Nasi Bungkus Terakhir Untuk Nabila

Nasi Bungkus Terakhir Untuk Nabila
13 Tahun


13 tahun kemudian ....


Seorang pemuda tampan nan gagah tengah menggeret koper menuju luar bandara. Wajah tegas, hidung mancung, alis tebal, bibir kemerahan, juga rahang kokohnya mampu mencuri perhatian kaum hawa disekelilingnya. Namun satu yang menjadi titik pandang seorang Raga Argian, yaitu kedua orang tua angkat yang selama ini sangat menyayanginya.


"Assalamualaikum, Ma, Pa." 13 tahun merantau di negara asing tak membuat Raga lupa dengan budaya kesopanan di tanah air sendiri. Dia menyalami pak Bagas dan ibu Lestari dengan penuh kesopanan.


"Walaikum salam, Nak, Mama sangat merindukanmu." Ibu Lestari memberi pelukan hangatnya sebagai seorang ibu. Anak angkat yang dulu hanya sebatas dagu, kini tumbuh sempurna menjadi sosok pemuda yang menjulang tinggi, hingga tangan tuanya kesusahan untuk mengusap pucuk kepala Raga.


Raga menunduk, tersenyum bahagia. "Mama sehat? Raga juga sangat merindukan Mama."


"Selama mendengar kabarmu baik, Mama juga sehat dan baik-baik saja."


"Drama ibu dan anak yang saling merindukan sampai lupa ada pensiunan seorang Jenderal Komisaris Polisi," sela pak Bagas berpura-pura kesal.


"Papa sehat? Raga juga sangat merindukan Papa," ujar Raga beralih memeluk pria terhebat dalam menunjang kesuksesan hidupnya. Pak Bagas seorang ayah sekaligus motivator terbaik. Dia sangat beruntung bisa berada ditengah-tengah mereka, mengingat dulunya hanyalah seonggok daging yang selalu dipandang hina.


"Sehat, Papamu selalu sehat ketika cinta Mama masih memberikan cinta yang melimpah untuk Papa." Pak Bagas melirik sang istri dengan senyum jenaka.


Ibu Lestari hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Jangan dengarkan Papamu. Dia selalu saja membual ditempat yang kurang tepat."


Raga tersenyum lebar dengan tingkah orang tua angkatnya. Dulu, pak Bagas dan Ibu Lestari selalu terlihat serius, nyatanya dalam berkeluarga sikap mereka begitu hangat dan penuh humor. Tidak sedingin yang terlihat di publik.


13 tahun berlalu, banyak yang sudah berubah, begitupun dengan gelar hidupnya. Dia bukan lagi seorang Raga Argian sang bocah beranjak dewasa. Bukan lagi seorang anak yang hidup dalam belas kasih sisa makanan orang.


Dia adalah Dr. Raga Argian, Sp.A. Seorang dokter spesialis anak lulusan terbaik di negara X. Ada alasan khusus kenapa Raga mengganti cita-cita masa kecilnya dengan cita-cita dimasa mendatang.


Menjadi abdi negara adalah cita-cita di masa kecil, dia ingin melindungi keluarga dari kejahatan dunia dan ingin menegakkan keadilan. Namun, cita-cita itu berangsur surut saat dia mengingat perjalanan hidupnya bersama Nabila. Hati nurani membimbingnya untuk menempuh pendidikan sebagai spesialis anak. Bertujuan ingin membantu anak-anak bernasib sama seperti dirinya dulu, agar tidak merasakan pedihnya tersisihkan.


Pak Bagas dan Ibu Lestari selalu mendukung apapun yang menjadi keinginan Raga, bahkan mereka tak henti menyemangati hingga sekarang kesuksesan mampu diraih.


Satu hari sesudahnya.


Ketika sudah selesai bertukar rindu, Raga meminta izin untuk pergi. Pria itu mengendarai Q8 E-Tron Sport menuju jalanan yang familiar, meski sudah lama tak datang, jalanan itu masih begitu jelas dalam ingatannya.


Ketika memasuki gang kecil yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, pria itu senang hati menyingkirkan rumput ilalang yang tumbuh subur di sisi kiri dan kanan.


13 tahun berlalu, tetapi tempat itu tak banyak mengalami perubahan. Raga duduk di dekat pohon yang tumbang. Puing-puing kenangan kembali teringat, hingga tak butuh waktu lama bulir-bulir kristal membasahi pipinya.


