
Agam pulang sore hari dan kedua anaknya duduk di teras dengan menopang dagu mereka. Agam turun dari mobil dan menyapa keduanya.
"Sella, Alvin, apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya.
"Ada yang ingin kami bicarakan," kata Sella dengan lirih.
"Baiklah. Ayo masuk dulu. Jangan lupa tutup pintunya, banyak nyamuk di luar..." kata Agam lalu masuk dan meletakkan tas kerjanya. Dia langsung mengambil air minum sendiri karena tidak ada yang dia suruh. Biasanya Della yang akan melayani nya sepulang dia kerja.
"Tadi kalian bilang ingin mengatakan sesuatu? Apa itu?" tanya Agam penasaran.
"Ehm....kami....tidak akan jahat lagi pada mamah Della. Kau bisa mengajaknya kembali kerumah ini..." kata Sella tiba-tiba setelah saling merundingkannya dengan Agam. Mereka kasihan melihat ayah mereka masak pagi hari lalu ke kantor terburu-buru tanpa sarapan. Rumah sangat kotor dan cucian baju juga menumpuk.
Agam kaget hingga terperanjat.
"Apa!?" dia tidak percaya kedua bocah itu berkata demikian.
"Rumah ini membutuhkan dirinya. Memangnya kenapa dia pergi?" Sella bertanya pada ayahnya.
"Dia sangat menyayangi kalian. Dia pergi karena dia pikir kalian akan bahagia jika dia tidak ada disini..." kata Agam kemudian.
Mimik muka Sella dan Alvin langsung berubah.
"Maafkan kami. Kami bersikap buruk padanya. Kami pikir dia ibu tiri yang jahat. Karena itu kami kasar padanya," kata Sella penuh penyesalan.
Agam mengangguk dan menatap lembut kedua wajah buah hatinya. Lalu terlukis senyuman kecil diwajahnya.
"Jika begitu, kalian akan ikut papah menjemput mamah kalian. Jika kalian tidak ikut, papah tidak yakin, mamah akan mau ayah jemput..." kata Agam menatap mata kedua bocah itu.
"Baiklah...." jawab Sella dan Alvin bersamaan.
Mereka lalu keluar dan masuk ke mobil Agam. Mereka akan menjemput mamah barunya itu.
Dalam perjalanan, mereka tidak tidur dan justru menikmati pemandangan di sekelilingnya.
"Apakah mamah akan kembali dan memaafkan kesalahan kita?" tanya Sella menoleh pada ayahnya.
Dalam hati dia berharap Della mau kembali setelah kedua anaknya menyadari kesalahannya.
Akhirnya mereka sampai dihalaman rumah Della. Mereka lalu turun dan mengetuk pintu rumah itu.
Della sedang ada didalam kamarnya. Dia merasa sedih dan kesepian. Bagaimana pun, sebenarnya tidak seharusnya dia pergi dari rumah suaminya. Namun dia merasa tidak sanggup lagi kala itu.
"Mas Agam....kenapa tidak datang menjemput kemari? Apakah karena kemarin aku menolaknya sehingga dia tidak akan datang lagi?" Nampak Della sedang menyesal karena kemarin tidak mau ikut dengan suaminya saat dia datang menjemput.
Ternyata dia merasa percuma saja dia datang kerumah orangtuanya. Niatnya datang untuk menenangkan diri tapi ternyata dia tetap gelisah memikirkan suami dan kedua anaknya. Dia tetap tidak tenang.
Tiba-tiba dia seperti mendengar suara suaminya diruang tamu.
"Apakah itu suara mas Agam? Atau...aku hanya salah dengar saja karena memikirkan dirinya..." batin Della sambil beranjak bangun untuk memastikannya.
Dan saat dia melihat Agam datang dengan Della dan Alvin berdiri di belakangnya, dia tertegun. Melihat mereka berdua mengingatkannya pada hal pahit yang terjadi selama ini.
"Della, mereka datang untuk menjemput mu..." kata ibunya Della saat berjalan mendekati putrinya yang terpaku berdiri beberapa meter dari Agam dan anak-anaknya.
"Maksud ibu...?" Della tidak memahami perkataan ibunya.
"Kedua anakmu, ingin kau kembali kerumah mereka," ulang ibunya dan membuat Della terperanjat tidak percaya.
"Apa?" Della ternganga mendengar nya.
Sella dan Alvin lalu bergandengan tangan berjalan mendekati Della yang masih terbengong-bengong.
"Mah....maafkan kami. Maukah tinggal bersama kami lagi?" kata Sella terbata saat berada dihadapan Della. Dia tentu paham benar, jika yang mereka lakukan kepada mamah barunya itu sudah sangat keterlaluan.
Sella dan Alvin menunggu jawaban mamah barunya itu dengan cemas.
"Tentu...." jawab Della terharu dengan apa yang dia lihat hari ini. Dan sebenarnya dalam hati dia juga sangat merindukan mereka berdua.
Bahkan hari ini, bukan hanya Agam yang menjemputnya, melainkan kedua anak sambungnya juga ikut. Dan untuk pertama kalinya, mereka memanggilnya mamah....apakah ini artinya mereka sudah menerima diriku? batin Della dalam tangis dan senyum harunya.