
Elyas pulang masih tetap dengan hati yang galau merana. Mau gimana lagi? Namanya juga lagi anget-angetnya, lagi romantis - romantisnya, lagi menikmati rasa indehoy yang membuat candu, eh malah udah main pisah segala.
Elyas menjalankan motornya dengan pikiran menerawang. Ia memikirkan apa yang di katakan oleh kakak iparnya tadi.
Apa mungkin seorang Ratna yang terkenal dengan kelembutan dan kesopanannya tega melakukan sesuatu yang tidak baik ke istrinya?
Apa mungkin memang terjadi sesuatu di pasar waktu itu?
Lalu kenapa umi tidak mengatakan apapun? Apa umi juga tidak mengetahuinya?
Dan ... Ah... Apa tadi kakak iparnya bilang? Kakak iparnya akan benar-benar mengambil istrinya jika sampai dirinya tidak mampu menyelesaikan masalahnya ini? Kenapa kakak iparnya berkata seperti tadi? Apa mungkin kakak iparnya itu juga menyukai istrinya? Secara mereka hanyalah saudara tiri. Oh, tidak bisa .. Tidak akan Elyas biarkan kalau sampai hal itu terjadi. Pikir Elyas. Ia semakin mengencangkan laju motornya.
Ckiiitttt
Elyas mengerem motornya secara mendadak kala ia melihat Ratna sedang berjalan seorang diri di tepi jalan menuju kampungnya. Pucuk di cinta, ulampun tiba jika kata pepatah.
Elyas menstandarkan motornya sembarangan, melepas helmnya dan menaruhnya di atas jok motor, lalu berlari kecil menghampiri Ratna yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya.
" Ratna... " panggil Elyas.
Sekali panggil, si empunya nama, langsung menoleh. Sepaket dengan senyuman manisnya kala yang memanggilnya adalah cintanya.
" Mas Elyas.. " ucapnya dengan tatapan berbinar. " Baru pulang mas? Lama tidak bertemu. "
" Iya. " jawab Elyas yang mungkin dengan mimik wajah yang tidak seperti dulu.
" Mas Elyas apa kabar? " tanya Ratna seolah tidak membiarkan Elyas untuk berbicara.
" Tidak begitu baik. " jawab Elyas pendek.
" Kenapa mas? Mas Elyas sakit? " raut wajah Ratna berubah cemas. " Apa istri mas tidak merawat mas Elyas dengan baik? Ratna perhatikan, penampilan mas Elyas berubah. Jadi lebih .... maaf, berantakan. " ucapnya masih dengan suara lembutnya seperti biasa. Membuat Elyas ragu untuk bertanya. Apa mungkin gadis selembut itu bisa berbuat jahat terhadap orang lain?
" Lagi banyak pikiran aja. " jawab Elyas sekenanya. Tapi jawaban itu membuat Ratna bersorak dalam hati. Ratna merasa, usahanya tidak sia-sia. Ia yakin, sebentar lagi, Elyas pasti akan kembali ke tangannya.
" Oh iya, Rat. Boleh saya bertanya? " tanya Elyas mengemudi Ratna yang sedang membayangkan jika seandainya Elyas kembali kepadanya.
" Iya mas. Mau tanya apa? " tanya Ratna masih dengan senyumannya.
" Apa beberapa hari yang lalu, kamu bertemu umi juga Selsa di pasar? " tanya Elyas to the point.
Ratna mengerutkan dahinya. " Di pasar? Beberapa hari yang lalu? " ia berpura - pura untuk mengingat-ingat.
" Sepertinya tidak mas. Seingat Ratna, Ratna tidak pernah bertemu umi maupun istri mas Elyas di manapun dalam waktu dekat. " jelasnya.
" Ratna memang pernah bertemu dengan istri mas Elyas di pasar sekali. Tapi itu sudah lama. Sepertinya sebelum idul Fitri deh." lanjutnya.
