Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 73


     “Gimana gak gemuk coba? orang abis makan tidur! embek aja abis ngeganyem rumput dipinggir kios pak botak gak langsung tidur terus, malah duduk dulu. Masak kamu kalah sih sama embek!“ cerewetnya.


     Aku yang tak nyenyak karna mimpi indahku terganggu sontak membalikkan tubuhku dan menatap malas kearah suara yang sangat kukenal, siapa lagi kalau bukan pria yang suka mengatur hidup ku dengan alasan cinta yaitu Ahmar.


      “Ih! rese banget sih kayak cangcorang! ganggu mimpi indah aku aja! kaka pergi aja deh! udah dibilang berapa kali juga. Tapi tetap aja masuk kuping kanan keluar kuping kiri! coba kaka ingat tentang apa yang aku jelasin waktu didanau!“ seruku mulai sedikit sengit dengan tingkah Ahmar.


     “Gak mau tau! pokoknya kamu harus selalu didekat kaka, karna kaka gak bakalan biarin kamu terluka lagi!!!“ gertaknya.


     “Cih! sok sosweet aja nih jadi orang! penjual gulali aja yang narik perhatian anak kecil gak kayak gitu amat kata – kata manisnya, belajar dari mana kakak emangnya hah?“ tanyaku sambil menutup wajahku dengan selimut karna malas meladeni orang yang kuanggap sangat menyebalkan.


     Ahmar yang kini telah duduk disamping ranjang Hamra hanya membuang nafas kasar, ia ragu jika Hamra tidak terlalu mencintainya. Ia sangat takut jika dia memilih pria lain.


     Kenapa Hamra jika padanya tidak peka? padahal Hamra kan bisa membaca apa yang ada pada diri orang lain, atau jangan- jangan dia pura – pura gak tau! Ahmar semakin dibuat gila semenjak kematian singkat Hamra.


    Ia pun menarik selimut gadis itu dengan paksa, sedangkan sigadis berusah menahannya agar selimut itu tidak memperlihatkan wajahnya. Ia malas berurusan dengan Ahmar, tapi karna tangannya sudah mulai sakit ia menyerah dan akhirnya Ahmar tersenyum penuh kemenangan.


    "Dari pada kamu tidur cepat! sana kamu ganti pakaianmu menggunakan baju apa pun yang penting dengan celana panjang, jangan gunakan pakaian yang ribet." aturnya.


     “Hello permisa yah! siapa anda yah yang nyuruh – nyuruh saya ganti baju, sorry yah bukan patung pajangan!“ tolaknya mentah – mentah.


     “Yakin nih nolak?“ tanya Ahmar sambil menaikkan sebelah alisnya.


     “Ya yakin lah! masak enggak! ya kali aku selalu mau ketika kaka ajak kemana – mana, nanti dijual dibikin sate lagi. Aduh! bayanginnya aja aku udah gak kuat!“ jawabnya dramatis hingga membuat Ahmar hanya mampu tersenyum geli melihat tingkah gadisnya itu.


    “Yah... Sayang sekali, padahal aku hari ini lagi pengen naik kuda sama memanah! karna hutan sudah hijau kembali, pasti hewan yang bisa untuk diburu banyak nih! yaudah lah! aku pergi sendiri aja lah! senang – senang sama kuda hitam kesayangan aku yang gagah itu!“ serunya menjelaskan sambil memanyunkan bibirnya kedepan.


     Ia sengaja mengeraskan suaranya untuk menarik perhatian gadisnya.


     Aku yang mendengarkan perkataan Ahmar sontak langsung bangkit karna mendengarkan dua kata yang sangat menarik perhatianku, yaitu kuda dan memanah. Sungguh sesuatu yang sejak dulu aku impikan.


      “Eh kak tunggu! aku ikut!“ putusku sambil melompat dari atas kasur hingga membuat Ahmar sedikit syok.


     “Kamu ini main lompat – lompat aja kaya kanguru! emangnya kaki mu kuat apa? kalau kaki mu patah kayak gimana? kan kaki kamu gak selicin dan selentur katak,“ protes Ahmar khawatir.


     “Khawatir yah?“ tanyaku sambil mengedipkan mata.


     “Khawatirlah! masak enggak!“ jawab Ahmar yang membuat Hamra semakin tersipu.


     “Aku juga khawatir kok sama kaka! karna kaka adalah pria kedua yang terbaik dihidupku setelah ayah, dan aku sangat sangat sangat cinta sama kaka.“ ucapnya menggoda.


    Ahmar sangat senang, saking senang nya jiwanya seperti melayang keudara.


     “Tapi boong! heyyo pha phale pha phale pha phale!“ serunya sambil sedikit bergoyang yang membuat wajah Ahmar berubah menjadi datar.


