MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 87. KABAR TENTANG RAISA


Setelah memeriksa kondisi Raisa, Emilia berkata, "Kamu baik-baik saja, tidak ada masalah yang serius. Tetapi..."


    "Tetapi, apa?" Raisa penasaran.


    Emilia menatap Raisa dengan serius, dia tahu hatinya sakit namun inilah kenyataannya. Diki telah ditaklukan oleh Raisa. Emilia menyadari sesuatu pada Raisa. "Coba kamu cek dengan ini." Emilia memberikan sesuatu pada Raisa.


    "Apa ini? Testpack?" Raisa terpaku melihatnya. "Apa kamu berpikiran aku hamil?"


    Emilia mengangguk.


    "Padahal aku baru beberapa hari melakukan 'itu' dengannya." Raisa menunduk malu.


    Emilia mengerti maksud perkataan 'itu', yang diucapkan Raisa. Berarti hubungan Raisa dan Diki sudah semakin dekat. Pantas wajah Diki selalu cerah seperti orang jatuh cinta. "Pembuahan terjadi sekitar 6 hari setelah berhubungan, dan aku hanya bisa mendiagnosa tetapi untuk lebih meyakinkan kamu bisa mengecek secara langsung dengan alat."


    "Oh begitu, baiklah nanti aku mengeceknya sendiri." Raisa memandang ke arah tangannya yang memegang testpack. Lalu beralih ke arah Emilia, "seandainya aku memang hamil, maukah kamu merahasiakan ini dari siapapun? Aku mohon." Melintas kecemasan dalam mata Raisa.


    Emilia mengernyit. "Kenapa? Bukankah ini kabar gembira untuk Diki. Aku rasa, dia pasti senang mendengarnya."


    "Aku masih belum siap." Raisa takut jika Diki tahu, itu artinya alasan melarang Raisa berkarir akan semakin kuat.


    "Oke, kalau mau kamu begitu, aku juga tidak bisa memaksa."


    "Terima kasih." Perasaan tulus memancar dari mata Raisa. "Oh ya, kebetulan kita bertemu. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Saat itu kita tidak sempat bicara karena kamu sibuk."


    Emilia yang sedang merapikan peralatannya berhenti sejenak, "Apa yang kamu ingin bicarakan?"


    "Anggaplah ini obrolan sesama wanita dan tidak ada yang harus ditutupi. Kenapa Diki menelpon dan meminta bantuanmu? Apakah dia sudah tahu perasaanmu padanya? Aku tidak mengerti, sikapmu begitu tenang berhadapan denganku."


    "Karena aku dan dia berteman. Sebenarnya Diki sudah tahu perasaanku sejak lama, dia selalu mengabaikanku. Itu hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Kamu tidak perlu cemas, aku tidak akan merusak hubungan kalian. Kamu adalah wanita satu-satunya yang mampu menaklukannya. Dia itu sangat sulit sekali didekati. Yah, meskipun dia menyebalkan, aku menyukainya. Sekarang aku sudah berusaha untuk move on."


    Mendengar hal itu, mengingatkan Raisa pada seseorang yang mirip Emilia menggandeng seorang pria saat di pesta Vera. Dia beranggapan itu adalah bukti Emilia yang sudah move on. Raisa mengerti dan tidak mengungkapkannya.


    Padahal sebenarnya Raisa telah salah paham, yang dia lihat di pesta bukan Emilia melainkan Elina–saudari kembar Emilia.


    Karena inilah, Raisa menerima kehadiran Emilia dan mulai menganggapnya teman.


    "Kalau kamu berteman dengannya, kamu juga harus berteman denganku." Raisa tidak akan menyerahkan Diki begitu saja pada wanita manapun bahkan itu temannya sendiri. Dia akan selalu berusaha menghalangi semua wanita bahkan di seluruh dunia sekalipun, yang berniat mendekati suaminya.


    Emilia tertawa, menahan perasaan terlukanya. "Tentu saja. Kamu tahu, Diki sangat mencintaimu."


    "Aku tahu." Raisa tak bisa menutupi hal itu dari ekspresi wajahnya. Ada rasa bangga yang terpancar.


    Sebagai seorang dokter, Emilia memiliki hati yang lembut dan murni. Dia tidak mungkin mencampurkan urusan pribadi dengan profesinya. "Ada vitamin untukmu, selalu jaga kesehatan yah?! Aku sudah menulis resep obat dan bisa kamu tebus nanti di apotek."


    "Terima kasih."


    Sebelum Emilia pergi, dia memberitahu Raisa. "Aku harap kamu jangan terlalu stres, Diki sedang menghadapi banyak masalah."


    Perkataan Emilia membuat Raisa bingung, "Maksudnya?"


    Emilia hanya tersenyum lalu pamit pulang, dia pergi dengan meninggalkan banyak pertanyaan di benak Raisa.


    Setelah itu Raisa masih memikirkan maksud perkataan Emilia. Apakah Emilia masih peduli dengan Diki?