" Iya benar. Sebelum idul Fitri. " Ratna manggut-manggut.
" Oh. "
" Memangnya ada apa ya mas? Kalau boleh Ratna tahu. " tanyanya hati-hati.
" Oh, tidak ada apa-apa. " jawab Elyas.
Sepertinya dugaan kak Roy salah. Ratna tidak mungkin mampu menyakiti orang lain. batin Elyas.
" Ya sudah kalau begitu, Ratna. Saya pamit dulu. Melanjutkan perjalanan. " pamit Elyas.
Ratna tersenyum simpul. Ada banyak makna tersirat dalam senyuman itu.
" Maaf, jika saya mengganggu waktu kamu. " ucap Elyas. " Assalamualaikum. " ucapnya tanpa menunggu jawaban dari Ratna, Elyas berbalik badan untuk kembali ke tempat motornya berhenti.
" Mas Elyas. " panggil Ratna. Elyas menghentikan langkahnya sesaat. Tapi sebelum ia memutar badannya menghadap Ratna, Ratna berucap, " Kapanpun mas Elyas butuh Ratna, Ratna akan selalu ada buat mas Elyas. Ratna akan selalu menunggu mas Elyas melihat Ratna kembali. "
Elyas terdiam beberapa saat. Lalu ia memutar badannya hendak menjawab ucapan Ratna. Tapi sayang, Ratna sudah berlalu. Berjalan menjauhi dirinya dengan setengah berlari.
" Maaf, Ratna. Jangan pernah menungguku. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan menoleh kembali ke belakang. " ucap Elyas sembari menatap punggung Ratna yang kian menjauh.
.
.
.
Elyas menunggu umi pulang dari pengajian di rumah salah satu warga. Ia menunggu kedatangan umi dengan hati gelisah.
" Assalamualaikum... " ucap umi dari luar. Sepertinya umi sudah kembali dari pengajian.
" Waalaikum salam. " jawab Elyas.
" Lho, kamu di rumah? Umi kira kamu ke rumah mertua kamu. Mumpung weekend. " ucap umi sambil menghenyakkan pan tatnya di sofa dan membuang nafas lelahnya.
" Tidak umi. " Suara Elyas melirih. " Percuma Elyas kesana kalau Selsa masih enggan bertemu. " lanjutnya.
Elyas Mende sah, meletakkan kepalanya di sandaran sofa. Ia seperti terlihat begitu lelah.
" Elyas sangat merindukannya umi. " ucapnya masih dengan posisi yang sama.
Terdengar umi menghela nafas beratnya. " Apa kamu masih belum menemukan apa yang membuat Selsa bersikap seperti itu? " tanya beliau.
" Belum umi. " Elyas menggelengkan kepalanya.
" Elyas... Elyas... " umi menggelengkan kepalanya seperti habis kesabaran. " Apa kamu sudah berusaha menemui Ratna? Apa kamu tidak mencurigainya? "
Elyas menegakkan badannya menghadap umi. " Kemarin sore Elyas tidak sengaja bertemu dengannya di jalan umi. Tidak mungkin Ratna sengaja menyebabkan kesalahpahaman antara Selsa dan Elyas. "
" Apa yang di katakannya? " tanya umi.
" Ratna tidak mengatakan apapun umi. Dia masih tetap baik seperti dulu meskipun Elyas sudah menyakiti hatinya. " jawab Elyas.
" Kamu terlalu naif nak. Sudah pernah umi bilang sama kamu, jangan suka menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. " keluh umi.
" Apa maksud umi? Ratna tidak mungkin melakukannya umi. " ujar Elyas.
Umi tersenyum tipis. " Kamu mengatakan tidak mungkin. Tapi itulah yang terjadi. Ratna lah yang menyebabkan kesalahpahaman antara kami dan istrimu. "
Elyas terjingkat. Ia terkejut. " Apa umi? "
" Ratna tidak sebaik yang kita pikirkan selama ini. Beberapa kali umi melihat dengan mata umi sendiri, apa yang dia lakukan terhadap istrimu tiap kali mereka bertemu. " umi mulai menjelaskan.
