Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 77


     “Allaaahu akbar Allaaahu akbar," aku kini terbangun saat mendengar azan subuh.


     Aku langsung bergegas menaruh pakaian kotorku dikeranjang kotor akibat semalam aku letakkan dibawah ranjang, sedangkan perlengkapan sholatku aku taruh diatas kasur.


     Setelah semuanya beres aku bergegas untuk berwudhu lalu mengaji sebentar dan menuju ke meja makan. Mereka yang ada dimeja makan menyambut hangat kehadiranku.


     Saat aku mulai menikmati makananku aku seperti merasakan ada yang janggal, ketika menyadarinya aku langsung teringat tentang Ahmar.


     “Kak Ahmar dimana? kok belum turun?“ tanyaku  sambil sibuk mengunyah makanan yang berada didalam mulutku.


     Semua yang ada dimeja makan baru tersadar dan merasa khawatir. Tiba – tiba seorang pelayan menghampiri ibunda Ahmar sambil berkata “maaf Ratu! pangeran sedang sakit diatas sana, sepertinya dia demam.“


     Ibunda Ahmar yang mendengar kabar itu merasa gelisah hingga menyuruh pelayan tersebut memanggil tabib untuk memeriksa kondisi putranya dan tak lupa menyuruhnya untuk membawa makanan, ia pun mengangguk.


     Saat hendak melaksanakan perintah aku langsung menahannya yang hendak mengantarkan makanan Ahmar, karna aku merasa sangat tidak enak. Gara – gara aku Ahmar jadi sakit.


      Setelah mengambil alih nampan yang dipegang oleh pelayan, aku menyuruhnya untuk memanggil tabib saja agar cepat memeriksa Ahmar.


     “Hamra tidak perlu repot – repot keatas, Ahmar pasti hanya demam biasa.“ ucap ibundanya tak enak.


     “Tidak apa ibunda! Ahmar semalam udah nolong Hamra! jadi apa salahnya Hamra membalas kebaikannya,“ respon sambil tersenyum.


     Ibunda jadi merasa senang dan mengelus punggungku.


     “Ya sudah! tapi sebelum itu kamu harus habis kan tuh makanan kamu sedikit lagi, biarkan tabib dulu yang masuk  kekamarnya untuk memeriksanya.“ pintanya.


     Aku pun mengangguk dan menaruh nampan itu disamping meja kosong yang terletak diseblahku yang biasa di isi oleh Ahmar. Dengan cepat aku mengunyah sisa makanan  ku dan naik keatas sambil membawa nampan.


     Mereka hanya menggeleng – gelengkan kepala heran melihat tingkahku.


     “Ibunda! sepertinya Hamra sudah mulai menyukai putramu! mereka serasi sekali,“ goda Aisyah kepada ibunda Ahmar.


     Ia hanya merespon dengan senyuman. Ia juga berharap begitu dan bahkan ia ingin sekali jika Ahmar menikahi gadis yang penuh pengertian itu.


    Sesampai diatas aku berpapasan dengan tabib yang baru saja keluar dari kamar Ahmar.


     “Bagaimana kondisinya?“ tanyaku.


   


     “Ia baik – baik saja, ia hanya perlu istirahat karna daya tahan tubuhnya menurun akibat kelelahan. Jangan biarkan ia beraktivitas dulu yah?“ pinta tabib lalu pamit untuk kembali ketempatnya.


     Aku hanya mengangguk sambil membalas senyumannya, setelah itu aku langsung masuk kekamar Ahmar. Disana Ahmar sedang berbaring lemas, aku pun menyuruhnya untuk duduk bersender dibantal yang telah aku taruh dibelakang punggungnya.


     “Kaka sakit yah gara – gara aku?“ tanyaku sambil menatap bola matanya sendu.


     “Tidak Hamra,“ jawabnya lembut.


     “Ya udah kalau gitu kaka makan yah!“ pintaku sambil mengambil makanan berupa nasi goreng dengan sebuah telur mata sapi diatasnya.


     “Kaka gak mau makan nasi, tenggorokan kaka sakit. Apa lagi itu nasi goreng, pasti berminyakkan?“ tolaknya sambil memalingkan wajahnya yang seketika membuat ku sangat gemas.


     “Ya udah! kaka mau bubur kacang ijo yang hangat gak? aku masakin,“ tawarku yang langsung membuat Ahmar kembali bergairah dan merasa senang apa lagi gadisnya yang masak.


