saya pergi dulu assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Kini Misela sendiri di ruangan yang tak begitu luas itu. Satu tempat tidur di sisi nya kosong. Misela pun mengingat kejadian satu tahun lalu.


Satu tahun lalu saat Misela masih menyelesaikan pendidikan nya di pesantren yang sama dengan Dzakir mengajar tiba-tiba seorang ustadzah memanggil nya dan mengajak ke ruang pertemuan kusus.


Saat duduk di ruang pertemuan kusus itu sudah duduk seorang ustadz dan ustadzah disana Misela pun duduk di dekat ustazah. Lalu masuklah Dzakir ke ruangan tersebut dan duduk di antara mereka.


Dzakir menyampaikan niat baiknya.


"Assalamu'alaikum Misela saya yang memanggil mu kemari."


Dzakir pun menyapa Misela yang masih tertunduk karna ini pertama kalinya mereka duduk berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


"Wa'alaikumsalam ustadz Dzakir. Ada perlu apakah hingga harus memanggil saya kemari. Apa saya punya salah ustadz?"


"Iya kamu punya salah."


"Hah? Tapi saya salah apa tadz?"


"Kamu sudah mencuri."


"Afwan ustadz Dzakir saya rasa ada kesalahan pahaman disini. Karna saya merasa saya tak pernah mengambil barang yang bukan milik dan hak saya. Bisa ustadz jelaskan apa yang saya curi dan milik siapa itu?"


Dengan beberapa gerakan tangan yang membuat dirinya menghayati setiap katanya kini Misela sudah berani menatap wajah Dzakir. Seorang ustadz yang sangat di hormati dan di idolakan para wanita di pesantren itu.


"Kamu sudah mencuri hati ku Misela. Saya memanggil mu kemari karna saya hendak mengajak mu ta'aruf. Bolehkan saya menemui orang tua mu?"


"Astaghfirullah."


"Kenapa Misela apa saya salah bicara?"


"Tidak ustadz maafkan saya. Maafkan saya tidak bisa menerima ta'aruf ini ustadz."


"Kenapa kamu begitu cepat menjawabnya?"


"Maaf ustadz Dzakir saya bukan wanita yang pantas untuk seorang ustadz Dzakir yang soleh dan sangat banyak para santri wanita lainnya bahkan para ustazah yang lebih pantas berdampingan dengan ustadz Dzakir."


"Misela tak ada orang yang sempurna di dunia ini kecuali nabi kita nabi Muhammad Saw. Saya sendiri merasa tidak pantas menjadi suami mu tapi saya bisa belajar agar bisa menjadi suami yang pantas dan sempurna untuk mu."


"Sekali lagi maafkan saya ustadz Dzakir. Saya permisi dulu assalamu'alaikum."


Misela berdiri dengan kepala yang masih menunduk lalu pergi dengan buru-buru setelah mengucapkan salam.


Dzakir sangat kebingungan saat itu. Sosok Misela yang selalu dia doakan di sepertiga malamnya kini pergi tanpa alasan yang pasti.


Mudzakir Alfaruq. Tak ada yang tak mengenal sosok pria idaman semua kalangan para wanita. Wajah nya yang rupawan dengan tubuh tinggi dan gagah bahkan lulusan termuda di universitas ternama Indonesia.


Ayahnya adalah seorang Gubernur Lampung yang telah menjabat dua periode. Bukan hanya itu Ayah Dzakir yaitu Prof. Surya Alfaruq S.Kom juga memiliki yayasan kampus hijau yang dimana Misela sedang berkuliah disana.


Dzakir adalah anak tunggal dan hampir semua pejabat dan orang-orang penting di Provinsi Lampung mengenalnya. Namun Dzakir tak mau mengikuti jejak ayahnya di bidang politik.


Misela masih berjalan tergesa-gesa dan menitikkan air mata. Tujuannya saat ini adalah asrama putri tempatnya tidur.


Misela langsung membaringkan tubuhnya dan memeluk bantal tidurnya dengan sangat erat.


"Bagaimana mungkin seorang yang sangat di hormati di kota ini menjadi suami anak haram seperti aku? Aku memang mengagumi ustadz Dzakir tapi aku tak pernah sedikitpun mengharap kan nya menjadi suami ku. Apa yang akan orang kata kan jika tau latar belakang ku. Astaghfirullah ya Allah maafkan hamba mu ini hiks...!"


...########################...


...Hayooooo yooo jangan lupa tinggalkan jejaknya....


...Like Favorit komentar dan bunganya ya....


...Ingat loh dukungan terbanyak akan dapet pulsa 10K 😍...


...Terimakasih 🙏...


...Boleh follow ig aku ya @deliss_aa1...