
Terdengar suara pintu terbuka, Raisa yang menyadari bahwa itu Diki. Dia berpura-pura baru bangun tidur.
"Kamu abis darimana?" tanya Raisa, walau hatinya sedikit sakit karena sudah mengetahui kemana Diki pergi yang sebenarnya.
"Aku ada perlu sebentar di luar dan menelpon seseorang."
"Oh..."
"Pagi ini aku harus bekerja, maaf tidak bisa menjagamu. Aku sudah menelpon Ibu untuk menggantikanku menemanimu, hari ini pekerjaanku banyak yang harus diselesaikan."
"Iya, aku mengerti."
Ada kekecewaan mendalam di hati Raisa. Sejak dia mulai curiga, entah kenapa perasaannya tidak ingin jauh dari Diki. Raisa takut, Diki selingkuh di belakangnya.
Terkadang sebagai seorang wanita, Raisa merasa hatinya kosong dan hampa menyadari memiliki suami yang selalu sibuk. Ada rasa tidak rela ditinggalkan sendirian.
*****
PT. GOLDEN LIFE.
Haris datang mengunjungi Diki, selain berbicara mengenai pekerjaan, dia juga berniat menanyakan kabar Raisa. Setelah mendengar kabar dari Fitri, Raisa belum menghubungi Haris.
"Boleh aku masuk?"
"Ya, masuklah...!" Diki tetap terfokus pada laptopnya, hanya menyahut begitu mendengar suara Haris.
"Aku tidak tahu bagaimana kabar istrimu? Maaf aku belum sempat menjenguknya." Haris diliputi rasa bersalah.
"Dia baik-baik saja, hanya butuh sekitar beberapa hari untuk istirahat." Diki bicara dengan sikap acuh tak acuh.
"Ah tentu saja, sampai kondisinya benar-benar pulih dia harus banyak beristirahat," Haris merasa canggung dan bingung menghadapi Diki.
"Ada apa? Tingkahmu aneh," Diki menatapnya sebentar, lalu beralih lagi. "Kamu pasti ingin mengatakan sesuatu," Diki masih bersikap dingin dan tanpa ekspresi.
"Maaf, aku tidak tahu kalau akan terjadi sesuatu pada istrimu karena menugaskannya keluar kota. Kau tahu, aku dihantui rasa bersalah terutama pada dirimu."
"Tidak usah kau pikirkan, masalah itu sudah berlalu lagipula aku sudah mengurusnya untuk menyelidiki kasus itu."
"Benarkah?" Diluar dugaan, Haris sedikit terkejut dengan sikap tenang Diki karena dia berpikir Diki akan memarahinya.
"Hm..." jawab Diki sambil tangannya sibuk mengetik, "Aku sedang berusaha meningkatkan penjualan produkku dengan menonjolkan keunggulannya dibanding produk kompetitor. Setidaknya beberapa minggu ini, laporan dari tim marketing bahwa hasil penjualan produk meningkat sekitar 15%, jadi fokuslah pada pekerjaan dan tetap jaga kualitas produk."
"Wah luarbiasa itu berita bagus," ucap Haris senang. "Oh ya ngomong-ngomong, besok aku mau menghadiri pesta teman istriku. Di sana pasti akan banyak dihadiri oleh banyak kalangan pengusaha. Aku bisa menjalin banyak hubungan dengan mereka. Bukankah memiliki banyak kolega bisa membantu secara signifikan."
"Ya, sebagai suami yang baik, harus selalu mendampingi istri tapi untuk dirimu itu seperti menyelam sambil minum air. Memanfaatkan kesempatan yang bagus."
"Hahaha... Kamu memujiku apa menyindir?"
Tak lama, Diki menerima telepon dari Bu Lidia yang mengabarkan bahwa sore ini Raisa bisa pulang dan istirahat di rumah, jadi Bu Lidia berharap Diki bisa menjemput mereka di rumah sakit.
******
Sore hari.
Raisa sudah mempersiapkan diri untuk pulang dengan ditemani Bu Lidia. Raisa duduk di kursi roda dibantu seorang perawat menuju lobi, kemudian Diki datang.
"Maaf, Mah. Tadi macet di jalan. Lagipula, aku kira Raisa masih harus dirawat sampai besok."
