Pak Ustadku

Pak Ustadku
Pelakor??


Malam itu, Selsa pulang dari masjid habis sholat tarawih bersama umi seperti hari – hari biasanya. Saat keluar dari masjid, tiba – tiba ada seorang gadis menghampiri umi.


“ Assalamu’alaikum, umi. “ sapa gadis itu lembut.


“ Waalaikum salam. “ jawab umi sambil tersenyum.


Lalu gadis itu menyalami umi dan mencium punggung tangan beliau. “ Umi apa kabar ? “ tanyanya.


“ Alhamdulillah, baik Ratna. Kamu sendiri bagaimana ? “ tanya umi.


“ Alhamdulillah, baik umi. “ jawab Ratna. Lalu mereka berbincang entah apa yang mereka perbincangkan.


Sebenarnya umi terlihat agak canggung dan kurang nyaman saat berbincang dengan Ratna. Mungkin karena kejadian gagalnya umi meminang Ratna untuk Elyas.


“ Umi sendirian ? “ tanya Ratna.


“ Ah, tidak. “ jawab umi agak gugup. “ Umi sama … mmmm … itu … “ canggung rasanya umi mau mengucap kata menantu. Takut menyakiti hati Ratna lebih dalam.


“ Sama istri mas Elyas ? “ dengan ketegaran hati yang sudah Ratna pupuk dari tadi, ia bisa bertanya hal itu.


“ Oh, iya. “ jawab umi singkat. Dan terlihat Ratna tersenyum penuh luka sambil menganggukkan kepalanya.


“ Ratna … “ panggil umi.


“ Iya, umi. “ sahut Ratna.


“ Mungkin di sini bukan tempat yang tepat untuk umi mengucapkan hal ini. Tapi mumpung kita bertemu, mmm … umi mau … minta maaf sama kamu. “ ucap umi penuh kehati – hatian.


“ Minta maaf untuk apa umi ? “ tanya Ratna sembari mengernyitkan dahinya.


“ Umi minta maaf, karena hari itu, umi tidak jadi datang ke orang tuamu untuk melamarmu untuk Elyas. “ ucap umi. Ratna tidak menjawab. Ia menunduk.


“ Umi tahu, kamu pasti merasa sakit hati dan kecewa sama umi juga Elyas. “ lanjut umi. “ Tapi keadaan yang membuat kami tidak bisa menepati janji kami. Jodoh, maut, dan rejeki Allah SWT yang mengaturnya. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalaninya. Mungkin Elyas bukan jodoh yang baik untukmu. Jadi Allah SWT tidak menjodohkan kalian. Umi yakin, Allah pasti sudah menyediakan jodoh yang jauh lebih baik daripada Elyas untukmu, nak. “ lanjut umi seraya mengelus pundak Ratna.


“ Sekali lagi, umi minta maaf sama kamu. “ lanjut umi.


Ratna memejamkan matanya dan menarik nafas dalam – dalam, lalu mengangkat wajah yang sedari tadi ia tundukkan. Terlihat, matanya berkaca – kaca.


“ Umi tidak perlu meminta maaf. Toh, acara lamaran kemarin baru rencana. Belum terlaksana. Jadi, tidak masalah. Mungkin umi benar, jodoh Ratna bukan mas Elyas. “ ucap Ratna.


“ Se-“


“ Umi, maaf lama. “ Selsa datang memotong ucapan umi. Ia tadi harus ke toilet dulu karena ia menahan rasa ingin buang air kecil sedari masih sholat tarawih tadi.


Umi menoleh, begitupun Ratna. Terlihat umi tersenyum begitu tulus dan penuh kasih ke arah Selsa. Dan itu tak luput dari kedua mata Ratna. Membuat hatinya semakin perih.


“ Sudah selesai, nak ? “ tanya umi.


“ Sudah umi. “ jawab Selsa sambil tersenyum. Ia lalu memindahkan pandangannya ke gadis yang berada di hadapan umi. Dahinya mengernyit. Ia merasa seperti pernah melihat gadis ini. Gadis manis berhijab. Tapi tetap saja masih cantikan Selsa. Itu menurut kaca mata narsis Selsa tentu saja.


Begitupun dengan Ratna. Ia terlihat mencuri pandang ke arah Selsa dengan pandangan yang entah apa artinya.


“ Oh, Bu Hindun. “ panggil umi ke ibu – ibu yang melewati mereka. Ibu – ibu itu menoleh ke arah umi.


“ Sa, umi tinggal sebentar ya. Ada yang mau umi sampaikan ke bu Hindun. Sebentar saja. Kamu tunggu di sini. “ pamit umi ke Selsa. Dan Selsa menjawabnya dengan anggukan. Kemudian umi meninggalkan Selsa dan Ratna berdua.


