
Keesokan harinya di sebuah Rumah mewah yang terletak di kawasan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan. Aries yang sedang berada di dalam ruang kerjanya, menatap pada Mark yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan wanita itu?" tanya Aries
"Belum Tuan, rasanya sangat sulit untuk menemukannya karena Stevan sama sekali tidak mengenal wanita malam itu. Di tambah Anda juga tidak bisa mengingat wajah wanita yang pernah Anda tiduri." Jawab Mark.
"Shit!" umpat Aries dengan wajah yang kesal, ia merasa sangat bodoh karena tidak bisa mengingat sama sekali wanita yang sudah ia tiduri tiga bulan yang lalu. "Temanmu itu benar-benar keterlaluan, dia memberikan wanita yang tidak diketahui asal-usulnya padaku!" geram Aries.
"Maafkan aku Tuan." Hanya itu yang bisa Mark katakan, karena ia sendiri merasa kecewa pada Stevan yang sudah membuat keadaan tuannya menjadi sedikit gila dua bulan terakhir ini.
"Mark kau harus menemukan wanita itu sebelum kita balik ke Jerman!" perintah Aries. "Aku tidak mau keadaan aku terus seperti ini."
"Baik Tuan." Ucap Mark. "Lalu bagaimana dengan Nona Venus? Apa Anda sudah bertemu dengannya?" tanya Mark, karena setahu dirinya salah satu alasan tuan Aries pulang ke Jakarta adalah ingin bertemu dengan Nona Venus Graham.
"Dia tidak ada di Jakarta, Kejora bilang Venus sudah lama tinggal di Inggris." Jawab Aries sembari memijat kepalanya yang terasa sangat pusing.
Mark menatap wajah tuan Aries dan melihat dengan sangat jelas kekecewaan di wajah tuannya.
"Tuan boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Mark dengan ragu-ragu.
Aries mengangkat dagunya mempersilahkan Mark untuk bertanya.
Aries langsung menghela napasnya sembari menyadarkan punggung di kursi kerjanya, ia menatap langit-langit ruangnya dengan sorot mata yang menerawang jauh ke depan.
"Kau masih ingat apa yang di katakan dokter Samuel tentang hasil pemeriksaan kesehatan ku? tanya Aries.
Mark menganggukkan kepalanya sembari mengingat kembali kejadian dua bulan terakhir ini, sampai akhirnya tuan Aries memeriksakan diri ke dokter Samuel.
Flash back on.
Di salah satu mansion mewah yang terletak di kota Munich, tampak seorang pria sedang tertidur di sebuah kamar yang sangat luas dan mewah. Matanya terpejam namun gerakan tubuhnya terlihat gemetar dengan napas yang berlarian.
"Tidak jangan pergi!" gumam pria itu masih dengan mata yang terpejam. "Tidak... jangan... jangan pergi lagi!" Pria itu terus merancau tidak jelas. "Tidak...." Teriak pria itu bangun dari tidurnya dengan wajah yang pucat dengan tubuh yang gemetar.
"Tuan Anda baik-baik saja?" Mark yang memang sedang menunggu tuannya terbangun, dengan sigap menghampiri Tuan Aries. "Apa Anda bermimpi buruk lagi?" tanya Mark dengan cemas.
Aries yang sudah terbangun dari tidurnya hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong, sudah hampir dua bulan ini Aries selalu bermimpi melihat punggung seorang wanita yang sedang menangis dengan menggendong seorang baby di dekapannya. Dan saat Aries ingin bertanya kenapa wanita itu menangis, wanita itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Mark aku tidak mengerti kenapa selalu memimpikan wanita yang tidak aku ketahui wajahnya itu." Aries mengusap wajahnya dengan kasar.
Mark terdiam lalu menyerahkan gelas berisikan air minum pada tuan Aries, ia dapat memahami jika tuannya itu terlihat sangat tertekan dengan mimpi-mimpi itu ditambah dengan kondisi fisiknya yang menurun karena selalu muntah-muntah di pagi hari.