
Suasana kantor sangat sepi karena para pekerja sudah pulang setengah jam yang lalu. Raka masih setia di tempatnya, mengecek laporan keuangan dan juga laporan dari Nino tentang proyeknya.
Raka berusaha akan memaksimalkan kinerjanya untuk perusahaan-perusahaan yang dimilikinya. Akhir-akhir ini pikirannya sering kacau, jadi dia merasa tidak maksimal.
Setelah selesai, Raka segera keluar dari ruang kerjanya. Ada beberapa OB yang masih membersihkan kantor, mereka menyapa Raka saat Raka lewat.
"Raka!"
Seruan itu membuat Raka berhenti melangkah, menoleh ke belakang dan melihat Zito yang menunggunya di lobby. Padahal resepsionis sudah tidak ada di tempatnya.
Raka menaikkan satu alisnya saat mertuanya itu mendekatinya. "Ada perlu apa?"
"Begini, aku ingin mengundangmu untuk makan malam besok," kata Zito kikuk.
"Baiklah." Raka tak berpikir panjang untuk menjawab. "Aku akan mengatakannya kepada Sella untuk ikut."
Zito langsung terlihat panik saat Raka hendak mengajak Sella. "Tidak Raka tidak, aku em aku ingin membahas sesuatu yang bersifat pribadi denganmu."
Raka berpikir sesaat kemudian menyanggupi ajakan Zito. Setelahnya Raka keluar untuk menuju mobilnya.
Zito senang, karena dia bisa mengajak Raka dengan mudah. Dia sudah berpikir rencana yang dibuatnya pasti akan berjalan dengan mulus.
•••
Raka membuka pintu kamarnya, melihat Sella yang berbaring di tempat tidurnya. Di samping meja ada piring kotor, pasti Sella baru makan.
Raka melepas jas kantornya dan menaruhnya di atas sofa. Kemudian, lelaki itu membereskan piring kotor itu, membawanya ke dapur. Suasana rumahnya tampak sepi, ada Risma yang masih membereskan ruang makan.
"Tuan, biar saya yang membersihkan," kata Risma saat melihat Raka membawa piring kotor.
Raka memberikannya kepada Risma. "Apa Sella sudah minum obatnya?"
Risma mengangguk. "Sudah, Tuan."
Raka bernafas lega karena Sella teratur untuk meminum obatnya.
"Tidak perlu."
Raka kemudian kembali ke kamarnya. Dia sering pulang telat dan akan melewatkan makan malamnya. Waktunya banyak disita oleh pekerja kantornya.
Lelaki itu menatap Sella yang masih dalam posisi awalnya, tertidur. Mungkin karena efek obat, pikir Raka. Dilihatnya, Sella tampak semakin cantik. Dengan gaun berbahan satin yang melekat di tubuh mungilnya, membuat Raka tergoda.
Raka merangkak ke arah Sella, mencium pipi wanita itu hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Jahat sekali Raka ini, sudah tahu istrinya itu sedang sakit tapi masih saja di goda.
"Mas Raka.."
Raka membelai wajah Sella sampai Sella ter sadar sepenuhnya.
"Kamu baru pulang?" Tanya Sella.
"Hm," jawab Raka se-adanya. "Aku lelah, Sella."
"Ayo tidur," ajak Sella.
Raka menatap Sella yang tidur dengan gaun satin tanpa lengan bewarna merah. Aih, kenapa Raka selalu terbawa suasana hanya dengan melihat Sella.
Menyadari itu, Sella segera menggunakan penutup gaunnya yang bewarna putih. Raka tersenyum tipis melihatnya, menarik tengkuk Sella kemudian mencium bibir mungil Sella.
Lama-kelamaan ciuman itu semakin dalam dan panas. Ciuman candu itu sangat memabukkan. Bibir Sella benar-benar membuat Raka candu. Lidahnya terus menelisik bibir Sella.
Tanpa sadar pula, Sella telah membuka kancing kemeja putih milik Raka. Dia juga terbawa suasana! Hingga Raka akhirnya memberhentikan ciuman mereka.
Raka beradu pandang dengan Sella, kedua mata mereka saling menyorot. Raka melepas kemejanya kemudian membuangnya dengan asal-asalan. Setelah itu dia kembali mencium bibi Sella.
Malam itu, rasa lelah Raka hilang karena Sella.