
Elyas nampak panik kala melihat tatapan beberapa karyawan yang berada di depan pintu lift. Ia sontak memutar tubuhnya.
“ Auuu!!! “ pekik Selsa. Mendengar pekikan kesakitan Selsa, Elyas kembali memutar tubuhnya menghadap Selsa. Karena panik dan cemas akan anggapan karyawan lain, Elyas sampai lupa jika rambut Selsa masih nyangkut di kancing kemejanya.
Karena kesibukan mereka tadi, membuat mereka tidak menyadari jika lift bergerak kembali turun ke lantai 1. Dan ternyata, di lantai itu, ada beberapa karyawan yang hendak masuk ke dalam lift. Tapi malah mendapati mereka berdua yang saling berhadapan dan saling berdekatan. Membuat para karyawan sontak berasumsi yang tidak tidak.
“ Mas Elyas kenapa malah balik badan sih ? Rambutku masih nyangkut nih. Sakit kan jadinya ? “ keluh Selsa sembari menggerutu kesal.
“ Maaf, tadi aku reflek. Ada karyawan yang melihat posisi kita yang seperti ini. Mereka pasti akan salah sangka terhadap kita. “ sahut Elyas gugup.
“ Kenapa mesti mikirin anggapan mereka sih ? Terserah lah mereka mau beranggapan apa. Itu hak mereka masing – masing. “ jawab Selsa.
“ Apa yang mereka lakukan di dalam lift ? “ tanya karyawan yang tadi hendak masuk. Mereka akhirnya mengurungkan niat mereka untuk masuk ke dalam lift. Mereka mundur alon alon, dan membiarkan pintu lift kembali tertutup.
“ Mereka gituan di dalam lift ya “
“ Mas Elyas loh ini. Sama non Selsa, anak pemilik perusahaan. “
Gituan ? Apa maksud mereka ? ah, entahlah. Hanya Elyas, Selsa, dan Tuhan lah yang tahu apa yang terjadi di dalam lift.
.
.
.
“ Astaga Elyas ….!! “ Amir geleng – geleng kepala dan berkacak pinggang di depan Elyas. Ia berdiri di depan pintu ruangan Elyas. Ia baru saja dari luar.
“ Apa yang kamu lakukan? Hingga seluruh gedung ini ramai membicarakanmu dengan Selsa ? “ tanya Amir seraya memasuki ruangan Elyas dan duduk di kursi di depan meja kerja Elyas.
Elyas menghentikan aktivitasnya mengetik di layar laptopnya. Ia melepas kaca matanya, lalu menaruhnya di atas meja. Ia menghela nafas panjang. Mendengar apa yang di katakan Amir, ia sudah bisa menebak, akar masalah kesalah pahaman itu apa.
“ Sumpah Yas, orang sekantor heboh. Melebihi artis yang di isukan hamil di luar nikah. Melebihi jika kantor ini terkena gempa. Aduhduhduh ….. seorang ustadz, dan seorang nona muda putri pemilik perusahaan ada …. Ah! Semua orang ngebahas kalian. Ngomongin kalian. “ Amir menghentikan kata – katanya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
Elyas memilih menghela nafas kasar, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya, lalu memejamkan matanya. Ia merasa malas untuk menjelaskan semuanya. Toh, pastinya percuma.
Seluruh gedung sudah mendengar dari satu sisi. Jika ia ingin menjelaskan, apakah ia harus menjelaskan ke mereka satu persatu ? Atau ia harus mengadakan konferensi pers ?
“ Apa yang kamu lakukan sama Selsa di dalam lift tadi ? Kenapa kalian peluk – pelukan ? Apa benar kamu ciuman dengan Selsa ? “ Amir memicingkan matanya. “ Oh, Elyas. Kenapa kamu melakukan hal ini ? Apa kamu tidak tahu jika teman kita, Radith tengah mengejar Selsa ? “ kini Amir memijat pelipisnya.
Elyas masih malas untuk menjawab. Ia masih terdiam, sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“ Elyas ! “ seru Amir kesal karena sedari tadi ia berbicara sampai berbusa tapi tidak di tanggapi oleh Elyas.
“ Apa – apaan sih ! “ Elyas kesal karena ia terkejut.
