
Akhirnya kami pun tiba. Sedangkan Ahmar mulai ngos - ngosan, karna terlalu lelah akibat berlari.
"Turunin dong! masak dibiarin matung," pintaku yang langsung dilakukan oleh Ahmar.
"Kaka capek yah?" tanyaku sambil memegang pipinya.
Ahmar yang awalnya tertunduk dengan kedua telapak tangan yang memengang lutut kini jadi melihat kearah ku.
Tanpa sengaja mataku bertemu dengan matanya, jantungku yang awalnya berdetak seperti biasa kini malah semakin kencang.
Dengan cepat aku langsung memalingkan wajahku dari hadapannya untuk memutuskan tatapan yang membuatku tidak nyaman sama sekali.
Ahmar yang melihatku gugup jadi terkekeh geli.
"Kenapa hah? gak kuat yah liat kegantengan aku?" godanya dengan sebelah tangan yang menompang dagunya
"Cih! ogah banget! lebih gantengan anak katak dari pada mukamu yang berminyak." ledek ku yang sama sekali gak maksud akal, membuatnya langsung mengambil kedua tanganku dan meletakkannya dipipinya.
"Nih! coba kamu pegang pipi aku, berminyak gak? enak aja modelan korea begini dibilang muka berminyak," belanya tak terima.
"Alamak! aku dibuat senam jantung nih ma nih anak! udah kita coba menghindar, malah makin parah jadinya." batinku sambil mengernyitkan dahi.
"Tuh kan kata - kata tuan putri Hamra udah abis! pasti gak bakalan bisa balas lagi deh!" ledeknya merasa menang.
Aku menarik kembali tanganku dari muka Ahmar.
"Bodo amat! mau muka kaka ganteng kek kayak sekoteng atau berkudis kayak babacang! aku gak bakalan tergoda! karna tampang bukan lah hal pertama yang membuatku jadi jatuh hati kepada seorang pria," ucapku angkuh sambil membalikkan badan.
Ahmar yang mendengar kata - kataku jadi agak terdiam seketika.
"Tapi kemarin Hamra bilang Hamra juga cinta sama kaka!" serunya mulai sedih.
Aku yang tak tega melihat tampangnya yang murung langsung berjalan mendekat kearahnya.
"Becanda kaka! jangan baper ih! gak seru tau! makanya kaka jangan nyeselin. Pokoknya sampai kapan pun Insya Allah cinta Hamra hanya untuk kaka," ucapku yang membuatnya jadi riang.
"Tapi kaka adalah cinta keenam dalam hidup Hamra." sambungku.
"Kok enam sih? gak kejauhan?" tanyanya mendengus kesal.
"Ya harus dong! karna gak ada yang bisa menggantikan cinta pertama Hamra," jawabku mantap.
"Emang cinta pertama kamu siapa?" tanyanya lagi mulai menatap tajam kearahku, tubuhnya kini semakin dekat denganku.
"Allah, Nabi Muhammad, ibunda, ayahanda, kak Aisyah dan yang terakhir baru kaka." jujurku.
Ahmar yang mendengarnya jadi merasa lega, karna ia kira pria lain.
"Ketahuan nih! orang yang gak ingat sama penciptanya sendiri, taunya cinta aja. Masalah cinta mah gak usah dipikirin kaka, karna itu mah gak ada yang tau! lagi pula Hamra gak tau tentang hati Hamra sendiri. Hati manusia kan kadang sering dibolak balik. Kayak sekarang Hamra merasa cinta sama kaka, tapi untuk kedepannnya Hamra gak tau hati ini akan berpindah atau tidak." ucapku menjelaskan.
Ahmar yang tak sanggup lagi mendengarkan ucapanku langsung membawaku kedalam dekapannya.
"Tidak Hamra! kaka tidak akan membiarkan itu semua terjadi, kamu milik kaka untuk selamanya." putusnya.
Aku membeku seketika dan tak dapat bergerak karna dipeluk olehnya, saat tersadar aku langsung mendorongnya.
"Iya - iya maaf!" ucapnya.
"Kaka khilaf dek!" serunya yang membuat aliran darahku mendesis hebat, karna baru kali ini Ahmar memanggilku dengan sebutan dek.
"Makanya ayok kita nikah! biar gak dosa lagi," ajak nya yang membuatku memutarkan bola mata malas untuk menatapnya.
"Kaka nih! taunya nikah aja! kak dengerin yah! emang mungkin kalau di lihat dari sesi luarnya sangat indah, tapi didalamnya belum tentu semudah dengan apa yang kita inginkan. Pasti akan datang hal - hal baru yang masih belum mampu untuk kita lewati, jadi bersyukurlah karna masih bebas."
"Jangan terlalu pikirin itu, kalau waktunya telah tiba kaka pasti akan merasakannya dan pada masa itu persiapan kaka pasti sudah lebih matang dan sikap kaka juga lebih dewasa dibandingkan sekarang." nasehatku yang membuatnya hanya mengangguk tanda mengerti.
"Anggukan itu tidak ada artinya jika kaka gak jalankan," sambungku yang membuatnya terdiam.
“Oh ya! kata kaka, kaka bisa mengembalikan cincinku yang telah hancur!“ peringatku yang membuatnya kembali berpikir.
“Tentu!“ jawabnya singkat.
“Bagaimana kaka tau?“ tanyaku penasaran.
"Karna kaka mempunyai buku legenda yang menjelaskan tentang cincin tersebut.“ jawabnya yang membuatku penasaran lalu memberikan buku itu kepadaku, aku dengan cepat mengulurkan tanganku untuk meraihnya dan membacanya dengan teliti.
“Tidak! tidak! tidak mungkin,“ panikku sambil menggeleng – gelengkan kepala.
"Aku tidak mau mengorbankan Khadijah!“ resahku mulai menangis sesegukan.
Ahmar yang melihat ku jadi ikut merasa khawatir.
“Ada apa Hamra?“ tanyanya.
Aku tidak peduli dengan pertanyaan Ahmar, karna yang perlu kutanyakan sekarang adalah dimana cincin hijau itu berada.
Ahmar langsung memperlihatkan cincin tersebut yang masih melekat dijari manisnya.
Kini aku mengambil kepingan permata merah cincin tersebut yang selalu aku bawa kemana saja dalam sebuah kantung berwarna merah setelah melepas cincin yang ada di jari jemari Ahmar.
Kemudian menumpahkan kepingan itu dan menyuruh Ahmar untuk menampungnya dalam kedua telapak tangannya.
Setelah itu aku pun mendekatkannya pada permata tersebut, akhirnya permata tersebut kembali bersatu dengan gagangnya.
“Inilah yang aku cari ternyata sejak tadi,“ ucapku sambil tersenyum miring.
Wajahku jadi sangat mengerikan. Ahmar jadi merasa ada yang aneh dengan diriku, ketika ia hendak menyentuhku tapi aku malah mendorongnya dengan kekuatanku hingga membuat tubuhnya jadi tergeser beberapa meter dariku.
“Tidak! Hamra! sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?“ tanyanya panik.
“Kau urus saja urusan mu sendiri dan jangan perdulikan aku! hahaha,“ tawa gadis itu yang tak lain adalah aku.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