
Setelah upacara kebangkitan kekuatan, para pahlawan muda dipersiapkan untuk perjalanan pelatihan yang lebih intensif. Hapsah, penyihir kerajaan, mengatur perjalanan mereka menuju tiga kerajaan yang berbeda sesuai dengan keahlian unik masing-masing pahlawan.
Astri, Agung, Desmita, dan Nurlia tinggal di Kerajaan Bugis, yang terkenal dengan ilmu sihir dan kekuatan magis. Di sana, mereka diajarkan tentang elemen sihir dan cara menguasai tingkat kedekatan mana yang tinggi. Guru-guru hebat mengajarkan mereka mantra-mantra sihir yang kuat dan bagaimana menggunakan energi magis dengan bijaksana.
Di Kerajaan Toraja, Raja Edi menyambut Aldi dengan penuh kehangatan. Aldi dan para pahlawan yang mahir dalam teknik jarak dekat, seperti Cica dan Suriansyah, ditempatkan di bawah asuhan Ksatria Terkuat Ninda. Ninda adalah ksatria legendaris dengan kemampuan bertarung tanpa tanding, dan dia dengan senang hati berbagi pengalaman dan keterampilannya dengan para pahlawan muda.
Sementara itu, Arjun dibawa ke Kerajaan Kurcaci, tempat para kurcaci ahli senjata tinggal. Di bawah bimbingan Raja Kurcaci yang bijaksana, Arjun belajar berbagai teknik senjata dan mengasah keahliannya dalam menciptakan senjata-senjata magis. Dia juga berinteraksi dengan para kurcaci tukang besi dan pandai besi, yang terkenal akan keterampilan mereka dalam seni smita.
Selama pelatihan mereka, para pahlawan muda menghadapi berbagai tantangan dan ujian. Mereka harus mengatasi rintangan fisik dan mental, memperdalam pemahaman mereka tentang kekuatan dan kemampuan masing-masing, serta belajar untuk bekerja sebagai tim yang solid.
Selain itu, mereka juga belajar tentang keadilan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sebagai pahlawan yang memiliki kekuatan luar biasa. Mereka menyadari bahwa kekuatan tanpa tanggung jawab dan hati yang tulus dapat membawa bahaya bagi dunia isekai.
Setelah beberapa bulan pelatihan yang intensif, para pahlawan muda kembali berkumpul di Kerajaan Bugis untuk melanjutkan misi mereka. Mereka merasa lebih percaya diri dengan kemampuan dan keahlian baru yang mereka peroleh.
Selama pelatihan di Kerajaan Bugis, sesuatu yang mengejutkan terungkap tentang Ardi. Saat guru-guru kerajaan sedang menguji dan mengajarkan kekuatan para pahlawan, mereka memperhatikan keunikan kekuatan Ardi yang tampaknya berbeda dari yang lain.
Hapsah, yang sangat cermat dalam memahami magis, mengamati Ardi dengan seksama. Setelah beberapa percobaan, dia dengan hati-hati mencoba mengeksplorasi sumber kekuatan Ardi. Hasilnya sangat mengejutkan - Ardi memiliki darah iblis dalam dirinya.
Ketika Hapsah menyampaikan temuannya kepada para pahlawan lainnya, kebingungan dan ketidakpercayaan melanda. Ardi tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar. Dia merasa kesepian dan terasing dari teman-temannya karena dia merasa berbeda dan tidak dapat diterima.
Namun, ketika berita tentang sifat darah Ardi menyebar ke seluruh kerajaan, beberapa orang mulai meragukan kehadirannya. Mereka tidak percaya bahwa seorang pahlawan seharusnya memiliki darah iblis. Karena itu, beberapa orang menjadi lebih skeptis dan bahkan mencoba menjauhkan diri dari Ardi.
Di saat-saat seperti itu, Aldi, yang selalu menjadi sahabat baik Ardi, mendukungnya dengan teguh. "Kami adalah teman sejati, Ardi," ucap Aldi dengan tegas. "Tak peduli asal darahmu, kamu adalah bagian dari keluarga kita, dan kami akan selalu berdiri bersama-sama."
Tegangan di antara para pahlawan mencapai puncaknya ketika beberapa dari mereka menuntut agar Ardi dikeluarkan dari party pahlawan. Mereka merasa bahwa kehadiran Ardi yang memiliki darah iblis akan membahayakan dan melemahkan kelompok. Keputusan ini sangat menyakitkan bagi Ardi dan membuatnya merasa terluka.
"Sungguh tidak adil," gumam Ardi dalam hati, sambil meneteskan air mata. "Aku juga ingin menjadi pahlawan yang kuat dan berjuang bersama teman-teman."
"Aku akan pergi," kata Ardi dengan suara rendah. "Tapi saya berharap teman-teman bisa mengerti, saya akan selalu menyokong misi kalian dan berharap kalian akan berhasil."
Sebelum Ardi pergi, Raja Baso menghampirinya dengan wajah lembut. "Ardi, jangan pernah merasa rendah diri atas keunikananmu. Aku tahu bahwa kamu memiliki kebaikan hati dan semangat yang kuat. Terimalah bekal ini sebagai tanda dukunganku. Gunakan koin emas ini untuk membantumu dalam perjalananmu."
Dengan tangan yang gemetar, Ardi menerima koin emas tersebut dari Raja Baso. Dia merasa haru atas dukungan yang diberikan Raja Baso dan menyadari bahwa kepergiannya mungkin akan menjadi ujian terbesar dalam hidupnya.
Saat Ardi meninggalkan party pahlawan, suasana hatinya campur aduk. Dia merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman, tetapi juga penuh tekad untuk membuktikan nilainya sebagai seorang pahlawan. Dia memutuskan untuk pergi meningkatkan kemampuannya dan membuktikan bahwa dia adalah pahlawan yang berharga.
Para pahlawan yang tersisa merasa berat hati dengan kepergian Ardi, tetapi mereka juga menghormati keputusannya. Mereka belajar dari pengalaman ini bahwa persahabatan adalah tentang saling memahami, menghargai, dan mendukung satu sama lain.