    Kemudian, Raisa tak sengaja membuka handphone dan dia melihat berita yang menjadi trending topik paling dicari dan dibahas oleh para netizen. Betapa itu sangat mengejutkannya, semua orang sedang membicarakannya. Raisa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.


    'Video cctv apa yang sudah dihapus?' Raisa tidak tahu. Dia mulai mencerna pikirannya sendiri.


    Raisa membaca beberapa komentar pedas tentangnya:


    [Suaminya tampan dan kaya, kenapa harus berselingkuh?]


    [Aku siap jadi pelakor deh kalau begitu. Raisa tidak pantas untuknya]


    [Raisa ternyata memiliki simpanan!]


    [Aku dengar saat itu Raisa pergi ke pesta tanpa didampingi suaminya, apakah karena dia memiliki pria lain?]


    .....


    Netizen mulai menyerang Raisa dengan kata-kata yang menyakitkan. Dia hanya bisa diam terpaku ketika mendapat hate speech di media sosial. Mungkin ini yang dimaksud Emilia. Sedangkan Diki tak mengatakan apapun padanya. Raisa tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi masalah ini.


    Raisa mencoba menghubungi Diki, namun sayang sekali panggilannya diabaikan. Raisa cemas dan gelisah.


    Sebuah berita sedang menyiarkan siaran langsung tentang wawancara terhadap Diki. Raisa melihatnya berada di nomor satu pencarian berita viral hari ini. Ketika jarinya mulai mengklik, Raisa melihat video siaran langsung tentang Diki.


    Wartawan sedang mewancarai Diki, dia bertanya, "Apakah menurunnya saham perusahaan Anda karena kasus skandal istri Anda?"


    Mendengar pertanyaan yang provokatif, Diki menahan kekesalan di hatinya. Diki hanya bisa berusaha tenang untuk menghadapi mereka.


    Tatapan tajam penuh pesona dan sikap wibawanya mampu menyihir semua orang yang menontonnya. Sebagian mereka yang melihat Diki merasa simpatik dan sebagian ada yang iri. Karena pria seperti Diki adalah idaman para wanita di luar sana. Para wanita siap menjadi pahlawan cinta untuk Diki.


    "Bukan," jawab Diki setelah sekian detik diam sejenak.


    Beberapa dari media telah dibayar oleh Vera untuk terus mencoba mempengaruhi reputasi Raisa. Vera yang sedang menyaksikan langsung video wawancara itu, tersenyum. Vera sedang menantikan hubungan Raisa dan Diki hancur di depan matanya sendiri.


    "Tidak ada skandal apapun, dan jangan pernah menyebarkan berita hoax. Aku akan menuntut media manapun yang berani menyebarkan berita itu, terutama Anda." Diki menunjuk ke arah wartawan dari media gosip Hot Entertainment.


    Pria itu tercengang lalu menarik kembali micnya, dia merasa takut atas gertakan Diki. Aura Diki mendominasi berhasil membuat semua orang bergidik.


    Sebelum turun menemui para wartawan, Diki sudah memerintahkan orang untuk menyelidiki sesuatu. Diki tidak mungkin berperang tanpa persiapan.


    "Perusahaanku baik-baik saja, aku sudah mencoba membalikkan keadaan." Diki pun memberikan penjelasannya, kemudian dia melanjutkan berkata, "Jika nanti, aku menemukan ada aliran dana mencurigakan dari seseorang, aku pastikan akan bisa mengungkapkannya dalam waktu dekat. Jadi jangan lagi menyerangku dengan berita-berita yang tidak relevan seperti itu." Diki kembali mengancam mereka, hingga mereka tak berkutik dan tidak berani berkomentar apapun.


    Semua wartawan bungkam dan membisu, harus diakui Diki memang seseorang yang tidak bisa dianggap remeh.


    Sikap tegas Diki memukau semua orang terutama Raisa saat menontonnya secara live streaming di handphone. Suaminya memang luar biasa.


    Tidak butuh waktu lama, berita itu berubah ke arah positif. Tak ada lagi yang berani membuat berita negatif tentang perusahaan Diki dan Raisa.


    Semua orang hanya bisa menilai dari luarnya saja, tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Berbekal kepercayaan Diki pada Raisa, masalah ini akhirnya terselesaikan dengan mudah.


    Vera tidak menyangka bahwa tindakan Diki diluar prediksinya. Vera pun melempar benda di dekat mejanya, dia meluapkan kekesalannya. Tontonan tadi telah menyakiti matanya. Rasanya Vera tidak mau melihat lagi. Rencananya selalu saja gagal.


    Selain Vera, ada sesosok wanita masa lalu Diki yang juga menonton Diki lewat layar handphone. Dia mengembangkan senyum licik dan matanya terpesona oleh penampilan Diki di depan publik.


    Telah lama dia mencari Diki, kini akhirnya dia mengetahui keberadaan Diki dari live streaming yang menampilkan wawancara Diki.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungannya.


Akan ada banyak kejutan di bab cerita selanjutnya yang bikin penasaran.


Apa itu?


Ikuti terus kelanjutan kisah Diki dan Raisa.


Happy reading.