Nasi Bungkus Terakhir Untuk Nabila

Nasi Bungkus Terakhir Untuk Nabila
Akhir Bahagia


Pak satpam dan Raga mengobrol sejenak di sudut pasar.


"Bapak nggak percaya anak kecil waktu itu adalah kamu," ujar Pak satpam.


Raga tersenyum. "Jangankan Bapak, bahkan saya sendiri tidak percaya bisa seperti ini. Bapak tahu kehidupan saya sebelumnya, jika bukan karena uluran tangan orang baik, mungkin takdir saya belum sebaik ini."


Pak satpam itu mengangguk. "Bapak percaya kamu orang baik, maka Allah pun memberimu takdir baik."


"Terima kasih, Bapak dulu pernah menolong saya."


"Pertolongan yang gak seberapa, Nak."


"Walau nggak seberapa tapi sangat membantu. Saya punya sedikit rezeki untuk Bapak, mohon diterima." Raga memberikan satu juta rupiah untuk pak satpam. Sebenarnya dia bisa memberi lebih, tapi saat ini uang cas di dompetnya hanya ada segitu.


"Masya Allah, banyak sekali, Nak." pak satpam itu berbinar melihat lembaran merah yang diletakkan di atas telapak tangannya. "Bapak terima, ya. Alhamdulillah dengan uang ini Bapak tidak bingung lagi bawa cucu Bapak berobat."


"Cucu bapak sakit apa?"


"Beberapa hari ini demam tinggi dan mengeluh sakit perut. Sudah minum obat tebusan dari apotek, tapi belum ada perubahan. Cucu bapak anak yatim, jadi segala kebutuhan tetap Bapak yang mengusahakan."


"Bawa saja ke klinik ...."


Kalimat Raga belum usai, tapi sudah dipotong oleh pak satpam. "Ke klinik biayanya besar, Nak, biar nanti berobat ke praktek bidan saja."


"Di klinik saya jamin gratis. Karena saya sendiri yang akan mengobati cucu Bapak. Dan tolong kasih tahu warga lain untuk berobat ke Klinik Lestari, jangan takut soal biaya, saya akan memberi keringan bagi warga yang berkekurangan. Sehat adalah milik bersama, tidak memandang si kaya maupun dhuafa. Jadi, jangan takut berobat ke klinik ya, Pak." Pelajaran yang selalu diingat Raga, jangan sampai kejadian dia dan Nabila dulu terulang lagi. Kedepannya, dia sendiri yang akan menjamin kesejahteraan kaum dhuafa dalam menggunakan fasilitas medis. Dia akan mengubah ketertiban dokter di Klinik Lestari agar mendahulukan keselamatan nyawa pasien, ketimbang upah.


Karena Ibu Lestari sudah hampir pensiun, maka Raga yang akan segera menggantikan jabatan ibu angkatnya itu.


"Kamu seorang dokter?" pak satpam terkejut.


Raga mengangguk. "Saya dokter spesialis anak."


"Wah, hebat. Hebat sekali kau, Nak." puji pak satpam. "Baiklah, kalau begitu nanti bapak bawa cucu bapak kesana."



Usai berbincang dengan pak satpam, Raga mengendarai mobil menuju suatu tempat. Gundukan tanah yang dulu di kelilingi rumput liar, kini tampak bersih dan terawat. Netra Raga memandangi tiga makam yang letaknya saling berdampingan. Bapak, Amak, dan Nabila.


"Bapak, Amak, anakmu ini sudah kembali. Raga kembali dengan membawa kesuksesan. Andai Bapak dan Amak lihat, aku yakin, kalian pasti bangga. Walau Raga gagal meraih cita-cita menjadi abdi negara, tapi insya allah Raga tidak akan gagal untuk menolong banyak orang. Raga akan mendedikasikan ilmu yang ku dapat untuk menyelamatkan nyawa anak-anak. Terutama anak-anak yang tersisih, mereka wajib mendapat pertolongan. Dan tidak akan aku biarkan terpisah dari anggota keluarga hanya karena ketidaksanggupan soal biaya."


Netra Raga beralih melihat nisan bertuliskan nama Nabila Rahma. Bibirnya menyungging senyum kecil, namun sudut matanya mulai memupuk cairan bening. Bukan apa, sejauh ini kenangan bersama adik kecilnya itu selalu terkenang. Tidak sedikit pun momen kebersamaan mereka terlupakan.


"Andai kita masih bersama, Kakak akan ajak kamu ke warung nasi kesukaanmu, Dek. Kakak sekarang bisa traktir kamu sepuasnya."


Tes ....


Kenangan tentang nasi bungkus terakhir yang mampu dia belikan untuk adiknya terlintas begitu saja. Bagaimana dulu harus berjuang keras untuk sekadar membeli nasi dengan lauk daging. Namun saat ini, bukan hanya satu yang bisa dia beli, bahkan seratus bungkus pun dia sanggup memborong semuanya. Namun, untuk apa? Sudah terlambat. Bocah kecil yang menyukai nasi bungkus seperti itu sudah tidak ada. Hampa. Raga tak bisa melihat binar bahagia Nabila saat menerima nasi bungkus darinya.


