
"Minuman apa ini? Seumur hidupku belum pernah merasakannya" ujar Diki dalam hati.
Pikirannya melalang buana, tak bisa fokus mengerjakan pekerjaan di laptopnya. Hawanya mulai terasa panas.
Gejolak aneh mulai menyeruak dari dalam tubuhnya, Diki yakin minuman itu bukan sekedar minuman biasa pasti ada sesuatu di dalamnya.
Diki mengacak-acak rambutnya, ia tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Ia mencoba aktivitas lain agar tubuhnya merasa nyaman. Berulang kali Diki coba tetap tidak menghasilkan apapun. Ia mulai frustasi, bingung apa yang harus Diki lakukan.
Sementara Raisa di kamar sudah tidur terlelap. Dia tidak tahu Diki sedang tersiksa sendirian. Dua kondisi yang bertolak belakang.
Diki men-shutdown laptopnya, ia sudah merasa gerah dan tidak sanggup lagi. Yang diinginkannya sekarang adalah meredakan gejolak aneh di tubuhnya.
Kondisi tubuh Diki benar-benar diluar kendali. Sudah tidak tertahankan lagi. "Apakah ada kandungan stimulan di dalamnya? Tubuhku jadi bereaksi setelah meminum minuman ini" Diki mendengus.
Di tengah kekacauannya, Diki dilema, haruskah ia membangunkan Raisa atau membiarkan dirinya tersiksa sendirian. Terlalu gengsi bagi Diki jika harus melakukannya.
Raisa terbangun tiba-tiba di tengah malam, ia ingin ke toilet. Suatu kebetulan setelah dari toilet Raisa berpapasan dengan Diki yang nampak aneh.
Raisa mengenakan gaun tidur yang menjuntai berbahan satin. Jelas modelnya tak ada yang terbuka. Rambutnya yang panjang sedikit bergelombang tersampir di bahunya. Kenapa jadi terlihat begitu seksi di mata Diki. Padahal Diki sudah biasa melihat penampilan Raisa tapi hari ini Diki menangkapnya berbeda.
Diki memandang Raisa seperti legenda dari timur-rubah betina berekor sembilan, auranya memikat mata, ia begitu cantik dan mempesona. Diki tak bisa mengalihkan pandangannya bahkan untuk berkedip sekalipun. Ia sampai harus menelan ludahnya.
Raisa mendekati Diki, "Ada apa? Kamu sakit?"
Aroma wangi tubuh Raisa yang khas tercium oleh Diki, otaknya mulai tak masuk akal. "Benar, aku sedang merasa tidak nyaman. Bisakah kamu membantuku?"
"Apa yang harus aku lakukan?" Raisa cemas melihat Diki yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ambilkan aku segelas air putih" Diki mencoba menjauhkan Raisa sebelum ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Raisa menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Tak biasanya Raisa melihat Diki begitu.
Sekali lagi Diki menghembuskan napas berat lalu mengaturnya agar kondisinya stabil karena jantungnya terus terpacu cepat.
Dengan cepat Raisa memberikan segelas air putih. Diki sedang bersandar di sofa, memejamkan matanya berusaha berpikir jernih.
"Haruskah kita ke dokter? Sepertinya kamu terlihat kesakitan" saran Raisa.
"Betul aku harus pergi ke dokter sekarang juga"
Seketika Raisa jadi teringat nama Emilia, di saat kondisi yang sama apakah Diki akan memanggil Emilia. Raisa ingin memancingnya.
"Apa aku perlu memanggil dokter Emilia?"
Mendengar itu Diki terdiam, matanya yang tajam terus menatap Raisa. Apa yang ada di benak Raisa hingga dia berani menyebutkan nama Emilia di antara mereka.
"Untuk apa? Aku bisa pergi sendiri ke dokter atau pun rumah sakit kamu tidak perlu repot-repot memanggilnya" Diki beranjak dari sofa. Ia berdiri tepat berhadapan dengan Raisa.
Di saat kondisi begini, tidak masuk akal jika Raisa ingin menyulut pertengkaran kecil. Tentu akan membuat Diki membencinya.
