Nasi Bungkus Terakhir Untuk Nabila

Nasi Bungkus Terakhir Untuk Nabila
Ahli Waris


Kini, kaki jenjang tanpa alas itu berdiri tepat di depan rumah berlantai dua. Raut wajahnya terlihat jelas sedang menganggumi bangunan megah yang baru pertama dilihatnya. Mulut menganga dengan tatapan awas mengamati setiap celah sisi bangunan.


"Ayo kita masuk," ajak Pak Bagas. Menyentuh bahu Raga dan memandu di depan.


Raga menempati kamar yang luas dan nyaman. Setelah membersihkan diri, dia tiduran di atas kasur sambil mengawang-awang kejadian pilu kemarin.


"Tuhan, bukan aku tidak bersyukur dengan nasib baruku. Tapi kenapa tidak dari kemarin-kemarin Engkau mengirim orang baik ditengah-tengah kami? Mungkin aku tidak terpisah dunia dengan Nabila."


"Kata Bapak, semua yang terjadi di dunia atas kehendak-Mu, apakah memang seperti ini garis takdir hidupku terpisah dari semua keluarga dan harus meraih mimpi bersama keluarga baru?"


Raga menghela napas berat. Dia memejamkan mata untuk melupakan sejenak apa-apa yang terpikirkan.


Ketika dalam lelapnya, kening Raga berkerut dalam. Dia bermimpi bertemu Nabila.


"Kakak, aku sudah ketemu sama Amak dan Bapak." Nabila tersenyum bahagia. Adik kecilnya itu memakai gamis dan kerudung putih yang kemarin dia belikan.


Dalam mimpi, tubuhnya terpaku dengan tatapan berkaca-kaca setelah mendapati Amak dan Bapak juga datang menghampiri.


"Kamu anak hebat, Ga, mampu menjaga adikmu dengan sangat baik. Bila sudah bersama kami, lanjutkan hidup dan raih mimpimu. Buat kami selalu bangga padamu."


"Amak bangga, Nak. Amak bangga punya pejuang sepertimu. Lanjutkan perjuanganmu sampai kau sukses dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Jangan menjadi maha benar, tapi jadilah welas asih dan adil."


"Raga ingin ikut kalian, ajak Raga bersama kalian." Sorot mata berkaca-kaca itu dipenuhi kerinduan, namun sayang, tangannya tak bisa menggapai mereka.


Dan, ketika tubuh Amak, Bapak juga Nabila perlahan memudar, dia seperti ditarik ke alam nyata. Langsung duduk dan bersandar di kepala ranjang. Mengatur napas juga mengusap wajah. Mimpi barusan seperti nyata, dengan jelas dia melihat wajah berseri dari anggota keluarganya. Tentang pesan yang disampaikan, dia pun masih ingat.


Tuhan, apakah mimpi itu sebagai pertanda bahwa Amak Bapak merestui kehidupannya yang baru. Merestui perjuangannya untuk meraih mimpi.



Raga duduk diantara ibu Lestari dan pak Bagas. Mereka sedang menyantap sarapan pagi.


"Kamu mau pakek lauk apa, Nak?" tanya bu Lestari. Namun, Raga terdiam dengan tatapan memindai semua lauk yang ada di atas meja.


Ibu Lestari dan pak Bagas saling tatap.


"Raga." Kali ini suara pak Bagas menyadarkan Raga.


"Iya, Pak, maaf saya melamun."


Ibu Lestari menghela napas panjang, memaklumi. Mungkin Raga sedang mengingat kehidupan sulitnya kemarin, dan berusaha menyesuaikan dengan yang sekarang. Ataukah anak beranjak dewasa itu belum percaya dengan keadaan yang sudah berubah.


"Jangan kaku, panggil kita Mama dan Papa."


"Iya, Ma, Pa." Tetap saja Raga terlihat kaku. Keadaan sekarang benar-benar jauh berbeda dari sebelumnya. Walau ibu Lestari dan pak Bagas menganggapnya anak, namun masih ada setitik rasa canggung.


"Kami tahu kamu sedang menyesuaikan diri, tapi kami harap kamu nyaman dan betah tinggal bersama kami."


"Insya Allah, aku pasti betah. Kalian sangat baik, terima kasih."


Pak Bagas dan ibu Lestari tersenyum hangat, membuat Raga sangat bersyukur bertemu mereka.



Setelah dua hari.


Pagi menjelang siang itu ibu Lestari mengajak Raga untuk mencari gedung sekolah baru juga peralatan sekolah yang dibutuhkan.


Tiba-tiba ponselnya berdering. "Iya."