"Aku baik-baik saja," sela Raisa. Dibalik ucapannya tersimpan rasa kesal, dia tidak mau berlama-lama di rumah sakit apalagi sampai harus bertemu dokter Emilia jadi Raisa sengaja minta pulang lebih awal. Kebetulan dokter yang menanganinya pun setuju karena terlihat perkembangan kondisi Raisa yang sudah membaik.
"Oh... baiklah," Setelah itu tak ada percakapan apapun dan yang terdengar hanyalah suara langkah mereka yang berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Selama perjalanan, Raisa hanya diam di mobil. Tak ada orang yang mengetahuinya kalau dia sedang kesal pada Diki. Mereka pikir Raisa tak mau banyak bicara karena masih kondisi sakit.
"Diki, ingat rawat istrimu baik-baik. Kalau bisa kamu harus mencari ART untuk membantu pekerjaan istrimu di rumah." celetuk Bu Lidia yang duduk di kursi penumpang.
"Iya, Mah. Aku sudah mencarinya, besok orang itu mulai bekerja di rumah."
"Baguslah, Raisa tidak boleh terlalu capek dan harus jaga stamina agar Mama segera bisa menimang seorang cucu."
"Uhuk..." Raisa langsung terbatuk. Mendengar kata cucu, wajahnya merona. Bahkan sampai saat ini Raisa dan Diki belum melakukan hubungan yang lebih jauh.
"Mama tidak perlu mencemaskannya, ada aku yang menjaganya, juga aku pastikan dalam waktu dekat Mama akan mendengar kabar gembira." Diki dengan santai bicara, dan tatapannya tetap lurus ke depan sambil menyetir.
Raisa terkejut lalu menoleh ke arah Diki, dia hampir melototinya karena tidak percaya Diki berkata secara blak-blakan. Apa itu artinya mereka akan segera melakukannya demi menuruti keinginan Bu Lidia?
"Mama senang mendengarnya. Raisa, besok kalau Ibu tidak sibuk, Ibu akan berkunjung lagi dan membawa minuman herbal untuk kamu dan Diki,"
"Mi–minuman herbal?" Sejenak Raisa teringat bahwa di rumahnya juga masih banyak tersimpan minuman herbal yang pernah dibeli bersama Diki di supermarket tempo hari. Bahkan belum ada satupun botol yang dibuka. Raisa pun menggaruk-garuk rambutnya, dia bingung harus berkata apa.
Sedangkan di samping Raisa, Diki hanya tersenyum tipis. Wajahnya seolah sedang mengejek Raisa. Dia tahu, mereka belum melakukan apapun seperti berhubungan suami istri karena baru beberapa hari mereka menjalani hubungan yang baik.
Sesampainya di rumah, setelah Raisa turun. Diki mengantarkan Bu Lidia pulang ke rumah. Jadi Raisa di rumah sendiri.
Begitu Raisa masuk dan hendak menuju kamar Diki, Raisa terkejut kamarnya telah selesai di renovasi. Betapa itu membuatnya bahagia, jadi dia bisa kembali tidur di kamarnya sendiri. Raisa pun bersorak gembira.
Selang beberapa waktu kemudian Diki pulang dan langsung menuju ke kamarnya, dia pikir Raisa sedang beristirahat di kamarnya. Tetapi begitu dia membuka pintu, Raisa tidak ada. Diki pun mencarinya di semua ruangan.
Akhirnya Diki menemukan Raisa berada di kamarnya sendiri. "Raisa...!"
Raisa menoleh ke arah pintu, melihat Diki sudah datang. Dia hampir malu karena hendak mengganti perban di dadanya, bajunya sudah hampir terbuka sebelah.
Melihat Raisa kesusahan mengganti perbannya sendiri, Diki mendekati dan berniat membantunya. Begitu menjulurkan tangan untuk membantu, respon Raisa tidak terduga. Jelas dia menolak.
"Kenapa? Biar aku bantu..."
Raisa yang masih diliputi rasa kesal karena cemburu pada dokter Emilia ditambah dia malu membuka bajunya depan Diki. Tentu saja, Raisa bersikeras melakukannya sendiri. "Tidak usah aku bisa,"
Tetapi Diki memaksa, "Sudah kamu diam saja, kalau salah menempatkannya, yang ada malah lukamu terkelupas lagi,"
Raisa dengan pasrah menuruti Diki, dengan berwajah masam.
Tak lama sesuatu mengejutkan Raisa yang membuatnya heran bahwa... "Di–Diki? Kenapa kamu membuka semua bajuku? Jelas-jelas yang terluka hanya sebelah."
-----
-----
Bersambung...