Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 177 Season 3


"Lihat ini!" Boy mencengkram kerah pakaian Aries dan menggeret pria itu kearah laptop miliknya.


Aries menatap layar laptop dengan sedikit kesusahan karena mata satunya yang benar-benar sudah tidak bisa di buka karena luka baru yang didapatnya dari Mars.


"What the ...." Aries semakin mendekat kearah layar laptop saat ia menyadari pria yang menarik Venus ke dalam kamar adalah dirinya. "Jadi wanita malam itu Venus?" gumam Aries dengan wajah yang terkejut sampai mulutnya terbuka dengan sangat lebar.


"Sekarang kau mau mengelak?" Mars menatap Aries dengan tajam.


Aries menggeleng dengan lemah, tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa bisa Venus? Dan kenapa harus Venus? Aku bahkan benar-benar tidak mengingat saat menyentuhnya."


Aries menarik rambutnya dengan kasar.


"Kau tidak perlu bersikap seperti itu." Ketus Mars. "Karena Venus tidak akan meminta pertanggung jawaban darimu, dan aku pun tidak sudi mempunyai adik ipar sepertimu." Mars merapihkan kemejanya yang kusut. "Dan satu lagi! Setelah luka mu sembuh, aku akan membuat perhitungan denganmu." Mars segera keluar dari ruangan.


Aries sendiri masih terdiam dengan wajah yang bingung, ia masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya di layar laptop tersebut.


"Kau dengar itu Tuan Aries? Dan hari ini juga aku membebaskan mu." Boy dan Agam segera keluar dari ruangan.


"Tunggu! Bisa aku bertemu dengan Venus?" Aries yang baru tersadar dari keterkejutannya, ingin sekali berbicara dengan Venus. Berbicara pada wanita yang sudah satu bulan ini memenuhi pikirannya.


"Untuk apa?Apa kau tidak takut pingsan lagi?" sindir Boy.


"Aku ingin berbicara dengannya, dan aku janji tidak akan pingsan lagi."


"Ck, merepotkan sekali." Boy dan Agam keluar dari ruangan setelah menyetujui keinginan Aries.


Beberapa saat kemudian setelah melewati perdebatan yang sangat sulit dan panjang dengan Mars, akhirnya Venus di ijinkan untuk bertemu dengan Aries. Dan disinilah Venus berada, di satu ruangan yang sama dengan pria yang sudah menanamkan benih di rahimnya. Mereka berdua hanya saling diam dan menatap, tanpa ada yang memulai untuk berbicara.


"Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil biasa." Aries mengusap luka baru yang ada di bibirnya yang sudah bengkak.


Hening kembali terasa diantara Aries dan Venus.


"Baiklah aku harus keluar, karena aku hanya diberikan waktu sebentar oleh Mars." Venus hendak Melangkahkan kakinya.


"Sudah berapa bulan?"


Deg


Langkah Venus terhenti, dan jantungnya terasa berdegup dengan sangat kencang. Venus membalik tubuhnya dan menatap lekat wajah Aries yang dipenuhi oleh luka.


"Tuan Aries anggap saja semua yang terjadi ini hanya mimpi buruk bagimu, dan setelah ini aku harap kita tidak akan bertemu lagi."


"Sudah berapa bulan?" Aries mengulangi pertanyaannya, sembari mencengkram lengan Venus.


"Tuan Aries apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?" geram Venus.


"Apa kau juga tidak mendengar pertanyaan dariku? Aku bertanya sudah berapa bulan?" Aries menatap perut Venus yang sedikit membuncit.


"Tiga bulan, apa kau puas? Sekarang lepaskan tanganku!"


Aries tidak mempedulikan perkataan Venus, ia masih menatap intens perut wanita itu tanpa sedikitpun melepaskan cengkraman tangannya. Entah mengapa Aries merasakan ada sesuatu yang hangat dihatinya saat menatap perut Venus.


"Tuan Aries lepaskan tanganku!" Venus berusaha melepaskan cengkraman tangan Aries. "Aku harus —" perkataan Venus tersendat di tenggorokan saat ia merasakan tangan Aries menyentuh perutnya, mengalirkan sebuah rasa yang terpendam jauh di dalam lubuk hatinya.


"Aku akan bertanggung jawab." Ucap Aries dengan sangat tegas.