
Celine dan Gerald sedang berada di ruang kerja Gerald untuk memperbincangkan syarat yang Celine bicarakan sebelumnya
Celine dan Gerald duduk di sofa saling berhadapan dengan dua cangkir teh yang berada di depan mereka.
"Saya ingin diperlakukan Adil!" Tegas Celine.
"Itu saja?" tanya Gerald memastikan.
"Tentu tidak, tetapi itu poin utamanya. Saya ingin diperlakukan adil seperti istri-istri Anda yang lain. Dan saya tidak peduli bagaimana caranya setidaknya saya dihargai di Mansion terkutuk ini," jelas Celine.
Gerald mengangguk lalu berkata,"Aku akan memastikan hal itu".
"Poin kedua! Saya ingin Tuan tidak menyentuh Saya sebelum Saya benar-benar melupakan Marchel. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dari Anda telah mengasingkan Saya selama dua tahun," ucap Celine seraya mengambil cangkirnya dan meminumnya.
"Anda belum melupakannya?" tanya Gerald penasaran. Gerald merasa dia tidak boleh tersulut emosi untuk mendapatkan Celine kembali.
Alasan yang Celine katakan barusan hanya karena Celine belum siap memberikan kali pertamanya untuk pria yang dihadapannya ini.
"Belum," ucap Celine singkat.
"Lalu apa poin selanjutnya?" tanya Gerald karena tidak ingin lama-lama membicarakan tentang Marchel.
"Saya ingin Anda melindungi Saya dari serangan semua keluarga Anda, Tuan!" ucap Celine. Gerald tertawa kecil mendengar perkataan Celine barusan.
"Anda tidak perlu khawatir. Saya tahu apapun yang istri istri Saya lakukan dibelakang Saya tetapi Saya tidak peduli. Namun, untuk Nyonya Celine akan Saya laksanakan!" Ucap Gerald seraya menatap wajah Celine sambil tersenyum kecil.
'Kenapa hatiku selalu begini saat dekat dengan pria tampan? Aku bukan wanita murahan,' gerutu Celine dalam hati.
"Apakah itu poin terakhir?" tanya Gerald.
"Untuk saat ini hanya itu! Aku akan menambahkannya ketika membutuhkannya," jawab Celine.
Gerald mengangguk lalu menyuruh Bodyguard pribadinya bernama Mark untuk membawa pakaian dari tempat tinggal Celine dulu kembali dan memindahkannya ke Mansionnya.
Celine meninggalkan ruangan Gerald karena merasa tidak ada lagi yang harus dia bicarakan dengan pria itu. Namun sebelum jauh dari ruangan Gerald, Celine dihentikan oleh seorang wanita.
"Kak Celine!" panggil Vania yang berada dibelakangnya. Celine menghentikan langkahnya dan menunggu Vania.
"Bukankah panggilan itu terlalu akrab? Bahkan Saya baru pertama kali bertemu dengan Anda," ucap Celine.
"Bukankah kita harus akrab? Sampai seterusnya kita akan mulai berbagi suami," jelas Vania seraya menunjukkan senyumannya.
Celine benar-benar ingin muntah.
'Baru sampai disini aku sudah mendengar omong kosong dari wanita ini,' kesal Celine dalam hati.
"Maafkan Saya! Bukankah Nyonya Celine belum pernah disentuh Tuan Gerald? Apakah Saya menyinggung Anda?" tanya Vania seraya mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya.
'Kena kau!!,' batin Vania.
"Memang belum, namun akan! Aku tidak yakin apakah Tuan Gerald masih akan menyentuh Anda melihat perjuangannya untuk menarik Saya kembali kesini," jelas Celine sambil melipat kedua tangannya dan menatap Vania.
'Kalau soal mulut aku jagoannya!' Batin Celine.
Sebelum Vania berbicara tiba-tiba Gerald menghampiri mereka.
Gerald menarik pinggang Celine dengan satu tangan untuk membuatnya lebih dekat dengan Gerald. Satu tangan lagi Gerald gunakan untuk menyentuh rambut Celine yang tergerai panjang lalu menciumnya.
Bukan hanya Vania yang terkejut, Celine yang diperlakukan seperti itu juga sangat terkejut.
'Bukankah ini tidak termasuk di perjanjian tadi?' batin Celine heran.
"Aku akan datang ke kamarmu nanti. Jadi bersiaplah!" ucap Gerald lalu mengecup bibir Celine.
"Kalau mencium boleh kan?" Bisik Gerald tepat di telinganya dan membuat Celine sedikit merinding.
"Tuan Gerald! Bukankah Anda berbicara secara formal kepada Istri Anda?" tanya Vania tidak percaya melihat dan mendengar apa yang terjadi di depan matanya.
Gerald beralih memandang Vania lalu berkata, "Karena dia adalah wanita favoritku".
***
"KURANG AJAR!!!" teriak Vania sambil melemparkan semua barang yang ada di depan matanya.