"Oh iya, sebentar lagi saya sampai." Setelah sambungan terputus, ibu Lestari menoleh pada Raga. "Nak, mampir sebentar ke klinik ibu, ya."


Klinik? Raga mengerutkan kening. Sebelum dia berhasil menjawab, mobil yang ditumpangi sudah berbelok ke halaman yang begitu familiar. Plang besar bertuliskan 'Klinik Lestari'.


Deg ....


Jantung Raga berdebar kencang. Bangunan megah yang sangat familiar itu menyimpan banyak kenangan pilu. Tiba-tiba air mata lolos begitu saja, buru-buru dia menghapus.


Betapa ingatan buruk itu masih membekas begitu dalam. Di halaman klinik dia duduk putus ada dengan mendekap jasad adiknya. Kenangan yang begitu menyakitkan. Hanya perihal uang, mereka tak ada yang mau menolong. Sungguh miris.


Ibu Lestari mengusap bahunya lembut. Menganggukkan kepala pelan sebagai isyarat memberi semangat Raga untuk bangkit dan perlahan menghapus jejak kenangan buruk.


"Ayo kita turun."


"Aku tunggu di dalam mobil aja, Ma." Ketika masuk, dia takut puing-puing kenangan kembali menyayat hatinya. Luka yang belum sembuh akan tergores lagi dan berdarah.


"Mama ingin mengajakmu masuk."


"Aku masih punya hutang di klinik itu," ujar Raga.


"Berapa hutangmu?"


"Ti-ga juta rupiah." Suara Raga tercekat, meski kehidupannya sudah berubah, namun nominal yang disebutkan masih sangat besar baginya.


Ibu Lestari mengambil dompet, lalu memberikan kartu ATM kepada Raga. "Bayar hutangmu. Suruh mereka tarik uang sebanyak tiga juta rupiah."


Raga jelas terkejut. Ibu Lestari menaruh kartu debit itu di atas telapak tangannya.


Di depan pintu masuk, satpam dan perawat menundukkan kepala sopan di depan ibu Lestari. Wanita paruh baya itu membalas dengan senyuman.


Tak lama dari itu, seorang anak lelaki beranjak dewasa juga terlihat datang dengan penampilan berbeda dari terakhir kali anak itu menginjakan kaki di klinik. Dua pekerja di bagian pendaftaran tercengang tak percaya.


"Saya ingin melunasi hutang biaya adik saya." Raga menyodorkan kartu debit di depan perawat yang masih terheran-heran. Bahkan ketika menarik menggunakan kartu itu, bola matanya melotot mendapati nama pemilik kartu debit. Lestari Widya Astuti.


"Sudah selesai belum, Nak, ayo ikut Mama." Kedatangan ibu Lestari mengejutkan mereka. Beberapa saat lalu ibu Lestari sudah masuk, tetapi kembali lagi.


"Belum, Ma. Sebentar lagi."


Mama? Dua pekerja di bagian pendaftaran saling pandang. Wajah mereka berubah pucat pasi.


Di ruang pertemuan para dokter. Kedatangan Ibu Lestari disambut hormat oleh beberapa dokter yang sudah menunggu.


"Maaf, saya terlambat," ucapnya. Menaruh tas di atas meja dan duduk dengan tenang.


"Pertemuan kita kali ini bukan membahas perihal pasien. Melainkan, saya akan menyampaikan dan memutuskan sesuatu yang ada kaitannya dengan karir kalian.


Sebagai seorang dokter, bukankah kita sudah disumpah untuk mengutamakan keselamatan pasien. Dituntut tidak memikirkan hal lainnya, tapi saya membaca riwayat catatan terakhir bahwa ada diantara kalian tidak mau mengusahakan keselamatan seorang anak kecil, sampai pada akhirnya anak itu meninggal. Itu tindakan yang benar-benar diluar attitude seorang dokter. Saya sangat malu mengetahuinya." Ketenangan berubah menjadi kemarahan. Ibu Lestari menatap marah ke arah seseorang yang sedang menundukkan kepala. Yang tak lain adalah Dokter Silvi.


"Saya sebagai pembangun yayasan klinik ini memutuskan untuk memberhentikan semua yang terlibat dan akan menulis riwayat buruk dicatatan pengalaman kerja kalian."


Semua yang ada di ruangan itu tidak ada yang berani membantah, pun membela diri. Terdiam dengan wajah pucat, mungkin merasa menyesal.


"Dan perlu kalian tahu, kakak dari anak kecil yang meninggal kemarin sudah saya angkat menjadi anak saya."


Sontak wajah-wajah yang tertunduk tadi mendongak. Menampilkan ekspresi terkejut luar biasa.


"Raga Argian. Suatu saat akan menjadi penerus ahli waris saya."