Menikahimu Sebuah Kesalahan

Menikahimu Sebuah Kesalahan
MSK-Bab 7


Pagi hari, Della bangun jam lima pagi. Matahari masih bersembunyi dan nampak dibeberapa tempat masih gelap. Dia meraba di samping tempat tidurnya dan kaget saat menyadari jika dia melewati malam pertama nya sendirian.


"Astaga...apakah artinya malam ini berlalu begitu saja?" batin Della dengan sedih. Dia sudah menantikan sangat lama untuk malam pertama menjadi istri Agam. Tapi ternyata berlalu tanpa kesan apapun.


"Apakah dia ketiduran dikamar Alvin?" Della menggumam dan bangun sambil merapikan tempat tidurnya. Dan saat akan ke kamar mandi, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


Agam berdiri dengan rasa bersalah dan menatapnya.


"Maafkan aku. Aku ketiduran dikamar Alvin. Kau sudah bangun?" tanya Agam sambil berjalan mendekati Della.


"Ya," Della urung dan berjalan mendekati suaminya.


Pov. Della


Aku menarik tangannya dan mengajaknya duduk dipinggir ranjang. Aku dan suamiku terdiam sesaat, seakan kami saling menyadari jika ada yang terlewatkan tadi malam. Malam pengantin itu yang biasanya indah dan akan dikenang sepanjang masa, tapi hanya berlalu tanpa ada yang istimewa.


Tangan Agam melingkar di pinggangku dan membalikkan tubuhku menghadap kearahnya.


"Maafkan aku....apakah tadi malam kamu menunggu ku?" tanya Agam dan membuat kedua pipiku merah.


"Tidak. Aku lelah dan tanpa sadar aku tertidur," ucapku menutupi yang sebenarnya terjadi.


Sebenarnya, aku memang menunggunya datang, namun karena dia tidak datang setelah dua jam, aku tertidur.


"Kalau begitu, nanti malam kita....."


Aku malu ketika dia akan meneruskan ucapannya. Aku lalu bangun dan memotong kalimat nya.


"Aku akan mandi. Kau atau aku dulu?" tanyaku dan Agam tersenyum.


"Kau mandi duluan...."


Didalam kamar mandi, aku terus berfikir jika ini adalah hari pertamaku menjadi istrinya. Karena ini adalah impianku sejak lama, maka aku akan membuat hari ini menjadi istimewa. Aku akan memasak untuknya.


Setelah mandi, aku ke dapur untuk memasak dan aku lihat Agam sedang berolahraga di halaman. Kandungan ku sudah semakin besar dan sudah jalan tujuh bulan. Aku semakin merasa berat saat sedang berjalan. Sepertinya aku tidak bisa berjalan dengan cepat lagi dan tidak bisa menemani Agam berolahraga. Padahal aku sangat ingin melakukannya karena itu juga yang aku bayangkan saat melihatnya masih menjadi suami mbak Tiara. Namun setelah menjadi istrinya, aku malah tidak bisa melakukannya karena kehamilan ku yang sudah semakin besar.


Makanan sudah aku siapkan dua jam lamanya, dan aku memanggil Sella dan juga Alvin untuk sarapan bersama.


Pagi pertama kami duduk di satu meja yang sama sebagai sebuah keluarga. Sebenarnya aku sangat canggung, karena tiba-tiba punya dua anak yang sudah besar. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kami bicarakan agar suasana makan menjadi menyenangkan.


Aku tersenyum pada dua anak sambung ku saat mereka sudah duduk bersama kami. Tapi, senyuman ku tidak dibalas oleh mereka. Dan, aku berusaha untuk tidak tersinggung dengan sikap mereka.


"Sella, Alvin, makanlah yang banyak. Semoga kalian suka...." aku berusaha mencairkan suasana yang kaku dan hening.


"Mama kalian sudah memasak sarapan dengan susah payah, kalian makan yang banyak ya...." kata Agam pada kedua anaknya yang kelihatannya tidak menyukai masakan ku.


"Ayo, ambil piringnya dan makan...." Sepertinya Agam berusaha membujuk anaknya dengan halus agar terbiasa dengan kehadiran ku.


"Hmm, atau kalian mau yang lainnya. Biar mama masak untuk kalian..."