     “Itu hanya untuk sekarang cintanya, kalau kedepan aku gak tau. Mungkin ada pangeran lain yang bisa gantiin posisi kaka! kita kan hanya sahabat,“ sambungku santai hingga aku mulai berbalik membelakanginya untuk mengganti baju.


     Tapi tiba – tiba ada sebuah tangan kekar yang melingkar dipinggangku, saat aku mengadahkan kepalaku  keatas aku melihat Ahmar yang juga sedang menatapku dengan wajah yang menunduk kebawah.


     Aku langsung terdiam sesaat saat Ahmar menempelkan bibirnya kepada bibirku. Seketika aku seperti beku bahkan mati rasa, dengan sigap aku pun mendorongnya sekuat tenaga dengan tubuhku hingga membuatnya terjatuh.


     “Astagfirullahhalngazim kaka! kaka tau perbuatan kaka barusan? itu sangat dosa kak! Allah membenci itu. Aku sudah memaklumi kaka ketika memelukku karna tidak sengaja atau tak sadar, tapi semakin aku biarkan kenapa kaka semakin berlebihan?"


     Aku sangat takut melihat kak Ahmar saat ini, entah kenapa ia jadi sangat agresif.


     Ahmar hanya menunduk dan menyadari kesalahannya, ia melakukan itu karna terlalu kesal dengan ucapan gadisnya itu. Ia tak ingin gadis itu berkata sesuatu yang akan membuatnya kembali murung.


     “Maafkan kaka Hamra! kaka khilaf, kaka mohon kamu  jangan marah sama kaka yah? kaka sangat sayang sama kamu,“ pintanya.


     Lagi – lagi aku hanya menarik nafas dalam – dalam dan membuangnya dengan kasar. Aku langsung menghampiri Ahmar yang masih terduduk.


     “Kaka aku tau kaka sangat mencintaiku! maafkan aku! aku tak menyangka kata – kataku akan berakibat sefatal ini padamu kak! maafkan aku! maafkan aku!“ ucapku sambil menangis deras.


     “Aku tidak bermaksud menyakiti hati kaka! aku hanya becanda kaka! kadang aku berkata seperti itu juga hanya disaat aku kesal dengan kaka. Kaka tau sendiri kan emosiku itu belum bisa aku kontrol? tapi sebenarnya aku seperti yang pernah aku katakan! aku memang tulus mencintai kaka, tapi bukan sekarang saatnya kita menjalin kasih."


     "Ada saatnya kaka! kaka harus fokus dulu pada masalah kaka! kaka kan tak lama lagi akan menjadi Raja, begitu juga aku akan menjadi Ratu karna kaka ku belum mampu memegang Istana ini."


     "Suatu hari nanti ia akan ikut pangeran tinggal diatas awan, kaka kan harus faham. Aku tau kaka pasti sangat frustasi semenjak kepergianku, dan aku tau kaka cinta kepadaku apa adanya. Bahkan walau pun kulitku gosong, kaka bahkan-“ ucapnya sesak lalu berhenti karna pipinya telah bersemu merah.


     Ia masih malu untuk melanjutkan kalimat itu.


     “Masih mau menciumku,“ sambungku sambil menundukkan wajahku.


    “Kan kaka udah bilang dari awal, bahwa kaka akan terus mencintaimu sampai kapan pun tanpa peduli dengan fisikmu. Karna yang kaka harap kan adalah kesehatanmu, kesehatanmu itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri Hamra bagi kaka. Tolong yah! jangan pernah berkata seperti itu lagi, kaka takut kamu pergi lagi dari kaka Hamra!“ ungkapnya dengan suara serak lalu mulai memeluk wanita yang ada didepannya.


     “Tolong izinkan kaka memelukmu kali ini saja,“ pintanya.


     Gadis itu hanya mengangguk dalam keadaan berlinang air mata, entah mengapa jika menolaknya dalam keadaan seperti ini yang ada malah membuat hatinya semakin perih.


     Setelah cukup lama Ahmar pun melepaskan pelukannya dan berjalan keluar.


     “Bersiap – siaplah! kaka akan menunggu mu dibelakang Istana," sambungnya.


     Aku yang masih mematung ditempat langsung saja tersadar dari lamunanku saat Ahmar berkata kepadaku.


     Tanpa membuang waktu aku mulai menutup pintu kamarku dan segera bersiap – siap.


     Setelah selesai dengan urusan pakaianku, aku pun menghampiri Ahmar dibelakang. Aku memakai rompi hitam dengan celana panjang berwarna hitam tak lupa dengan jilbab hitam.



         "Inilah rompi hitamnya." 🤣


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