Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 53


Jihan tampak malas-malasan mengikuti langkah Shaka. Kalau saja tangannya tidak di gandeng, mungkin Jihan memilih pulang saja. Siapa yang tidak kesal kalau angsung di ajak ke hotel. Padahal niat Jihan menemui Shaka adalah untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi malah ingin menyelesaikan semuanya di hotel.


Merasa hanya di jadikan pelampiasan sudah pasti, namun Jihan mencoba acuh. Dia tidak mau lagi membebani pikirannya dengan hal-hal yang terlalu di bawa perasaan.


"Kenapa harus ke hotel segala.? Di rumah juga bisa. Lagipula aku belum selesai bicara." Cerocos Jihan setelah masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai 10. Tadi Shaka sudah datang ke meja resepsionis dan mengambil akses cardnya.


"Itu sebabnya aku bawa kamu ke hotel, kita bisa leluasa bicara di sini." Jawab Shaka santai.


Jihan tidak mendebat lagi, dia kembali memasang wajah cemberut dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Sampainya di kamar dan mengunci pintu, Shaka akhirnya melepaskan tangan Jihan. Sebab Jihan tidak mungkin bisa kemana-mana selama pintu kamar hotelnya di kunci.


Shaka melepaskan jas serta dasinya, lalu meletakkannya di sandaran sofa. Jihan sempat memperhatikan apa yang dilakukan Shaka, tapi setelah itu memilih pergi ke balkon kamar. Mungkin takut di eksekusi langsung oleh Shaka, jadi pergi ke balkon untuk menghindar.


Melihat Jihan membuka pintu balkon, Shaka segera menyusul sembari menggulung kemejanya sampai sebatas siku. Pria itu sempat berdiri di belakang Jihan, mengamati Jihan dari belakang sambil mengulum senyum yang sulit di artikan.


Jihan terkejut ketika dua tangan memeluknya dari belakang. Dia ingin menoleh, namun tertahan wajah Shaka yang menempel di pundaknya.


"Apa nggak bisa di tunda dulu.? Ada hal yang jauh lebih penting untuk di bicarakan." Ujar Jihan saat merasakan dekapan Shaka semakin kencang.


"Jadi kamu nggak keberatan kita ber cinta.?" Tanya Shaka menggoda.


"Kalaupun saya keberatan, ujungnya pasti akan di paksa, iya kan.?" Cecar Jihan. Shaka terkekeh kecil.


"Bagaimana kalau kita lupakan kontrak pernikahan itu." Nada bicara Shaka terdengar serius. Jihan akhirnya menoleh karna penasaran dengan ekspresi wajah Shaka. Namun yang Jihan dapati adalah wajah datar Shaka dengan tatapannya yang sedingin es.


"Saya nggak paham Mas Shaka ngomong apa." Kata Jihan untuk memancing Shaka supaya bicara lebih detail.


"Orang tua saya sudah terlanjur tau, jadi lebih baik nggak perlu pakai kontrak pernikahan." Jawabnya masih ambigu. Mungkin lidahnya kelu kalau harus terang-terangan mengungkapkan keinginannya untuk menjalani pernikahan yang semestinya. Bisa juga karna masih ada gengsi yang menutupi. Padahal momen bertemu Jihan sudah dia tunggu-tunggu sejak 3 minggu yang lalu. Tapi tetap saja Shaka masih memikirkan gengsi dan malu untuk sekedar jujur pada Jihan.


"Langsung ke intinya saja. Saya malah makin bingung maksudnya apa." Cerocos Jihan.


"Mas Shaka mau mengakhiri pernikahan ini sebelum 1 tahun.?" Kata Jihan memastikan.


Shaka berdecak kesal, pria itu langsung membalik tubuh Jihan dan menggendongnya. Jihan reflek berteriak, tapi segera mengalungkan tangannya di leher Shaka karna takut jatuh.


"Saya nggak bisa jelasin, lebih baik langsung pembuktian saja." Kata Shaka sambil menggendong Jihan masuk ke dalam kamar.


Jihan sudah gugup duluan ketika Shaka membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kita selesaikan dulu bicaranya,," Ucap Jihan yang sedang menolak secara halus.


"Asal kamu tau, ini juga salah satu cara untuk menyelesaikannya." Shaka mengungkung Jihan dan mulai melepaskan kancing kemejanya sendiri.


"Saya mau ada Shaka junior disini." Ucapnya seraya mengusap perut Jihan dengan gerakan pelan.


"Ehh.??" Jihan melongo, dia jadi teringat sesuatu gara-gara Shaka menginginkan anak.


