
Dikantor, Agan terus memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Novi. Dan seharian dia tidak bisa bekerja dengan tenang. Sore hari, dia tidak langsung pulang, melainkan dia pergi kerumah orangtuanya.
"Agam....." Ibunya kaget karena biasanya dia akan menelpon kalau mau datang.
"Bu...." Agam terlihat lelah dan capek.
"Duduklah! Ibu ambilkan minuman untukmu...." Ibunya datang dengan minuman dan memberikan nya pada Agam.
Ibunya merasa jika Agam ingin bicara sesuatu padanya. Dia lalu duduk menatap putranya itu.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya ibunya bijak.
"Iya," Agam mengangguk. "Ini soal Alvin," Agam lalu menceritakan jika tadi dia bertemu dengan Novi, wali kelasnya Agam.
"Dia masih kecil. Semua ini tidak mudah untuk dia pahami. Dia melihat dan mendengar pertengkaran kalian. Semua itu akan merusak cara berfikir nya. Dan dia akan berpikir, jika orang dewasa boleh bertengkar kenapa anak-anak tidak?" Ibunya turut prihatin akan kondisi mental Alvin yang menjadi terganggu.
"Sebenarnya, bukan hanya itu saja. Dia di ejek teman-temannya karena mempunyai ibu sambung," Imbuh Agam lagi. Tentu saja Ibunya terbelalak kembali. Sedih rasanya sebagai seorang nenek melihat apa yang di derita oleh cucunya.
"Memang apa yang telah terjadi ini sulit untuk diterima semua orang. Bukan hanya kedua anakmu. Bahkan orang tua Tiara saja, mereka marah pada kita. Dan masyarakat, mereka juga kesal saat melihat kau menikahi Della ketika baru tiga bulan istrimu meninggal. Kau harus bisa muat Alvin mengerti perlahan-lahan. Dan kau harus sabar padanya. Ingat....kondisi mentalnya sedang terganggu saat ini,"
"Aku mengerti Bu. Semua ini salahku. Aku dan Tiara bertengkar setiap hari. Kadang dikamar kadang di meja makan dan kadang di mobil, kadang kami berteriak satu sama lain dan tidak sadar jika ada anak-anak disana," Sesal Agam setelah melihat psikis Alvin terganggu.
"Yang terjadi tidak bisa disesali lagi. Nasi sudah menjadi bubur, semua yang kau lakukan saat ini berdampak pada kedua anakmu. Tugasmu adalah bersabar pada mereka,"
"Aku tahu Bu, aku akan pulang sekarang. Aku sudah merasa lebih baik," kata Agam lalu berpamitan pada ibunya.
.
Sampai dirumah, keadaan rumah sangat sepi. Dan diapun memanggil-manggil Della namun tidak ada sahutan.
"Alvin! Sella!" Agam memanggil mereka dan mendongak ke lantai atas.
"Della!" Tidak ada sahutan.
Agam lalu kedapur untuk mengambil minuman dingin. Dan dia terkejut saat pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara air mengucur deras.
Dan saat dia melihatnya, dia lebih terkejut lagi. Melihat Della tertidur dilantai dengan darah membanjiri lantai kamar mandi.
"Della! Ya Tuhan! Della!"
Agam langsung berupaya menolongnya dan dengan cepat memanggil ambulans. Agam membawa Della kerumah sakit.
Alvin dan Sella sedang sembunyi di pojokan kamar mereka. Mereka meringkuk dengan memegang kedua lututnya masing-masing dengan wajah pucat pasi. Jelas mereka sedang ketakutan saat ini. Entah apa sebabnya.
Mereka berulang kali mengusap airmatanya dan akhirnya Alvin menangis histeris.
Hal itu membuat Della terperanjat dan berisi menenangkan dirinya.
Tidak lama kemudian, neneknya datang bersama Asti. Asti langsung memeluk kedua keponakannya itu.
Namun, Alvin melawannya dan menendang dirinya.
"Aaawwww!" Asti kaget dengan sikap Alvin itu. Dan menatapnya bingung.
"Alvin....." Asti memanggilnya dan ibunya memegang bahu Asti.
"Jangan kasar padanya. Nanti ibu ceritakan kenapa dia menjadi seperti ini," kata ibunya dan membiarkan Alvin tetap menangis.
Setelah tangisan mulai lemah, maka neneknya mendekati nya.
"Kami menyayangi mu. Sangat menyayangi mu, karena itu, kami sedih melihat kau menangis seperti ini...." kata neneknya dan lama-kelamaan isak tangis Alvin terhenti saat dia mendengat neneknya sedih jika dia menangis. Neneknya paling menyayanginya, jadi dia tidak mau membuat neneknya bersedih.
"Nenek bawa es krim, kamu mau?"
Tiba-tiba Alvin mengangguk. Neneknya lalu memberi isyarat pada Asti untuk mengambil es krim yang dia bawa. Sedangkan Sella, dia terlihat cemas dan ketakutan.
Alvin langsung membuka bungkus es krim dan mulai memakannya, dan saat makan es krim, membuat hatinya sedikit lebih tenang. Rasa takut dan cemas itu perlahan berkurang.
"Dimana ayahmu? Dan ibumu? Kenapa rumah ini sangat sepi?" tanya neneknya pada Sella.
Saat ditanya, Sella yang tadinya diam malah menangis. Dia menyimpan sesuatu yang tidak ingin dia katakan pada siapapun. Dia takut dimarahi. Karena itu dia hanya menangis dan menggelengkan kepalanya.
.
Sementara dirumah sakit, dokter terpaksa melakukan operasi untuk Della. Anaknya meninggal didalam kandungan dan tidak bisa diselamatkan. Della harus di operasi untuk mengeluarkan bayi itu dari dalam perutnya demi keselamatannya.
Di luar ruang operasi, nampak Agam sedang menunduk sedih dengan rasa bercampur aduk tidak karuan. Dia sangat sedih karena bayi didalam kandungan Della sudah meninggal. Dan dia saat ini khawatir akan keselamatan istrinya itu.
Tiga bulan yang lalu dia kehilangan Tiara. Dan jika saat ini terjadi apa-apa dengan Della, maka dia merasa gagal sebagai seorang suami yang harusnya bisa melindungi istrinya.
Tidak lama kemudian dokter keluar dan menyuruhnya masuk kedalam. Della akan segera di pindahkan ke ruang perawatan karena Operasi nya sudah dilakukan.
Dia melihat Della menangis menatap langit-langit ketika dia menoleh padanya.
Agam berjalan mendekati Della dan menggenggamnya. Agam duduk didekatnya dan berusaha menghibur dirinya saat ini.
Namun saat ini Della benar-benar sedang sangat sedih. Semua ini karena dia kehilangan bayinya dan itu karena anak Agam.
Perbuatan kedua anak Agam benar-benar sudah keterlaluan. Hampir saja dia juga kehilangan nyawanya sendiri karena mereka berdua.
Namun jika dia katakan pada Agam, mungkinkah Agam akan percaya padanya?