"Andai kita masih bersama, mungkin kamu menjadi gadis tercantik di dunia, Dek. Kakak akan mengunjungimu besok sekaligus berkunjung tempat Amir, Ali dan Hendrik, semoga saja mereka masih tinggal disana," gumamnya pelan.


Raga menyandarkan kepala di dinding jembatan, netra sendunya terpejam kala angin lembut menerpa wajah. "Kakak ...."


Suara alunan merdu itu membangunkan Raga, pria itu menengok ke kanan dan kiri, tidak ada siapapun. Mungkin dia terlalu larut dalam kenangan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk beranjak pergi.



Pasar kecil.


Raga duduk dengan hikmat di sudut tong sampah. Kali ini air matanya lebih banyak yang keluar demi mengingat tempat tak layak itu sebagai tempat persembunyian teraman untuk adiknya. Bagaimana Nabila duduk di dekat tembok dengan beralaskan kardus bekas. Lalat-lalat berterbangan disekitar sampah terkadang menghampiri tubuh lusuh adiknya, meski begitu Nabila tidak mengeluh. Ya Tuhan, sesak sekali mengingat kenangan menyedihkan itu.


Masih teringat jelas bagaimana orang-orang memandangnya rendah bahkan terang-terangan menghina mereka.


Sekarang, setelah 13 tahun berlalu, dan kini dia kembali duduk di sana tapi pandangan orang-orang sudah berbeda. Tak ada satu orang yang melontar hinaan, bahkan sebagian kaum hawa menari tempat teduh dan nyaman untuk dirinya. Raut kekaguman terang-terangan mereka tunjukan.


Raga menghela napas panjang. Dia kembali berjalan untuk menyusuri gang-gang pasar. Betapa keras kehidupan yang pernah dilakoni, hanya demi uang sebesar dua ribu rupiah, dia harus mengangkat karung beras seberat 30 kg.


Pandangan Raga terhenti di salah satu tempat yang hampir saja merenggut nyawanya, pada saat dia dituduh mencuri sebungkus roti. Dia ditempeleng, ditendang dan diberi pukulan bertubi-tubi. Tubuh kurusnya jatuh terjerembab di atas tanah yang becek, namun sebagian dari yang menonton pertunjukan itu justru melontari dengan hinaan.


Dia menghela napas lagi dan melanjutkan langkah. Di tempat penumpukan barang rongsok, mengingatkannya dengan penemuan sandal bekas untuk adiknya. Betapa sandal tidak layak pakai itu sudah menjadi barang yang patut disyukuri. Bahkan mampu menerbitkan senyum indah di bibir adiknya.


"Dek, Kakak rindu kamu."


Dia berdiri diam terpaku di sana, sebelum seseorang mengalihkan fokusnya.


"Anak muda kenapa kamu melamun di situ?"


Raga berbalik, mendapati sesosok pria paruh baya berdiri di hadapannya dengan seragam sama saat 13 tahun silam.


"Pak, masih menjadi satpam? Bapak sehat? Panjang umur, ya, Pak," ucap Raga dengan senyuman. Bahkan tak segan dia mencium tangan pria itu.


Pak Satpam mengernyit dan menyipitkan mata, merasa tidak kenal dengan pemuda gagah itu. "Kamu siapa, Nak? Kenapa kenal Bapak? Tapi maaf, Bapak tidak mengenalimu."


Raga tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Aku anak remaja yang sering Bapak kasih uang, tiga belas tahun lalu. Bapak ingat anak laki-laki yang menangis di sana, lalu Bapak beri uang sepuluh ribu untuk membeli obat dan makan? Anak laki-laki itu adalah aku."


Pak Satpam masih berusaha mengingatnya.


"Aku pernah dipalak preman pasar, dan Bapak memberiku uang lima ribu untuk membeli makanan."


"Ya, sekarang Bapak ingat. Tapi benarkah anak laki-laki itu kamu?"


Raga mengangguk mantap. "Betul, Pak, itu aku."


Satpam itu mendekat dan menepuk bahu Raga lembut. "Setelah hari raya, Bapak tidak pernah melihatmu lagi. Sekarang kau sudah sukses, ya, Nak?"


"Alhamdulliah, Pak."