" Ratna selalu berbicara ketus dan kasar terhadap Selsa. Padahal Selsa selalu bersikap baik kepadanya. Dan puncaknya, ketika mereka bertemu di pasar beberapa waktu yang lalu. "
" Ratna bertemu Selsa, umi? Tapi ... Tapi kemarin Elyas bertanya kepada Ratna, dia bilang mereka tidak bertemu sama sekali. " sahut Elyas.
Umi menghela nafas berat. " Kamu terlalu di butakan dengan kepercayaan kamu terhadap seseorang. Umi melihat dan mendengar sendiri apa yang terjadi waktu itu. Ratna bahkan dengan sengaja mendorong istri kamu hingga istri kamu terjengkang ke kebungan air di depan pasar. Istri kamu menjadi bahan tontonan banyak orang. " cerita umi sambil menerawang pada kejadian itu.
" Apa!! " Elyas mengepalkan kedua tangannya.
" Tidak hanya itu saja nak. Ada yang lebih menyakitkan. Ucapan Ratna. Entah apa yang pernah kamu katakan kepadanya dulu hingga dia berani berucap seperti itu ke istrimu. "
" Apa umi? Elyas tidak tahu pernah berkata apa kepadanya. " Elyas mengerutkan keningnya.
" Ratna berkata kepada istrimu, jika kamu tidak akan pernah menggaulinya karena kamu tidak mau bersetubuh dengan perempuan yang sudah tidak perawan. " ucap umi serius
Jeddeeerrr
Bagai tersambar petir di siang bolong yang terik. Elyas begitu kaget. Hatinya terasa perih dan ngilu. Ia terdiam.
" Umi tidak habis pikir sama kamu, Yas. Kenapa kamu mengatakan hal setabu itu kepada orang lain. " umi sedikit tersulut emosi. " Jika memang istri kamu sudah tidak perawan, apa perlu kamu mengatakannya kepada orang lain? Mantan calon tunanganmu lagi. " geram umi.
" Demi Allah, umi. Elyas memang sempat berpikiran seperti itu. Tapi sungguh, Elyas tidak pernah mengatakannya kepada siapapun terlebih Ratna. Elyas hanya pernah mengatakannya sama umi. " jawab Elyas tegas.
" Elyas tahu umi. Elyas masih bisa membedakan mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya Elyas katakan. " lanjutnya.
Umi menghela nafasnya kasar. " Semua sudah terlanjur terjadi. " pupus umi. Ia percaya apa yang di ucapkan putranya. Beliau tahu, seperti apa putranya itu. Putranya tidak akan pernah berbohong kepadanya.
" Mau kemana kamu? " tanya umi kala melihat Elyas berdiri dari duduknya dan berjalan dengan langkah lebar menuju luar rumah. Putranya itu terlihat mengepalkan kedua tangannya.
" Elyas mau ke rumah pak kades umi. Semuanya harus jelas malam ini juga. " jawab Elyas dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
" Elyas. " panggil umi. Beliau langsung berdiri dan menyusul Elyas. " Jangan bertindak bodoh nak. Lebih baik kamu pergi ke rumah mertua kamu. Jelaskan sama istri kamu apa yang sebenarnya terjadi. " pinta umi.
" Tidak umi. Elyas akan menyelesaikan akar masalahnya terlebih dahulu. Elyas harus berbicara dengan Ratna juga kedua orang tuanya. Jika di biarkan, maka hal seperti ini bisa terjadi lagi suatu saat nanti. "
" Elyas, mereka keluarga terpandang. Bapaknya kepala desa di desa kita nak. " umi khawatir Elyas berbuat yang berbahaya. " Lebih baik kamu temui istri kamu. Dia pasti juga merindukan kamu. Apalagi ada calon anak kamu di sana. "
" Apa umi? Anak ? "
bersambung