Mendadak Bu Nyai

Mendadak Bu Nyai
Rayhan


"Jadi benar nich, dik Nur membolehkan kakang menikahi satu orang lagi?" Suparman bertanya dengan hati hati.


" lya, Kata Bu Dokter tadi, Kakang pingsan bukan hanya karena kurang makan aja, tapi juga karena depresi .


Nur gak mau punya suami gila."


"Lhah koq gila?"


" Orang orang gila itu, dulunya kan depresi dulu..." sahut Nur polos.


Benar juga.


Mau ketawa, tapi takut dosa.


Maryam tahu, ini tak mudah. Tapi Mbak Nur masih bisa melucu.


"Tapi syarat dan ketentuan berlaku.lho Kang" Nur masih me lucu. Membuat semua yang ada disitu tersenyum.


"Apa syaratnya Dik?"


" Yang pertama, musti Janda yang tidak mampu atau yang tidak punya penghasilan tetap." jawabnya. " Kata Bu Nyai, itu bisa jadi ladang pahala. Karena Janda itu kini tak lagi ada yang menafkahi, mau minta ke orang kan malu. Naa...kalau kang Parman menikahinya dan menafkahinya , itu akan sangat membantunya. Ladang pahala buat kakang, juga Nur, karena Nur lah yang mengajak Kakang pada kebaikan itu. "


Pak Kyai tersenyum dan melirik Maryam, tak disangkanya semuanya jadi mudah, bahkan sebelum ia berkata apa apa pada istri Parman., wanita itu sudah langsung membuka hatinya.


Sementara Maryam, hanya tersipu. Dia tadi mengatakan itu pada Nur, hanya dari pengalaman pribadi. Betapa dia sebenarnya bingung, karena tabungannya mulai menipis tapi dia belum mendapat pekerjaan atau pun usaha yang menghasilkan uang. Sementara hidup jalan terus. Biaya hidup juga jalan terus.


Alhamdulillah Alloh membukakan jalan dengan cara yang unik.


"kata Bu Nyai, Menafkahi anak yatim dan menyayanginya itu ladang pahala yang luar biasa Kang. Rasululloh menyuruh kita menyayangi anak Yatim dan menafkahi orang miskin" Nur kembali berorasi membuat Maryam geli tapi juga malu.


"Trus syarat ke dua , Nur yang memilih dan melamar janda itu."


" Kenapa harus begitu dik?" Parman heran, karena adat di desa mereka, yang melamar itu ya orang tua mempelai pria. Kenapa ini malah istrinya?


" Kalau Nur yang melamar kan si Janda jadi tahu, kalau pernikahan ini.Keinginan Nur . Jadi dia harus tahu diri dan tidak bisa macam macam."


" Itu juga kata Bu Nyai?" Firdaus langsung bertanya,


" Iya, pak Kyai. Tapi bu Nyai ga sampai melamar, cuma memilih doang. Tapi menurut Nur, kalau cuma milih, si janda itu kan gak tahu, kalau melamar barulah di Janda itu tahu, kalau pernikahan ini bisa terjadi karena Bu Nur."


" Maksudnya soal tahu diri dan tidak macam macam, itu juga dari Bu Nyai?" Firdaus masih mengejar.


"Iya pak Kyai. Bu Nyai memang Top Markotop" Nur mengacungkan jempolnya.


Wajah Maryam merah padam. Ingin rasanya dia menghilang saat itu juga.


" Betul, Bu Nyai memang sangat ahli di bidangnya." Firdaus mengerling ke arah Maryam.


"Baiklah, kami pamit pulang dulu." Pak Kyai berdiri. Ingin rasanya Maryam tetap disini.


"Ayo Nyai, anak anak sudah menunggu dijemput" kata pak Kyai lagi. Mau tak mau Maryam bangkit. Dan mengikutinya keluar.


"Apakah Aisyah juga akan kau buat tahu diri dan tidak macam macam?"


Tanya pak Kyai setelah di mobil.


Tuch kan pak Kyai udah mulai...


"Ih pak Kyai,' Maryam cemberut.


Setelah mengantar anak anak Parman ke rumah mbak Arum. keduanya meluncur ke sekolah anak anak.


Sampai di sekolah pas adzan Ashar berkumandang. Firdaus dan Maryam langsung berwudhu dan numpang sholat di masjid sekolah.


Maryam.melihat Yaser dan Hamam ada juga di antara para jamaah. Alhamdulilah.


Selesai sholat, Maryam berniat kembali ke parkiran. Entah karena terburu buru atau kurang fokus, Maryam menabrak seorang Pria.


" Maaf,..kata Maryam lirih.


"Maryam?" suara bariton itu memaksa Maryam menengadahkan wajahnya.


Seraut wajah tampan yang pernah dikenalnya menyambut tatapannya.


" Rayhan?"


Maryam nyaris tak percaya. Didepannya benar benar ada Rayhan, Pria yang pernah mengisi mimpi mimpinya saat masih gadis. Tak dipungkiri, genderang di dada nya bertalu talu. Apalagi wajah di depannya serasa memandang penuh cinta. Hampir saja Maryam dan Rayhan hanyut.


" Kita tunggu di mobil saja ' suara pak kyai yang dingin dan tajam menyadarkan ke duanya. Tapi pak Kyai yang marah tetap berjalan menuju Tempat parkir. Maryam serba salah, dan segera mengikuti pak Kyai.


"Tante May...." suara lembut yang dikenalnya menghentikan langkah Maryam.


"Marisa.."


"Tante...," gadis itu menghambur ke pelukan Maryam.


"Marisa sekolah disini juga?" Maryam baru tahu kalau anak Rayhan satu sekolah denganYaser .


"Iya, Tante koq ada disini?"


" Tuch, Tante jemput bang Yaser" Maryam menunjuk Yaser yang baru keluar dari Masjid.


Yaser yang melihat Rayhan , langsung Salim. Rayhan pun memeluknya. Anak anak Maryam dari dulu selalu mendapat tempat di hatinya. Mereka ngobrol dan melepas rindu, karena sudah hampir tiga tahun lebih mereka tak bertemu.


Lupa kalau Pak Kyai telah menunggu di tempat parkir.


Menyadari Maryam tak menyusulnya, pak Kyai nyaris meledak saking marahnya. Karena itu dia berbalik, berniat menyusul Maryam.


Namun, pak Kyai membeku, melihat pemandangan di depannya.


Yaser sedang dipeluk orang yang menabrak Maryam tadi, seperti seorang Bapak yang lama tak melihat anaknya. sementara Di samping Maryam menggelendot manja seorang anak perempuan. keduanya seperti anak dan ibu yang lama tak bertemu.


Siapa mereka ?


Dari tatapan serta senyum Maryam Firdaus tahu, ada sesuatu diantara mereka.


Firdaus pun mengurungkan niat untuk melangkah ke sana.


Tapi tampaknya , Maryam segera sadar, sikapnya berubah biasa dan mengajak Rayhan dan anaknya menemui pak Kyai di tempat Parkir.


Mau tak mau, Firdaus mengubah wajahnya menjadi mode ramah kembali. Bagaimana pun mereka bak tamu di rumah mereka.


Maryam memperkenalkan bahwa Rayhan adalah mantan atasannya saat Maryam masih bekerja dulu..


Istrinya wafat saat Marisa masih kecil. Itu sebabnya, Marisa sangat dekat dengan Maryam. Anak anak Maryam juga dekat dengan Rayhan