“ Waalaikum salam. “ jawab Ratna dengan nada agak ketus.


Selsa masih tetap tersenyum meskipun mendapat jawaban ketus dari gadis di depannya ini.


“ Sorry, boleh kenalan nggak ? “ tanya Selsa sambil menyodorkan tangan kanannya. Ratna hanya meliriknya.


“ Oh, tangan gue bersih kok. Udah gue siram tadi pas habis cebok. He … he … he …“ kelakarnya. Tapi Ratna masih enggan menerima uluran tangannya.


“ Ah, loe jangan takut ataupun khawatir. Gue bukan ngajakin kenalan loe karena gue tanda kutib loh. “ lanjutnya sambil mengangkat tangan kanannya, lebih tepatnya jari tengah dan telunjuknya untuk mengisyaratkan tanda kutib.


“ Gue perempuan tulen. Gue masih suka sama pisang. Gue ngajakin loe kenalan, karena gue orang baru di sini dan belum punya temen. Siapa tahu loe mau jadi temen gue. “ lanjut Selsa. Ia menggunakan panggilan lo – gue karena ia merasa dirinya dan Ratna tidak begitu jauh usianya. Cenderung lebih tua dirinya tentu saja.


Ratna tersenyum miring. Bukannya menerima tangan Selsa yang masih terulur, ia malah bersidekap. Melipat kedua tangannya di depan dada.


“ Tidak perlu kenalan. Karena aku sudah tahu kamu siapa. “ ucap Ratna dengan nada ketusnya. “ Kamu adalah perempuan yang udah merebut calon suamiku. “ lanjutnya to the point. Membuat Selsa terkejut.


Oh, jadi benar kecurigaannya tadi. Ia merasa pernah melihat gadis di depannya ini sedang berbincang dengan suaminya malam itu di depan masjid juga.


“ Maaf, maksudnya apa ya ? “ Selsa memilih pura – pura tidak memahami situasi.


“ Mas Elyas, adalah calon suamiku yang kamu rebut. Harusnya, malam itu dia datang ke rumahku untuk melamarku. Tapi karena rayuan kamu, rencana licik kamu, dia dan umi terpaksa datang ke rumahmu dan melamarmu. “ ketus Ratna.


“ Tapi maaf. Gue nggak pernah punya rencana licik apapun untuk bisa menikah dengan mas Elyas. “ sahut Selsa.


“ Maling mana ada yang mau mengaku. Kalau penipu sama maling pada ngaku, penjara penuh. “ sinis Ratna.


“ Kamu kan yang membuat rencana terjebak di lift berdua sama mas Elyas dan sengaja menyebarkan gosib murahan itu ? Hingga mau tidak mau, mas Elyas harus menikahi kamu. “ lanjutnya penuh penekanan.


Selsa menghela nafas berat. “ Kejadian itu terjadi karena ketidak sengajaan. Maaf. Mas Elyas pasti sudah menjelaskannya. “ ucapnya. Ia mengerti, gadis di depannya ini pasti sedang merasa sakit hati kepadanya. Maka ia memilih untuk mengalah dan tidak mendebatnya. Berulang kali ia mengatur nafasnya supaya tidak terpancing emosinya atas tuduhan dari mantan kekasih suaminya ini.


“ Gue minta maaf sama loe. Gue nggak ada maksud buat merebut siapapun dari siapapun juga. Yang artinya, gue juga nggak bermaksud merebut mas Elyas dari loe. “ ujar Selsa.


“ Dasar pelakor ! “ umpat Ratna.


“ Terserah loe mau bilang apa. Tapi gue nggak seperti yang loe tuduhin. Gue bukan pelakor. Karena setahu gue, loe sama mas Elyas belum ada ikatan apapun. “ jawab Selsa.


“ Kita pulang sekarang, Sa ? “ suasana yang panas dan menegang tadi seketika berubah kala terdengar suara lembut umi.


“ Oh, iya umi. Ayok. “ Selsa menggandeng tangan umi dan membuat Ratna mengepalkan tangannya yang sebelah yang tidak sedang memegang apapun.


“ Ratna, umi sama Selsa pamit dulu ya. Assalamu’alaikum. “ pamit umi.


“ Iya umi. Waalaikum salam. “ jawab Ratna sambil menampilkan senyuman terbaiknya kepada umi.


“ Ngobrol apa tadi sama Ratna ? “ tanya umi ketika mereka sudah berjalan menjauh dari Ratna.


“ Ngobrol biasa aja umi. “ jawab Selsa.


Umi mencoba memahami dan mengerti jika menantunya tidak mau bercerita. Padahal umi tadi melihat dengan jelas, bagaimana raut wajah tak suka yang Ratna perlihatkan kepada menantunya itu.


Bersambung