"Tidak usah! Kami akan makan!" jawab Sella tiba-tiba membuatku terkejut karena nada bicaranya yang ketus.


Selama makan, sepertinya aku tersadar jika kehadiran ku tidak di harapkan oleh mereka. Namun, sekarang aku adalah istri ayahnya dan aku akan segera memberikan adik untuk mereka berdua. Maka, aku akan meyakinkan mereka jika aku benar-benar tulus menyayangi mereka berdua.


.


Satu Minggu kemudian,


Dikantor,


Aku duduk dimeja kerjaku dan menyiapkan beberapa berkas karena hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di kantor bersama Agam. Hari ini aku akan mengundurkan diri. Ibu mertua ku ingin agar aku menjadi ibu rumah tangga dan fokus mengurus kedua anakku itu dan juga anak yang akan aku lahirkan.


Mereka dulu melarang Tiara bekerja dan dia tidak mau mendengarkan nya. Dan sekarang, aku akan menuruti mereka agar aku mudah untuk diterima oleh mereka. Karena aku adalah menantu kedua. Dan lagi, aku butuh banyak waktu untuk menyesuaikan diri dan mengambil hati Sella juga Alvin.


tok tok tok!


"Masuk!"


"Gimana? Apakah kau sudah memberikan surat pengunduran dirimu?" tanya Agam sambil menutup laptopnya.


"Sudah. Baru saja. Dan...aku akan langsung pulang saja. Aku akan menyiapkan makan siang untuk Sella dan juga Alvin,"


Agam sepertinya senang dengan pengunduran diriku. Dia tersenyum simpul mendengar apa yang baru saja aku katakan.


"Terimakasih..." kata Agam menatapku hangat.


"Aku pulang dulu..."


"Kau jangan pulang terlambat..." ucapku tersenyum sambil berjalan ke pintu.


*****


Sampai dirumah, masih ada waktu satu jam lebih untuk membuat makan siang Sella dan Alvin. Mereka menyukai makanan sea food dan Della mulai membuatnya.


Makanan itu selesai tepat pas mereka pulang sekolah.


"Hai Sella, Alvin. Kalian sudah pulang!" sapa Della saat melihat kedua anak sambungnya masuk kedalam rumahnya.


Mereka berdua menoleh dan roman wajahnya langsung berubah.


"Ya." hanya itu jawaban dari mereka, singkat dan tidak ada kalimat lainnya seperti mama masak apa? Kenapa baunya harum sekali, atau aku sudah sangat lapar, dan segera ingin makan.


Tap tap tap. Mereka naik ke atas ke kamar masing-masing dan Della nampak menunggu di bawah.


Sepuluh menit kemudian, mereka tidak turun juga. Setengah jam berlalu, mereka juga tidak turun, Della berfikir untuk memanggil mereka makan siang.


Dia sudah masak spesial untuk mereka, dan jika mereka tidak makan maka, Della akan sangat kecewa.


Tiba-tiba, saat Della akan naik, seseorang mengetuk pintu rumahnya.


Della langsung membukanya dengan cepat.


"Ini pesanan makanannya," kata orang itu lalu pergi.


"Terimakasih...." Della tertegun dan menatap makanan yang ada di tangannya.


Jadi, mereka memesan makanan dari luar untuk makan siang? batin Della menghela nafas berat.


Tiba-tiba dua anaknya berlari kearahnya dan mengambil makanan itu dari tangannya.


"Terimakasih!" katanya ketus dan segera duduk dimeja makan. Mereka berdua langsung makan seperti orang yang sangat lapar, dan tidak mengatakan apapun pada Della atau merasa bersalah karena membuat apa yang Della lakukan menjadi sia-sia.


Della menatap mereka berdua dan mendekati nya setelah mereka selesai makan.


"Aku sudah memasak untuk kalian. Kenapa kalian memesan makanan dari luar?" tanyanya perlahan.


"Apakah kami tidak boleh memesan makanan?" tanya Sella ketus.


"Bukan begitu, tapi aku sudah memasak spesial untuk kalian,"


Kata Della dan hatinya sakit karena jawaban anak sambungnya itu.


Sesaat suasana hening mencekam.


"Sudah kak. Ayo kita keatas!" ajak Alvin seperti tak menghiraukan kehadiran Della dirumah itu.