"Bukankah saat itu kamu memanggilnya untuk mengobatiku, kenapa sekarang tidak? Apa yang berbeda, kamu pasti sudah mengenalnya lebih jauh dan dia tidak akan mungkin datang di waktu yang tak biasa hanya karena kamu memanggilnya kalau bukan ada sesuatu di antara kalian. Kamu pasti spesial di matanya"
Ucapan Raisa yang panjang lebar membuat kepala Diki makin pening, tidakkah Raisa bisa merasakan apa yang sedang dialami Diki sekarang.
Bagi Diki ini sungguh tidak adil, Raisa membahas hal yang tidak penting, seharusnya ia lebih mencemaskan keadaan Diki. Kekesalan muncul di dada Diki.
"Berhentilah membahasnya, aku bisa pergi sendiri"
"Kamu akan pergi ke dokter Emilia sekarang? malam-malam begini?"
"Kamu ini kenapa sih selalu menyebut namanya, memangnya dokter cuma dia?"
Timing yang pas, Raisa jadi ingin menguliknya.
"Nah itu dia, yang ingin aku tanyakan kenapa saat aku sakit kamu memanggilnya bukan yang lain. Apakah kamu dan dia memiliki hubungan yang lebih?" Raisa mencecar Diki "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku"
"Aku tidak menyembunyikan apapun malah sebaliknya kamu yang selalu menyembunyikan sesuatu di belakangku" Diki membalikkan.
"Aku?" Raisa termenung.
"Ya, peristiwa kemarin sudah menjelaskannya. Aku tidak perlu lagi bertanya padamu" Diki mengalihkan pandangannya karena hatinya diliputi kekesalan. Beberapa masalah di kantor berkaitan dengan Raisa. Apa Raisa tidak tahu atau sedang berpura-pura?
"Kalau masalah Rian, ya aku akui salah. Aku minta maaf, aku pikir hanya tidak mau membebanimu saja. Cuma itu"
"Aku sudah bilang sebelumnya, apapun yang kamu lakukan tidak akan pernah terlepas dari tanggungjawabku"
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang Emilia. Tadi kamu menyudutkanku bahwa aku menyembunyikan sesuatu, sekarang aku sudah mengakuinya tapi kamu mana? Bahkan kamu tidak menceritakan siapa Emilia. Apa aku sebagai istri perlu tahu apa-apa" Raisa jadi ikut kesal.
"Raisa, sudah berulang kali aku tidak mau membahasnya. Untuk apa aku ceritakan tentang dia. Apa yang mau kamu tahu tentang dia? Aku saja tidak mau mengenalnya lebih jauh. Dia temanku dan seorang dokter itu saja"
"Itu saja kamu bilang, kamu yakin tidak ada yang kamu sembunyikan?" Raisa jadi teringat ucapan Bu Lidia tentang Emilia adalah wanita yang dijodohkan dengan Diki. Raisa mau Diki terbuka soal itu. Tapi kini mereka berdua malah berdebat.
Kepala Diki sudah ingin meledak, Raisa terus memancing emosinya di saat yang tidak tepat. Raisa menunjukkan ketidakpeduliannya apa yang sedang Diki rasakan saat ini, dia terus membahas hal yang tidak penting.
Kenapa Raisa sejak menjadi istrinya begitu cerewet? Wajahnya yang polos tanpa riasan terlihat cantik. Meski ia hanya memakai pakaian tidur benar-benar mengundang pikiran liar Diki.
Walau Raisa dalam keadaan mengomel, Diki melihatnya seperti sedang merayunya. Otak Diki yang mulai tidak rasional lagi akibat minuman tadi tiba-tiba secara refleks...
Raisa yang banyak bicara terdiam, saat sesuatu menekan bibirnya. Raisa membeku ternyata Diki melakukannya dengan bibirnya untuk membungkam mulut Raisa. Ini tentu membuatnya terkejut, aroma tubuh Diki begitu dekat dengannya.
Raisa tidak bisa berkata apa-apa, situasi yang tadi tegang secara drastis berubah romantis. Apa yang memicu Diki mendadak melakukannya? Diki bukan tipe orang yang menyerang secara tiba-tiba. Biasanya ia dingin, angkuh dan cuek. Malam ini Diki jadi berbeda.
Apa yang terjadi? Raisa tak mengerti. Dan jantung Raisa jadi berdebar, perasaannya pun menghangat. Ia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Raisa yakin ini bukan mimpi.
----
----
Bersambung...