     Tanpa pikir panjang ia pun mengangguk. Emang gadisnya paling pintar memilih makanan yang tepat untuk dirinya yang sedang sakit tenggorokan.


     "Ada masaah apa Hamra? kenapa cepat sekali turunnya? apakah Ahmar menjahilimu?“ tanyanya penuh selidik karna ia sangat tau sifat puntranya.


     “Tidak ibunda! Kak Ahmar hanya ingin bubur kacang ijo! aku akan kebawah untuk membuatkannya,“ jawabku yang langsung membuat keluarga asliku tersedak, termasuk ibundaku.


     “Hamra! bukannya kamu tidak bisa memasang sayang?" tanyanya tak percaya.


     “Betul tuh kata ibunda! masak air aja gak pernah, apa lagi bubur.“ sambung kaka curiga.


     “Nanti kalau kena api gimana?“ cemas ayahanda lagi yang membuat ibunda Ahmar jadi khawatir dan merasa tidak enak denganku.


     “Tidak usah khawatir keluargaku... Jika di Istana saja sudah tentu aku tidak bisa memasak, karna aku tidak pernah menyentuh alat dapur. Jangan kan menyentuh alat dapur. Pergi kedapur aja gak pernah, karna setiap aku menginginkan sesuatu aku tinggal minta sampai kakiku jadi tak terlalu bermanfaat."


     "Beda saat aku menjadi seorang Aisyah! ibu angkatku selalu berkata setinggi – tingginya pangkat perempuan, tetap harus bisa memasak. Walau pun tidak seenak di Restoran tapi setidaknya akan memberikan kenangan dan kenikmatan tersendiri bagi orang yang kita cintai kelak, bahkan untuk anak – anak kita. Nanti coba lihat, banyak anak – anak yang lebih menyukai masakan orang tuanya kan? itu membuatnya rindu akan kampung halamannya ketika dewasa."


     "Jadi aku akan selalu berusaha untuk belajar memasak, hingga akhirnya aku mampu menguasai beberapa masakan walau pun tidak semuanya."


     "Ternyata benar kata ibu angkatku, usaha tidak akan mengecewakan hasil. Tapi ibunda gak usah sedih! walau pun aku tak diajarkan memasak oleh ibunda tapi aku telah diajarkan banyak hal tentang mandiri, bersikap adil dalam memimpin dan cara bersikap berwibawa. Itu semua tak akan aku dapatkan dengan lengkap dari ibu angkatku. Kalian sama – sama mengajariku tentang suatu hal yang sangat penting bagiku.“ ucapku berkaca – kaca.


     Semua yang ada dimeja itu terharu dengan ucapanku dan mengangguk setuju, raut khawatir yang awalnya menempel diwajah mereka kini jadi berganti dengan raut bahagia.


     Aku menghampiri ibunda dan mulai memeluknya erat.


     “Jangan khawatir ibunda... Insya Allah aku bisa kok,“ sambungku sambil mengecup lembut pipinya.


     “Apakah itu tidak merepotkanmu Hamra? “ tanya ibunda Ahmar sendu.


     “Tidak ibunda, aku akan berusaha untuk membahagiakan kak Ahmar. Aku sadar! selama ini kak Ahmar sudah sangat baik kepadaku, karna ingin membahagiakanku. Jadi sekarang izinkan aku membalas kebaikannya ya ibunda?“ pintaku.


     Lalu ia pun mengangguk sambil menangis senang dan mengecup lembut pipiku, aku juga membalasnya.


     “Ahmar beruntung yah bisa mendapatkan wanita secantik dan sebaik Hamra,“ puji Arfah.


     Pipiku pun langsung bersemu merah.


     “Ah tidak! justru kaka ipar lah yang beruntung, karna udah bisa dapetin kaka kandung cantik dari Hamra.“ godaku.


     “Ih kamu Hamra ada – ada saja deh!“ elak Aisyah mulai tersipu malu, pipinya jadi ikut merona.


     “Memang benar kan sayang?“ sambung Arfah yang sontak membuat Aisyah memukul bahunya dan salah tingkah akibat kelakuannya tadi.


     “Semoga suatu hari nanti, kamu mau menjadi istri Ahmar.“ doa ibunda Ahmar.


     “Insya Allah ibunda! jika Hamra sudah mendapat jawaban yang tepat,“ responku lalu pamit kedapur untuk membuat bubur kacang ijo.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