
Masuk kembali ke kamar nya, Firdaus menghempaskan tubuhnya di pembaringan. Suasana hatinya masih kacau.
Tak berapa lama wajah cantik Maryam masuk dan tersenyum manis pada pak Kiai.
Sekelebat Firdaus melihat ada kebahagian di mata istrinya, namun juga kikuk menghadapi Firdaus yang tampak berbeda.
Apakah benar dugaannya kalau Maryam lebih bahagia dan lebih bersemangat bersama Rayhan?
Selama ini, wajah istrinya selalu tampak takut takut dan bahasanya pun tertata bila bersamanya, berbeda sekali dengan saat bersama Reyhan. Kata katanya mengalir keluar begitu saja tanpa beban, tawanya terdengar berderai derai.
Apakah sebenarnya Rayhan lah yang di ingin kan Maryam? Bukankah pernikahan dengannya hanya karena terpaksa?
Firdaus makin kalut.
Terdengar gemericik air wudhu di kamar Mandi yang sengaja diberinya sekat dari toilet buang hajat.
Maryam sedang berwudhu.
"Astagfirullah hal adzim," pak Kiai berseru dalam hatinya. Memohon ampunan Alloh karena ia sampai terlupa wudhu sebelum naik ke pembaringannya tadi.
Dia yang mengajarkan pada Maryam untuk berwudhu sebelum tidur, malah dia pula yang lupa . Bahkan secara tidak langsung, istrinya ini yang mengingatkannya.
Firdaus sedikit malu.
Di pandanginya istrinya yang sedang membasuh kedua kakinya.
Hatinya menghangat melihat kesalehan istrinya.
"Eh, pak Kiai." pipinya bersemu merah menyadari Firdaus sejak tadi memandangnya.
Firdaus tersenyum bahagia campur gemas, melihat istrinya yang kikuk dan salah tingkah.
Selesai berwudhu, Maryam masuk dengan agak memberi jalan pada suaminya. Dan betapa Firdaus sebenarnya ingin menjentik ujung hidung Maryam yang menggemaskan. Tapi di tahannya karena istrinya ini sudah berwudhu.
Sejujurnya Firdaus senang melihat istrinya yang selalu salah tingkah di depannya. Tapi di sisi lain , dia juga cemas, istrinya tak pernah nyaman bersamanya.
" Pak Kiai ada ada saja, tentu saja saya bahagia pak Kiai." Maryam menatap suaminya dan tangannya telah berada di dada pak Kiai.
"Tapi Nyai tampak selalu canggung di depan ku. Berbeda saat bersama Reyhan. Nyai tampak tanpa beban." kata Firdaus getir.
"Pak Kiai bicara apa?" Maryam agak terkejut. "Saya nyaman bersama pak Kiai." katanya lagi. " Kalau tingkah saya kadang agak aneh...itu karena kita kan masih penyesuaian pak Kiai. Tapi saya sangat bahagia, bisa jadi istri pak Kiai, saya akan belajar menjadi Bu Nyai yang Baik."
"Apakah itu membebani mu?" selidik pak Kiai lagi.
"Sama sekali tidak." jawab Maryam cepat, kuatir pak Kiai salah paham. " Saya senang menjalaninya. Saya bahagia pak Kiai, sungguh. Pak Kiai jangan berpikir yang aneh aneh."
Keduanya berpelukan erat.
Dulu, Maryam memang pernah membayangkan menjadi Bu Nyai pasti juga disuruh mengajar membaca dan menulis huruf hijayah, tapi ternyata tidak.
Untuk urusan mengajar telah ada beberapa guru dan mudir tersendiri yang membantu pak Kiai. Sudah ada orang yang ahli disitu.
Maryam yang terlalu picik, bahkan sempat menyiapkan akal akal an untuk itu...
Hm, Maryam tersenyum sendiri mengingat betapa songong nya dia...he..he.he..
Lagi pula, ini pondok pesantren khusus putra. Guru guru nya pun semua Pria.
Maryam...Maryam,..Kau pikir ini pondok pesantren mainan?
"Hm...Nyai selalu pintar menghibur saya." gumam pak kiai sambil meraih kepala Maryam mendekat ke dadanya.
"Bila ada yang kurang dari sikap saya, dan ada yang membuat Nyai tak bahagia, tolong katakan pada saya. In syaa Alloh , saya perbaiki."
" Pak kiai" Maryam semakin merapatkan pelukannya. Bersyukur, bahwa Alloh telah mengirimkan suami terbaik baginya.
Sementara itu, di kediaman Haji Busri, selepas Isya tadi pak Haji bicara