Lita yang berada di ruangan itu sangat terkejut. Biasanya Vania tidak semarah ini saat melihat Gerald dekat dengan Cassandra maupun Syella karena memang dirinyalah yang lebih mendapatkan perhatian dibandingkan mereka berdua.
"Aku belum membalas perbuatannya karena telah menghancurkan pestaku! Sekarang dia sudah berani mengambil perhatian suamiku?" Ucap Vania tidak percaya.
Lita perlahan menghampiri Vania dan berusaha menenangkannya. Namun, Vania mendorong Lita untuk menjauh darinya yang membuat Lita tersungkur kebawah.
"Saya tidak perlu kau hibur!!! Kau hanya perlu memikirkan apa yang haru aku lakukan untuk membuat wanita itu tau rasa!" Teriaknya.
Lita berpikir sejenak lalu berkata, "Ba-bagaimana kalau begini Nyonya..."
Lita berdiri kembali lalu mendekatkan dirinya kepada Vania lalu melanjutkan pembicaraannya sambil berbisik.
Vania tersenyum lebar saat mendengar rencananya. Vania tidak sambar melihat malunya perempuan itu nanti saat rencananya sudah terlaksanakan.
"Kalau begitu kau harus menyiapkan segalanya! Mengerti? Tidak boleh ada satupun campur tanganku di dalamnya agar aku tidak dicurigai," jelas Vania dan dibalas anggukan dari Lita.
"Akan Saya persiapkan segalanya, Nyonya!" ucap Lita meyakinkan.
***
Malam hari pun tiba dan benar saja Gerald datang menghampiri Celine ke kamarnya. Celine baru saja siap mandi dan saat ini sedang mengenakan jubah mandinya.
Gerald melihat hal tersebut biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang terjadi sedangkan Celine...
"AKHH!" Teriaknya sambil menutupi dirinya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kau menutupi badanmu sedangkan kau sedang tidak telanjang?" Tanya Gerald heran.
Benar apa yang dikatakan Gerald, namun tidak sepenuhnya benar. Saat ini Celine tidak sedang memakai baju namun hanya memakai jubah mandi dan itu sedikit memalukan untuk dilihat oleh pria.
Celine tidak menjawab pertanyaannya dan langsung berlari ke kamar ganti untuk mengganti bajunya.
'Pria gila itu kenapa datang kesini?' batin Celine.
Namun dia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini bukan itu yang harus dia pikiran. Namun, dia harus mengenakan pakaian lalu pergi untuk meminta penjelasan.
Setelah selesai berganti baju, Celine keluar dari kamar ganti dan menghampirinya Gerald yang sudah mendudukkan dirinya di kasur sambil memegang laptopnya. Sepertinya dia sedang bekerja.
"Mengapa Anda datang ke kamar Saya?" tanya Celine sambil berjalan cepat mendekatkan Gerald dan meminta penjelasan.
Gerald memandang Celine sebentar lalu menghela nafasnya dan menutup laptopnya.
"Bukankah aku mengatakan bahwa aku akan datang ke kamarmu malam ini?" jawab Gerald dengan pertandingan.
Celine benar-benar heran dengan Gerald. Bukankah sudah jelas bahwa Celine tidak ingin bersetubuh dengan Gerald sebelum dirinya melupakan Marchel?
'Perasaan aku sudah bilang padanya bahwa aku tidak ingin tidur dengannya,' batin Celine.
"Tenanglah! Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya mendengar permbicara kalian tadi dan sepertinya kau butuh bantuan. Aku sudah berjanji akan melindungi mu," jelas Gerald panjang lebar.
"Tidurlah aku tidak akan macam-macam!" ucapnya lagi.
Celine berjalan ke sisi ranjang yang kosong dan menidurkan badannya dan sebelum dirinya tidur dia mengambil sebuah guling dan meletakkannya ditengah-tengah mereka.
"Anda tidak boleh melewati batas ini!"tegas Celine dan Gerald terkekeh mendengar perkataannya.
"Baiklah Nyonya! Akan Saya patuhi," ucap Gerald masih dengan posisi duduk sambil bersandar di atas ranjang dan menatap wajah Celine yang mulai memejamkan matanya.
Jujur Gerald tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita lain. Jika Gerald sudah memasuki kamar salah satu dari istrinya, istrinya pasti akan langsung menyambut Gerald dengan belaian.
Gerald lagi-lagi tertawa kecil melihat Celine yang sepertinya sudah masuk kedalam mimpinya, namun Gerald tiba-tiba terdiam.
'Sejak kapan aku tersenyum seperti ini karena wanita?' Batinnya. Namun Gerald cepat-cepat menghiraukan hal tersebut
Diangkatnya bantal guling itu dan menjatuhkannya ke bawah lalu membaringkan dirinya menghadap Celine.
'Wanitaku,' batin Gerald sebelum dirinya ikut tertidur bersama dengan Celine.
...****************...