"Apa ucapan saya kurang jelas.?" Kata Shaka. Tangannya mulai bergerak di paha Jihan, menyusup di balik dress selutut yang dipakai istrinya itu.


"Nanti dulu,," Jihan menghentikan gerakan tangan Shaka dan berusaha untuk bangun.


"Saya baru ingat bulan ini belum menstruasi. Jangan-jangan,,," Ucapan Jihan menggantung karna sibuk dengan pikirannya yang tiba-tiba berkecambuk. Bisa-bisanya dia baru menyadari kalau 1 bulan ini dia belum kedatangan tamu bulanan. Sedangkan besok sudah ganti bulan. Artinya sudah 5 minggu dia tidak menstruasi.


"Saya telat menstruasi, bagaimana ini." Jihan bingung sendiri. Sepertinya dugaannya tidak keliru, sebab sejak dulu tidak pernah telat kedatangan tamu bulanan.


"Maksudnya kamu hamil.?" Tanya Shaka terkejut.


"Sepertinya,," Jawab Jihan sambil mengangguk pelan.


Shaka langsung menyingkir dari atas tubuh Jihan, dia duduk di tepi ranjang dan menatapnya heran.


"Anak siapa.?" Tanyanya dengan wajah kebingungan yang terlihat bodoh.


Jihan langsung melotot dan memukul paha Shaka.


"Masih bertanya ini anak siapa.?! Mas pikir siapa yang sudah menyiram benih di rahim saya." Sahut Jihan kesal. Dia kemudian turun dari ranjang dan mengambil tasnya di atas nakas, Jihan berniat pergi untuk membeli tespek agar bisa memastikan dugaannya.


"Tunggu dulu Jihan, saya belum selesai bicara." Shaka mengejar dan menahan pergelangan tangan Jihan.


"Itu anak saya.?" Pertanyaan bodoh itu kembali keluar dari mulut Shaka. Mungkin saking tidak percayanya lantaran Jihan bisa hamil secepat itu.


"Iyalah, memangnya anak siapa lagi.!" Sahut Jihan sewot.


"Saya mau pulang, mau beli alat tes kehamilan." Jihan menarik tangannya dari genggaman Shaka, tapi di tahan lagi oleh pria itu.


"Cuma alat tes kehamilan kan.? Kita nggak perlu pulang, biar saya pesan lewat aplikasi." Kata Shaka sambil menggandeng tangan Jihan ke arah sofa.


"Kita baru sampai, mana bisa pulang begitu saja." Gerutu Shaka sambil mengotak atik ponselnya, dia memesan alat tes kehamilan melalui aplikasi online yang bisa langsung di antar saat itu juga.


"Bagaimana kalau aku beneran hamil..?" Tanya Jihan. Walaupun mertua berharap pernikahannya dengan Shaka bisa berlanjut tanpa ada kontrak perjanjian, namun Jihan tidak yakin pada Shaka. Sebab pria itu seperti tidak memiliki rasa padanya.


"Kenapa kamu bingung begitu.? Kamu bilang itu anak saya, lalu apa yang kamu khawatirkan.?" Tanya Shaka.


"Saya cuma khawatir Papanya nggak mau tanggung jawab." Sahut Jihan.


"Kamu lupa tadi saya bilang apa.? Justru sayang ingin memiliki anak dari kamu." Ucap Shaka tegas.


"Apa alasannya.?" Jihan menatap penasaran.


"Apa karna Mas Shaka di ancam Mama Sonia supaya kita cepat memiliki anak.?" Tebak Jihan.


"Jangan bawa-bawa Mama, dia malah membuat kacau saja.!" Gerutu Shaka sewot. Sebab rencananya gagal gara-gara Mamanya menyembunyikan Jihan.


"Lalu karna apa.? Kenapa tiba-tiba jadi ingin punya anak.? Mas Shaka nggak berniat mengambil anak itu dan memisahkan kami setelah kita cerai kan.?" Cecar Jihan.


Shaka kelihatan pusing sendiri sampai memijat pelan pelipisnya. Jihan belum paham juga dengan kode yang dia berikan. Sepertinya memang harus bicara langsung.


"Saya nggak akan menceraikan kamu, saya,,,," Shaka menghentikan ucapannya, rupanya dia masih gengsi untuk menyatakan cinta lebih dulu.


"Intinya kita nggak akan cerai, lagipula kontrak perjanjian kita sudah di musnahkan." Tuturnya.


Jihan memutar malas bola matanya. Jawaban Shaka tidak membuatnya puasa. Dia juga ingin tau kenapa pada akhirnya Shaka mengambil keputusan seperti itu.