
Gania menatap kediaman Raka dan Sella, sungguh besar dan mewah. Wanita itu menatap banyak sekali orang yang memakai pakaian serba hitam dan kacamata hitam yang diyakini oleh Gania itu adalah anak buah Raka.
Sopir pribadi milik Sella berhenti di lobby depan pintu utama yang besar. Gania kemudian turun dari mobil, melangkah masuk ke arah pintu namun dirinya di hadang oleh dua bodyguard.
"Saya Ibu Sella," kata Gania.
"Kami tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk," kata bodyguard tersebut.
Gania kemudian menelepon Sella. Setelah di angkat, Sella menyuruh dua bodyguard itu untuk membiarkan masuk ke dalam rumah. Mendapat instruksi dari istri atasannya, mereka menurut, mereka menunduk hormat sesaat lalu membuka pintu untuk Gania.
Lagi, Gania kembali dibuat takjub dengan interior rumah ini. Sangat mewah. Semuanya disusun dengan serapi mungkin. Banyak barang berkilau an.
"Mama!"
Sella langsung memeluk Gania dengan erat. Ah, betapa dia sangat merindukan ibu nya ini. Sama halnya dengan Sella, Gania juga sangat merindukan Sella.
"Mama kangen banget sama kamu, sayang. Kamu gimana kabarnya?"
"Baik, Ma."
Gania mengamati Sella yang wajahnya tampak berseri, tubuhnya pun tampak berisi. Senyum Gania merekah, melihat anaknya bahagia.
Sella mengajak duduk di ruang tamu. Ruang tamu yang nyaman dengan pemandangan taman hijau. Gania kembali dibuat terpanah dengan rumah mewah ini.
"Kamu bahagia disini, Nak?" tanya Gania.
"Bahagia banget, Ma," kata Sella antusias. Mas Raka udah gak sekeras dulu, bahkan dia berusaha menjaga aku."
Gania bernafas lega, setidaknya Sella tidak berbohong padanya. Dia takut jika Sella kenapa-kenapa disini.
"Ma.. Masalah Kak Melly.." Sella menarik napas. "Itu maksudnya gimana?"
Gania dapat menangkap keresahan pada wajah Sella.
"Kakakmu kembali karena memergoki Ardi selingkuh," ucap Gania. Mata yang sangat mirip dengan Sella itu menerawang kejadian antara Ardi dan Melly. "Papa sudah tahu semua ini, Papa berniat untuk menikahkan Melly dengan suamimu."
"Lalu aku gimana, Ma?"
"Papa bilang, dia akan menyuruhmu untuk menceraikan Raka dan melanjutkan pendidikanmu."
Melanjutkan pendidikannya? Ya. Sella merelakan pendidikannya untuk menikah dengan Raka. Dia tidak melanjutkan kuliahnya. Apakah ini kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya? Tapi, bagaimana dengan Raka nanti?
Sella diam sejenak, perasaannya kepada Raka begitu besar. Dia tidak mungkin melepas Raka. Namun, bagaimana jika Raka yang akan melepaskannya?
"Mama akan mengupayakan agar pernikahan kalian tidak hancur."
•••
Malam hari, Sella tidak bisa tidur. Dia resah dengan pikirannya sendiri, overthinking berlebihan. Wanita itu berperang dengan pikiran buruknya.
"Apa suamiku akan meninggalkanku?"
Kaki jenjang Sella melangkah ke arah balkon, berdiri disana dengan lamunannya. Gania sudah pulang sejak sore tadi. Udara dingin menyentuh kulitnya yang putih.
Karena melamun, Sella tidak menyadari jika Raka sudah pulang. Raka turun dari mobil dan melihat istrinya yang berdiri disana dengan tatapan kosong.
Sella terlonjak kaget.
"Apa yang kamu lakukan, Sella?!" Suara Raka meninggi. "Disini dingin, tidak baik untuk kesehatanmu."
"Mas Raka? Kamu sudah pulang?"
Raka tidak mengindahkan pertanyaan Sella, lelaki itu menarik tangan Sella untuk segera masuk lalu menutup pintu balkon. Sella menatap jam di dinding, pukul setengah sembilan malam.
Raka melepas dasi serta jas nya, menyisakan kemeja bewarna putih polos. Dia menatap Sella sepenuhnya, sedari tadi pagi, Raka menyadari jika Sella bertingkah aneh.
"Kamu kenapa?" Tanya Raka, suaranya sudah mulai tenang.
Sella hanya mampu menggeleng lemah. Ingin sekali dia berkata kepada Raka untuk tidak meninggalkannya. Dia tidak ingin berpisah dengan Raka. Karena sekarang separuh hidupnya adalah Raka.
Raka kemudian duduk di samping Sella, mengusap lembut pipi istri kecilnya itu. "Saya tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kalau kamu ingin berbagi cerita, saya siap mendengarkan."
Ah, Raka. Kenapa dia menjadi semanis ini?
Sella tersenyum, tangannya menggenggam tangan Raka. "Mas, aku istri kamu, jangan baku kalau ngomong."
Raka menjadi canggung.
"Aku dengar, Mama kesini?" Tanya Raka mengubah topik. Bicara tidak terlalu baku.
"Iya," kata Sella.
"Pasti Mama merindukanmu," ujar Raka.
"Begitulah."
"Kamu tidak ingin berkunjung kesana? Besok Minggu, saya—em—aku bisa mengantarmu."
Tidak! Raka tidak boleh kesana! Itu bisa saja mempertemukan Raka dengan Melly.
"Gak perlu, Mas," kata Sella cepat. "Kan tadi Mama sudah kesini, jadi kangennya udah hilang."
Raka mengangguk kemudian berdiri, berniat untuk membersihkan diri.
"Mas Raka?"
Raka menatap Sella. "Kenapa?"
"Kalau aku minta sesuatu.. kamu mau menurutinya?"
"Tentu, apapun untukmu."
"Aku mau kita tidur bareng, enggak terpisah."
Raka terdiam. Matanya beradu pandang dengan mata bulat milik Sella. Selama ini mereka memang tidur terpisah. Raka berpikir, jika dia ingin menumbuhkan rasa cinta untuk Sella.. Apa salahnya menerima permintaan Sella?
"Baiklah." Raka menyanggupi. "Kita akan tidur bareng selayaknya suami istri."
Sella tersenyum mendengarnya.