Raga mengusap sudut mata. "Kakak rindu kamu, Dek." Sudah begitu lama, tapi tetap terasa sebak ketika mengingat kebersamaan mereka dalam segala kesulitan yang sudah dilalui.


Raga menundukkan kepala dan mengirim doa untuk Bapak, Amak dan Nabila, semoga anggota keluarga yang sudah lebih dulu berpulang senantiasa ditempatkan di surganya Allah.


Satu per satu tempat yang dirindui sudah disinggahi, bahkan saat ini Raga tergerak menuju warung nasi yang dulu sangat disukai adiknya.


"Bu, beli!" Teriakannya sama persis seperti 13 tahun silam. Raga tersenyum kecil. Warung itu tampak ramai yang duduk di dalam, namun dia tak ada niat untuk masuk. Memilih menunggu di pojokan, seperti waktu lalu. Di tempat itu, dia pernah berdebar dan malu dengan seseorang. Dan sekarang, waktu sudah banyak mengubah cerita, tapi apakah cerita tentang gadis belia waktu itu juga sudah berubah?


"Beli apa?"


Raga membalikkan badan. Sosok yang berdiri dihadapannya cukup membuatnya tertegun sejenak. Paras yang manis dengan pesona memikat.


"Masnya mau beli apa?" Sosok gadis belia yang sudah menjelma menjadi sosok gadis dewasa itu mengulang pertanyaannya.


"Oh, iya, mau beli nasi dengan lauk rendang." Raga menyengir dan menggaruk rambutnya.


Gadis itu menatap Raga dengan pandangan menyipit, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Namun sepertinya nihil, karena dia membalikkan badan dan lekas ingin masuk. Tapi ....


"Tunggu ...!" cegah Raga.


"Kalau bisa, tolong banyakin bumbunya," sambung gadis itu yang membuat Raga terbengong.


'Kenapa dia bisa melanjutkan kalimat yang mau aku ucap?' Raga terheran.


Gadis berambut panjang itu tersenyum lebar. "Iya nanti aku tambahin bumbunya."


Percakapan mereka seperti dejavu. Sama-sama pernah mengatakan kalimat itu.


"Iya, Bulek, Bila masuk!" sahutnya.


Deg .... Raga kembali tercenung. Gadis itu, ternyata memiliki nama yang sama dengan almarhum adiknya.


Tak menunggu lama, gadis itu kembali menghampiri Raga.


"Berapa harganya?" tanya Raga.


"Seporsi seratus ribu."


"Hah? Serius?"


"Ha ha ... enggak-enggak! Saya cuma becanda. Sebungkus empat puluh ribu," ujar gadis itu masih dengan tawanya.


"Oh." Raga ikut melengkungkan bibirnya lebar. Pria itu mengambil uang lima puluh ribu dari saku celananya.


"Bayarnya nggak pakai uang receh lagi?" ujar gadis itu.


Raga menautkan alis. "Kamu ...."


"Kamu laki-laki yang dulu beberapa kali beli nasi dengan uang receh 'kan? Setiap beli nasi nggak mau masuk, cuma nunggu di situ aja."


Raga menunduk malu. Ya Tuhan ... sekian lama, tapi gadis itu masih mengingatnya.


"Ingatanmu sangat bagus, ya. Apa kamu selalu ingat dengan semua pelanggan mu?" tanya Raga.


"Enggak juga. Kamu paling beda, jadi aku ingat."


"Aku pikir yang jualan sudah ganti orang, ternyata masih sama. Kurasa rasa masakannya juga masih sama."


"Yang masak bulek, saya cuma bantu jualin. Insya Allah rasanya masih sama."


"Maaf apa namamu Nabila?" tanya Raga.


"Eum. Namaku Nabila Andreananta."


Raga mengangguk kecil.


"Kamu sendiri siapa?"


"Aku ... Raga Argian."



Lewat perkenalan singkat, Raga dan Nabila Andreananta menjadi lebih dekat. Bahkan suatu hari, baru pertama kali bagi seorang Raga mengungkap isi hati kepada sosok gadis yang istimewa baginya.


Bukan hanya mengungkap perasaan, tapi Raga juga menawarkan hubungan serius. Mereka sudah sama-sama dewasa, dan untuk menghindari godaan fitnah pada akhir zaman, mereka memilih hubungan yang sah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nabila Andreananta binti Andreas dengan mas kawin 100 gram emas dibayar tunai ...."


"Sah ...?"


"Sah ...."


"Alhamdulillahi rabbil 'alamin."


Seorang Raga Argian kini memasuki tahap baru. Bukan hanya sukses dalam keinginan, tapi pria itu sukses melewati ujian kesedihan. Hingga kini cerita Raga Argian sudah berbeda.


Sosok yang sama namun dengan kehidupan yang berbeda. Dia bersyukur dan bahagia dengan takdir yang sekarang. Impiannya mensejahterakan anak tersisih sudah terlaksana. Bahkan dia pun sudah menemukan makmum rumah tangga yang sangat dicintai. Dia menjalani kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang didamba setiap insan.


Dan, puncak rasa bahagianya ketika Nabila Andreananta melahirkan dua bayi mungil kembar. Katanya turunan dari sang nenek di keluarga Nabila sendiri.


Nidya Argiananta.


Nadya Argiananta.


.


.


.


End.