“ Apa yang harus aku jawab ? “ tanya Elyas malas.
“ Ck ! “ Amir berdecak. “ Jadi benar, kalian melakukan hal itu di lift ? “
“ Jawaban apa yang ingin kamu dengar ? “
“ Hah. “ Amir kini yang menghela nafas kasar. Sulit memang berbicara dengan sahabatnya satu ini. Sahabat dan sekaligus atasannya.
“ Katakan saja, apa yang kalian lakukan tadi di dalam lift. Gampang kan ? Hah. Kayaknya kamu perlu di rukyah. Atau di kompres deh kening kamu. Elyas, Elyas! “ Amir menggeleng gelengkan kepalanya berpura pura tidak habis pikir dengan sikap Elyas.
“ Gaya kamu aja alim, sok jual mahal. Nggak tahunya, setelah kamu melihat betapa cantik dan moleknya Selsa, langsung kamu ajakin ajep – ajepan. Nggak lihat tempat lagi. Kalau kamu memang pengen, noh di rooftop. Nggak bakalan ada yang lihat. Nggak di lift juga. “ imbuh Amir sengaja memanas – manasi Elyas. Ia yakin, setelah ini, Elyas pasti akan berbicara.
“ jika kamu berkata seperti itu, berarti kamu tidak cukup mengenalku. “ ucap Elyas masih sambil memejamkan matanya dengan punggung menyandar pada sandaran kursi.
“ Ck ! Kurang mengenal apa aku sama kamu. Bahkan makanan kesukaan kamu aja aku mengetahuinya. “ sahut Amir kesal. “ Tapi entah kenapa, hari ini aku merasa aku tidak mengenalmu. “ lanjutnya.
“ Apa menurutmu aku bisa melakukan hal seperti yang kamu dan orang – orang bilang itu ? “ kini Elyas yang mengajukan pertanyaan.
“ Aku memang sudah mengenalmu lama. Tapi masalah cewek, aku sama sekali tidak tahu. Karena itu urusan pribadimu. Tapi mendengar apa yang di katakan orang – orang, …. Ah, entahlah. “ jawab Amir.
“ Kamu percaya dengan mereka ? “
Amir hanya mengangkat bahunya.
“ Aku bukan laki – laki seperti itu. “ Elyas menghela nafas dalam. “ Apa yang terjadi di dalam lift, tidak seperti apa yang di bicarakan orang – orang. Aku tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Aku masih takut dosa. “ lanjutnya.
“ Lalu kenapa orang – orang berkata seperti itu ? Apa yang mereka lihat ? “
“ Mereka salah paham. " Elyas mulai menjelaskan.
" Yah, aku mengerti, posisiku dan Selsa tadi pasti akan menggiring opini orang lain kemana. Tapi sumpah demi Allah, aku tidak melakukan hal itu. Rambut Selsa nyangkut di kancing kemejaku karena tadi pagi lift sangat penuh, dan tubuh Selsa harus berdempetan denganku. Aku hanya berusaha melepas rambut Selsa tanpa harus menyakitinya. Tapi orang – orang melihat kami sedang berdekatan dengan posisi saling berhadapan. Dan sayangnya lagi, ketika itu, aku berdiri membelakangi pintu menghadap ke Selsa. “ jelas Elyas.
“ Benarkah ? “
“ kalau kau tidak percaya, ayo kita ke ruangan cctv. Kita akan tahu jawabannya di sana. “
“ Oke. Aku percaya sama kamu. Dan jika memang kejadiannya tidak seperti itu, maka kamu harus menjelaskan kepada semuanya. “ usul Amir.
“ Hah. “ Elyas menghembuskan nafas kasar. “ Konferensi pers gitu ? Memangnya aku selebritis. Tidak mungkin aku menjelaskan ke mereka satu – satu. Mungkin benar seperti apa yang di bilang Selsa. Mereka akan berhenti sendiri untuk bergosip jika mereka sudah lelah. “ ujar Elyas.
“ Terserah kamu saja jika seperti itu. Kamu nikmati saja hari – harimu menjadi bahan gosipan orang satu kantor. “ ucap Amir kesal sambil beranjak berdiri dan meninggalkan Elyas sendiri.
Bersambung